Waspadalah dengan kesyirikan

Waspadalah dengan kesyirikan

Di antara bahaya kesyirikan yang membuatnya menjadi perkara paling berbahaya bagi setiap manusia, adalah bahwa orang yang meninggal dalam keadaan membawa dosa selain syirik maka bisa jadi Allah adzab atau bisa jadi Allah ampuni.

Adapun dosa syirik, maka tidak Allah ampuni. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya, barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”

(QS. An Nisa: 48)

Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata tentang ayat ini:

وقد دلت هذه الآية الكريمة على أن جميع الذنوب التي دون الشرك تحت مشيئة الله سبحانه، وهذا هو قول أهل السنة والجماعة، خلافا للخوارج والمعتزلة ومن سلك مسلكهما من أهل البدع

“Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa seluruh dosa selain syirik itu di bawah kehendak Allah Subhaanahu”.

“Ini adalah keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah, berbeda dengan keyakinan Khawarij dan orang-orang yang mengikuti manhaj Khawarij dari kalangan ahlul bid’ah”

(Majmu’ Fatawa Mutanawwi’ah, 10/70)

Semoga Allah memberikan Hidayah dan Rahmat-Nya serta menerima amal ibadah kita.

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

Janganlah lelah, untuk jadi baik

Janganlah lelah, untuk jadi baik

Jiwa yang tenang, jiwa yang terkadang malas, terkadang ia letih, lelah ketika melakukan ketaatan, terkadang kesabarannya melemah, entah itu sabar di atas ketaatan, sabar dari menahan diri ‘tuk tidak bermaksiat, atau sabar menghadapi takdirNya yang tidak ia sukai, terkadang terlintas dalam dirinya untuk beristirahat sebentar dari keistiqomahan.

Apabila kesemua ini terlintas dalam dirinya, segera Ingatkanlah dia akan sebuah hadits dari Nabi.

Sesungguhnya Beliau pernah bersabda,

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya barang dagangan Allah sangat mahal, dan ketahuilah bahwa barang dagangan Allah adalah surga.” .

(HR. at-Tirmidzi dan al-Hakim, dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi, serta dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani).

Semoga ia sadar bahwa apa yang telah ia lakukan itu belumlah ada apa-apanya dengan janji balasan surga yang amat mahal nilainya.

Semoga ia sadar bahwasanya untuk masuk Surga butuh pengorbanan yang besar, bukan sekedar angan-angan.

“Wahai jiwa, tenanglah, kembalilah engkau ke Tuhanmu dalam keadaan diridhoi-Nya”.

Kita tutup group ini dengan membaca do’a Kafaratul Majelis :

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰه إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُك وَ أَتُوبُ إِلَيْكَ

“Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik”

“Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

TIGA PERKARA YANG MEMBUATKU TERTAWA DAN JUGA MENANGIS ◾️

TIGA PERKARA YANG MEMBUATKU TERTAWA DAN JUGA MENANGIS ◾️

Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata :

أضحكني ثلاث، وأبكاني ثلاث. أضحكني مؤمل دنيا والموت يطلبه، وغافل وليس بمغفول عنه، وضاحك بملء فيه ولايدري أرضى الله أم أسخطه

“Ada 3 hal yang membuatku tertawa, dan ada tiga hal yang membuatku menangis.

Yang membuatku tertawa (karena heran)

(1). Orang yang mengangankan dunia, padahal kematian (selalu) memburunya.

(2). Orang yang lalai, padahal dia tidak akan terlalaikan (dari pengawasan Allah)

(3). Orang yang tertawa, padahal ia tidak tahu apakah Allah itu sedang ridha atau murka kepadanya !?

وأبكاني فراق الأحبة محمد وحزبه، وهول المطلع عند غمرات الموت والوقوف بين يدي الله يوم تبدو السريرة علانية ثم لا أدري إلى الجنة أم إلى النار

Dan yang membuatku menangis :

(1). Berpisah dengan orang-orang yang paling aku cintai, yaitu Rasulullah ﷺ dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum

(2). Kengerian dan kepedihan di saat-saat sakaratul maut

(3). Saat berdiri di hadapan Allah, di hari ditampakkannya rahasia2 secara terbuka, sedang aku tidak tahu apakah aku akan menuju ke Surga atau Neraka !?”

(Az Zuhd hal 249 oleh Ibnul Mubarak)

Tiga pintu ke neraka jauhilah dan jangan Dibuka

Tiga pintu ke neraka jauhilah dan jangan Dibuka

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

دخل الناسُ النارَ من ثلاثة أبواب: باب شبهة أورثت شكاً في دين الله، وباب شهوة أورثت تقديم الهوى على طاعته ومرضاته، وباب غضب أورث العداون على خلقه

Manusia masuk neraka dari tiga pintu:

Pintu syubhat yang memunculkan keraguan terhadap agama Allah.

Pintu syahwat yang menyebabkan ia lebih mendahulukan hawa nafsu daripada ketaatan kepada Allah dan keridhaan-Nya.

Pintu kemarahan yang melahirkan permusuhan terhadap makhluk.”

[Al-Fawaaid: 58]

Tiga dampak Bahayanya

Syubhat adalah semua pendapat yang tidak sesuai pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dampak buruknya adalah kekafiran, kesyirikan, kerusakan aqidah dan bid’ah.

Menuruti nafsu syahwat dan tidak disalurkan pada jalur yang halal maka memunculkan kemaksiatan seperti syahwat kemaluan: zina, syahwat perut: riba, dan lain-lain.

Tidak menahan marah memunculkan kezaliman kepada hamba-hamba Allah, seperti ghibah, menghina, memukul bahkan membunuh.

Tiga Solusinya

Ilmu agama, yaitu ilmu yang berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sesuai dengan pemahaman Salaf. Serta menjauhi majelis-majelis, buku-buku dan teman-teman yang suka menebarkan syubhat.

Kesabaran, yaitu sabar dalam mengamalkan perintah dan menjauhi larangan, serta menjauhi sebab-sebab yang menjerumuskan ke dalam syahwat yang terlarang.

Menahan marah dan sabar dalam menghadapi orang yang berbuat zalim kepada kita, lebih mulia lagi apabila disertai dengan pemaafan, dan lebih mulia lagi jika ditambah dengan balasan berbuat baik kepada orang yang berbuat zalim kepada kita.

Semoga Allah memberikan Hidayah dan Rahmat-Nya serta menerima amal ibadah kita.

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

Isi hati dengan Iman

Isi hati dengan Iman

Dari sahabat Uqbah bin ‘Amr bin Tsa’labah radhiallahu ’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda

من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya”

(HR. Muslim no. 1893

“Keutamaan dakwah di jalan Allah dan menunjukkan kebaikan kepada orang lain, baik kebaikan dunia atau akhirat”.

“Orang yang menunjuk kan kebaikan maka akan mendapatkan pahala karena telah menunjukkan kebaikan serta pahala orang yang mengikutinya”.

“Amal yang bisa dirasakan oleh orang lain lebih besar manfaatnya dibandingkan amal yang manfaatnya terbatas untuk diri sendiri”.

“Hadits ini mencakup orang yang menunjukkan kebaikan kepada orang lain dengan perbuatannya, meskipun tidak dengan lisannya.”

“Seperti orang yang menyebarkan buku-buku yang bermanfaat, berakhlak mulia dan berpegang teguh dengan syariat Islam agar manusia juga bisa meneladaninya”.

“Keutamaan mengajarkan ilmu dan besarnya pahala seorang pengajar yang mengharapkan pahala di akhirat”.

“Dianjurkan seseorang untuk meminta kepada Allah agar menjadi teladan dalam kebaikan”.

Kita tutup grup ini dengan membaca do’a Kafaratul Majelis :

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰه إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُك وَ أَتُوبُ إِلَيْكَ

“Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik”

“Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

Jangan sombong kerana yang fana, jangan pula melalaikan yang kekal

Jangan sombong kerana yang fana, jangan pula melalaikan yang kekal

Berkata ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu,

“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberikan dunia kepada kalian supaya kalian mencari akhirat dengannya”.

“Tidaklah Allah Ta’ala memberikan dunia kepada kalian agar kalian condong terhadapnya”.

Sesungguhnya dunia akan sirna, sedangkan akhirat yang kekal.

Janganlah kalian sombong karena yang fana ini, janganlah pula kalian melalaikan yang kekal.

“Dahulukan yang kekal atas yang fana, karena dunia akan terputus, sedangkan perjalanan menuju kepada Allah Ta’ala”

(Al-Bidayah wan-Nihayah, 7/241)

Semoga Allah memberikan Hidayah dan Rahmat-Nya serta menerima amal ibadah kita.

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

Manusia Itu Makhluk Yang Lemah

Sekuat, sekaya, sebijak apapun manusia akan ada saatnya dia akan lemah juga

Sehingga perlukan orang lain untuk menguatkannya, maka janganlah berlaku sombong, karena hidup ini bagaikan roda yang tidak berhenti berputar, ada kalanya ia di atas dan adakalanya di bawah.

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang sombong lagi membanggakan diri”

( QS.Luqman:18).

Tidak perlulah kita bangga diri dengan apa yang kita miliki sekarang ini, karena semuanya itu hanyalah titipan, pinjaman dari Allah selagi diberi ruang dan waktu.

Tidak perlulah kita menyombongkan diri, karena kita hanyalah seorang hamba yang lemah, hina lagi, sesungguhnya bersikap sederhana itu lebih menyenangkan dan rendah hati itu akan lebih mulia di sisi Allah.

Kita tutup group ini dengan membaca do’a Kafaratul Majelis :

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰه إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُك وَ أَتُوبُ إِلَيْكَ

“Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik”

“Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

Tiga jalan memperbaiki Diri

Tiga jalan memperbaiki Diri

Manusia setiap hari membuat dosa dan kesalahan, yang jika terus menumpuk akan merusak jiwanya.

Akan tetapi Allah Subhanahu wa ta’ala dengan kasih sayang-Nya, telah memberikan jalan bagi kita untuk memperbaiki diri kita di hadapan-Nya, dengan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat kita.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan jalan untuk memperbaiki diri kita, yaitu di antaranya adalah 3 amalan dalam sabdanya :

“أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ ” قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: “إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ”

“Maukah kalian aku beritahukan amalan yang dengannya akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?”

Para sahabat menjawab : “mau wahai Rasulullah.”

Beliau bersabda : “menyempurnakan wudhu disaat yang sulit, banyak melangkah menuju masjid, dan menunggu sholat setelah sholat, itulah perjuangan.”

[HR.Muslim]

Itulah 3 jalan untuk memperbaiki diri kita, menghapus dosa-dosa kita, mengangkat derajat kita di sisi Allah.

Pertama, berwudhu disaat yang berat, misalnya setiap kali hendak tidur atau waktu lainnya, dan bahkan setiap kali batal wudhu disunnahkan untuk memperbaharui wudhu kita.

Kedua, banyak melangkah menuju masjid, yaitu senantiasa menghadiri shalat berjamaah di masjid, khususnya bagi kaum pria.

Ketiga, menunggu sholat setelah sholat, misalnya setelah sholat Maghrib berjamaah tetap duduk berdzikir atau berdoa atau kajian ilmu sambil menunggu didirikannya sholat Isya.

Inilah 3 jalan yang memperbaiki keadaan diri kita, mari kita tempuh 3 jalan tersebut dengan penuh kesungguhan, karena membutuhkan perjuangan berat melawan malas dan lemahnya jiwa.

Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita agar dapat mengamalkan ketiganya.

Aamiin……

Kita tutup group ini dengan membaca do’a Kafaratul Majelis :

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰه إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُك وَ أَتُوبُ إِلَيْكَ

“Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik”

“Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

Umur untuk Kebaikan

Umur untuk Kebaikan

Manusia terbaik adalah yang mengisi waktu-waktunya dengan amalan yang mengantarkan kepada kebaikan dunia dan akhiratnya.

Orang yang banyak kebaikannya, setiap kali dipanjangkan umurnya maka akan banyak pahalanya dan dilipatgandakan derajatnya.

Maka bertambahnya umur akan bertambah pula pahala dan amalannya.

Begitu juga sebaliknya

Dalam hadits Abu Bakrah radhiyallahuanhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ، وَشَرُّ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ

“Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalannya, dan sejelek jelek manusia adalah orang yang panjang umurnya dan jelek amalannya”

[HR. Ahmad, at-Tirmidzi dan al-Hakim dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah 1/624]

Semoga Allah memberikan Hidayah dan Rahmat-Nya serta menerima amal ibadah kita.

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

Meluruskan Niat

Meluruskan Niat

إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ

“Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niatnya dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan, maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-nya, dan barang siapa yang hijrahnya kerana dunia yang hendak dia raih atau karena wanita yang hendak dia nikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya.”

(HR. Bukhary-Muslim dari ‘Umar bin Khattab)

Memahami makna syahadat

untuk dapat istiqomah dalam beribadah maka seorang muslim harus memaknai arti syahadat dan mengetahui bahwa dengan mengucapkan syahadat ia memiliki kewajiban sebagai seorang muslim termasuk dalam beribadah.

Ibadah itu sendiri adalah suatu konsekuensi dari ucapan syahadat seorang muslim dan sifatnya mengikat.

Memperbanyak bacaan Al-Qur’an, Al-Qur’an sendiri adalah kitab suci umat islam yang boleh meneguhkan hati seorang muslim sehingga ia tidak mudah tergoyahkan oleh hal-hal yg mampu merusak imannya.

Allah berfirman :

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

Katakanlah : “Ruhul Qudus ( Jibril ) menurunkan al Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan ( hati ) orang-orang yang telah beriman , dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri ( kepada Allah ).”

( QS.  An Nahl : 102 )

Meningkatkan kualitas ibadah sedikit demi sedikit, sebagai seorang muslim yang baik, tentunya kita akan senantiasa meluangkan waktu untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah itu sendiri.

Bergaul dengan orang-orang shaleh, jika ingin selalu istiqomah dalam beribadah maka banyaklah bergaul dengan orang shaleh karena mereka boleh menjadi kawan saat beribadah dan senantiasa menjagamu dalam kebaikan.

Berdoa dan berzikir kepada Allah, adapun doa yang dipanjatkan agar diberi kekuatan untuk beristiqomah adalah sebagai berikut

يَامُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلٰى دِيْنِكَ

“Wahai Dzat yg membolak – balikkan hati , teguhkan hati kami di atas agama-Mu.”

( HR. Tirmidzi 3522 , Ahmad 4 / 302 , al – Hakim 1 / 525 , lihat Shohih Sunan Tirmidzi III no. 2792 )

Kita tutup group ini dengan membaca do’a Kafaratul Majelis :

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰه إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُك وَ أَتُوبُ إِلَيْكَ

“Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik”

“Maha Suci Engkau Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu”

بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ

Create your website with WordPress.com
Get started