Fenomena Akhir Zaman

Fenomena Akhir Zaman

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

Dari Abu Hurairah

radhiyallahu’anhu-, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).

Pelajaran yang terdapat di dalam hadits:

1- Hadits ini menunjukan bahwa saat nilai sudah tumpang tindih dan tak begitu diindahkan: orang bohong dianggap jujur; orang jujur dianggap bohong; pengkhianat dianggap amanah; orang amanah dianggap pengkhianat. Di situlah muncul zaman Ruwaibidhah, yang dijelaskan nabi sebagai orang bodoh (pandir, dungu) tapi mengurusi orang umum.

2- Pentingnya kejujuran dan mengandung peringatan dari bahaya kedustaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wajib atas kalian untuk bersikap jujur, karena kejujuran akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan menuntun ke surga. Apabila seseorang terus menerus bersikap jujur dan berjuang keras untuk senantiasa jujur maka di sisi Allah dia akan dicatat sebagai orang yang shiddiq. Dan jauhilah kedustaan, karena kedustaan itu akan menyeret kepada kefajiran, dan kefajiran akan menjerumuskan ke dalam neraka. Apabila seseorang terus menerus berdusta dan mempertahankan kedustaannya maka di sisi Allah dia akan dicatat sebagai seorang pendusta.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu).

3- Pentingnya menjaga amanah dan memperingatkan dari bahaya mengkhianati amanah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila amanah telah disia-siakan maka tunggulah datangnya hari kiamat.” Lalu ada yang bertanya, “Bagaimana amanah itu disia-siakan?”. Maka beliau menjawab, “Apabila suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya maka tunggulah kiamatnya.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).

4- Dari beberapa ciri tersebut, mengandung subtansi yang sama: orang bodoh dan hina, tidak mengerti ilmu mengurusi urusan publik (seperti: menjadi pejabat, penguasa dan lain sebagainya) tapi diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk membicarakan atau mengurusi masalah orang umum. Ini gambaran jelas bahwa sesuatu tidak diserahkan kepada ahlinya. Sehingga, akan berdampak negatif secara sosial.

5- Jalan keluar ketika menghadapi situasi kacau semacam itu adalah dengan kembali kepada ilmu dan ulama. Yang dimaksud ilmu adalah al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih. Dan yang dimaksud ulama adalah ahli ilmu yang mengikuti perjalanan Nabi dan para sahabat dalam hal ilmu, amal, dakwah, maupun jihad.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al Qur’an:

– Peringatan akan bahaya berbicara tanpa landasan ilmu.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak punya ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, itu semua akan dimintai pertanggung-jawabannya.” (QS. al-Israa’ : 36).

Laksana Menggenggam Bara Api

Laksana Menggenggam Bara Api

عن أنس بن مالك رضي الله عنه، رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:

يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Pelajaran yang terdapat dalam hadits:

1- Berpegang teguh dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ini memang amat berat, bagai mereka yang memegang bara api.

2- Orang yang berpegang teguh dengan agama hingga meninggalkan dunianya, ujian dan kesabarannya begitu berat. Ibaratnya seperti seseorang yang memegang bara (nyala) api.

3- Maknanya adalah sebagaimana seseorang tidak mampu menggenggam bara api karena tangannya bisa terbakar sama halnya dengan orang yang ingin berpegang teguh dengan ajaran Islam saat ini, ia sampai tak kuat ketika ingin berpegang teguh dengan agamanya. Hal itu lantaran banyaknya maksiat di sekelilingnya, pelaku maksiat pun begitu banyak, kefasikan pun semakin tersebar luas, juga iman pun semakin lemah.

4- Seseorang tidaklah mungkin menggenggam bara api melainkan dengan memiliki kesabaran yang ekstra dan kesulitan yang luar biasa. Begitu pula dengan orang yang ingin berpegang teguh dengan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di zaman ini butuh kesabaran yang ekstra.

5-Itulah gambaran orang yang konsekuen dengan ajaran Islam saat ini, yang ingin terus menjalankan ibadah sesuai sunnah Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, begitu sulitnya dan begitu beratnya. Kadang cacian yang mesti diterima. Kadang dikucilkan oleh masyarakat sekitar. Kadang jadi bahan omongan yang tidak enak. Sampai-sampai ada yang nyawanya dan keluarganya terancam. Demikianlah resikonya. Namun nantikan balasannya di sisi Allah yang luar biasa andai mau bersabar.

6- Balasan orang yang sabar adalah surga.

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran

1- Balasan orang yang sabar, pahala mereka tak bisa ditimbang dan tidak bisa ditakar. Itulah karena saking banyaknya.

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10).

2- Balasan orang yang sabar adalah surga

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ

سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;

(sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.

[Surat Ar-Ra’d :23- 24].

Bersabarlah Di Atas Sunnah

Bersabarlah Di Atas Sunnah

Pada akhir zaman akan semakin sedikit kebaikan, banyak yang menentang, dan banyak fitnah yang menyesatkan, fitnah syubhat, keraguan, berpaling dari kebenaran, fitnah syahwat dan condongnya manusia kepada dunia…

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ

“Akan datang suatu masa, dimana orang yang bersabar (berpegang teguh) pada agamanya seperti orang yang sedang menggenggam bara api” (HR. At-Tirmidzi no. 2260, hadits dari Anas bin Malik, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no. 8002)

فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ

“Sesungguhnya setelah kalian akan ada hari-hari kesabaran, dimana bersabar pada hari-hari itu seperti menggenggam bara api. Orang yang beramal tatkala itu memperoleh pahala sama dengan 50 orang yang beramal seperti amalannya” (HR. At-Tirmidzi no. 3058 dan Ibnu Majah no. 4014, hadits dari Abu Tsa’labah al-Khusyani)

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan tambahan :

قِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْهُمْ قَالَ أَجْرُ خَمْسِينَ منكم

Ditanyakan : “Wahai Rasulullah, sama dengan pahala 50 orang dari mereka atau kami ?”. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “50 orang dari kalian” (Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 3172)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

“Pahala yang besar ini karena keterasingannya di antara manusia, dan karena dia berpegang teguh dengan “SUNNAH” di antara kegelapan hawa dan akal pikiran” (Madarijus Salikin III/199)

Maka Syaikh al-Albani rahimahullah berkata :

اعرف السنة تعرف البدعة، أما إذا عرفت البدعة فلا يمكنك أن تعرف السنة.

“Pelajarilah as-Sunnah, otomatis engkau akan mengetahui bid’ah, adapun jika engkau hanya mengetahui bid’ah, maka tidak mungkin bagimu untuk mengenal as-Sunnah” 

(Silsilah al-Huda wan Nur no. 715)

Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata :

“Sesungguhnya Ahlussunnah adalah “Yang Paling Sedikit” dari manusia pada zaman yang telah lewat dan mereka paling sedikit dari manusia pada “Zaman Yang Tersisa”. Mereka adalah orang-orang yang tidak ikut-ikutan dengan orang-orang yang bermewah-mewahan, dan tidak juga dengan ahli bid’ah dalam kebid’ahan mereka, dan mereka sabar di dalam menjalankan “SUNNAH” hingga bertemu Rabb mereka” 

(Sunan ad-Darimi 1/83 dan Ta’dzimu Qodzrus Shalat Lil Marwazih II/678)

Imam Yahya bin Ma’in rahimahullah berkata :

لأن يكونوا خصمائي أهل البدع يوم القيامة خير من أن يكون خصمي رسول الله بتركي الذب عن سُنته.

“Sungguh lebih baik ahli bid’ah yang akan menjadi musuh-musuhku pada hari Kiamat nanti, daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan menjadi musuhku, karena aku tidak mau membela sunnah beliau” 

(Al-’Alamusy Syamikh hal 388)

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata :

ولزوم السنة ماهو بالأمر السهل ، فيه ابتلاء وامتحان، هناك ناس يعيرونك ويؤذونك ويتنقصونك، ويقولون : هذا متشدد متنطع إلى آخره ، أو ربما أنهم لا يكتفون بالكلام، ربما أنهم يقتلونك أو يضربونك، أو يسجنونك ولكن اصبر إذا كنت تريد النجاة وأن تشرب من هذا الحوض، اصبر على التمسك بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى أن تلقاه على الحوض

“Komitmen dengan sunnah itu bukanlah perkara yang mudah. Di dalamnya penuh dengan berbagai ujian dan cobaan. Akan selalu ada orang-orang yang mencelamu, menyakitimu dan merendahkanmu. Mereka mengatakan : “Ini radikal ekstrem”, dll. Bahkan kadang kala tidak cukup hanya ucapan saja, mereka pun bisa membunuhmu, memukulmu atau memenjarakanmu. Tetapi tetaplah bersabar, jika engkau ingin keberhasilan dan bisa menenggak air dari telaga Rasulullah ﷺ. Bersabarlah dalam berpegang dengan sunnah Rasulullah ﷺ sampai engkau bertemu dengan beliau di telaganya kelak” 

(Syarah ad-Durroh al-Madhiyyah fî Aqdi Ahlil Firoqil Mardhiyyah hal 190)

🌐 http://www.salamdakwah.com/artikel/4594-saudaraku-bersabarlah-di-atas-sunnah 

BILA SUBUHMU ‘KE LAUT’

BILA SUBUHMU ‘KE LAUT’

Wahai insan yang bergelar Muslim,

Tunaikanlah hak-hakmu sebagai Muslim,

Untuk mencapai keredhaan ‘Sang Karim’,

Dan kembali bertemuNYA dengan hati yang ‘Salim’…

Di saat ayam berkokok di waktu pagi,

Kita terus hanyut dibuai mimpi,

Malu dengan haiwan tidak terperi,

Namun bila hati telah lalai

ia tidak memberi sebarang erti…

Usah merungut masalah umat manusia,

Sekiranya subuhmu ‘ke laut’ entah ke mana,

Walhal tuhanmu pernah berkata,

Teguran untuk orang yang berselimut agar bangun berjaga..

Islam bukan sekadar dilaung-laungkan dan dibanggakan,

Tapi perlulah dipraktikkan sepanjang hayat sepanjang zaman,

Agar kita tidak ditertawakan oleh syaitan dan pihak lawan,

Akhirnya meraih ganjaran dan syurga yang berkekalan..

-Sang Pejuang-

https://t.me/CoretanTarbiahdanrohani

Kisah Halimatus Sa’adiah

Kisah Halimatus Sa’adiah

Di dalam Kitab Sirah di ceritakan :

Dalam perjalanan ke perkampungan Bani Saad dari Mekah, pelbagai perkara yang menakjubkan berlaku kepada keluarga Halimatus Sa’adiah.

Halimatus Sa’adiah bercerita;

“Tahun itu tahun kemarau. Tidak ada satu pun yang tinggal kepada kami, Saya berangkat bersama suami dan seorang anak, berangkat menyertai ibu-ibu lain. dengan menunggang keldai yang keputihan selain dari itu kami juga membawa seekor unta tua yang tidak lagi mengeluarkan susu walaupun setitik. Kami tidak dapat tidur kerana keadaan itu membuatkan anak saya sering menangis kelaparan keran tiasa susu. Air susu saya tidak lagi dapat mengenyangkannya, susu unta juga tidak ada.”

“pada malam itu saya berangkat dengan menunggangi keldai saya yang cepat lelah kerana kurus dan lemah. Akhirnya sampai lah kami ke Mekah untuk mencari anak yang akan disusukan. Sebenarnya Rasulullah saw di tawarkan kepada setiap ibu-ibu yang lain, tetapi semua menolaknya, kerana anak itu anak yatim.”

“Saya pun berkatalah dalam diri saya. Demi Allah! saya mesti mengambil anak yatim tersebut, biarlah saya ambil dia.”

perkara itu pun dipersetujui oleh suami Halimatus Sa’adiah.

“Tiada apa yang mendorong saya untuk mengambilnya kerana tidak ada anak lain untuk disusukan. saya pun mengambil cucu Abdul Muttalib itu dan meletakkan di pangkuan saya, Dia terus menyusu minum sampai sepuas-puasnya. Saudara sesusu Nabi (anak Halimatus Sa’adiah) pun turut menikmati susu saya hingga kenyang kemudian keduanya terus tidur. padahal sebelum itu saya kekeringan susu.”

“Suami saya pergi ke tempat unta kami, dilihatnya unta kurus itupun sudah penuh dengan susu. Lalu diperahnya dan dibawa pulang. Kami pun dapat tidur malam itu dengan nyenyak. Suami saya berkata pada saya.”

“Percayalah Halimah. Demi Allah! Bahawa engkau sudah mengambil anak yang berkat sekali.”

“Demikianlah kamipun menuju ke tempat kediaman kami bersama dengan Muhammad. Demi Allah! perjalanan kami amat cepat sekali. Tidak ada himar teman-teman saya yang dapat mengikuti perjalanan kami. Sehingga mereka berkata.”

“Wahai Halimah! Kasihanilah sedikit kepada kami. Bukankah ini himar engkau yang kelmarin yang engkau bawa ke Mekah?”

 “ya. “

“Demi Allah! Tentu ada sesuatu yang terjadi.”

“Demikianlah kami sampai di perkampungan Bani Saad. Saya tidak tahu apakah ada lagi tempat yang lebih kemarau dari tempat kami itu. Sungguh pun demikian waktu kami sampai, saya lihat semua kambing-kambing kami semuanya sudah kenyang dan susunya pula penuh. Lalu kami perah dan minum. Sedangkan teman-teman yang lain setitik pun tidak ada susu pada kambing-kambing mereka.”

ini menimbulkan kehairanan pada jiran-jiran Halimatus Sa’adiah, hingga mereka pun berkata.

“Wahai Halimah! Sungguh beruntung kamu kerana memelihara anak Aminah itu. Sesungguhnya anak itu membawa keberkatan kepada mu.”

Ada juga jiran Halimatus Sa’adiah berkata

“Celaka kita, lepaskanlah kambing-kambing ke tempat Halimah melepaskan Kambingnya.”

Tetapi setelah kembali dari tempat ragut kambing-kambing Halimatus Sa’adiah, Kambing-kambing mereka pulang dengan lapar juga, dan tidak ada yang mengeluarkan susu. Begitulah terus menerus Halimatus Sa’adiah dan keluarganya mendapat kurniaan rezki dari Tuhan hingga genaplah umur Nabi 2 tahun.

Nabi dipelihara oleh Halimatus Sa’adiah sekeluarga di Desa Bani Saad hingga usia Baginda 2 tahun. Abu Kabsyah dan anak perempuannya Asy-Syima’ juga turut menjaga Nabi.

Setelah Genap 2 tahun, Halimatus Sa’adiah membawa Nabi pulang ke pangkuan Ibu kandungnya, Aminah.

Aminah memelihara Nabi hanya sebentara sahaja kerana Halimatus Sa’adiah meminta keizinan dari Aminah untuk memelihara Nabi semula. Ini kerana dia terlalu sayang kan Nabi hingga dia tidak sanggup berpisah denganNya. Selepas itu Nabi dibawa pulang sekali lagi ke ke perkampungan Bani Saad, dibesarkan disana hingga usia baginda 4 tahun 2 bulan iaitu lebih kurang 50 bulan.

Maka hidup lah Nabi di desa yang aman dan tenteram itu. Pertuturan di kalangan Bani Saad membuatkan Nabi bertutur dalam bahasa Arab yang sangat fasih. ini kerana bahasa Arab Kabilah Bani Saad adalah satu-satunya kabilah yang paling fasih bahasa Arabnya. Nabi pernah bersabda;

“Aku adalah orang yang paling fasih diantara kamu, dan aku orang Quraisy yang dibesarkan di dusun keluarga Bani Saad bin Bakar.”

10 GOLONGAN MANUSIA TERBAIK DI SISI ALLAH SWT.

SIAPAKAH SEBAIK-BAIK MANUSIA?

Terdapat 10 golongan “sebaik-baik manusia ” menurut hadits sahih.

🥀1. Rasulullah ﷺ bersabda:

( خيركم من تعلم القرآن وعلمه )

صحيح البخاري 5027

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari 5027 )

🥀2. Rasulullah ﷺ bersabda:

( خياركم أحاسنكم أخلاقا )

صحيح البخاري6035

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya “

(HR. Bukhari 6035)

🥀3. Rasulullah ﷺ bersabda:

( خيركم أحسنكم قضاء )

أي عند رد القرض .

صحيح البخاري رقم 2305

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dalam membayar (mengembalikan hutang)

(HR. Bukhari 2305)

🥀4. Rasulullah ﷺ bersabda:

( خيركم من يُرجى خيره ويُؤمٓن شره )

صحيح الترمذي / 2263

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling boleh diharapkan kebaikannya dan aman dari keburukannya ” (HR. Tirmidzi 2263)

🥀5. Rasulullah ﷺ bersabda:

( خيركم خيركم لأهله )

صحيح ابن حبان / 4177

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap ahli keluarganya” (HR. Ibnu Hibban : 4177)

🥀6. Rasulullah ﷺ bersabda:

( خيركم من أطعم الطعام وردَّ السلام )

صحيح الجامع / 3318

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang memberi makan (kepada orang lain) dan menjawab salam”

(Shahih Al Jami’ 3318)

🥀7. Rasulullah ﷺ bersabda:

( خياركم ألينُكم مناكب في الصلاة )

الترغيب والترهيب 234/1

أي: يفسح لمن يدخل الصف في الصلاة .

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dalam meluaskan tempat ( bagi orang masuk dalam saf) dalam sholat.” (Targhib wa Tarhib 1/234)

🥀8. Rasulullah ﷺ bersabda:

( خير الناس من طال عمره وحسن عمله )

صحيح الجامع 3297

“Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya.”

(Shahih al Jami’ 3297)

🥀9. Rasulullah ﷺ bersabda:

( خير الناس أنفعهم للناس )

صحيح الجامع 3289

“Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.”

(Shahih al Jami’ 3289)

🥀10. Rasulullah ﷺ bersabda:

( خير الأصحاب عند الله خيركم لصاحبه، وخير الجيران عند الله خيركم لجاره )

صحيح الأدب المفرد/84

“Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah orang yang paling baik terhadap sahabatnya. Sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah orang yang paling baik terhadap tetangganya” (Shahih Adabul Mufrod : 84)

Dunia Sementara Akhirat Selamanya

لا إله إلا الله محمد رسول الله

✨Jalan menuju Allah…. Sbg hamba Allah tidak lepas dari dosa salah dan silap maka selalu lah mohon ke ampunan bertaubat serta saling bermaafan redha meredhai sesama kita atas apa jua permasalahan. ✨

✍️🌹✍️

“Nak kaya-kaya sampai pergi mana? Bukan boleh bawa masuk kubur pun kan?”

“Nak kaya-kaya sampai pergi mana? Bukan boleh bawa masuk kubur pun kan?”

Ayat biasa kita dengar. Kawan-kawan, kita kaya, berjaya, kita tetap boleh bawa masuk kubur malah boleh jadi penyebab masuk syurga. Caranya ialah:

1. Memberi sedekah sebanyak-banyaknya dengan ikhlas.

2. Membayar zakat.

3. Sentiasa memberi hadiah kepada yang tersayang.

4. Membantu permintaan dan keperluan ibu bapa. Mereka mahu apa sahaja, tunaikan. Mereka yang berduit akan memahami hal ini sebetul-betulnya.

5. Membantu adik beradik sama ada sedang susah atau senang.

6. Masak dan edarkan kepada jiran tetangga.

7. Sentiasa mengadakan jamuan makan dan memberi makan kepada yang memerlukan.

8. Membantu sekolah, madrasah, tahfiz dan sebagainya. Membantu anak-anak yang belajar di jalan Allah.

9. Sponsor pembelajaran anak-anak yatim, tahfiz dan sebagainya.

10. Membantu pelarian atau saudara di Syria, Palestin, dan banyaknya negara lain.

11. Menyediakan rumah yang selesai, pakaian dan selesa, makanan dalam rumah sendiri untuk seisi keluarga.

12. Memberi nafkah kepada isteri/ibu bapa

13. Sentiasa membantu rakan dalam kesusahan.

14. Nampak sahaja yang susah, terus bantu.

15. Bantu team untuk lebih maju, lebih produktif dan sentiasa bersama mereka susah senang.

Banyak lagi kawan-kawan.

Sesiapa yang pernah lalui semua perkara di atas akan tahu semua itu memerlukan duit.

Kita tahu duit kita itu bermanfaat untuk orang lain. Kita tahu Allah sediakan kepada kita sebanyak-banyaknya untuk bantu orang lain.

Kita sentiasa bersyukur dapat kawan, saudara mara yang sentiasa berdoa kepada kita yang duit kita akan bawa kita lapangnya kubur kita nanti, buat kita terlepas seksa neraka dan memudahkan kita masuk syurga.

Kawan-kawan, cari circle yang memahami pentingnya ada duit untuk bantu dan tolong orang lain.

Benar bukan hanya duit boleh bantu orang, namun ia tetap perkara penting untuk jadi bermanfaat kepada orang lain pada zaman ini.

Yang penting kita tidak bertuhankan duit. Kita tahu duit itu untuk beri kita lebih lagi pahala setiap masa setiap nafas kita.

Terus buat baik ya kawan-kawan, buang hasad kita kepada orang dan doakan orang berhenti hasad kepada

 kita.

Hanya sekadar menyebarkan kebaikan

Tiada lain hanya memberi peringatan

Tanda Jiwa Dan Jasad Yang Taubat

Tanda Jiwa Dan Jasad Yang Taubat

“Antara tanda benar taubat seseorang adalah.

1- Ia akan berhijrah dan meninggalkan tempat yang dia pernah melakukan maksiat didalamnya.

2- Allahﷻ menjauhkan diri dia daripada kawan-kawannya yang jahat.

3- Hal hatinya selalu merasa sedih, dan patah hati dengan dunia.

4- Selalu menangis menyesali dosa-dosanya yang lalu.

5- Banyak diam dan berzikir (Istighfar).”

15 Sifat Manusia dlm Al Quran

🌴15 Sifat Manusia dlm Al Quran.🌴

Manusia diperintahkan untuk berlindung kepada Allah Swt.

Ada banyak sifat manusia yang digambarkan dalam Alquran. Penggambaran sifat-sifat ini akan membantu kita untuk lebih introspeksi diri sehingga menjadi manusia yang dicintai Allah SWT. Seperti apa sifat-sifat manusia tersebut:

🌴Pertama, manusia itu lemah.  “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah” (Q.S. Annisa; 28).

🌴Kedua, manusia itu gampang terperdaya “Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah” (Q.S Al-Infithar : 6).

🌴Ketiga, manusia itu lalai. “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu” (Q.S At-takaatsur  1).

🌴Keempat, manusia itu penakut. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S Al-Baqarah 155).

🌴Kelima, manusia itu bersedih hati.  “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin , siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah , hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (Q.S Al Baqarah: 62).

🌴Keenam, manusia itu tergesa-gesa. “Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa. (Al-Isra’ 11).

🌴Ketujuh, manusia itu suka membantah. “Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.” (Q.S. an-Nahl 4).

🌴Kedelapan, manusia itu suka berlebih-lebihan. “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Q.S Yunus : 12).

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas” (Q.S al-Alaq : 6).

🌴Kesembilan, manusia itu pelupa. “Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka.” (Q.S Az-Zumar : 8 ).

🌴Kesepuluh, manusia itu suka berkeluh-kesah. “Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah” (Q.S Al Ma’arij : 20).

“Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.” (Q.S Al-Fushshilat : 20).

“Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa” (al-Isra’ 83).

🌴Kesebelas, manusia itu kikir. “Katakanlah: “Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya.” Dan adalah manusia itu sangat kikir.” (Q.S. Al-Isra’ : 100).

🌴Keduabelas, manusia itu suka kufur nikmat. Dan mereka menjadikan sebahagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bahagian daripada-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah). (Q.S. Az-Zukhruf  : 15).

sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, (Q.S. al-’Aadiyaat : 6).

🌴Ketigabelas, manusia itu zalim dan bodoh. “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, ” (Q.S al-Ahzab : 72).

🌴Keempatbelas, manusia itu suka menuruti prasangkanya. “Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Q.S Yunus 36).

🌴Kelimabelas, manusia itu suka berangan-angan. “Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu- ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah;dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.” (Q.S al Hadid 72).

🌴Solusinya🌴

Itulah 15 sifat manusia yang disebutkan dalam al-Quran. Mengerikan bukan? Adapun islam, sudah memberikan solusi untuk segala sifat buruk manusia ini.  Sungguh nikmat iman dan islam ini bukanlah sesuatu yang kita dapat dengan murah!

🌴Solusi pertama, tetap berpegang teguh kepada tali agama dan petunjuk-petunjuk dari Allah

Allah SWT berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Q.S al-Baqarah : 38).

🌴Solusi kedua, tetap berada dalam ketaatan sesulit apapun situasi yang melanda

tetap berada dalam ketaatan disini, berarti bersegera menyambut amal-amal kebaikan. Mungkin seperti syair yang dilantunkan Abdullah bin Rawahah untuk mengembalikan semangatnya saat nyalinya mulai ciut di perang mut’ah ketika dua orang sahabatnya yang juga komandan pasukan pergi mendahuluinya. “wahai jiwa, jika syurga sudah di depan mata mengapa engkau ragu meraihnya”

Allah berfirman “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” (Q.S. Ali Imran : 133).

🌴Solusi ketiga, jaga keimanan kita

adalah hal yang wajar, iman seseorang naik turun dan berfluktuatif. Sama mungkin seperti yang dikhawatirkan sahabat Hanzalah, ketika ia curhat kepada abu Bakar bahwa ia termasuk orang yang celaka. Mengapa demikian? karena ia merasa Imannya turun ketika jauh dari Rasulullah. Ternyata itu pula yang dirasakan lelaki dengan iman tanpa retak itu. Hinga mereka berdua akhirnya menghadap Rasulullah. Mendengar permasalahn mereka, Rasulullah hanya tersenyum dan menjawab, “selangkah demi selangkah Hanzalah!”

Tetapi sungguh, iman seorang mukmin yang baik, akan tetap memiliki trend yang menanjak.

Disinilah mungkin loyalitas kita kepada Allah diuji. Apakah kita bisa, belajar mencintai Allah diatas segala sesuatu, belajar mencintai sesuatu karena Allah, serta belajar membenci kekufuran!.

Waallahu A’lamu BisShowab.

🌴MUHASABAH🌴

Perbaikilah Hati,Maka Hati Akan Memperbaiki Fikiran,Dan Fikiran Akan Memperbaiki Lidah,Dan Lidah Akan Memperbaiki Hidup,Dan Hidup Akan Memperbaiki Akhirat kita semua, Berbanyaklah Dzikrullah & Bershalawat Nabi Serta Cinta Baca Alqur’an InsyaaAllah Berkah Selamat Dunia Akhirat.

Semoga Bermanfaat.

Bukan Senang Mengakui Kesilapan

Bukan Senang Mengakui Kesilapan

============

1. Bukan senang untuk mengakui kesilapan dan memohon maaf terutama bagi mereka yang mempunyai kedudukan. Mengakui kesilapan bererti merendahkan ego serta menunjukkan kesediaan untuk menerima teguran.

2. Mengakui kesalahan adalah sifat para Nabi. Allah SWT menceritakan kepada kita tentang Nabi Adam yang mengakui kesilapannya ketika di syurga (al-A’raf:23), Nabi Musa menyesali perbuatannya ketika terlibat dalam pergaduhan di Mesir (al-Qasas: 15-16) dan Nabi Yunus yang menginsafi tindakannya di dalam perut ikan (al-Anbiya: 87-88).

3. Sikap menerima kesalahan diri ini penting dalam menjaga amanah ilmu. al-Imam Ibn al-Jawzi menceritakan kesungguhan ulama salaf memperbaiki kesilapan mereka sekiranya mereka tersalah dalam memberikan pandangan. Mereka dikatakan akan segera mencari orang yang telah menerima pandangan salah tersebut bagi memperbetulkannya.

4. al-Imam al-Subki meriwayatkan gelagat al-Izz ibn Abd Salam ketika tersalah memberikan pandangan kepada seorang lelaki yang datang bertanya kepadanya. Bimbang lelaki tersebut mengamalkan ajaran yang salah, al-Izz ibn Abd Salam sendiri keluar pergi mencari lelaki tersebut disekitar Kaherah dan mengumumkan kepada orang ramai bahawa dia telah tersalah mengeluarkan pandangan dan meminta orang ramai supaya berhati-hati. (al-Subki, Tabaqat al-Shafi’iyyah, 8/214).

5. Apa yang lebih menarik lagi adalah tindakan yang dilakukan oleh al-Imam al-Biqa’i, seorang yg pakar dalam bidang penafsiran al-Quran. Menghargai teguran orang disekelilingnya, al-Imam al-Biqa’i akan memberikan ganjaran wang bagi mereka yang membetulkan kesilapannya. Kata al-Imam al-Biqa’i:

 فَكُلّمَا نَبَّهَنِي أَحَدٌ عَلَى خَطَأ أَعْطَيْتُهُ دِيْنَاراً

“Maka setiap kali seseorang memperingatkan aku tentang kesalahanku, aku akan membayarnya satu dinar. (Maṣāʿid al-Naẓr, 1/104)

6. Malah, para salaf terdahulu tidak segan apabila ditegur dihadapan orang ramai. al-Imam Ibn Kathir meriwayatkan kisah seorang Qadi di Basrah bernama Abdullah ibn al-Hasan al-Anbari. Beliau telah ditanya tentang satu perkara dan memberi jawapan yang salah kepada persoalan tersebut. Kesilapan beliau telah ditegur oleh seorang budak kecil dihadapan orang ramai. Abdullah al-Anbari bagaimanapun tidak segan untuk mengakui kesalahan yang dilakukannya itu dan berkata:

لَأن أكون ذَنَباً في الحق, أحبُّ إليَّ مِن أنْ أكون رأسًا في الباطل

“Menjadi tersalah dalam perkara kebenaran adalah lebih aku suka daripada menjadi ketua dalam kebatilan.”

6. Abu Bakar ibn al-Arabi pula menceritakan kisah Abu a-Fadl Abdullah ibn Husain al-Jawhari (seorang pakar bahasa Arab) yang ditegur oleh seorang pemuda asing. Setelah ditegur, al-Jauhari bukan sahaja berterima kasih kepada lelaki tersebut, malah mengucup kepalanya dan memujinya dengan berkata: Sesungguhnya engkau telah memperbetulkan kesalahanku dikala semua orang mendiamkan diri.  (Ahkam al-Quran, 1/182-183)

7. Bukan mudah untuk mengakui kesilapan yang kita lakukan. Malah, manusia kebiasaannya akan lebih marah apabila ditegur di hadapan khalayak ramai. Beberapa kisah di atas memberikan kepada kita gambaran tentang beberapa tokoh salafussoleh terdahulu yang amat menghargai teguran yang diberikan kepada mereka, menerima dengan hati yang terbuka, malah memberikan ganjaran buat mereka yang membantu mengingatkan mereka kepada kebenaran.

Semoga Allah membimbing kita

Create your website with WordPress.com
Get started