DIA ITU ISTRIMU, WANITA TERBAIK YANG ALLAH SWT HADIRKAN UNTUKMU

DIA ITU ISTRIMU, WANITA TERBAIK YANG ALLAH SWT HADIRKAN UNTUKMU

Dia, adalah wanita yang telah engkau pilih untuk menjadi pendamping hidupmu. Engkau dahulu, menginginkan banyak mujahid dan mujahidah lahir dari rahimnya.

Engkau mengutarakan niatmu, dan dia menerima pinanganmu. Dia, telah membuat benih cintamu bertumbuh dan berkembang biak.

Cinta itu, sekarang bukan hanya berbuah cintamu kepadanya. Tetapi telah mampu melahirkan cinta-cinta yang lain. Yakni Cintamu, kepada anak-anakmu.

Engkau dahulu, melihatnya sebagai pilihan yang terbaik. Dan Allah SWT datangkan ia, sebagai wanita terbaik untukmu. Karenanya, jika mulai muncul keengganan, keraguan, kekuranganmu pada hasyrat terhadapnya, ingat kembali masa-masa dimana engkau sangat menyayanginya.

Janganlah, godaan sekerat tulang dunia mampu memalingkanmu darinya. Wanita yang bersolek mungkin mampu menggoda jiwamu, tetap dia jelas tak akan mampu menjadi tempatmu bernaung dan bersandar.

Wahai lelaki sholeh, para suami yang baik, ingatlah ! Wanita itu, yang mungkin saja engkau mengeluh terhadapnya, adalah wanita terbaik yang Allah SWT datangkan kepadamu.

Penuhilah haknya, karena dia juga telah menunaikan hakmu atas rumah tangga. Dia, selalu setia menunggumu dan menjaga anak-anakmu, saat dirimu pergi untuk mengais rezeki atau berjuang menolong agama Allah.

Dia, telah rela kehilangan masa lajangnya, masa kemerdekaannya, kemudian mengikat diri pada ‘Mitsaqon Ghalidza’ untuk setia dan taat melayani mu. Dia, telah rela melepaskan kemerdekaan itu untuk tunduk kepadamu.

Karena itu, pergaulah ia dengan baik. Janganlah sedikit kekurangannya melalaikanmu dari banyaknya amanat dan tanggung jawab yang telah ia tunaikan.

Coba perhatian guratan di wajahnya, jika kurang jelas dekatilah dalam jarak yang lebih dekat. Bukankah atsar kesetiaan dan pelayanan itu terlihat jelas ? Bukankah pengabdian itu terbaca sangat tulus ?

C&P fb Dokterspesialis

Menutup Solat Malam Dengan Witir

RENUNGAN TAHAJUD

Menutup Solat Malam dengan Witir

Shalat witir adalah shalat yang dilakukan dengan jumlah raka’at ganjil (1, 3, 5, 7 atau 9 raka’at). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرً

“Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah shalat witir.” (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751). Jika shalat witir dilakukan dengan tiga raka’at, maka dapat dilakukan dengan dua cara: (1) tiga raka’at, sekali salam [HR. Al Baihaqi], (2) mengerjakan dua raka’at terlebih dahulu kemudian salam, lalu ditambah satu raka’at kemudian salam [HR. Ahmad 6:83].

Dituntunkan pula ketika witir untuk membaca do’a qunut. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah ditanya, ” Apa hukum membaca do’a qunut setiap malam ketika (shalat sunnah) witir?” Jawaban beliau rahimahullah, “Tidak masalah mengenai hal ini. Do’a qunut (witir) adalah sesuatu yang disunnahkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun biasa membaca qunut tersebut. Beliau pun pernah mengajari (cucu beliau) Al Hasan beberapa kalimat qunut untuk shalat witir (Allahummahdiini fiiman hadait, wa’aafini fiiman ‘afait, watawallanii fiiman tawallait, wabaarik lii fiima a’thait, waqinii syarrama qadlait, fainnaka taqdhi walaa yuqdho ‘alaik, wainnahu laa yadzillu man waalait, tabaarakta rabbana wata’aalait, -pen) [HR. Abu Daud no. 1425, An Nasai no. 1745, At Tirmidzi no. 464, shahih kata Syaikh Al Albani]. Ini termasuk hal yang disunnahkan.

Jika engkau merutinkan membacanya setiap malamnya, maka itu tidak mengapa. Begitu pula jika engkau meninggalkannya suatu waktu sehingga orang-orang tidak menyangkanya wajib, maka itu juga tidak mengapa. Jika imam meninggalkan membaca do’a qunut suatu waktu dengan tujuan untuk mengajarkan manusia bahwa hal ini tidak wajib, maka itu juga tidak mengapa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajarkan do’a qunut pada cucunya Al Hasan, beliau tidak mengatakan padanya: “Bacalah do’a qunut tersebut pada sebagian waktu saja”. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa membaca qunut witir terus menerus adalah sesuatu yang dibolehkan. (Fatawa Nur ‘alad Darb, 2:1062)

Setelah witir dituntunkan membaca, “Subhaanal malikil qudduus”, sebanyak tiga kali dan mengeraskan suara pada bacaan ketiga (HR. An Nasai no. 1732 dan Ahmad 3/406, shahih menurut Syaikh Al Albani). Juga bisa membaca bacaan “Allahumma inni a’udzu bika bi ridhooka min sakhotik wa bi mu’afaatika min ‘uqubatik, wa a’udzu bika minka laa uh-shi tsanaa-an ‘alaik, anta kamaa atsnaita ‘ala nafsik” [Ya Allah, aku berlindung dengan keridhoan-Mu dari kemarahan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diri-Mu sendiri] (HR. Abu Daud no. 1427, Tirmidzi no. 3566, An Nasai no. 1100 dan Ibnu Majah no. 1179, shahih kata Syaikh Al Albani)

Kelebihan Solat Berjemaah

“Shalat seseorang (di masjid dengan berjama’ah) itu dilebihkan dengan 25 derajat dari shalat yang dikerjakan di rumah dan di pasar.

Sesungguhnya jika salah seorang di antara kalian berwudhu kemudian menyempurnakan wudhunya lalu mendatangi masjid, tak ada keinginan yang lain kecuali untuk shalat, maka tidaklah ia melangkah dengan satu langkah pun kecuali Allah mengangkatnya satu derajat, dan terhapus darinya satu kesalahan…”

(Muttafaqun ‘alaihi, dari shahabat Abu Hurairah)

‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Barangsiapa yang ingin berjumpa dengan Allah kelak dalam keadaan Muslim, maka hendaklah dia menjaga shalat lima waktu tatkala dia diseru (dengan adzan).

Sesungguhnya Allah telah mensyariatkan sebuah sunnah yang agung, dan sholat berjamaah adalah diantara sunnah tersebut.

Seandainya kalian shalat di rumah-rumah kalian, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang belakangan, maka sungguh kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian.

Jika kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian, maka sungguh kalian telah berada dalam kesesatan.”

(HR. Muslim)

Setelah nampak di hadapan kita khabar tentang pahala bagi orang yang menghadiri sholat jama’ah di masjid, dan ancaman bagi orang yang tidak menghadirinya, lantas masih adakah rasa berat di dalam hati kita untuk melangkah memenuhi seruan adzan ?

Allahul Muwaffiq.

Keutamaan Orang-orang Yang Perhatian Terhadap Masjid

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, bahwa kelak di hari kiamat ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat kan pertolongan  dari Allah Ta’ala.

Salah seorang di antaranya adalah para pecinta masjid.

“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan dari Allah, tatkala tidak ada naungan selain naungan-Nya… Seseorang yang hatinya senantiasa terkait dengan masjid…”

(Muttafaqun ‘alaihi).

Ibnu Hajar rahimahullahu menjelaskan makna hadits tersebut, “Hadits ini menunjukkan bahwa orang tersebut hatinya senantiasa terkait dengan masjid meskipun jasadnya terpisah darinya.

Hadits tersebut juga menunjukkan bahwa keterkaitan hati seseorang dengan masjid, disebabkan saking cintanya dirinya dengan masjid Allah ta’ala”.

(Lihat Fathul Bari)

Lalai Dengan Pemakmuran Masjid

Banyak di antara kaum muslimin, sangat semangat dalam mendirikan dan membangun masjid.

Mereka berlomba-lomba menyumbangkan banyak harta untuk mendirikan bangunan masjid di berbagai tempat, setelah masjid berdiri pun tidak lupa untuk menghiasnya dengan hiasan yang bermegah-megahan.

Namun setelah bangunan beserta hiasan berdiri tegak, justru mereka tidak memanfaatkan masjid tersebut untuk shalat jama’ah dan ibadah lainnya.

Mereka sangka sumbang sih mereka dengan harta dan modal dunia tersebut sudah mencukupinya.

​Saudaraku, memakmurkan masjid tidak semata-mata makmur secara fisik, memakmurkan masjid yang hakiki adalah dengan ketaatan kepada Allah, yaitu dengan shalat jama’ah, tilawah Al quran, pengajian-pengajian ilmiah dan lain sebagainya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhabarkan bahwa hal yang demikian merupakan salah satu tanda datangnya hari kiamat, “Tidaklah tegak hari kiamat sampai ada manusia yang bermegah-megahan dalam membangun masjid”

(HR. Abu Dawud, dinilai shohih oleh Syaikh Al Albani).

Imam Al Bukhari rahimahullahu berkata dalam kitab shahihnya, Anas berkata,

“Orang-orang bermegah-megahan dalam membangun masjid, mereka tidak memakmurkan masjid tersebut melainkan hanya sedikit.

Maka yang dimaksud dengan bermegah-megahan ialah bersungguh-sungguh dalam memperindah dan menghiasinya”.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sungguh kalian akan memperindah dan menghiasi masjid sebagaimana orang-orang Yahudi dan Nasrani memperindah dan menghiasi tempat ibadah mereka”.

(HR. Bukhari, Kitab Ash-Shalah, Bab Bunyanil Masajid)

Renungkanlah,

Terlampau banyak penjelasan yang memaparkan keutamaan masjid sebagai benteng utama kekuatan kaum Muslimin.

Telah terbukti secara nash dan realita.

Perjalanan hidup para pendahulu kita telah membuktikannya.

Bukankah seluruh para ulama yang membawa perbaikan terhadap agama Islam adalah para pecinta masjid.

Imam Malik rahimahullahu mengatakan,

“Tidak akan pernah baik generasi akhir umat ini kecuali dengan perkara-perkara yang dengannya telah menjadi baik generasi awal umat Islam

(yaitu generasi sahabat)”.

Maka apabila kita menghendaki kejayaan dan kemenangan kaum Muslimin, maka hendaklah kita menempuh jalan yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat beliau radhiyallahu ‘anhum, yang mereka senantiasa perhatian terhadap masjid-masjid mereka, memakmurkan masjid-masjid Allah dengan ketaatan kepada-Nya.

Mulialah dari masjid kita membangun umat ini, DARI MASJID KITA AKAN BANGKIT

Allahu A’laam bish showab.

Kisah Benar Dan Luar Biasa Semasa Menguruskan Jenazah.

Kisah Benar Dan Luarbiasa Semasa Menguruskan Jenazah.

Seperti biasa, malam semalam saya menerima panggilan dari Forensik untuk mengurus jenazah dari luar daerah pada pagi ini jam 07.30.

Saya dimaklumkan, jenazah sudah berada di dalam peti beku selama 3 malam. Saat itu, husnuzon saya agak tercalar dan berfikir bagaimana keadaan jenazah setelah 3 malam dalam peti beku…Namun segalanya jauh dari akal kita, sehingga terasa, Arwah seorang insan yang sangat luarbiasa dan ALLAH nak bagitau kepada kita semua tentang Janji-NYA.

Hanya saya dan seorang lagi sahabat yang mengurus jenazah Arwah nenek tu.

Bila nak mula nak mandi, saya dengan sahabat merasa hairan, jenazah seolah baru saja putus nafas. Dengan keadaan tubuhnya begitu lembut dan wajahnya seolah olah sedang tidur nyenyak je.

Arwah nenek tu berumur brrumur 86 tahun. Segala urusan mandi dan kafan, hanya kami berdua je yg menguruskannya..

Mandinya sangat mudah dan sangat bersih tiada kotoran sedikit pun..

Tetapi yang sangat luarbiasa, setiap sendi dan tubuh Arwah sangat lembut, masih terasa hangat dan tidak menunjukkan Arwah berada dalam peti beku selama 3 malam. Sedangkan Arwah dah tiada 4 hari, kerana menunggu result Covid..Alhamdulillah Negatif 🤲.

Siap je urusan mandi, wajah Arwah nenek tu nampak lebih berseri, dan bila dikafankan, wajahnya bertambah berseri dan seolah bercahaya. Saya dan sahabat mengalir airmata dan merasa sangat bertuah dapat urus jenazah nenek tadi dengan sangat mudah dan cepat.

Bila semua selesai urus, saya pergi kepada anak lelaki arwah dan bertanya, amalan apa yang mak dia biasa buat semasa hayatnya.

Katanya, Arwah mak dia dulu dari muda menjual sayur dan anak ada 9 orang dan keluarga susah. Setiap kali jual sayur, mak nya akan lebihkan ikatan semua jenis sayur nya sehingga ada orang yang membeli sayur maknya akan jual semula seikat bahagi kepada 2 ikatan. Maknanya, setiap kali mak dia berniaga, akan ada sedeqah dalam setiap sayur yang dia jual.

Dan mak dia seorang yang xbanyak cakap, hanya bercakap hal yg perlu saja dan susah nak bercakap hal orang lain.

SUBHANALLAH,..

betullah janji ALLAH itu sangat benar dan sebenar²nya..selama 3 malam dalam peti beku, Arwah maknya ditemani oleh segala Amalan Sedeqah dan Akhlak baik dia semasa masih hidup..

Janji ALLAH SWT yang pertama bagi orang yang rajin bersedekah adalah sedekah itu dapat menghapuskan dosa orang yang mengerjakannya.

Rasulullah SAW, beliau bersabda :

“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.”

(HR. Tirmidzi)

Rasulullah SAW bersabda:

“Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur.” [HR. Ath-Thabrani]

Nabi Muhammad SAW menceritakan tentang 7 jenis manusia yang akan mendapat berteduh pada hari yang tidak ada teduhan dari kepanasan di padang mahsyar.

Salah satu golongan yang mendapat teduhan itu adalah orang yang suka bersedekah.

Wahai Sahabat semua, sambil saya menulis ini, airmata saya masih mengalir dan benar² terasa kebesaran ALLAH sangat jelas dan nyata…Dalam situasi PKP ni, perit dan susahnya kehidupan orang,  ALLAH nak bagi Mesej kepada kita semua, jadilah tangan yang sentiasa memberi kerna ALLAH nak bantu kita selepas Kematian(Alam Barzakh) kita dan di Padang Mahsyar nanti.

Dan jagalah Solat dan Akhlak kita terutama lidah kita dengan orang lain. Kerna semua itu akan dipertanggungjawab selepas kematian kita.

Selama 15tahun urus jenazah di Forensik Hospital Lipis, banyak memberi impak dalam jiwa saya dan bermacam² kisah saya hadapi..

Biasanya saya akan bercerita kisah² benar dalam ceramah kursus je. Tapi hari ini saya nak kongsi bersama sahabat FB saya untuk kita sama sama jadikan ilmu dalam hidup kita semua..

Inilah Kisah Janji Mulia ALLAH SWT kepada hamba-NYA.

ALLAH SWT berfirman yang bermaksud: “Katakanlah! Sesungguhnya, Tuhanku melapangkan rezeki dan menyekatnya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-NYA; Dan apa sahaja yang kamu berikan, ALLAH akan menggantinya dan Dialah Pemberi Rezeki yang terbaik.” (Surah Saba’, ayat 34)

Amalan bersedekah sangat berkait rapat dengan iman seorang Muslim. Setiap sedekah yang diterima di sisi ALLAH SWT, DIA akan balas dan ‘membayarnya’ di dunia lagi.

Benar sekali Firman ALLAH seperti di atas,  sedekah pasti berganti dan gantiannya pula sangat luas. Ada pahala, ada syurga, ada limpahan rezeki, ada kesihatan, ada keberkatan hidup, ada nama yang harum pada manusia dan ada pula rasa cinta para malaikat kepada kita. Apabila kita dicintai para malaikat, hidup kita semakin indah dan berkat kerana doa mereka.

Oleh itu, marilah kita sama-sama menyemarakkan budaya sedekah agar kita sentiasa mendapat rahmat ALLAH dan dikenali oleh para malaikat. Sedekah pasti berganti dan gantiannya pula sangat luas.

Sesungguhnya apabila matinya seseorang anak Adam itu, hanya 3 perkara yang akan dibawanya bersama :

① Solat, Sedekah/amal jariahnya.

② Doa anak²nya yang soleh.

③ Ilmu yang bermanfaat yang disampaikannya kepada orang lain.

MENDIDIK ANAK SATU PROSES.

MENDIDIK ANAK SATU PROSES.

Ibu ayah sekalian..

Proses mendidik ini bukan proses yg penuh kesempurnaan tetapi banyak sangat kelemahan dan kekurangan.

Sampai hari ni rasa nak baiki sana – sini lagi.

Anak – anak kita juga sama…

Bukan lahir – lahir  pergi sekolah masuk universiti..

Lantas kita nak tengok semua elok terletak bagus – bagus semua.

Semua kita sedang melalui proses Tarbiyah ini .

Sebab itu ibuayah-anak – anak kena toleransi, tolak ansur, belajar memahami.

Anak kita tak sama macam anak orang lain. Mungkin anak orang laju fahamnya,cepat pandainya tapi anak kita dilambatkan faham tetapi dilebihkan pahala sabar dan macam – macam lagi hikmah ALLAH S.W.T nak beri.

 Sabarlah dengan masa. Jangan terburu-buru.

Pencapaian anak -anak bukan untuk dibanggakan seperti juga kelemahan anak -anak janganlah buat kita putus asa.

Selalulah munajat dengan ALLAH S.W.T…. Bisik – bisikkan di keheningan malam..

Mohon ALLAH S.W.T perbaiki segala kelemahan dan ampuni segala khilaf kita dan anak – anak.

Ustazah banyak belajar dari watak anak dan taqdir anak yang berbeza – beza.

Ada anak yang kena intensif sungguh untuk boleh sebut huruf Al – Quran dengan tepat.

Proses tu mungkin pedih sangat pada anak – anak ini…

Mandi airmata Umi,Abi dan anak  – anak.

Sampai ada anak yang kata ‘ habis daya dah umi’..

Waktu tu umi rasa.. sedih sangat.

Dan ungkap pada ALLAH S.W.T..

” Ya ALLAH kami dah mencuba,ampuni salah silap kami”.

Tapi…

ALHAMDULILLAH…

Kita tak putus asa. Banyaknya Ustazah belajar…

Untuk menghargai usaha anak  – anak bukan natijahnya semata – mata.

Lapangnya hati ustazah bila menghargai anak – anak yang masih ingin terus belajar dan belajar.

Ustazah nak jadi ibu yang ihsan pada anak – anak.

Bukan paksa anak – anak untuk semuanya jadi sempurna…

Tetapi…

Berpimpinan untuk kita mendaki bersama.

Siapa yang jatuh dibantu untuk dibangunkan.

Sungguh…

Kita dan anak – anak sama – sams sedang melalui proses pendidikan ini.

Perjalanan hidup anak dalam Umi macam – macam.

Umi selalu doa pada ALLAH S.W.T…

” Anakku itu hambaMU Ya Rabb..

kasihanilah dia.. cintailah dia.. pilihlah dia untuk mengenalMU..

Dia telah mencuba, bantulah dia”.

Terus istiqamah ya anak Umi.

Umi jadi saksi dirimu sentiasa cuba untuk buat yang terbaik untuk kami.

ALLAH S.W.T takkan sia – sia kan anak – anak soleh yang taat pads kedua ibubapanya

Renung – renungkan.

Al-Quran itu Kalamullah, bukan makhluk

Al-Quran itu Kalamullah, bukan makhluk

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc 

July 23, 2019

Kali ini kita akan membahas salah satu akidah yang mesti diyakini yaitu Al-Qur’an bukanlah makhluk, Al-Qur’an itu kalamullah. Ini adalah prinsip akidah dasar agar benar dalam memahami Al-Qur’an.

Imam Al-Muzani rahimahullah berkata,

وَالقُرْآنُ كَلاَمُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمِنْ لَدُنْهُ وَلَيْسَ بِمَخْلُوْقٍ فَيَبِيْدُ

“Al-Qur’an itu kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla), berasal dari sisi-Nya. Al-Qur’an itu bukanlah makhluk yang akan binasa.”

Al-Qur’an itu dari Sisi Allah

Maksud perkataan Imam Al-Muzani rahimahullah bahwa Allah itu berbicara dengan Al-Qur’an secara hakikat, dan Al-Qur’an itu berasal dari sisi Allah.

Dalil yang menunjukkan hal di atas adalah firman Allah,

الر ۚ كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ

“Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu.” (QS. Hud: 1)

Al-Qur’an itu Bukan Makhluk

Kalimat Imam Al-Muzani rahimahullah “Al-Qur’an itu bukanlah makhluk yang akan binasa”, kalimat ini adalah bantahan untuk Hululiyyah, Ittihadiyyah, Jahmiyyah, Mu’tazilah yang menyatakan Al-Qur’an itu makhluk.

Dalilnya bahwa Al-Qur’an itu bukan makhluk,

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami.” (QS. Asy-Syura: 52)

Dalam ayat lainnya,

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.” (QS. Al-A’raf: 54). Di sini dibedakan antara menciptakan dan memerintah. Al-Qur’an itu termasuk dalam perintah Allah, bukan termasuk dalam makhluk Allah.

Begitu pula ayat,

الرَّحْمَنُ . عَلَّمَ الْقُرْآنَ . خَلَقَ الْإِنْسَانَ

“Allah Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia.” (QS. Ar-Rahman: 1-3). Di sini disebutkan Al-Qur’an adalah ilmu Allah. Sedangkan manusia adalah makhluk. Berarti berbeda antara ilmu Allah dan makhluk.

Kafirnya Orang yang Mengatakan Al-Qur’an Makhluk

Para ulama menyatakan sepakat akan kafirnya orang yang meyakini Al-Qur’an itu makhluk.

Imam Malik rahimahullah mengatakan, “Siapa yang mengatakan Al-Qur’an itu makhluk, maka ia dipukul, hingga dipenjara sampai mati.” (As-Sunnah li ‘Abdillah bin Ahmad,1:106, dinukil dari Tamam Al–Minnah ‘ala Syarh As-Sunnah li Al-Imam Al-Muzani, hlm. 95)

Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Al-Qur’an itu kalamullah, bukanlah makhluk.” (Al-‘Arys li Imam Adz-Dzahabi, 2:291, dinukil dari Tamam Al–Minnah ‘ala Syarh As-Sunnah li Al-Imam Al-Muzani, hlm. 95)

Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, “Siapa yang menyatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, maka menurut kami ia kafir karena Al-Qur’an itu termasuk ilmu Allah dan di dalamnya terdapat nama-nama Allah.” (As-Sunnah li ‘Abdillah bin Ahmad,1:102, dinukil dari Tamam Al–Minnah ‘ala Syarh As-Sunnah li Al-Imam Al-Muzani, hlm. 95)

Sufyan Ats-Tsaury rahimahullah menyatakan, “Siapa yang menyatakan bahwa firman Allah berikut,

يَا مُوسَىٰ إِنَّهُ أَنَا اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“(Allah berfirman): “Hai Musa, sesungguhnya, Akulah Allah, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. An-Naml: 9)” sebagai makhluk, maka ia kafir zindiq, halal darahnya.” (As-Sunnah li ‘Abdillah bin Ahmad,1:106, dinukil dari Tamam Al–Minnah ‘ala Syarh As-Sunnah li Al-Imam Al-Muzani, hlm. 95)

An-Nadhr bin Muhammad Al-Maruzi rahimahullah menyatakan, “Siapa yang menyatakan bahwa ayat berikut itu makhluk,

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. Thaha: 14)”, maka ia kafir.” (Al-‘Uluw li Al-Imam Adz-Dzahabi, hlm. 161, dinukil dari Tamam Al–Minnah ‘ala Syarh As-Sunnah li Al-Imam Al-Muzani, hlm. 95)

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan, “Adapun pengafiran pada orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, maka telah dikatakan oleh ulama salaf di masanya Imam Malik, Ats-Tsauri, kemudian masanya Imam Ibnul Mubarak, Waki’, lalu masa Imam Syafi’i, ‘Affan, dan Al-Qa’nabi, kemudian masa Imam Ahmad bin Hambal, ‘Ali bin Al-Madini, kemudian pada masa Imam Al-Bukhari, Abu Zur’ah Ar-Razi, kemudian pada masa Muhammad bin Nashr Al-Maruzi dan Muhammad bin Jarir, dan Ibnu Khuzaimah.” (Al-‘Uluw li Al-Imam Adz-Dzahabi, hlm. 161, dinukil dari Tamam Al–Minnah ‘ala Syarh As-Sunnah li Al-Imam Al-Muzani, hlm. 95-96)

“Lafazhku dengan Al-Qur’an itu Makhluk”?!

Telah masyhur dari Imam Ahmad, dan pengikutnya, juga Imam Malik dan Imam Syafi’i, begitu pula Al-Asy’ari dan selain mereka yang menyatakan, “Siapa yang menyatakan ‘lafazhku dengan Al-Qur’an bukanlah makhluk’, maka ia termasuk mubtadi’ (ahli bid’ah).” (Majmu’ah Al-Fatawa, 3:208)

Imam Ahmad menyatakan, “Yang mengatakan ‘lafazhku dengan Al-Qur’an itu makhluk’ adalah Jahmiyyah, sedangkan yang menyatakan bukanlah makhluk, dialah ahli bid’ah.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 6:187)

Jika yang dimaksud adalah talaffuzh berarti lafazh yang keluar adalah makhluk, maka itu benar. Namun jika yang dimaksudkan adalah al-mutalaffazh bihi, yaitu yang diucapkan (Al-Qur’annya) jika disebut makhluk, maka inilah pendapat Jahmiyyah. Sehingga perlu diperinci untuk kalimat “lafazhku dengan Al-Qur’an adalah makhluk”, apakah yang dimaksud adalah lafazh ataukah al-malfuzh (ayat yang diucapkan).

Demikian penjelasan dari Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah. Lihat https://www.alfawzan.af.org.sa/en/node/7078

Al-Qur’an itu Langsung dari Allah, Bukan Kalam Jibril

Faedah yang bisa disimpulkan dari Syaikh Muhammad Bazmul sebagai berikut.

Al-Qur’an Al-‘Azhim adalah kalamullah, merupakan sifat di antara sifat Allah. Allah ‘azza wa jalla itu berbicara. Di antara kalam Allah adalah apa yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Qur’an ini dimulai dari surah Al-Fatihah dan ditutup dengan surah An-Naas. Allah memberikan kepada kita kemudahan untuk mempelajari Al-Qur’an, itu tidaklah berat. Dalam ayat disebutkan,

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17)

Menurut akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Allah sendiri yang berbicara dengan Al-Qur’an ini, lalu didengar oleh Jibril ‘alaihis salam, kemudian disampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Jibril mendengarnya langsung dari Allah. Penjelasan ini telah diringkas dari Iidhoh Syarh As-Sunnah li Al-Muzani, hlm. 62.

Akibat Tidak Meyakini Al-Qur’an itu Kalamullah

Syaikh Muhammad Bazmul berkata, “Akidah ini punya pengaruh hingga permasalah ushul fikih. Asya’irah dan Mu’tazilah menganggap bahwa perintah dalam Al-Qur’an bukanlah bermakna wajib. Begitu pula larangan mereka meyakini juga tidak bermakna haram. Karena mereka beranggapan bahwa Al-Qur’an itu bukanlah kalamullah. Al-Qur’an hanyalah ungkapan Jibril—menurut mereka–, maka Al-Qur’an tidaklah dipastikan hakikatnya perintah atau larangan.” (Iidhoh Syarh As-Sunnah li Al-Muzani, hlm. 62)

Semoga bermanfaat.

EMPAT AMALAN MUDAH MENCAPAI REDHA ALLAH SWT

EMPAT AMALAN MUDAH MENCAPAI REDHA ALLAH SWT

Berkata Syeikh Sya’rawi rahimahullah :-

■ PERTAMA :

Bila kamu nampak semut, maka janganlah kamu membunuhnya. Carilah dengan itu wajah Allah, semoga Allah mengasihani kamu sebagai mana kamu mengasihaninya. Kamu ingatlah bahawa ia bertasbih kepada Allah, maka jangan engkau hentikan tasbih ini dengan membunuhnya.

■ KEDUA :

Bila kamu nampak burung sedang minum air dari kolam, maka jangan lah kamu lalu di sebelahnya sehingga menakutkannya. Biarkan ia dengan perasaan yang aman. Engkau carilah dengan itu redha Allah, semoga Dia mengamankan kamu pada hari di mana, nyawa telah sampai di tenggorok.

■ KETIGA :

Bila kamu hendak mengalihkan kucing yang sedang mengganggu di tengah jalan, elak kan dari membuatnya terkejut. Carilah dengan itu redha Allah. Semoga Allah memelihara engkau dari kematian yang mengejut.

■ KEEMPAT :

Bila engkau terpaksa membuang sisa atau baki makanan, jadikanlah niat engkau hendak memberi makhluk lain makan. Carilah dengan itu redha Allah. Semoga Allah mengurniakan engkau rezqi dari jalan yang tak disangka.

~~

●–> Bila engkau berniat menyebarkan perkataan-perkataan ini, niatkanlah dengannya kebaikan, semoga Allah melepaskan engkau dengannya kesusahan dari kesusahan dunia dan akhirat …

●–> Oleh itu buatlah kebaikan walau sekecil mana pun KERANA ENGKAU TIDAK AKAN TAHU AMALAN MANA yang dapat memasukkan engkau ke syurga Allah SWT seluas langit dan bumi …

10 TANDA AKHLAK YANG MULIA

TANDA AKHLAK YANG MULIA

Yusuf bin Asbath rahimahullah berkata :

علامة حسن الخلق عشرة أشياء :

1-  قلة الخلاف

2- حسن الإنصاف

3- ترك طلب العثرات

4- تحسين ما يبدو من السيئات

5- التماس المعذرة

6-احتمال  الأذى

7- الرجوع بالملامة على نفسه

8- التفرد بعيوب نفسه دون عيوب غيره

9- طلاقة الوجه

10- لين الكلام

📝Tanda akhlak mulia itu ada 10 perkara :

1. Jarang berselisih.

2. Baik dalam bersikap adil.

3. Meninggalkan tindakan mencari-cari kesalahan orang lain.

4. Berusaha memeperbaiki keburukan-keburukan yang nampak.

5. Mencarikan udzur bagi orang yang salah.

6. Bersabar menghadapi gangguan orang lain yang menyakitkan.

7. Introspeksi dengan mencela diri sendiri yang juga penuh kekurangan.

8. Hanya sibuk mengurus aib-aib sendiri tanpa mengurusi aib orang lain.

9. Wajah yang ceria.

10. Lembut perkataannya”

4 Hikmah di sebalik perjalanan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail Dan Siti Hajar

PENGORBANAN KASIH ABADI

Hikmah di sebalik perjalanan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Siti Hajar

1. Perlunya dalam keluarga, orang itu berusaha, bekerja dan tidak menjadi orang yang menadah tangan meminta-minta.

2. Ketua keluarga bertanggungjawab mendidik keluarga bagaimana taat kepada Allah. Kunci kejayaan keluarga terletak pada ketaatan mereka kepada Allah SWT walaupun dengan segala kesukaran dihadapi. Akan datang jalan keluar dan solusi serta khabar gembira daripada Allah.

3. Anak mesti berbakti kepada orang tua. Menyokong orang tuanya dalam melaksanakan perintah Allah SWT, simbol bakti anak kepada orang tua.

4. Pasrah kepada Allah SWT, sabar ke atas dugaan yang datang yang mana setiap kesabaran akan dibalas oleh Allah SWT dengan balasan yang begitu tinggi.

Sabarlah kamu sesungguhnya ganjaran orang bersabar adalah diberikan oleh Allah SWT.

HIDAYAH ITU DIJEMPUT, BUKAN DITUNGGU 🖌

HIDAYAH ITU DIJEMPUT, BUKAN DITUNGGU 🖌

Saudaraku

Hidayah itu mahal dan berharga

Sangat beruntung orang yang mendapat hidayah

Dia merasakan kebahagiaan dunia-akhirat

Kebahagiaan hati, ketentraman jiwa dan ketenangan yang sejati

Hidayah itu bukan ditunggu

Menunggu waktu tua dahulu

Menunggu sukses dunia dahulu

Menunggu anak dewasa dan mandiri dahulu

Hidayah itu dijemput dengan segera

Karena taubat tidak menunggu ajalmu

Bukan lambat asal selamat

Tapi cepat agar selamat di akhirat

Hanya orang yang bersungguh-sungguh lah yang mendapatkan hidayah

Allah berfirman,

“Orang-orang yang bersungguh-sungguh (berjuang) di jalan Kami, sungguh akan Kami berikan petunjuk (hidayah) kepada mereka untuk istiqamah di jalan Kami. (QS. Al-Ankabut: 69).

Ibnul Qayyim menjelaskan ayat di atas, beliau berkata:

“Allah menggantungkan/mengkaitkan hidayah dengan perjuangan/jihad. Manusia yang paling sempurna hidayahnya adalah yang paling besar jihadnya. Jihad yang paling utama yaitu jihad mendidik jiwa, jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan setan dan jihad melawan fitnah dunia.” [Al-Fawaid, hlm. 59]

Bersungguh-sungguh lah

melawan nafsu dunia dan syahwat yang menipu

Melawan gengsi dunia dan sombong

Melawan kerasnya hati

Bagaimana cara menjemput hidayah:?

Datangi kajian dan sumber ilmu, karena hidayah dan hijrah itu harus dengan ilmu

Segera ganti dengan teman-teman yang baik dan shalih

Baca buku tata cara shalat dan perbaiki cara shalatmu

Ambil Al-Quran yang lama berdebu, bacalah dengan lama sejenak

Infaknya sebagian hartamu

Sedekahlah sembunyi-sembunyi, semoga bisa meredam murka Allah

Segera kunjungi anak yatim, usap lah kepalanya dan santuni

Ziarah ke kubur dan renungkan lah engkau akan menyusul dan dilupakan manusia

Berkunjunglah ke orang sakit dan lihat mereka menyesal tidak bisa beramal banyak lagi

Kunjungi panti jompo, lihat mereka menyesal menyia-nyiakan masa muda dengan huru-hara

Tidak lupa berdoa kepada Allah di sepertiga malam memohon hidayah kepada Allah

Semoga kita semua mendapatkan hidayah dari Allah

Semoga keluarga, teman dan kaum muslimin mendapatkan hidayah terbaik

Create your website with WordPress.com
Get started