Day: November 17, 2020

20 KELEBIHAN BERSEDEKAH

BERSEDEKAHLAH, HIDUP-MU JADI BAHAGIA & BERKAH*

Inilah 20 Alasan kenapa harus bersedekah, supaya hidupmu bahagia dan berkah

Perhatikan nomor 17 hingga 19

Rujukan dari hadits…

1. Sedekah adalah salah satu pintu untuk menuju ke Syurga Allah SWT,

2. Sedekah ialah perbuatan yang paling mulia antara semua perbuatan kebaikan dan sedekah yang paling baik adalah dgn memberi makanan kepada orang,

3. Sedekah akan dihisab pada hari Kiamat dan sedekah akan Inn Syaa Allah menjauhi api neraka jahanam,

4. Sedekah mampu memadamkan kemurkaan Allah SWT dan mampu memadamkan kepanasan di dalam kubur,

5. Perkara yang paling memberi keuntungan kepada orang yang telah meninggal dunia adalah sedekah dan Allah SWT akan sentiasa memanjangkan pahala dari sedekah tersebut,

6. Sedekah mampu mensucikan ruh dan menambah pahala kebaikan,

7. Sedekah adalah salah satu cara untuk mendapat kebahagiaan di hari Kiamat dihadapan Allah SWT,

8. Sedekah boleh menyelamatkan diri dari celaka di hari Kiamat dan tidak akan membuat kita sengsara disebabkan masa lampau kita,

9. Sedekah mampu menghapuskan dan diampunkan dari dosa yang telah dibuat,

10. Sedekah adalah kepastian untuk meninggal dunia dalam keimanan serta ketakwaan terhadap Allah SWT dan malaikat akan mendoakan kebaikan kepada kita,

11. Orang yang memberi sedekah ialah orang yang baik dan siapapun yang terlibat dalam melakukan kebaikan tersebut akan diberi ganjaran oleh Allah SWT,

12. Orang yang memberi sedekah dijanjikan akan mendapat ganjaran yang hebat dari Allah SWT In Syaa Allah,

13. Orang yang memberi sedekah adalah tergolong dari golongan orang yang disayang oleh masyarakat

14. Memberi sedekah adalah perbuatan yang mulia,

15. Sedekah mampu melepaskan kita drpd kesusahan dan doa akan dimakbulkan Allah SWT In Syaa Allah,

16. Sedekah mampu menghapuskan kesulitan hidup dan ditutup 70 pintu kecelakaan di dunia,

17. Sedekah mampu memanjangkan umur seseorang dan bisa memberi kejayaan hidup,

18. Sedekah adalah obat,

19. Sedekah mampu menolong anda dari kecurian, kematian yang dahsyat dan hina, kebakaran dan lemas &

20. Sedekah ialah ganjaran yang baik meskipun anda memberi kepada binatang atau burung.

Yang terakhir sekali…..

Sedekah yang paling baik adalah jika anda membagikan pesan yang baik ini kepada orang lain dan diniatkan sebagai sedekah…

karena itu hanya dengan cara men-share tulisan ini kita akan mendapat bagian pahala sedekah, C&P.

15 KELEBIHAN BERZIKIR

KEUTAMAAN BERZIKIR

Keutamaan zikir yang disarikan oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya Al Wabilush Shoyyib. Moga bisa menjadi penyemangat bagi kita untuk menjaga lisan ini untuk terus berzikir, mengingat Allah daripada melakukan hal yang tiada guna

(1) mengusir syaitan

(2) mendatangkan redha Ar Rahman

(3) menghilangkan gelisah dan hati yang gundah gulana

(4) hati menjadi gembira dan lapang.

(5) menguatkan hati dan badan.

(6) menerangi hati dan wajah menjadi bersinar.

(7) mendatangkan rezeki.

(8) orang yang berzikir akan merasakan manisnya iman dan keceriaan.

(9) mendatangkan cinta Ar Rahman yang merupakan ruh Islam.

(10) mendekatkan diri pada Allah sehingga memasukkannya pada golongan orang yang berbuat ihsan yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihatnya.

(11) mendatangkan inabah, iaitu kembali pada Allah ‘azza wa jalla .Semakin seseorang kembali pada Allah dengan banyak berzikir pada-Nya, maka hatinya pun akan kembali pada Allah dalam setiap keadaan

(12) seseorang akan semakin dekat pada Allah sesuai dengan kadar zikirnya pada Alalh ‘azza wa jalla. Semakin ia lalai dari zikir, ia pun akan semakin jauh dari-Nya

(13) semakin bertambah ma’rifah (mengenal Allah). Semakin banyak zikir, semakin bertambah ma’rifah seseorang pada Allah

(14) mendatangkan rasa takut pada Rabb ‘azza wa jalla dan semakin menundukkan diri pada-Nya. Sedangkan orang yang lalai dari zikir, akan semakin terhalangi dari rasa takut pada Allah.

(15) meraih apa yang Allah sebut dalam ayat “Maka ingatlah pada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian”

(QS. Al Baqarah: 152). Seandainya tidak ada keutamaan zikir selain yang disebutkan dalam ayat ini, maka sudahlah cukup keutamaan yang disebut.

AL-QURAN DAN UMUR

AL-QURAN & UMUR

Berkata Abdul Malik bin Umair:

“Satu-s atunya manusia yang tidak tua adalah orang yang selalu membaca Al-Quran”.

“Manusia yang paling jernih akalnya adalah para pembaca Al-Quran”.

*Berkata Al-imam Qurtubi 😗

“Barang siapa yang membaca Al-Quran,  maka Allah akan menjadikan ingatannya segar meskipun umurnya telah mencapai 100 tahun”.

Imam besar Ibrahim al-Maqdisi memberikan wasiat pada muridnya Abbas bin Abdi Daim Rahimahullah.

“Perbanyaklah membaca Al-Quran jangan pernah kau tinggalkan, kerana sesungguhnya setiap yang kamu inginkan akan di mudahkan setara dengan yang kamu baca”.

*Berkata Ibnu Solah 😗

“Bahawasanya para Malaikat tidak diberi keutama’an untuk membaca Al-Quran,  maka oleh kerana itu para Malaikat bersemangat untuk selalu mendengar saja dari bacaan manusia”.

*Berkata Abu Zanad 😗

“Di tengah malam,  aku keluar menuju masjid Rasulullah SAW sungguh tidak ada satu rumahpun yang aku lewati melainkan padanya ada yang membaca Al-Quran”.

*Berkata sebagian ahli tafsir 😗

“Manakala kita menyibukkan diri dengan Al-Quran maka kita akan dibanjiri oleh sejuta keberkahan dan kebaikan di dunia”.

“Kami memohon kepada Allah agar memberikan taufiqnya kepada Kami dan semua yang membaca tulisan ini untuk selalu membaca Al-Quran dan mengamalkan kandungannya”.

Bila anda Cinta pada Al-Quran maka sebarkanlah. Demi Allah, sekian banyak orang yang membaca Al-Quran maka pahala akan mengalir pada anda.

Umur kita terlalu singkat

… hingga ALLAH kurniakan  Lailatul Qadar untuk menambah umur amal.

Umur kita terlalu singkat

… ALLAH pinta bersilaturrahim untuk memanjangkannya.

Umur kita terlalu singkat

… ALLAH kurniakan Puasa Enam hari di bulan Syawal seperti berpuasa setahun.

Umur kita terlalu singkat

… ALLAH kurniakan baca Surah Al-Ikhlas seperti membaca sepertiga Al-Quran.

Umur kita terlalu singkat

… ALLAH kurniakan Solat di Masjidil Haram seperti solat 100 ribu lebih di masjid lain.

Umur kita terlalu singkat

… ALLAH kurniakan Solat berjemaah nilainya 27x lebih daripada solat sendirian.

Hidup ini terlalu singkat

… ALLAH kurniakan satu huruf bacaan Al-Quran dengan 10 pahala/kebaikan.

Hidup ini terlalu singkat

…ALLAH kurniakan siapa yg beramal jariyah, share ilmu yang bermanafaat, dan mengusahakan anak2nya jadi anak yg soleh, pahalanya akan terus mengalir ke alam kuburnya.

Wahai diri…, usia umat Nabi Muhammad SAW rata2 hanya 63 – 65 tahun. Kalau saat ini usia kita Sudah 45 tahun, paling lama 20 tahun lagi Malaikat Al Maut akan menxjemput kita..

HIDUP INI TERLALU SINGKAT… JANGANLAH DI SIA-SIAKAN KESEMPATAN YANG DIBERIKAN ALLAH SWT. …

Baarakallah……

45 CIRI FISIK DAN PENAMPILAN RASULULLAH ﷺ

45 CIRI FISIK DAN PENAMPILAN RASULULLAH ﷺ

Oleh Tebuireng Online [M. Abror Rosyidin]

Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dalam kitab “Nur al Mubin fi Mahabbati Sayyidi al Mursalin” menjelaskan tentang 45 ciri fisik dan penampilan Rasulullah ﷺ berdasarkan beberapa hadits, yaitu dari Sayyidina Ali bin Abu Thalib ra, Amr bin Huraits ra, dan beberapa hadits lain. Berikut adalah ke-45 ciri fisik dan penampilan Rasulullah ﷺ:

1. Rasulullah ﷺ bukanlah orang yang sangat tinggi dan juga bukan orang yang sangat pendek. Beliau ﷺ merupakan orang dengan tinggi badan sedang.

2. Rambutnya tidak terlalu keriting dan juga tidak lurus, tetapi keriting berombak (antara keriting dan lurus).

3. Rasulullah tidak gemuk badannya dan tidak bulat wajahnya.

4. Di wajah beliau ﷺ terdapat bulatan putih kemerah-merahan.

5. Kedua matanya sangat hitam.

6. Bulu matanya panjang.

7. Tulang dan bahunya besar.

8. Kulitnya tidak berambut banyak, tapi berbulu dada sampai ke puser.

9. Kedua telapak tangan dan kedua telapak kakinya tebal.

10. Jika berjalan seperti turun dari atas jalan yang melandai. jika menoleh, menoleh bersama-sama (badannya).

11. Antara kedua belikatnya terdapat cap kenabian, yaitu cap khatamun Nabiyyin.

12. Dadanya paling bagus.

13. Dialek dan aksennya juga paling bagus.

14. Wataknya paling lembut, paling mulia cara bergaulnya, barangsiapa melihatnya sekejap akan merasa takut dan barangsiapa bergaul dengannya akan senang dengannya. Orang yang mensifatinya mengatakan, ”Saya belum pernah melihat sebelumnya dan sesudahnya, orang seperti beliau ﷺ”.

15. Beliau ﷺ adalah orang yang bagus bodinya, antara kedua pundaknya bidang.

16. Rambutnya turun sampai kedua pundaknya, kadang-kadang sampai ke cuping telinga (tempat anting-anting), kadang-kadang sampai ke tengah-tengah kedua telinganya.

17. Jenggotnya lebat.

18. Kedua telapak tangannya tebal, maksudnya jari-jarinya tebal.

19. Kepalanya dan tulang-tulang persendiannya besar.

20. Saluran air matanya merah, dadanya berbulu, yaitu bulu lembut dari dada sampai ke pusar seperti bentuk pedang.

21. Wajahnya bersinar seperti bulan malam purnama. Wajahnya adalah bulan.

22. Suaranya bagus.

23. Kedua pipinya rata.

24. Mulutnya lebar.

25. Perut dan dadanya rata.

26. Kedua pundak, kedua lengannya dan dada bagian atasnya berbulu.

27. Lengannya panjang.

28. Telapak tangannya lebar.

29. Pecahan kedua matanya panjang.

30. Daging pada kedua tumitnya sedikit.

31. Di antara kedua belikatnya terdapat cap kenabian seperti kancing gelang kaki, dan seperti telor burung dara.

32. Jika Nabi ﷺ berjalan, bumi seperti melipat untuknya, dan para sahabat jika berjalan bersama beliau ﷺ terasa seperti mengejar-ngejar, sedangkan beliau ﷺ tidak memperhatikannya.

33. Beliau ﷺ menurunkan rambut kepalanya kemudian memisahnya, menyisir rambut kepalanya, kemudian menyisir jenggotnya, memberi celak pada tiap-tiap matanya dengan batu bahan celak setiap malam ketika hendak tidur.

34. Baju yang beliau ﷺ sukai adalah gamis dan warna putih. Beliau ﷺ bersabda, “Warna putih adalah sebaik-baik pakaian kalian, maka kenakanlah pakaian warna putih, dan kafanilah jenazah-jenazah kalian dengan kain putih”.

35. Hubrah, yaitu kain yang dipakai selimut oleh beliau ada warna merahnya.

36. Lengan baju beliau ﷺ sampai ke pergelangan tangan.

37. Kadang-kadang beliau ﷺ memakai pakaian merah, sarung dan selendang (pakaian luar).

38. Kadang-kadang beliau ﷺ memakai dua pakaian yang berwarna seperti debu atau kadang memakai jubah yang sempit kedua lengannya.

39. Sesekali beliau ﷺ memakai pakaian quba’ (jenis pakaian luar).

40. Kadang-kadang memakai sorban berwarna hitam, dibawahnya memakai kopiyah, dan kadang-kadang memakai kopiyah tanpa sorban, atau memakai sorban tanpa kopiyah.

41. Beliau ﷺ menurunkan ujung sorban ke tempat antara kedua belikatnya. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Amr bin Huraits ra. berkata, “Saya melihat Rasulullah ﷺ di atas mimbar dengan memakai sorban hitam dengan menurunkan kedua ujungnya sampai ke tempat antara dua belikatnya”.

42. Kadang-kadang Rasulullah ﷺ memakai pakaian dari bulu atau kain berwarna hitam. Beliau ﷺ kadang-kadang memakai pakaian yang mudah dipakai dari kain katton (kapas), dari wol (bulu), atau dari kain lena yang teruat dari pohon rami, dan tidak suka dengan pakaian orang-orang yang sombong. Beliau ﷺ bersabda:

مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَة

“Barangsiapa menarik pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak mau melihatnya pada hari kiamat”.[1]

Imam Muslim meriwayatkan, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ خَرْدَل مِنْ كِبْر، وَ لاَ يَدْخُلُ النَّارَ

مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَل  مِنْ إِيمَانٍ . فَقَالَ رَجُلٌ : يا رسول الله إني أحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبِي حَسَنًا وَنَعْلُي حَسَنَةً أفمن الكبر ذالك؟. فَقَالَ  لا, إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاس

“Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi, dan tidak masuk neraka orang yang di dalam hatinya masih ada iman sebesar biji sawi”. Berkatalah seorang laki-laki :”Wahai Rasulullah, saya senang jika baju saya bagus dan kedua sandal saya bagus, apakah hal itu termasuk sombong ?”. Sabda beliau ﷺ: “Tidak, sesungguhnya Allah itu indah, suka keindahan. Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan orang lain” ).[2]

43. Beliau ﷺ memakai cincin (yang diukir diatasnya nama beliau yang mulia, dan beliau ﷺ menyetempel surat-surat yang dikirim ke raja-raja dengan cincin tersebut. Beliau ﷺ memakainya di jarinya, dan cincin itu tidak seperti cincin yang dipakai orang-orang sekarang untuk perhiasan.

44. Beliau ﷺ memakai sepatu dan sandal.

45. Beliau ﷺ jika memakai gamis memulai dengan sisi kanannya. Jika memakai pakaian baru, memberinya nama dengan namanya, seraya berdoa :

اللَّهُمَّ أَنْتَ كَسَوْتَنِي هَذَا الْقَمِيصَ ، أَوِ الرِّدَاءَ، أَوِ الْعِمَامَةَ ، أَسْأَلُكَ خَيرَهُ، وَخَيْرَ مَا صُنِعَ لَهُ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ ، وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَه

“Ya Allah, Engkau telah memberiku pakaian dengan gamis ini, atau pakaian selendang ini, atau sorban ini, maka saya memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan diciptakannya pakaian ini, dan saya berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan diciptakannya pakaian ini”[3].

*Diterjemahkan oleh Ustadz Zainur Ridlo, M.Pd.I. dari kitab Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyidi al-Mursalin karya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari.

[1] Hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.

[2] Hadis riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad.

[3] Hadis riwayat Imam Ibnu Hibban dan Imam Abu Ya’la.

KERANGKA PEMIKIRAN ISLAM DALAM KITAB DURR AL-FARA’ID KARYA SYEKH NURUDDIN AL-RANIRY

KERANGKA PEMIKIRAN ISLAM DALAM KITAB DURR AL-FARA’ID KARYA SYEKH NURUDDIN AL-RANIRY

Penulis menyatakan bahwa karya Syeikh Nuruddin ar-Raniri (w. 1068 H/1658 M) berjudul Durr al-Fara’id bi Sharh al-Aqa’id dan dianggap sebagai karya pertamanya membuktikan sosoknya sebagai ahli kalam dan perencanaan pendidikan sebagai ulama besar di Alam Melayu.

Karya ini selesai ditulis pada tahun 1040 H (1630 M), besar kemungkinan ditulis ketika beliau masih berada di Pahang, beberapa tahun sebelum diundang untuk menjadi mufti di kerajaan Aceh Darussalam.

Kitab ini merupakan karya tentang aqidah (theology) yg khususnya adalah i’tiqad Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah yg meliputi dimensi ontologi, epistemologi, syariah, siyasah dan dianggap melambangkan pemikiran Melayu Islam yg sangat komprehensif.

Kitab ini merupakan terjemahan kitab Sharh al-Aqa’id al-Nasafiyyah karya Sa’d al-Din Mas’ud ibn ‘Umar al-Taftazani (w. 791 H/ 1387 M).

Namun perlu untuk diperhatikan bahwa kitab tersebut yg merupakan kitab terjemahan namun hampir setengah dari isinya bersumber dari pemikiran al-Raniri serta penyesuaian dgn konteks Alam Melayu. Karya ini dianggap dianggap mampu menggambarkan pandangan alam (worldview) umat Islam di Alam Melayu di abad ke-17 dan setelahnya.

Karya ini ditulis pada kurun tahun 1700an yg oleh Al-Attas: (1969) pada era ini Dunia Melayu didominasi karya2 teologi/ilmu kalam dan ilmu tasawwuf yg lebih berperan penting.

Ahmad Daudy menyatakan bahwa al-Raniry menulis sekitar 30 buku, meski banyak yg kini sudah tidak ditemukan lagi.

Kitab Durr al-Fara’id bi sharh al Aqa’id sebagai kitab pertama yg beliau tulis, bagi Wan Daud dan Khalif Muammar, kitab ini sengaja ditulis sebagai karya pertama karena mengingat pentingnya akidah Islam sebelum ia mengarang kitab2 mengenai hukum seperti Sirat al-Mustaqim, Bustan al-Salatin dalam bidang ketatanegaraan dan tasawuf seperti Hujjat al-Siddiq.

Kitab ini digunakan secara luas di Nusantara dalam jangka waktu yg cukup lama sepeninggal pengarangnya. Naskah terakhir yang diperoleh tertulis tanggal 1327 H/ 1909 M. Diperkirakan kitab ini dugunakan paling kurang selama 300 tahun, meski sekarang naskah ini menjadi langka.

Penulisan kitab ini yg diterima secara meluas adalah bukti nyata bahwa al-Raniri ingin umat Islam Dunia Melayu juga ikut berpegang dengan aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah (ASWJ). Bagi Wan Mohd Wan Daud dan Khalif Muammar, apa yg dilakukan al-Raniri bukanlah melakukan sesuatu yang baru dan bersendirian.

Beliau ikut membawa khazanah intelektual yang sudah lama mengakar dan dipakai mayoritas umat Islam.

Durr al-Fara’id adalah karya mengenai aqidah Islam yang secara khusus membahas tentang asas2 keyakinan dan metafisika Islam, termasuk epistemologi, ilmu kalam dan falsafah kepemimpinan yg meliputi bahasan hakikat ilmu, alam, sifat2 Allah, al-Qur’an, dosa besar, konsep iman perkara2 yg menyebabkan kekufuran, mukjizat para rasul, malaikat, kitab-kitab, mi’raj Rasulullah, karamah, khilafah imamah, tanda2 kiamat, azab kubur, surga dan neraka, kedudukan orang beriman, dll.

Kitab ini dikatakan sebagai salah satu sumber pandangan alam (worldview) masyarakat dunia Melayu masa itu yg memiliki banyak persamaan dengan ummat muslim di wilayah lain.

Diketahui bahwa aqidah yg berkembang di Alam Melayu adalah aliran Asya’irah, nisbah kepada Abu Hasan al-Asy’ari (w. 324 H/935M) yg merupakan kelompok dominan dalam Ahli Sunnah wal-Jama’ah. Menariknya, karya al-Nasafi dan al-Taftazani yg dibawa dan diterima oleh muslim dunia Melayu ini beraliran Maturidiyah, yg juga merupakan aqidah Ahli Sunnah wal-Jama’ah. Meski al-Raniri menegaskan mazhab dan aqidahnya, namun beliau tidak menafikan aqidah dan mazhab lain yg berada dalam kelompok Ahli Sunnah wal-Jama’ah.

Meski kitab beliau berpanduan pada Sharh al-Aqa’id an-Nasafiyyah karangan al-Taftazani, namun al-Raniri, tidak sepenuhnya mengikuti kandungan dan struktur kitab tersebut. Beliau menyesuaikan kitabnya dgn konteks yg dihadapinya pada masa itu. Beliau menambah hal2 yg dianggap perlu dan meninggalkan perkara yang tidak diperlukan oleh masyarakat dunia Melayu masa itu.

Kebijaksanaan ar-Raniri ini dinyatakan dalam penjelasannya:

“Maka kutambah ia daripada aqidah yang lain daripadanya yg muwafaqat dengan dalil dan hadist yg sepatut kuasa hamba pendapatnya.”

Dengan ini dapat disimpulkan bahwa Durr al-Fara’id yg merupakan terjemahan Sharh al-Aqa’id al-Nasafiyyah juga merupakan syarah (uraian) kitab tersebut.”

Dalam penulisan kitab ini, al-Raniri melihat bahwa hal yg paling utama dilakukan di alam Melayu adalah pemantapan aqidah Islam.

Masyarakat Melayu kala itu belum berhadapan perdebatan filosofis gaya ilmu kalam dan kekeliruan yg ditimbulkan dari interaksi pemikiran Islam dengan filsafat Yunani yg berdampak pada maunculnya kelompok Mu’tazilah, Khawarij dan al-Jahmiyyah, sebagaimana yang dialami oleh al-Taftazani di Timur Tengah. Maka al-Raniri bermaksud tidak ingin memberatkan muslim di alam Melayu dengan hal2 yg tidak berkaitan dgn itu.

Maka, al-Raniri hanya menegaskan hal-hal yang menjadi pegangan Ahli Sunnah wal-Jama’ah beserta alasan dan dalil2nya. Begitupun, al-Raniri turut membincangkan persoalan metafisika secara mendalam dalam karya2 berikutnya untuk menjelaskan berbagai persoalan yg timbul yg timbul di kemudian hari.

Epistemologi Islam

Epistemologi Islam membahas tentang proses untuk mendapatkan pengetahuan. Untuk mencapai ilmu dan pengetahuan, Al-Raniri menjelaskan hal2 yg menjadi sumber ilmu tersebut dalam kitab ini.

Al-Raniri memulai perbincangan dgn menerangkan falsafah ilmu (epistemologi) dalam Islam dgn mengatakan:

“Kata segala orang yg beriktikad sebenarnya: hakikat segala sesuatu itu teguh jua, artinya kebenaran segala sesuatu itu tetap dan teguh jua adanya, dan pada pengetahuan akan dia sebenarnya, artinya kita iktikadkan bahwa segala yg dilihat seperti langit dan bumi dan barang yg dalam keduanya itu yaitu jua pada penglihatan dan pada pengetahuan demikianlah sama jua pada iktikad.”

Ungkapan tersebut menjelaskan bahwa para ulama membedakan antara gologan yg benar (ahlul haq) dan golongan yang salah (ahlul bathil). Golongan benar, Ahli Sunnah wal Jama’ah telah bersepakat terhadap banyak perkara dan menentang penyelewengan yg dilakukan pahk lain seperti golongan Sofis, Mu’tazilah, Khawarij, Syiah, Jahmiyyah dan yg lainnya.

Golongan ini sesuai dgn pandangan Islam menyatakan bahwa manusia dapat mencapai kepastian tentang sesuatu hakikat. Baik melalui pancaindera, wahyu atau akal. Tentu kebenaran yg dicapai melalui wahyu yang benar akan lebih otoritatif karena diberikan oleh Allah.

Keberadaan wahyu ini membuat pemisahan mutlak antara ilmu Tuhan dgn ilmu manusia tidak terjadi. Wahyu dan ilmu Tuhan telah diberikan kepada Nabi dan Rasul. Ilmu manusia yg diberikan oleh wahyu ini pasti atau mutlak.

Al-Raniri juga menjelaskan kesesatan kaum sofis yg meragukan dan mengingkari wujudnya hakikat segala sesuatu:

“Adapun pada i’tiqad Sufasta’iyyah (sofis) bersalahan dgn demikian itu, tetapi kata mereka itu cita2 dan wahm dan khayal sia2 jua.

Dan lagi pula katanya segala sesuatu itu mengikut pada i’tiqad jika di i’tiqadkan pada suatu itu kekal maka yaitu kekal jua dan jika di i’tiqadkan baharu maka baharu jua. Dan lagi pula katanya segala sesuatu itu dalam syak jua dan yang syak itu tiada berputusan artinya segala suatu itu bukannya iaitu demikianlah i’tiqad Sufasta’iyyah yg amat sesat itu.”

Al-Raniri membahas tentang sumber-sumber ilmu secara mendalam, juga ketiga sumber ilmu: pancaindera, khabar shadiq (wahyu dan kabar yg benar) dan akal. Lebih lanjut beliau menjelaskan akal sebagai sumber ilmu dan bagaimana penggunaan akal yg sehat dapat mencapai keyakinan atas kewujudan Tuhan.

Ia memberi contoh; jika kita menemui sebuah mahligai di tengah padang pasar yg membuat kita terkagum akan keindahannya, tentu akan terfikir bahwa mahligai tersebut pastilah ada yg membuatnya (tukang/utas), begitu juga dengan alam semesta dan isinya yg begitu indah, yg mencerminkan kehebatan luarbiasa Penciptanya.

Mengenai kewujudan sang Pencipta, al-Raniri menjelaskan:

“utas (pencipta) itu adalah ia nyata seperti suatu yang dapat oleh budi bicara dan tiada dapat ditunjukkan perinya seperti umpama angin dan nyawa sungguhpun ia ada tetapi tidak dapat ditunjukkan perinya maka nyatalah daripada rencana itu yg menjadikan alam itu maujud sebenarnya.”

Disini al-Raniri menggunakan analogi yang tidak membutuhkan pembuktian fisik untuk meyakini kewujudan Tuhan yg dapat diterima akal sehat.

Penggunaan akal ini dicontohkan oleh al-Raniri yg menjelaskan proses berfikir yg dilalui Nabi Ibrahim:

“tatkala dilihat Ibrahim a.s. pada suatu malam akan bintang dan bulan dan pada siang matahari gelang gemilang maka kata Ibrahim a.s. inilah Tuhanku kemudia dari itu maka dilihatnya pada tiap2 sekaliannya itu lenyap dan berubah-rubah maka nyatalah tanda berubah2 itu tiadalah patut akan Tuhannya. Maka kata Ibrahim a.s. “la uhibbu al-afilin” artniya tiadalah ku kasih Tuhan yg lenyap dan berubah2 dan baharu ini.”

Disini menunjukkan bahwa pemikiran Islam yg dikembangkan oleh para ulama adalah pemikiran rasional yg saintifik dan bukan mitos atau legenda. Epistemologi Islam yg bersumber dari khabar shadiq (wahyu) pancaindera dan akal rasional membuktikan bahwa tidak ada pemisahan mutlak antara wahyu dan akal juga agama dan ilmu pengetahuan. Keduanya berfungsi dalam mebangun peradaban yg tinggi. Di sinlah letak perbedaan epistemologi Islam dan Barat.

>>>Narasumber :

Oleh: Jabal Ali Husin Sab

KISAH WANITA MISKIN DAN IMAM HANBALI

KISAH WANITA MISKIN DAN IMAM HANBALI

Suatu hari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dikunjungi seorang wanita yang ingin bertanya.

“lmam, saya adalah seorang perempuan yang sudah lama ditinggal mati suami. Saya ini sangat miskin, sehingga untuk membesarkan anak-anak, saya memintal benang di malam hari, sementara siangnya saya gunakan untuk mengurus anak-anak saya dan bekerja sebagai sebagai buruh kasar.. Karena saya tak mampu membeli lampu, maka pekerjaan memintal benang itu saya lakukan apabila  bulan terang.”

Imam Ahmad mendengar dengan serius percakapan perempuan tadi. Perasaannya tersentuh mendengar ceritanya yang menyayat hati.

Beliau yang memiliki kekayaan lagi dermawan sebenarnya telah tergerak hati untuk memberi bantuan sedekah kepada wanita itu, namun ia tangguhkan dahulu hasratnya karena ingin mendengar semua ucapan si ibu tadi. Si ibu pun meneruskan ceritanya.

“Pada suatu hari, ada satu rombongan kerajaan telah berkemah di depan rumah saya. Mereka menyalakan lampu dalam jumlah yang amat banyak sehingga sinarnya terang benderang.

Tanpa sepengetahuan mereka, saya segera memintal benang dengan memanfaatkan cahaya lampu-lampu itu. Tetapi setelah selesai saya sulam, saya bimbang, apakah hasilnya halal atau haram kalau saya jual? Bolehkah saya makan dari hasil penjualan itu? Sebab, saya melakukan pekerjaan itu dengan diterangi lampu yang minyaknya dibeli dengan uang negara, dan tentu itu adalah uang rakyat.”

Imam Ahmad terpesona dengan kemuliaan jiwa wanita itu. Ia begitu jujur, di tengah masyarakat yang rusak akhlaknya dan hanya memikirkan kesenangan sendiri, tanpa peduli halal haram lagi. Padahal jelas, wanita ini begitu miskin lagi fakir.

Maka dengan penuh rasa ingin tahu, Imam Ahmad bertanya,

“Ibu, sebenarnya engkau ini siapa?”

Dengan suara serak karena penderitaannya yang berkepanjangan, wanita ini mengaku, Saya ini adik perempuan Basyar Al-Hafi.

Imam Ahmad rahimahullah makin terkejut. 

Basyar Al-Hafi adalah Gabernur yang terkenal sangat adil dan dihormati rakyatnya semasa hidupnya. 

Rupanya, jabatannya yang tinggi tidak disalah gunakannya untuk kepentingan keluarga dan kerabatnya. Sehingga adik kandungnya sendiri pun hidup dalam keadaan miskin.

Dengan menghela nafas berat, Imam Ahmad  berkata,

“Pada masa kini, ketika orang-orang sibuk mengumpul kekayaan dengan berbagai cara, bahkan dengan menyalahgunakan uang negara serta menyusahkan rakyat yang sudah miskin, ternyata masih ada wanita terhormat seperti engkau.

lbu, sungguh, sehelai rambutmu yang terurai dari celahan jilbabmu jauh lebih mulia jika dibanding dengan berlapis-lapis serban yang kupakai dan berlembar-lembar jubah yang dikenakan para ulama.”

Imam Ahmad melanjutkan,

“Subhanallah, sungguh mulianya engkau, hasil sulaman itu engkau haramkan? Padahal bagi kami itu tidak apa-apa, sebab yang engkau lakukan itu tidak merugikan keuangan negara…”

Imam Ahmad begitu terharu mengucapkan kalimatnya,

“Ibu, izinkan aku memberi penghormatan untukmu. Silakan engkau meminta apa saja dariku, bahkan sebagian besar hartaku, niscaya akan kuberikan kepada wanita semulia engkau.”

Diriwayatkan dari Abu Bakr Ash-Shiddiq,dari Rasulullah  beliau bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ جَسَدٌ غُذِيَ بِحَرَامٍ

“Tidak akan masuk ke dalam surga sebuah jasad yang diberi makan dengan yang haram.”

*Shahih Lighairihi,

HR. Abu Ya’la, Al-Bazzar, Ath-Thabarani dalam kitab Al-Ausath dan BAl-Baihaqi.

10 TIPS MEMPEROLEHI KETENANGAN

Ketenangan ini untuk perolehi ada 10 caranya.

1)Perlulah dibina kekayaan hati,dengan cara cintakan akhirat.

2)Tahu perkara membawa istidraj(ditarik nikmat),yang menyebabkan terjatuh dalam kebinasaan.

3)Bacalah Al-Quran, kerana didalam surah2nya ada kalimah Al-Nur-kamu semak

Surah Tahrim Ayat 8.

Surah Al A’raf Ayat 157.

4)Lakukan sesuatu dalam keadaan sederhana,jangan ghuluw(berlebihan)

sehingga abai hak2 lain mensia-siakan.

5)Lawanlah nafsu yang jahat,memalingkan kita menjadi hamba2 beradab.

-Kekal dalam sifat2 tercela,seperti sombong.

6)Nasihat para ulama’ dan orang soleh,mengajak kembali pembinaan solat khusyu’.

7)Anak2 didik sejuk mata  memandang dan ikutan orang bertaqwa(keluarga)tekankan sunnah Rasullullah.

8)Sifat kemaafan perlu ada(baru atau lama)sedang berkelahi,sebelum tidur redhalah diatas takdir-Nya(ujian).

9)Ulang aliklah dengan imarahkan masjid dan nilai isteri taat dan khidmat untuk suaminya tercinta.

10)Ikhlaslah kerana dari sini,tidak akan mengungkit pemberian yang lepas(minta pujian)-contoh bersedekah banyak.