Hakikat Tawakal

Hakikat Tawakal

Al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata,

“Inti dan hakikat tawakal adalah bersandarnya hati kepada Allah semata, maka melakukan berbagai sebab tidak akan memudaratkan tawakal tersebut, asalkan hatinya terbebas dari bersandar dan bergantung kepada sebab-sebab tersebut.

Sebagaimana tidaklah bermanfaat baginya ucapannya, ‘Aku bertawakal kepada Allah,’ namun dia bersandarnya kepada selain-Nya, condong, dan yakin terhadap selain-Nya, sehingga, tawakal lisan dan tawakal hati adalah dua hal yang berbeda.

Sebagaimana tobatnya lisan yang disertai dengan terus-menerusnya hati (dalam kemaksiatan), jika dibandingkan  dengan tobatnya hati, meskipun tanpa ungkapan lisan, hal ini adalah sesuatu yang berbeda.

 Maka ucapan seorang hamba, ‘Aku bertawakal kepada Allah,’ sementara hatinya bersandar kepada selain-Nya adalah semisal dengan ucapannya, ‘Aku bertobat kepada Allah,’ sementara dia terus-menerus di atas kemaksiatan dan melakukannya.”

[Al-Fawaid, hlm. 99]

Kita tutup group ini dengan membaca do’a Kafaratul Majelis :

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰه إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُك وَ أَتُوبُ إِلَيْكَ

“Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik”

“Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

Kemudahan dalam setiap Kesulitan

Kemudahan dalam setiap Kesulitan

Dalam hidup ini, tiada jalan yang mulus tak berbatu, akan selalu ada cobaan yang menghampirimu dalam lika-liku kehidupan ini.

Namun, yakinlah bahwa itu semua akan berlalu, yakinlah akan kuasa dan pertolongan-Nya, yakinlah bahwa ada hikmah di setiap kejadian yang dilalui.

Yakinlah pula akan janji Allah,…

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.”

(Q.S. Al-Baqarah : 286).

Dan janji Allah bahwa cobaan pasti akan berlalu.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

(QS. Al-Insyirah : 5)

Allah tak menjanjikan langit selalu biru,

matahari tanpa hujan, dan kebahagiaan tanpa kesedihan.

Namun, Allah selalu menjanjikan kemudahan dalam setiap kesulitan, dan hikmah dalam setiap cobaan.

“Semoga kita semua selalu diberikan keteguhan hati”.

Semoga Allah memberikan Hidayah dan Rahmat-Nya serta menerima amal ibadah kita.

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

Jangan Sampai Menyesal di Akhirat

Jangan Sampai Menyesal di Akhirat

Memilih teman yang jelek akan menyebakan rusak agama seseorang.

Jangan sampai kita menyesal pada hari kiamat nanti karena pengaruh teman yang jelek sehingga tergelincir dari jalan kebenaran dan terjerumus dalam kemaksiatan.

Renungkanlah firman Allah berikut :

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولاً

_“ Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : _“Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul, kecelakaan besar bagiku.

kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an sesudah Al Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia”

(Al Furqan:27-29)

Lihatlah bagiamana Allah menggambarkan seseorang yang teah menjadikan orang-orang yang jelek sebagai teman-temannya di dunia sehingga di akhirat menyebabkan penyesalan yang sudah tidak berguna lagi.

Kita tutup group ini dengan membaca do’a Kafaratul Majelis :

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰه إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُك وَ أَتُوبُ إِلَيْكَ

“Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik”

“Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

Sifat Teman yang Baik

Sifat Teman yang Baik

Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah berkata :

وفى جملة، فينبغى أن يكون فيمن تؤثر صحبته خمس خصال : أن يكون عاقلاً حسن الخلق غير فاسق ولا مبتدع ولا حريص على الدنيا

“ Secara umum, hendaknya orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat berikut : orang yang berakal, memiliki akhlak yang baik, bukan orang fasik, bukan ahli bid’ah, dan bukan orang yang rakus dengan dunia”

(Mukhtasar Minhajul Qashidin 2/36).

Kemudian beliau menjelaskan :

“Akal merupakan modal utama, tidak ada kebaikan berteman dengan orang yang bodoh,,karena orang yang bodoh, dia ingin menolongmu tapi justru dia malah mencelakakanmu.

Yang dimaksud dengan orang yang berakal adalah orang yang memamahai segala sesuatu sesuai dengan hakekatnya, baik dirinya sendiri atau tatkala dia menjelaskan kepada orang lain.

Teman yang baik juga harus memiliki akhlak yang mulia,,karena betapa banyak orang yang berakal dikuasai oleh rasa marah dan tunduk pada hawa nafsunya, sehingga tidak ada kebaikan berteman dengannya.

Sedangkan orang yang fasik, dia tidak memiliki rasa takut kepada Allah, orang yang tidak mempunyai rasa takut kepada Allah, tidak dapat dipercaya dan engkau tidak aman dari tipu dayanya.

Sedangkan berteman dengan ahli bid’ah, dikhawatirkan dia akan mempengaruhimu dengan kejelekan bid’ahnya.

(Mukhtashor Minhajul Qashidin, 2/ 36-37)

Kita tutup group ini dengan membaca do’a Kafaratul Majelis :

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰه إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُك وَ أَتُوبُ إِلَيْكَ

“Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik”

“Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

Nabi yang rendah Hati

Nabi yang rendah Hati

Meskipun Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki nasab yang mulia dan kedudukan yang tinggi, namun Beliau pribadi yang sangat tawadhu lagi rendah hati.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah diberikan pilihan antara menjadi nabi sekaligus raja atau nabi dan hamba, namun Beliau lebih memilih menjadi nabi dan hamba biasa.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

“Aku hanyalah seorang hamba. Aku makan sebagaimana layaknya seorang hamba makan. Aku duduk pun sebagaimana layaknya seorang hamba duduk.”

Beliau shallallahu alaihi wa sallam pernah mengendarai keledai dan membonceng seorang di belakangnya, mengunjungi fakir miskin dan duduk-duduk membaur bersama mereka, dan juga pernah memenuhi undangan seorang budak.

Diantara sabda beliau shallallahu alaihi wa sallam,

“Janganlah kalian lebih mengistimewakan aku dari pada Yunus bin Matta”.

“Janganlah kalian lebih mengutamakan aku daripada para nabi.”

Saat seorang memanggil beliau, “Wahai sebaik-baik makhluk!” Beliau merespon,

“Ia (sebaik-baik makhluk) adalah Ibrahim.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

لاَ تُطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَـمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُوْلُهُ

​“Janganlah kalian memujiku secara berlebihan sebagaimana orang-orang nashara melakukannya terhadap Isa bin Maryam, Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah, ‘hamba Allah dan utusannya’.”

(HR. al-Bukhari & Muslim)​

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ingin diperlakukan seperti nabi Isa ‘alaihissalam yang sampai disembah dan dipertuhankan.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak rida umat ini menujukan satu ibadahpun kepada beliau. Doa, sumpah, rukuk, sujud, sembelihan, nazar, istigasah, atau ibadah-ibadah lainnya.

Di satu sisi, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia biasa yang tidak berhak diposisikan sebagai tuhan.

Di sisi yang lain, Beliau adalah nabi dan utusan yang harus ditiru dan dicontoh, diikuti dan diteladani.

Semoga salawat dan salam senantiasa tercurah kepada Beliau.

[ Rujukan utama: Mukhtashor asy-Syafaa, Ahmad al-Mazid, hal. 77-78 ]

Kita tutup group ini dengan membaca do’a Kafaratul Majelis :

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰه إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُك وَ أَتُوبُ إِلَيْكَ

“Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik”

“Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

Keluarkan dunia dari Hati

Keluarkan dunia dari Hati

Saudaraku, mengapa kita berat untuk ikhlas, bersabar, yakin, tawakkal, khusyu, syukur, istiqomah, selalu mengingat-Nya, tawadhu’, zuhud terhadap dunia, ridho, dan cinta kepada Allah serta negeri akhirat…?

Saudaraku, mengapa kita berat untuk menjauhi perbuatan dosa dan maksiat, dan tidak bisa menyikapi musibah dan ujian dengan benar, sehingga mengikuti hawa nafsu yang tercela dan bisikan syaitan…?

Saudaraku, mengapa kita berat untuk bisa memiliki akhlak yang mulia, hati yang bersih dan suci, sehingga dapat jauh dari sifat sombong, hasad, dengki, ujub, buruk sangka dan penyakit hati lainnya…?

Saudaraku, mengapa kita berat untuk bisa berkorban, berjuang, bersemangat, berinfak dan sungguh sungguh…?

Karena dunia selalu berada di hati, dan lalai dari ingat kepada Allah Ta’ala dan negeri akhirat…

Malik bin Dinar berkata :

“Keluarkan dunia dari hatimu, sebelum badanmu keluar dari dunia”

(Shifatus Shafwah II/168)

Imam al-‘Utsaimin berkata :

“Seorang hamba apabila dia mendapati bahwa puncak tujuan dari pahala adalah bisa melihat wajah Allah, maka seluruh isi dunia ini “tidak ada harganya” di sisinya”

(Syarah al-Aqidah al-Wasithiyyah hal 458)

Seorang wanita shalihah berkata :

“Seandainya manusia mengetahui apa yang akan ditemuinya kelak (di akhirat), niscaya mata mereka tidak akan pernah sejuk memandang (apa pun), serta hati mereka tidak merasakan kelezatan sama sekali dengan apa pun dari isi dunia ini selamanya”

(Bahrud Dumuu’ hal 61 oleh Imam Ibnul Jauzi)

اللّٰهُمَّ اجْعَلِ الدُّنْيَا فِيْ اَيْدِيْ وَ اجْعَلِ الْآخِرَةِ فِيْ قَلْبِيْ

“Ya Allah, jadikan dunia ada di tanganku, dan jadikanlah akhirat berada di hatiku…”

اللّٰهُمَّ اقْطَعْ عَنِّيْ حَاجَاتِ الدُّنْيَا بِالشَّوْقِ اِلىَ لِقَائِكَ

“Ya Allah, putuskanlah keinginanku atas dunia dengan kerinduan untuk berjumpa dengan-Mu…”

إِذَا اَقْرَرْتَ أَعْيُنَ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ دُنْيَاهُمْ فَأَقِرَّ عَيْنِيْ مِنْ عِبَادَتِكَ

“Jika penduduk dunia mata mereka lebih sejuk dengan dunia, maka sejukkanlah pandanganku dengan ibadah kepada-Mu…..”

Kita tutup group ini dengan membaca do’a Kafaratul Majelis :

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰه إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُك وَ أَتُوبُ إِلَيْكَ

“Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik”

“Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

7 JENIS MATI SYAHID

7 JENIS MATI SYAHID

Betapa bahagianya menjadi umat Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam. Setiap tuntunanNya senantiasa menawarkan solusi dan kemudahan. Tidaklah terlewat satupun kebaikan melainkan beliau ajarkan kepada umatnya dan tidaklah ada satu keburukan, melainkan beliau mewanti-wanti mereka agar terhindar darinya.

Lihatlah apa yang dicontohkan Sang Nabi tatkala bayang-bayang musibah yang menakutkan datang silih berganti menghampiri anak Adam. Beliau ajarkan kepada umatnya pentingnya berdoa memohon perlindungan kepada Allah dari kematian yang mengerikan. Termasuk di dalamnya adalah kecelakaan jatuh dari pesawat terbang, tenggelam, terbakar, dan tertimpa tanah longsor. Dengan doa, hati menjadi tentram, menyandarkan segala harapan kepada yang Maha Mengabulkan, sekaligus memupus rasa takut dan was-was dari setan.

Dari Abul Yasar ia berkata, dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِّي ، وَالْهَدْمِ ، وَالْغَرَقِ ، وَالْحَرِيقِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ فِي سَبِيلِكَ مُدْبِرًا ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ لَدِيغًا

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari terjatuh dari tempat yang tinggi, dari tertimpa bangunan (termasuk terkena benturan keras dan tertimbun tanah longsor), dari tenggelam, dan dari terbakar. Aku juga berlindung kepadaMu dari campur tangan setan ketika akan meninggal. Aku juga berlindung kepadaMu dari meninggal dalam keadaan lari dari medan perang. Aku juga berlindung kepadaMu dari meninggal karena tersengat hewan beracun.”

📕 [HR. A-Nasa’i no. 5531, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani].

Barangkali di antara kita ada yang bertanya-tanya, bukankah dalam hadist banyak disebutkan bahwa mati karena tenggelam, terbakar, dan tertimpa bangunan akan mengantarkan seseorang meraih status syahid di akhirat? Benar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada kita bahwa ada tujuh golongan syuhada selain yang mati di medan perang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mati syahid selain yang terbunuh di jalan Allah, ada tujuh, mati karena penyakit tha’un (lepra) syahid, mati karena tenggelam syahid, mati karena sakit tulang rusuk syahid, mati karena sakit di dalam perut syahid, mati karena terbakar syahid, mati karena tertimpa bangunan (benturan keras) syahid, dan wanita yang mati karena mengandung (atau melahirkan) syahid.”

📕 [HR. Abu Dawud no 3111, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani].

Demikian juga Ibnu Hajar rahimahullah menukikan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh At-Thabrani dari hadis Ibnu Mas’ud bahwa orang yang mati karena terjatuh dari puncak gunung dan mati karena dimakan binatang buas termasuk syahid di sisi Allah.

📙 [Fathul Bari, Bab Al-Syahadah Sab’un Siwal Qatl].

Jika memang musibah-musibah di atas menjadikan seseorang mati syahid, kenapa kita dianjurkan untuk berlindung darinya?

Poin-poin berikut ini akan membantu menjelaskan kepada kita sebab dianjurkannya berlindung kepada Allah dari kematian yang mengerikan.

1• Kematian dalam kondisi tersebut sangat keras dan melelahkan.

Boleh jadi seseorang ketika mengalami hal itu imannya tidak kokoh, sehingga setan mampu menggelincirkannya dari iman. Sementara itu, manusia adalah makhluk yang lemah, mudah putus asa, sehingga selayaknya memohon agar diberikan kemudahan, lebih-lebih pada kondisi ketika akan meninggal.

Berikut penjelasan Ibnu At-Tiin rahimahullah yang dinukil oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari tentang sebab orang-orang yang mati karena musibah di atas mendapat gelar syahid di akhirat, tidak lain karena meninggalnya dalam keadaan yang sangat berat.

Ibnu At-Tiin berkata: “Semua yang tertimpa musibah ini merasakan sakit kematian yang keras, Allah karuniakan itu kepada umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penghapus dosa-dosa dan tambahan pahala bagi mereka yang mengantarkan mereka mencapai derajat para syuhada.”

📙 [Bab Al-Syahadah Sab’un Siwal Qatl].

2• Kematian dalam kondisi tersebut biasanya datang mendadak.

Boleh jadi seseorang pada saat itu terjadi padanya belum bertaubat. Boleh jadi juga saat itu mereka belum melunasi hutang, juga belum berwasiat kepada orang yang berhak mendapatkan wasiat, dan orang-orang terdekatnya, sehingga hak-hak orang lain belum ia tunaikan. Padahal setiap orang akan dimintai pertanggung jawaban pada hari kiamat terkait hak orang lain yang belum ia kembalikan kepada pemiliknya, meskipun ia orang yang mati syahid. Demikian Sang Nabi telah mewanti-wanti umatnya:

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلَّا الدَّيْنَ

“Orang yang mati syahid akan diampuni seluruh dosanya, kecuali hutang.”

📕 [HR. Muslim no. 1886].

3• Belum tentu mati syahid.

Para Ulama, di antaranya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Al-Fatawa Al-Kubra (3/22), mengecualikan bagi orang yang bepergian naik kapal dalam kondisi sedang bermaksiat lalu tenggelam, tidak termasuk yang mendapatkan kesyahidan. Demikian juga pendapat Syaikh Shalih Al-Munajjid hafidzahullah tentang orang yang bepergian untuk melakukan maksiat, seperti orang yang naik kapal untuk berzina dan minum khamr, dan yang semisalnya lalu tenggelam, maka ia tidak mendapatkan kesyahidan.

Kesimpulan, meskipun meninggal karena tenggelam, terjatuh dari tempat yang tinggi, terbakar, tertimpa benda keras, dan semisalnya itu mengantarkan seseorang meraih syahid di akhirat, akan tetapi banyak nash-nash yang menganjurkan kita untuk berlindung dari kematian yang mengerikan tersebut. Apabila seorang Mukmin meninggal dalam keadaan tersebut dan tidak sedang bermaksiat, maka ia memperoleh kesyahidan. Akan tetapi ia tidak boleh berharap mati yang demikian, justru sebaliknya ia memohon kepada Allah Ta’ala agar terhindar darinya sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

والله أعلم، وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

8 TANDA ALLAH SWT MAHA PEMURAH

8 TANDA ALLAH SWT MAHA PEMURAH

1- APAKAH KITA  MAHU DEKAT DENGAN ALLAH TAALA ?

Nabi SAW bersabda:

Keadaan  yang paling dekat antara seorang hamba dengan RabbNya

adalah tatkala ia SUJUD DALAM SOLAT maka perbanyaklah do’a.  (HR. MUSLIM)

2- APAKAH KITA MAHU PAHALA HAJI?   

Bersabda Nabi SAW: UMRAH PADA BULAN RAMADHAN nilainya seperti  pahala haji bersamaku. (HR.BUKHORI MUSLIM)

3- APAKAH KITA MAHU RUMAH DI SYURGA?

Nabi SAW  bersabda Barangsiapa yang MEMBANGUN SEBUAH MASJID kerana Allah Ta’ala, nescya Allah Ta’ala akan membangun baginya sebuah rumah disyurga.  (HR. MUSLIM)

4- APAKAH KITA MAHU MERAIH REDHA ALLAH TAALA

Nabi SAW bersabda: Sungguh Allah Taala redha kepada seorang hamba yang TATKALA  SELESAI MAKAN IA MEMUJI ALLAH Dan tatkala la SELESAI MINUM IA MEMUJI ALLAH Taala akan kenikmatan tersebut. (HR. MUSLIM)

5- APAKAH KITA MAHU AGAR DOAMU DIKABULKAN?

Nabi SAW  bersabda:  DOA DIANTARA ADZAN & IQOMAH tidaklah tertolak  (HR ABU DAUD)

6- APAKAH KITA MAHU DICATATKAN PAHALA PUASA SETAHUN PENUH?

Nabi SAW  bersabda BERPUASA TIGA HARI DALAM SEBULAN seperti halnya puasa setahun penuh. (HR BUKHORI MUSLIM)

7- APAKAH KITA MAHU MENJADI SAHABAT ATAU TEMAN  NABI SAW DI SYURGA

Nabi SAW bersabda Aku dan penyantun (BERBUAT BAIK ) anak yatim di syurga seperti ini. Sambil belia mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah.(HR. BUKHORI)

8- APAKAH KITA MAHU AGAR TIMBANGA KEBAIKANMU MENJADI BERAT

Nabi SAW bersabda Dua kalimat yang dicintai Allah Ta’a

ringan diucapkan berat pada timbangan :  SUBHANALLAHI WA BIHAMDI,

                                                                            SUBHANALLAH HIL ‘ADZHIM

(HR. BUKHORI)

Create your website with WordPress.com
Get started