Cukuplah kematian sebagai nasihat


“Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!”
 (HR. Tirmidzi)
      Cukuplah kematian sebagai nasehat bagi orang yang hidup, karena kematian memberikan banyak pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar tidak menyimpang. Nilai-nilai pelajaran yang ingin diungkapkan oleh kematian begitu banyak, menarik, bahkan menenteramkan. Dengan begitu mengingat kematian dapat mendorong meraih sukses dalam kehidupan.
      Namun, ironisnya, kebanyakan manusia justru lebih suka melupakan kematian. Hidup dan kematian, bagi mereka, seolah dua lembah yang saling berpisah. Satu sama lain seperti tak berhubungan. Mereka mengatakan, bersenang-senanglah di lembah yang satu. Dan, jangan pedulikan lembah lainnya.Mereka kurang menyadari bahwa, kematian adalah garis pemisah antara panggung kepura-puraan dengan kehidupan sebenarnya. Garis yang memisahkan aneka lakon dan peran dengan sosok asli seorang manusia. Garis yang akhirnya menyatakan kesudahan segala peran dan dikembalikannya segala alat permainan.
      Sayang sekali, tak sedikit manusia yang lebih cinta dengan dunia kepura-puraan. Mereka pun berkhayal, andai kepura-puraan bisa berlangsung selamanya. Bisa berpuas diri dengan aneka lakon dan peran. Tanpa disadari, kecintaan itu pun berujung pada kebencian. Benci pada kematian.
      Allah swt menggambarkan orang-orang yang enggan dan lari dari kematian. Seperti dalam firmanNya: Katakanlah: “Sesung-guhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesung-guhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (Q.S. 62 Al Jumu’ah 8)
      Orang yang demikian itu juga menginginkan umur yang panjang supaya bisa bersenang-senang lebih lama di dunia, padahal umur yang panjang itu tidak dapat mem-buat mereka bahagia lebih-lebih di akhirat nanti, Allah telah mengingatkannya dalam Al-Qur’an : Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. 2 Al Baqarah 96)
     Ketakutan adalah alasan yang paling lumrah buat mereka yang tidak suka mengingat kematian, bahkan berusaha lari dari kematian. Banyak alasan kenapa harus takut. Salah satunya, mereka takut berpisah dengan kehidupan. Bagi mereka, perpisahan ini berarti usai sudah pesta kenikmatan. Karena kehidupan sudah terlanjur mereka terjemah-kan sebagai kenikmatan.
      Selain itu, ada ungkapan batin yang tidak mereka sadari. Bahwa, mereka enggan berjumpa dengan Allah, sebagaimana mereka selalu menghindar dari perjumpaan dengan Allah dalam ibadah yang mereka lakukan. Keengganan itu sebenarnya bukan cuma milik mereka. Karena Allah pun enggan bertemu mereka, manakala mereka juga enggan bertemu dengan-Nya. “Diceritakan oleh Abu Hurairah ra. Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa menyukai bertemu Allah, maka Allah juga senang berjumpa dengannya. Sebaliknya, siapa yang benci bertemu Allah, maka Allah pun enggan berjumpa dengannya.” (HR. Ahmad)
      Keengganan itu sangat bertolak belakang dengan kerinduan yang diungkapkan seorang sahabat Rasul, Hudzaifah. Ketika tak lama lagi ajal kematian menyambang, beliau r.a. berujar, “….Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa kemiskinan itu lebih baik bagiku daripada kekayaan, sakit itu lebih baik daripada kesehatan, dan mati itu lebih membuatku bahagia daripada hidup, maka permudah-kanlah kematian itu untukku. Sehingga aku dapat bertemu dengan-Mu.”
      Atau boleh jadi ketakutan terhadap kematian lebih karena ketidaktahuan. Persis seperti anak kecil yang lari ketika diminta mandi. Karena yang diketahui si anak tentang mandi tak lebih dari dingin, dipaksa ibu, dan berhenti dari permainan. Begitu pun tentang kematian. Kematian bagi mereka tak lebih dari rasa sakit, berpisah dengan keluarga, harta dan jabatan; serta rasa kehinaan ketika jasad terkubur dalam tanah.
     Di situlah perbedaan mendasar antara hamba Allah yang baik dengan yang buruk. Abdullah bin Umar pernah mendapat pelajaran tentang kematian dari Rasulullah saw. “Aku bersama Nabi saw, kemudian, ada seorang dari kaum Anshar bertanya, ‘Siapakah di antara orang-orang mukmin yang paling mulia, wahai Rasul?’ Beliau saw menjawab, ‘Yaitu, orang yang paling bagus budi pekertinya’. Sahabat itu bertanya lagi, ‘Siapa di antara orang-orang mukmin yang paling pandai?’ Rasul menjawab, ‘Yaitu orang yang ter-banyak ingatnya kepada kematian, dan yang paling siap menghadapi kematian. Itulah orang-orang yang pandai.” (HR. Ibnu Majah)
      Bagi hamba Allah, tak ada kemuliaan apa pun kecuali dari tetap menjaga ingatannya dengan kematian. Bahkan, seorang yang berada pada puncak kekuasaan sekalipun. Setidaknya, itulah yang hendak diungkapkan seorang Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Hampir sepanjang usia kekua-saannya, tak pernah ia lewatkan satu malam pun untuk mengingat kematian. Caranya begitu manis. Ia panggil para pakar fikih, lalu satu sama lain saling mengi-ngatkan tentang kematian, hari kiamat, dan kehidupan akhirat. Kemudian, semuanya pun menangis. Seakan-akan, di samping mereka ada jenazah yang sedang ditangisi.
Kematian mendidik kehidupan, dan kehidupan                     merindukan kematian                                         Itulah mungkin, kenapa Khalifah yang punya kekuasaan luas ini menjadi sosok yang terpuji. Semasa kekuasaannya, hampir tak satu pun rakyatnya yang mengeluh. Mereka hidup sejahtera. Dan inilah sebuah bukti, betapa hidup Umar bin Abdul Aziz begitu berarti ketika kematian menjadi pengingat sejati.
      Jadi sebenarnya, kematian itu sungguh berarti bagi sebuah kehidupan. Kematian dapat selalu memberi peringatan, agar kehidupan tetap menjadi sesuatu yang berarti. Sebaliknya, kehidupan juga mengingatkan kematian, sehingga menjadi sesuatu yang dinanti. Kematian mendidik kehidupan, dan kehidupan merindukan kematian

MENEPATI JANJI

Janji adalah refleksi sosial manusia dalam kehidupan ber-interaksi atau muamalah dengan yang lain. Ash-shidqu fil kalâm kadang berarti perkataan yang sesuai dengan keadaan yang telah atau sedang terjadi. Kadang juga dimaksudkan pembuktian atau merealisasikan kata-kata yang telah dijanjikan sebagai harapan.  Ia juga  dapat  berarti ke sanggupan menjalankan dan me-laksanakan kepercayaan berupa amanah yang diemban dan diterimanya dari Allah Swt. yang berupa beriman dan beribadah kepadanya.
      Lepas dari maksud-maksud tersebut, secara sederhana dan garis besar, janji bisa dibagi menjadi tiga: Pertama, janji kepada Allah Swt. Janji ini kita ikrarkan sebagai jawaban peng-iya-an manusia dari pertanyaan Allah Swt., sebuah pertanyaan kepada ruh-ruh setiap manusia sebagai anak cucu Adam agar selalu beriman bahwa Allah Swt. adalah Tuhannya. Firman Allah Swt. : “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan ketu-runan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengam-bil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Eng-kau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Se-sungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,  ( Q.S. 7 Al A’raaf 172).
atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah memperse-kutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?” (Q.S. 7 Al A’raaf 173)
      Dari ayat ini, Allah Swt menjelaskan bahwa setiap manu-sia yang dilahirkan ke dunia sejatinya sudah membawa janji untuk beriman dan selalu mengakui bahwa Allah Swt adalah Tuhannya yang harus dipatuhi dan disembah dengan segala upaya dan potensi yang telah dikaruniakan Allah Swt.. Selalu berusaha untuk memegang keima-nan dan selalu beribadah kepada-Nya adalah wujud menepati janji kita kepada Allah Swt. tadi.
      Kedua, janji kepada diri sendiri, janji ini bisa berbentuk ungkapan unruk memberikan motifasi kepada diri sendiri agar mau melakukan amal kebajikan. Oleh Fuqâha` (ulama` ahli fiqh) janji ini biasa diistilahkan dengan nadzr. Janji ini disebutkan Allah Swt. hukumnya dalam surat Al-Mâidah: 89. Kurang lebih, Allah Swt. tidak akan menghukum ucapan janji hambanya yang hanya sekedar laghwul kalâm (sumpah yang tidak dimaksudkan untuk bersumpah dengan nama Allah). Allah Swt berfirman: “Allah tidak menghukum kamu dise-babkansumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersum-pah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluarga-mu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerde-kakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kafaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kafarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).” (Q.S. 5 Al Maa-idah 89)
      Ketiga, janji kepada orang lain, kepada agama, suatu kelompok atau golongan, organisasi per-kumpulan, partai dan bahkan janji kepada negara dan pemerintah. Janji inilah yang difirmankan Allah Swt. ketika Dia mejelaskan sifat-sifat orang Mukmin yang berhak mendapat warisan surga Firdaus. Diantara sifat-sifat itu adalah selalu menjaga akan amanat dan janjinya. Allah Swt berfirman: “Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya (Q.S. 23 Al Mu’minuun 11)
     Ketika manusia dimuliakan Allah Swt. melebihi mahluk lain dengan akalnya sebagai media atau wasilah berfikir, ketika manusia diberi kepercayaan untuk mengemban amanat sebagai penghuni bumi, mereka diperintah untuk meramaikanya dengan berbagai amalan ma`ruf dan tidak sebaliknya, merusak dan mem-buat kekacauan.
      Ketika manusia tidak bisa hidup sendiri dengan kodratnya sebagai mahluk sosial dan saling melengkapi satu dengan yang lain, maka adalah hal yang sangat esensial dan segnifikan bila makna ayat-ayat di atas dapat diaktualisasikan sebagai bentuk ahlak seluruh lapisan masyarakat. Alangkah indahnya, jika “menepati janji” itu menjadi sebuah karakter kehidupan sehari-hari.
      Menepati dan memenuhi janji adalah bentuk menteladani satu dari berbagai sifat-sifat Allah Swt dalam bentuk kehidupan bermasyarakat. Allah Swt dalam berbagai ayat Al-Qur-an menegaskan bahwa Dia (Allah) tidak akan pernah mengingkari janji-janji-Nya. Bila kita bisa selalu menepati janji maka berarti kita sedikit telah bisa menginter-pretasikan salah satu sifat Allah Swt. : Ya Tuhan kami, sesung-guhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya. Sesung-guhnya Allah tidak menyalahi janji. (Q.S. 3 Ali ‘Imran 9)
      Kita semua juga mengetahui bahwa menepati janji adalah salah satu karakter yang wajib dimiliki para rasul. Mereka tidak pernah berhianat atau berdusta dalam menyampaikan misi kerisalahan dari Tuhan.
      Sungguh tidak bisa di baying-kan ketika suatu masyarakat sudah tidak mengindahkan lagi pekerti menepati janji yang di bawa dan diajarkan Rasulallah Saw.. Manusia akan selalu resah dan gelisah, dipenuhi dengan kehawatiran serta buruk sangka dalam segala muamalah bersama orang lain. Lebih ironis, apabila dengan terkikisnya akhlak mene-pati janji manusia terpaksa harus disibukkan dengan kebutuhan diri sendiri. Dalam haditsnya yang masyhur, Rasulallah Saw. telah menjelaskan tiga indikasi sese-orang dapat dikatagorikan se-bagai orang munafik. Di antaranya adalah apabila berjanji maka tidak menepati.
      Kita sudah sering membaca dalam buku-buku sejarah-sejarah kenabian bahwa kelompok-kelompok Yahudi pada zaman Rasulallah Saw. diusir dari kampungnya karena mereka melanggar janji-janji antar kelom-pok, kelompok Islam dan Yahudi, seandainya mereka tidak melang-garnya niscaya mereka akan tetap mendapatkan kedamaian berdam-pingan hidup dengan umat Islam.

PERSAHABATAN YG SAMPAI KE SURGA SELAMANYA

PERSAHABATAN YG SAMPAI KE SURGA SELAMANYA

dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK

Sungguh bersahabat dengan orang-orang yang saleh adalah nikmat yang sangat besar.

Umar bin Khattab berkata,

ما أعطي العبد بعد الإسلام نعمة خيراً من أخ صالح فإذا وجد أحدكم وداً من أخيه فليتمسك به

“Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (semuslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh maka pegang lah erat-erat.” [Quutul Qulub 2/17]

Sangat banyak keuntungan memiliki sahabat yang saleh diantaranya:

Sahabat yang saleh akan selalu membenarkan dan menasehati kita apabila salah. Inilah sahabat yang sesungguhnya, bukan hanya sahabat saat bersenang-senang saja atau sahabat yang memuji karena basa-basi saja.Sebuah ungkapan arab berbunyi:

ﺻﺪﻳﻘﻚ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﻚ ﻻ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﻚ

“Shadiqaka man shadaqaka laa man shaddaqaka”

“Sahabat sejati-mu adalah yang senantiasa jujur (kalau salah diingatkan), bukan yang senantiasa membenarkanmu”

Sahabat yang saleh juga akan selalu mendoakan shahabatnya karena apabila ia mendoakan sahabatnya, sedangkan sahabatnya tidak mengetaui, maka malaikat juga meng-amin-kan doa tersebut sambil mendoakan bagi yang berdoa tadi, artinya orang yang mendoakan juga mendapatkan apa yang ia doakan kepada saudaranya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” (HR. Muslim, no. 2733)

Sifat seseorang dan kesalehan itu “menular”, dengan berkumpul bersama orang saleh, maka kita juga akan menjadi saleh dengan izin Allah.Perhatikan hadits berikut:

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً “

“Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau  mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar  pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk”.[HR. Bukhari dan Muslim]

Dari semua keutamaan memiliki sahabat yang saleh, ada keutamaan yang juga merupakan kenikmatan besar, yaitu persahabatan orang yang saleh akan berlanjut sampai surga dan akan kekal selamanya. Tentu ini kenikmatan yang sangat besar, karena antara sahabat dekat pasti tidak ingin berpisah dengan sahabat lainnya. Persahabatan sementara di dunia kemudian dipisahkan dengan kematian begitu saja, tentu bukan akhir yang indah.

Salah satu dalil bahwa akan ada persahabatan di hari kiamat akan berlanjut bahwa orang yang saling mencintai (termasuk para sahabat) akan dikumpulkan bersama di hari kiamat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.’” (HR. Bukhari, no. 6170; Muslim, no. 2640)

Untuk memfasilitasi hal ini, Allah Ta’ala memberikan keutaamaan kepada seseorang untuk memberikan syafaat kepada sahabatnya yang lain, agar mereka bisa sama-sama masuk surga dan berkumpul kembali.

Hasan Al- Bashri berkata,

استكثروا من الأصدقاء المؤمنين فإن لهم شفاعة يوم القيامة

”Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari klamat.” (Ma’alimut Tanzil 4/268)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang syafaat antara sahabat di hari kiamat,

حتى إذا خلص المؤمنون من النار، فوالذي نفسي بيده، ما منكم من أحد بأشد مناشدة لله في استقصاء الحق من المؤمنين لله يوم القيامة لإخوانهم الذين في النار، يقولون: ربنا كانوا يصومون معنا ويصلون ويحجون، فيقال لهم: أخرجوا من عرفتم، فتحرم صورهم على النار، فيخرجون خلقا كثيرا قد أخذت النار إلى نصف ساقيه، وإلى ركبتيه، ثم يقولون: ربنا ما بقي فيها أحد ممن أمرتنا به، فيقول: ارجعوا فمن وجدتم في قلبه مثقال دينار من خير فأخرجوه، فيخرجون خلقا كثيرا، ثم يقولون: ربنا لم نذر فيها أحدا ممن أمرتنا…

“Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka memohon: Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji.

Dijawab: ”Keluarkan (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka.

Para mukminin inipun MENGELUARKAN BANYAK SAUDARANYA yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya.

Kemudian orang mukmin itu lapor kepada Allah, ”Ya Tuhan kami, orang yang Engkau perintahkan untuk dientaskan dari neraka, sudah tidak tersisa.”

Allah berfirman, ”Kembali lagi, keluarkanlah yang masih memiliki iman seberat dinar.”

Maka dikeluarkanlah orang mukmin banyak sekali yang disiksa di neraka. Kemudian mereka melapor, ”Wahai Tuhan kami, kami tidak meninggalkan seorangpun orang yang Engkau perintahkan untuk dientas…” (HR. Muslim no. 183).

Demikian semoga bermanfaat

@ Lombok, Pulau Seribu Masjid

سبحا نك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

“Ingin pahala jariyah yg terus mengalir setelah kita wafat??? Sebarkan ilmu syar’i ini ke grup lainnya”

AMALAN-AMALAN UNTUK BERUBAH MENJADI LEBIH BAIK.

AMALAN² UNTUK BERUBAH MENJADI LEBIH BAIK.

Kita harus selalu semangat dan berusaha memperbaiki diri dan amalan kita.

Imam Haddad membantu kita untuk merubah diri kita.

Beliau berwasiat :

Lazimilah dzikir

terutama untuk dzikir² yang telah ditentukan waktu membacanya, seperti Ratib Haddad, Wirdul Lathif, dll.

Dan dzikir² tersebut telah terkumpul di dalam kitab Khulashatul Madad Nurul Yaqin, yang telah dikumpulkan oleh Habib Umar bin Hafizh.

Barangsiapa yang istiqomah membacanya maka insya Allah dia pasti selamat dunia akhirat.

Habib Abdurrahman Assegaf berkata :

من ليس له ورد فهو قرد

“Barangsiapa yang tidak memiliki wirid, maka dia layaknya kera.”

Orang yang tidak berpegangan dengan wirid maka dia layaknya kera, yang hidupnya tak memiliki tujuan.

Istiqomahlah selalu untuk membaca wirid² tersebut.

Jika kita sedang udzur atau tidak mampu membacanya, seperti sedang bepergian atau sakit maka qodho’lah ketika mampu.

Karena setan akan putus asa ketika kita mampu menjaga wirid yang telah kita istiqomahi, walau kita istiqomah dengan mengqodho’nya.

Begitupun dengan amalan² yang sudah kita istiqomahi, jika kita tertinggal maka qodho’lah.

Rasulullah bersabda :

إذا مرض العبد او سافر كتب له مثل ما كان يعمل مقيما او صحيحا

“Apabila seorang hamba itu sakit atau dia sedang bepergian maka dicatat untuknya amalan-amalan yang ia lakukan ketika sedang tidak bepergian dalam keadaan sehat.”

Rasulullah menjelaskan bahwa apabila seorang hamba itu sakit atau dia sedang bepergian lalu ia tidak mampu mengamalkan ibadah² yang telah ia istiqomahi, maka dia tetap tercatat melakukannya seperti dia yang sedang di rumah dalam keadaan sehat.

Jagalah Kesucian Zhahir dan Bathin.

Jagalah bathin kita dari penyakit hati, seperti benci, iri, dengki dll.

Bersihkan hati kita dari itu semua, karena itulah yang menjadi penghalang pandangan Allah kepada kita.

Dan menjaga kesucian zhahir itu juga penting, karena Allah itu mencintai keindahan.

إن الله جميل يحب الجمال

“Sesungguhnya Allah itu dzat yang Maha Indah yang mencintai keindahan.”

Selalu dalam keadaan suci.

Maksudnya disini adalah suci secara syari’at, yaitu selalu dalam keadaan berwudhu.

Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Musa AS, “Wahai Musa, jika engkau terkena musibah dan kau tidak dalam keadaan berwudhu, maka jangan salahkan siapapun kecuali dirimu sendiri.”

Jadilah orang yang berguna untuk orang lain.

Jadilah orang yang dermawan, menyayangi orang muslim, berbuat baik dan menolong teman, berupayalah untuk selalu membahagiakan teman dan menasehatinya dan ajaklah mereka kepada segala sesuatu yang bermanfaat.

Jangan malu menasehati orang lain!

Jangan takut jika kita dikira merasa lebih baik dari orang lain ketika kita berani menasehati mereka, malu itu ada tempatnya.

Seburuk-buruknya malu adalah malu yang mencegah seseorang dari berbuat baik dan mengajak kebaikan kepada orang-orang.

Berakhlak dengan akhlak yang baik.

Dengan siapapun, keluarga, teman bahkan orang asing.

Dan ketahuilah bahwa seorang mukmin itu lambat marah, dan apabila ia marah, marahnya cepat untuk hilang.6

Dan yang terpenting

المؤمن لا يغضب لنفسه ولكن يغضب لربه

“Seorang mukmin itu tidak marah untuk dirinya sendiri tapi ia marah untuk Tuhan-Nya.”

Maksudnya ketika ia dicaci orang² ia tak marah, namun ketika Allah yang dicaci, diremehkan ia marah.

Tapi ingat, marah bukan bararti meluapkan emosi dengan membabi buta.

Sebelum kita ingin meluapkan amarah yang kita rasakan, fikirkan dahulu ‘Apakah Rasulullah ridho jika kita seperti ini?’

Kitab Al-Washaya An-Nafiah

MELATIH HATI AGAR TENANG

MELATIH HATI AGAR TENANG

♦️Ketika merasa sunyi BERDZIKIRLAH karena ALLAH Maha Mendengar.

♦️Ketika merasa gembira BERSYUKURLAH karena ALLAH Maha Memberi.

♦️ Ketika marah BERISTIGHFARLAH

 Karena ALLAH Maha Pemaaf

♦️ Ketika merasa sedih BERSUJUDLAH karena ALLAH Maha Pengasih.

♦️ Terkadang ALLAH memberi apa yang kita perlu bukan apa yang kita mau karena Allah Maha Tahu apa yang terbaik.

♦️ ALLAH itu Maha Adil juga Maha Penyayang. Segala yang berlaku akan ada hikmahnya.

♦️ Latih hati untuk PERPRASANGKA BAIK terhadap ALLAH.

♦️ Latih hati untuk BERGANTUNG KEPADA ALLAH bukan kepada manusia.

♦️ Latih hati untuk BERSYUKUR. In Shaa’Allah kita bahagia.

♦️Latih hati untuk MEMINTA MAAF dan MEMAAFKAN,” In Shaa’Allah keresahan sirna.

♦️ Semoga Kita Semua dapat Mengamalkan nya. In Shaa’Allah hidup akan tenang, Aamiin.

♦️”Bila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah dan bila engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah.” (HR TIRMIDZI).

MENJADI HAMBA YANG BERSYUKUR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ  

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.   Surah Ibrahim : 7.

JIWA TARBAWI

JIWA TARBAWI

Biar pun apa yang sedang berlaku di persada hidup ini,

Samaada senang atau pun susah,

Gembira atau pun kecewa,

Sibuk atau tenang,

Perjuangan dalam diri wajib diteruskan..iaitu

Untuk menambah takut hatimu kepada Allah Azza wa Jalla.

Untuk menambah celik penglihatan mata hatimu terhadap aib dirimu sendiri.

Untuk menambah makrifat pengenalan hatimu dalam beribadat kepada Allah ta’ala.

Untuk menyedikitkan kegemaranmu terhadap negeri dunia yang sementara.

Juga menambah kegemaran cinta hatimu terhadap negeri akhirat yang tiada penghujung.

Untuk membukakan pintu hatimu agar dapat mengenali bermacam-macam penyakit amalanmu sehingga engkau dapat menjauhinya.

Untuk menambah pengetahuanmu terhadap tipu helah syaitan dan penipuannya sehingga engkau arif dengan kehalusan dan kelucikan penipuan syaitan.

Justeru, hanya dengan mujahadah yang bersungguh-sungguh serta suluhan ilmu yang bermanfaat, perjuangan ini akan dilalui dengan taufiq dan hidayahNYA jua.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّـهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ ﴿العنكبوت: ٦٩﴾

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

Al Ankabut : 69

Diuji Tanda Allah SWT Kasih & Sayang

Diuji Tanda Allah SWT Kasih & Sayang

Ada orang diuji dengan kesibukan, kerana sekiranya dia punya masa lapang yang banyak, dia tidak tahu bagaimana mahu menguruskannya lalu dia buat banyak perkara yang melalaikan.

Ada orang yang diuji dengan kemiskinan, kerana sekiranya dia punya harta yang banyak, dia akan menjadi saudara syaitan dengan membelanjakannya dengan begitu gelojoh dan boros.

Ada orang yang diuji dengan kesakitan, kerana sekiranya dia sihat, banyak sekali dia akan bermaksiat.

Ada orang diuji dengan ketiadaan anak, kerana sekiranya dia punya anak, dia akan terlalu leka dengan anaknya sehingga lupa pada Tuhannya.

Dan ada orang yang diuji dengan sukarnya mahu mencari pasangan, kerana sekiranya dia berkahwin, dia akan menzalimi pasangannya itu.

Begitulah.

Maka berlapang dadalah dengan ujian yang menimpa kita. Kerana yakinlah, setiap apa yang berlaku pada kita itu, pasti ada hikmahnya.

Berlapang dada juga dengan ujian yang menimpa orang lain. Pada pandangan mata kita, ia mungkin tidak ada apa-apa. Tapi pada mereka yang memikulnya, mungkin itulah ujian yang paling berat dan dahsyat untuk dirinya.

Kerana setiap orang itu akan diuji pada titik-titik kelemahannya.

Moga kita menjadi orang yang redha dan sabar dengan ujian yang menimpa, kerana sungguh, setiap ujian itu tidak lain dan tidak bukan, hanyalah untuk menaikkan darjat kita di sisiNya.

Senyumlah wahai hati.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ

SEMBUNYIKAN AMALANMU…

SEMBUNYIKAN AMALANMU…

Elak kan diri dari riak adalah dengan rahsiakan Ibadahmu. Sembunyikan amalanmu seperti mana kamu Sembunyikan aib kamu.

Dan jangan suka mencari kesilapan orang. Sibuk kan diri mencari kesilapan diri sendiri dan cuba memperbaikinya.

Doakan yang terbaik untuk sesiapa sahaja. Tiap kali kita doakn seseorang tanpa pengetahuan orang tersebut, malaikat juga mendoakn kita.

Balas kebaikan dgn kebaikan. Balas kejahatan juga dengan kebaikan. Mungkin esok dia lebih baik dari kita.

Hati yang tertutup riya’ ibarat batu licin yang tertutup tanah. Orang yang berbuat riya’ tidak akan membuahkan kebaikan, bahkan ia telah berbuat dosa yang akan dia peroleh akibatnya pada hari Kiamat.

Riya’ menghapuskan amal shalih, dan seseorang tidak mendapatkan apa-apa karenanya di akhirat nanti dari amal-amal yang pernah ia lakukan di dunia.

Allah berfirman :“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadikan ia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunujuk kepada orang-orang kafir”. [al Baqarah : 264].

“Betapa aku cemburu pada orang yang pandai menyembunyikan kebaikannya. Dunia tak melihatnya, namun surga merindukannya.”

(Uwais Al Qorni Rahimahullah)

Create your website with WordPress.com
Get started