8 Cara Penyucian Jiwa

1 . Bila Hari Ini Belum dapat Memberi Kebahagiaan pada Sesama, usahakan Hari Ini Tidak Menyakiti Orang lain.

2 . Bila Hari Ini Belum dapat Melakukan Amal Sholeh, usahakan Hari Ini Tidak Melakukan Dosa.

3 . Bila Hari Ini Belum dapat Berakhlak Mulia, usahakan Hari Ini Tidak Menyimpan Hati Buruk pada Sesama.

4 . Bila Hari Ini Belum dapat Menghargai Orang lain, usahakan Hari Ini Tidak Memberi nilai Berlebih pada Diri Sendiri.

5 . Bila Hari Ini Belum dapat Memberi Manfaat, usahakan Hari Ini Tidak Memberi Mudharat bagi Sesama.

6 . Bila Hari Ini Belum dapat Menciptakan Suasana yang Menyenangkan bagi Orang lain, usahakan Hari Ini Tidak Melakukan Kemarahan dan Kebencian pada Sesama.

7 . Bila Hari Ini Belum dapat Mengingat Kebaikan Orang, usahakan Hari Ini dapat Melupakan Keburukan Orang lain.

8 . Bila Hari Ini Belum dapat Beramal dengan Ikhlas, usahakan Hari Ini dapat Membebaskan Diri dari Pujian Org lain.

Makna dari Kehidupan Bukan Terletak pada seberapa Bernilainya Diri Kita, Tetapi seberapa Besar Bermanfaatnya Kita bagi Orang lain

Semoga kita dapat Menjadi Berkah dan juga bagi Banyak Orang

آمين يارب العالمين

Syaitan gigih menyesatkan manusia

Syaitan gigih menyesatkan manusia

anNisa ayat 119.

وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا (119)

dan saya benar-benar akan menyesatkan, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh-mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan saya suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya.” Barang siapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.  (anNisa:119).

🔺 tafsir ibnu Kathir

{وَلأضِلَّنَّهُمْ}

dan saya benar-benar akan menyesatkan mereka. (An-Nisa: 119)

Yakni dari jalan yang benar.

{وَلأمَنِّيَنَّهُمْ}

dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka. (An-Nisa: 119)

Artinya, aku akan menghiaskan pada mereka agar mereka tidak bertobat, dan aku bangkitkan angan-angan kosong mereka, menganjurkan kepada mereka untuk menangguh-nangguhkannya, dan menipu diri mereka melalui hawa nafsu mereka sendiri.

*******

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{وَلآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الأنْعَامِ}

dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya. (An-Nisa: 119)

Menurut Qatadah, As-Saddi, dan selain keduanya, yang dimaksud ialah membelah telinga binatang ternak untuk dijadikan tanda bagi hewan bahirah, saibah, dan wasilah.

{وَلآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ}

dan akan saya suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya. (An-Nisa: 119)

Ibnu Abbas mengatakan, yang dimaksud dengan mengubah ciptaan Allah dalam ayat ini ialah mengebiri binatang ternak.

Hal yang sama diriwayatkan dari Ibnu Umar, Anas, Sa’id ibnul Musayyab, Ikrimah, Abi Iyad, Qatadah, Abu Saleh, As-Sauri. Hal ini telah dilarang oleh hadis yang menceritakan hal tersebut.

Al-Hasan ibnu Abul Hasan Al-Basri mengatakan, yang dimaksud ialah mentato binatang ternak. Di dalam kitab Sahih Muslim telah disebutkan adanya larangan membuat tato pada wajah. Di dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah melaknat orang yang berbuat demikian.

Di dalam hadis sahih dari Ibnu Mas’ud disebutkan bahwa Allah melaknat wanita tukang tato dan wanita yang minta ditato, wanita yang mencabuti bulu alisnya dan yang meminta dicabuti, wanita yang melakukan pembedahan untuk kecantikan lagi mengubah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Kemudian Ibnu Mas’ud mengatakan pula, “Ingatlah, aku melaknat orang yang dilaknat oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam,” yang hal ini terdapat di dalam Kitabullah. Yang dimaksud ialah firman-Nya:

وَما آتاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَما نَهاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

Apa yang diberikan Rasul kepada kalian, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah. (Al-Hasyr: 7)

Ibnu Abbas menurut salah satu riwayat darinya, Mujahid, Ikrimah, Ibrahim An-Nakha’i, Al-Hasan, Qatadah, Al-Hakam, As-Saddi, Ad-Dahhak, dan Ata Al-Khurrasani mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: dan akan saya suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya. (An-Nisa: 119)

Yang dimaksud dengan khalqallah dalam ayat ini ialah agama Allah Subhanahu wa Ta’ala Ayat ini berdasarkan tafsir tersebut semakna dengan firman-Nya:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفاً فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْها لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ

Maka   hadapkanlah   wajahmu   dengan   lurus   kepada   agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Ar-Rum: 30)

Menurut penafsiran orang yang menjadikan masdar sebagai kata perintah, artinya yakni ‘janganlah kalian mengganti fitrah Allah, dan serulah manusia untuk kembali kepada fitrah mereka’.

Seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis dalam kitab Sahihain dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:

“كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ على الفِطْرَة، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدانه، ويُنَصِّرَانه، ويُمَجِّسَانه، كَمَا تُولَدُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعاء، هَلْ يَحُسّون فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟ “

Setiap anak dilahirkan atas fitrah. maka hanya kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, atau seorang Nasrani, atau seorang Majusi. Sebagaimana binatang ternak melahirkan binatang ternak yang utuh, maka apakah kalian menjumpai padanya anggota tubuhnya yang tidak lengkap?

Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan dari Iyad ibnu Hammad yang menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:

“قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِنِّي خلقتُ عِبَادِي حُنَفَاء، فَجَاءَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فْاجْتَالَتْهُم عَنْ دِينِهِمْ، وحَرّمت عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ  لَهُمْ”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (lurus), lalu datanglah setan-setan dan menyesatkan mereka dari agamanya, serta mengharamkan atas mereka hal-hal yang telah Kuhalalkan bagi mereka.”

*******

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْراناً مُبِيناً

Barang siapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. (An-Nisa: 119)

Dia benar-benar merugi di dunia dan akhiratnya, kerugian seperti ini tidak dapat diobati dan tidak dapat diganti bagi yang telah terlewatkan.

🔺 tafsir ibnu Kathir.

Golongan yang wajib qada puasa tanpa fidyah

Golongan yang wajib qada tanpa fidyah:

1. Orang sakit yang tidak mampu berpuasa, tetapi ada harapan untuk sembuh.

2. Orang yang bermusafir dua marhalah atau lebih, bukan dengan tujuan maksiat.

3. Orang yang sangat lapar dan dahaga yang membahayakan dirinya.

4. Perempuan hamil atau perempuan yang menyusukan anaknya atau anak orang lain dan dia takut mudarat kepada dirinya, bukan kepada anak yang disusukannya atau takut mudarat kepada dirinya dan anaknya.

5. Perempuan yang haid dan nifas.

6. Orang yang pengsan.

7. Orang yang mabuk dan pitam sepanjang hari.

8. Lupa niat pada malam hari atau sengaja tidak berniat pada malam hari.

9. Orang yang melakukan perkara-perkara yang membatalkan puasa.

☘️ Golongan yang wajib qada serta fidyah:

1. Perempuan hamil atau perempuan yang menyusukan anaknya atau anak orang lain dan dia takut mudarat kepada anak yang dikandung atau disusukannya.

2. Orang yang menunda-nunda untuk mengqadakan puasanya sehingga datang Ramadan yang berikutnya.

☘️ Golongan yang wajib fidyah tanpa qada:

1. Orang yang sangat tua yang tidak mampu berpuasa.

2. Orang sakit yang tidak ada harapan sembuh.

3. Orang yang meninggal dunia sebelum mengqada puasa Ramadan sehingga masuk ke bulan Ramadan berikutnya.

☘️ Golongan yang wajib qada dan kafarah:

1. Lelaki yang berpuasa Ramadan yang bersetubuh dengan sengaja pada siang hari.

📚 Rujukan:

1. Mishbahud Duja ms. 577-578

Wallahu A’lam

“Memburu al-Rayyan, Mengecapi Ketakwaan”

Hari-Hari Terakhir Ramadan

Hari-Hari Terakhir Ramadan

Ramadan telah berada di penghujung. Semoga setiap kita diberi kekuatan membuat “finishing” yang terbaik. Jika kita peserta larian 400 meter, kita sedang berada di 100 meter terakhir. Pecutan akhir ini perlu dilakukan sedaya mungkin bagi menentukan kedudukan kita berjaya ditempat pertama atau sebaliknya….

Kata ulama;

العبرة بكمال النهايات لا بنقص البدايات

“Yang menjadi ukuran itu adalah akhir yang sempurna, bukan permulaan yang penuh kekurangan.”

Sesuai dengan hadis Rasulullah SAW

وَإِنَّمَا الأعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada pengakhirannya (penghujungnya)” (HR. Bukhari No: 6607).

Hasan al-Basri rahimahullah berkata: Perbaikilah hari-hari yang tersisa ini semoga Allah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu.

Gunakanlah kesempatan hari-hari berbaki Ramadan ini sebaik mungkin kerana kita tidak tahu bilakah rahmat Allah itu datang untuk kita. Boleh jadi di hari-hari terakhir Ramadan ini. Begitu juga Lailatul Qadar, barang kali malam ini atau mungkin juga esok atau seterusnya?

Marilah kita bersungguh-sungguh dalam menyempurnakan hari-hari berbaki Ramadan kita pada tahun ini.

اللَّـهُـمَّ اخْـتِـمْ لَـنَا رَمَـضَانَ بِالْغُـفْـرَانِ وَالْعِـتْـقِ مِنَ النِّـيرَانِ

Ya Allah, tutuplah Ramadan kami ini dengan keampunan dan pembebasan dari siksaan api neraka.

Suburkan Amalan Mantapkan Keperibadian

Create your website with WordPress.com
Get started