15 KESAN MELAKUKAN DOSA.

1-  HATI MENJADI KERAS.

2-  DADA MENJADI SESAK.

3-  SUKAR MENDAPAT ILMU.

4-  LUPA DIRI .

5-  TERHAPUSNYA NIKMAT.

6-  HILANG RASA KETENANGAN HIDUP.

7-  MENDAPAT KEHINAAN DI DUNIA.

8-  KEBURUKKAN  PERIBADI TERUNGKAP.

9-  ALLAH SWT MEMBIARKAN SYAITAN MENGGANGGUNYA.

10- MUNCULNYA WABAK BARU.

11- MERAGUI KANDUNGAN AGAMA ISLAM.

12- DOA TIDAK MAKBUL.

13- ALLAH SWT MEMBIARKANNYA MELAKUKAN DOSA.

14- ALLAH SWT  MENURUNKAN MUSIBAH.

15- KALAH DALAM PEPERANGAN.

BACAAN ZIKIR PAGI

BACAAN ZIKIR PAGI

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.”

➡ 1.MEMBACA AYAT KURSI 1X

اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ، لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ، مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ، وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ، وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا، وَهُوَ

الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Allah tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang (berada) dihadapan mereka, dan dibelakang mereka dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari Ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” Al-Baqarah: 255) (Dibaca pagi 1x) [1]

➡ 2. Membaca Surat Al-Ikhlas (Dibaca Pagi  3x)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Katakanlah, Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah (Rabb) yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.’” (QS. Al-Ikhlash: 1-4). (Dibaca pagi 3x). [2]

➡ 3.Membaca Surat Al-Falaq (Dibaca Pagi  3x)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَ

سَدَ

“Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Rabb Yang menguasai (waktu) Shubuh dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Serta dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”‘ (QS. Al-Falaq: 1-5). (Dibaca pagi 3x). [3]

➡ 4.Membaca Surat An-Naas (Dibaca Pagi 3x)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ

”Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan (Ilah) manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada-dada manusia. Dari golongan jin dan manusia.’” (QS. An-Naas: 1-6) (Dibaca pagi 3x) [4]

➡ 5.Membaca (Dibaca Pagi 1x)

Ketika pagi, Rasulullah صلي الله عليه وسلم membaca:

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ.

Ash-bahnaa wa ash-bahal mulku lillah walhamdulillah, laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodir. Robbi as-aluka khoiro maa fii hadzal yaum wa khoiro maa ba’dahu, wa a’udzu bika min syarri maa fii hadzal yaum wa syarri maa ba’dahu. Robbi a’udzu bika minal kasali wa su-il kibar. Robbi a’udzu bika min ‘adzabin fin naari wa ‘adzabin fil qobri.

”Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabb, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di Neraka dan siksaan di kubur.” (Dibaca pagi 1x) [5]

➡ 6.Membaca (Dibaca Pagi 1x)

Ketika pagi, Rasulullah صلي الله عليه وسلم membaca:

اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ

Allahumma bika ash-bahnaa wa bika amsaynaa wa bika nahyaa wa bika namuutu wa ilaikan nusyuur.

“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu sore. Dengan rahmat dan kehendak-Mu kami hidup dan dengan rahmat dan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu kebangkitan (bagi semua makhluk).” (Dibaca pagi 1x) [6]

➡ 7.Membaca Sayyidul Istighfar (Dibaca Pagi 1x)

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Allahumma anta robbii laa ilaha illa anta, kholaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas-tatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu. Abu-u laka bi ni’matika ‘alayya wa abu-u bi dzambii. Fagh-firlii fainnahu laa yagh-firudz dzunuuba illa anta.

“Ya Allah, Engkau adalah Rabb-ku, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) kecuali Engkau, Engkau-lah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan (apa) yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu (yang diberikan) kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau.” (Dibaca pagi 1x) [7]

➡ 8.Membaca (Dibaca Pagi 3x)

اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَصَرِيْ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah, selamatkanlah tubuhku (dari penyakit dan dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah pendengaranku (dari penyakit dan maksiat atau dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah penglihatanku, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau.” (Dibaca pagi 3x) [8]

➡ 9.Membaca (Dibaca Pagi 1x)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ

Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fid dunyaa wal aakhiroh. Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fii diinii wa dun-yaya wa ahlii wa maalii. Allahumas-tur ‘awrootii wa aamin row’aatii. Allahumah fadni min bayni yadayya wa min kholfii wa ‘an yamiinii wa ‘an syimaalii wa min fawqii wa a’udzu bi ‘azhomatik an ughtala min tahtii.

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tentramkan-lah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri dan dari atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (aku berlindung dari dibenamkan ke dalam bumi).”(Dibaca pagi 1x) [9]

➡ 10.Membaca (Dibaca Pagi 1x)

اَللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرُّهُ إِلَى مُسْلِمٍ

Allahumma ‘aalimal ghoybi wasy syahaadah faathiros samaawaati wal ardh. Robba kulli syai-in wa maliikah. Asyhadu alla ilaha illa anta. A’udzu bika min syarri nafsii wa min syarrisy syaythooni wa syirkihi, wa an aqtarifa ‘alaa nafsii suu-an aw ajurruhu ilaa muslim.

“Ya Allah Yang Mahamengetahui yang ghaib dan yang nyata, wahai Rabb Pencipta langit dan bumi, Rabb atas segala sesuatu dan Yang Merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, syaitan dan ajakannya menyekutukan Allah (aku berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan atas diriku atau mendorong seorang muslim kepadanya.” (Dibaca pagi 1x) [10]

➡ 11.Membaca (Dibaca Pagi 3x)

بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim.

“Dengan Menyebut Nama Allah, yang dengan Nama-Nya tidak ada satupun yang membahayakan, baik di bumi maupun dilangit. Dia-lah Yang Mahamendengar dan Maha mengetahui.” (Dibaca pagi3x) [11]

➡ 12.Membaca (Dibaca Pagi 3x)

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا

Rodhiitu billaahi robbaa wa bil-islaami diinaa, wa bi-muhammadin shallallaahu ‘alaihi wa sallama nabiyya.

“Aku rela (ridha) Allah sebagai Rabb-ku (untukku dan orang lain), Islam sebagai agamaku dan Muhammad صلي الله عليه وسلم sebagai Nabiku (yang diutus oleh Allah).” (Dibaca 3x)[12]

➡ 13.Membaca (Dibaca Pagi 1x)

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدً

Yaa Hayyu Yaa Qoyyum, bi-rohmatika as-taghiits, wa ash-lih lii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin Abadan.

“Wahai Rabb Yang Maha hidup, Wahai Rabb Yang Maha berdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu) dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan (urusanku) kepada diriku sendiri meskipun hanya sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).” (Dibaca pagi 1x) [13]

➡ 14.Membaca (Dibaca Pagi 1x)

أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ، حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Ash-bahnaa ‘ala fithrotil islaam wa ‘alaa kalimatil ikhlaash, wa ‘alaa diini nabiyyinaa Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallam, wa ‘alaa millati abiina Ibraahiima haniifam muslimaaw wa maa kaana minal musyrikin

“Di waktu pagi kami berada diatas fitrah agama Islam, kalimat ikhlas, agama Nabi kami Muhammad صلي الله عليه وسلم dan agama ayah kami, Ibrahim, yang berdiri di atas jalan yang lurus, muslim dan tidak tergolong orang-orang musyrik.” (Dibaca pagi 1x) [14]

➡ 15.Membaca (Dibaca 10x atau 1x)

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ.

Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.

“Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca 10x [15] atau dibaca 1x pada pagi) [16]

➡ 16.Membaca (Dibaca setiap hari 100x)

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ.

Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.

“Tidak ada olah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu.” (Dibaca setiap hari 100x) [17]

➡ 17.Membaca (Dibaca Pagi 3x)

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ: عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

Subhanallah wa bi-hamdih, ‘adada kholqih wa ridhoo nafsih. wa zinata ‘arsyih, wa midaada kalimaatih.

“Mahasuci Allah, aku memuji-Nya sebanyak bilangan makhluk-Nya, Mahasuci Allah sesuai ke-ridhaan-Nya, Mahasuci seberat timbangan ‘Arsy-Nya, dan Mahasuci sebanyak tinta (yang menulis) kalimat-Nya.”(Dibaca pagi 3x) [18]

➡ 18.Membaca (Dibaca Pagi 1x)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Allahumma innii as-aluka ‘ilman naafi’a, wa rizqon thoyyibaa, wa ‘amalan mutaqobbalaa.

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amalan yang diterima.” (Dibaca pagi 1x) [19]

➡ 19.Membaca (Dibaca Pagi 100x)

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ

Subhanallah wa bi-hamdih.

“Mahasuci Allah, aku memuji-Nya.” (Dibaca pagi100x) [20]

➡ 20.Membaca (Dibaca setiap hari 100x)

أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

Astagh-firullah wa atuubu ilaih.

“Aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.” (Dibaca setiap hari 100x) [21]

_

Fote Noote:

[1] Barangsiapa yang membaca ayat ini ketika pagi hari, maka ia dilindungi dari (gangguan) jin hingga sore hari. Dan barangsiapa mengucapkannya ketika sore hari, maka ia dilindungi dari (gangguan) jin hingga pagi hari.” (Lihat Mustadrak Al-Hakim 1/562, Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib 1/418 no. 662, shahih).

[2] HR. Abu Dawud no. 5082, an-Nasa-i VIII/250 dan at-Tirmidzi no. 3575, Ahmad V/312, Shahiih at-Tirmidzi no. 2829, Tuhfatul Ahwadzi no. 3646, Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib 1/411 no. 649, hasan shahih

[3] Ibid.

[4] “Barangsiapa membaca tiga surat tersebut setiap pagi

dan sore hari, maka (tiga surat tersebut) cukup baginya dari segala sesuatu”. Yakni mencegahnya dari berbagai kejahatan. ( HR. Abu Dawud no. 5082, Shahiih Abu Dawud no. 4241, Annasa-i VIII 250 dan At-Tirmizi no. 3575 , At-Tarmidzi berkata “Hadits ini hasan shahih” Ahmad V/312, dari Abdullah bin Khubaib radhiyallahu ‘anhu. Shahiih at-Tirmidzi no. 2829, Tuhfatul Ahwadzi no. 3646, Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib 1/411 no. 649, hasan shahih).

[5] HR. Muslim no. 2723 (75), Abu Dawud no. 5071, dan at-Tirmidzi 3390, shahih dari Abdullah Ibnu Mas’ud.

[6] HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 1199, lafazh ini adalah lafazh al-Bukhari, at-Tirmidzi no. 3391, Abu Dawud no. 5068, Ahmad 11/354, Ibnu Majah no. 3868, Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Shahiih al-Adabil Mufrad no. 911, shahih. Lihat pula Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 262.

[7] “Barangsiapa membacanya dengan yakin di waktu pagi lalu ia meninggal sebelum masuk waktu sore, maka ia termasuk ahli Surga. Dan barangsiapa membacanya dengan yakin di waktu sore lalu ia meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk ahli Surga.” (HR. Al-Bukhari no. 6306, 6323, Ahmad IV/122-125, an-Nasa-i VIII/279-280) dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu.

[8] HR. Al-Bukhari dalam Shahiib al-Adabil Mufrad no. 701, Abu Dawud no. 5090, Ahmad V/42, hasan. Lihat Shahiih Al-Adabil Mufrad no.539

[9] HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 1200, Abu Dawud no. 5074, An-Nasa-i VIII / 282, Ibnu Majah no. 3871, al-Hakim 1/517-518, dan lainnya dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhumaa. Lihat Shahiih al-Adabul Mufrad no. 912, shahih

[10] Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda kepada Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه “Ucapkanlah pagi dan petang dan apabila engkau hendak tidur.” HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad 1202, at-Tirmidzi no.3392 dan Abu Daud no. 5067,Lihat Shahih At- Tirmidzi no. 2798, Shahiih al-Adabil Mufrad no. 914, shahih. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 2753

[11] “Barangsiapa membacanya sebanyak tiga kali ketika pagi dan sore hari, maka tidak ada sesuatu pun yang membahayakan dirinya.” HR. At-Tirmidzi no. 3388, Abu Dawud no. 5088,Ibn

u Majah no. 3869, al-Hakim 1/514, Dan Ahmad no. 446 dan 474, Tahqiq Ahmad Syakir. Dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, lihat Shahiih Ibni Majah no. 3120, al-Hakim 1/513, Shahiih al-Adabil Mufrad no. 513, Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib 1/413 no. 655, sanad-nya shahih.

[12] “Barangsiapa membacanya sebanyak tiga kali ketika pagi dan sore, maka Allah memberikan keridhaan-Nya kepadanya pada hari Kiamat.” HR. Ahmad IV/337, Abu Dawud no. 5072, at-Tirmidzi no. 3389, Ibnu Majah no. 3870, an-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 4 dan Ibnus Sunni no. 68, dishahihkan oleh Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak 1/518 dan disetujui oleh Imam adz-Dzahabi, hasan. Lihat Shahiih At Targhiib wat Tarhiib I/415 no. 657, Shahiih At Targhiib wat Tarhiib al-Waabilish Shayyib hal. 170, Zaadul Ma’aad II/372, Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 2686.

[13] HR. An-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 575, dan al-Hakim 1/545, lihat Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib 1/417 no. 661, Ash-shahiihah no. 227, hasan, dari Anas radhiyallahu ‘anhu

[14] HR. Ahmad III/406, 407, ad-Darimi II/292 dan Ibnus Sunni dalam Amalul Yaum wol Lailah no. 34, Misykaatul Mashaabiih no. 2415, Shahiihal-Jaami’ish Shaghiir no. 4674, shahih

[15] HR. Muslim no. 2693, Ahmad V/420, Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 113 dan 114, Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib 1/416 no. 660, shaahih.

[16] HR. Abu Dawud no. 5077, Ibnu Majah no. 3867, dari Ab ‘Ayyasy Azzurraqy radhiyallahu ‘anhu, Shahiih Jaami’ish Shaghiir no. 6418, Misykaatul Mashaabiih no. 2395, Shahiih at-Targhiib 1/414 no. 656, shahih.

[17] “Barangsiapa membacanya sebanyak 100x dalam sehari, maka baginya (pahala) seperti memerdekakan sepuluh budak, ditulis seratus kebaikan, dihapus darinya seratus keburukan, mendapat perlindungan dari syaitan pada hari itu hingga sore hari. Tidaklah seseorang itu dapat mendatangkan yang lebih baik dari apa yang dibawanya kecuali ia melakukan lebih banyak lagi dari itu.” HR. Al-Bukhar

i no. 3293 dan 6403, Muslim IV/2071 no. 2691 (28), at-Tirmidzi no. 3468, Ibnu Majah no. 3798, dari Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه. Penjelasan: Dalam riwayat an-Nasa-i (‘Amalul Yaum wal Lailah no. 580) dan Ibnus Sunni no. 75 dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya dengan lafadz: “Barangsiapa membaca 100x pada pagi hari dan 100x pada sore Hari.”… Jadi, dzikir ini dibaca 100x diwaktu pagi dan 100x diwaktu sore. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 2762

[18] HR. Muslim no. 2726. Syarah Muslim XVII/44. Dari Juwairiyah binti al- Harits radhiyallahu ‘anhuma

[19] HR. Ibnu Majah no. 925, Shahiih Ibni Majah 1/152 no. 753 Ibnus Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 54,110, dan Ahmad VI / 294, 305, 318, 322. Dari Ummu Salamah, shahih.

[20] HR. Muslim no. 2691 dan no. 2692, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu Syarah Muslim XVII / 17-18, Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib 1/413 no. 653. Jumlah yang terbanyak dari dzikir-dzikir Nabi adalah seratus diwaktu pagi dan seratus diwaktu sore. Adapun riwayat yang menyebutkan sampai seribu adalah munkar, karena haditsnya dha’if. (Silsilah al-Ahaadiits adh-Dha-’iifah no. 5296).

[21] HR. Al-Bukhari/ Fat-hul Baari XI/101 dan Muslim no.2702

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ:قَالَ رَسُو لُ اللهِ صلي الله عليه وسلم : يَااَيُّهَا النَّسُ، تُوبُواإِلَيْ اللهِ. فَإِنِّيْ اَتُوبُ فِيْ الْيَومِ إِلَيْهِ مِانَةً مَرَّةٍ

Dari Ibnu ‘Umar ia berkata: “Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda: ‘Wahai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari seratus kali.’” HR. Muslim no. 2702 (42).

Dalam riwayat lain dari Agharr al-Muzani, Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

[إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِيْ وَإِنِّيْ لأَسْتَغْفِرُ اللهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ]

“Sesungguhnya hatiku terkadang lupa, dan sesungguhnya aku istighfar (minta ampun) kepada Allah dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim no. 2702 (41)

Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

‘Aku memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung, Yang tidak ada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Dia, Yang Maha hidup lagi Maha berdiri sendiri dan aku bertaubat kepada-Nya.’

Maka Allah akan mengampuni dosanya meskipun ia pernah lari dari medan perang.” HR. Abu Dawud no. 1517, at-Tirmidzi no. 3577 dan al-Hakim I/511. Lihat Shahiih at-Tirmidzi III/282 no. 2381.

Ayat yang menganjurkan istighfar dan taubat di antaranya: (QS. Huud: 3), (QS. An-Nuur: 31), (QS. At-Tahriim: 8) dan lain-lain.

[22] HR. Ahmad 11/290, an-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 596, Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib 1/412 no. 652, Shahiih al-Jaami ‘ish Shaghiir no. 6427

Dinukil dari buku Doa Dan Wirid halaman 133- 155 yang disusun oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir jawas , Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafii

Sejarah Hidup Tok Kenali, Kelantan.

“Perjalanan Ulama Tersohor Melayu”

Waliyullah Tok Kenali lahir pada tahun 1871M di Mukim Kenali Kubang Kerian Kelantan ,dan diberikan nama Muhammad Yusof oleh ayahandanya al-Marhum Haji Ahmad Bin Abdul Samad, Semenjak lahir sehinggalah berusia 5 tahun , Tok kenali diasuh dan dididik oleh Ayahanda dan Ibunya , Ayah Tok Kenali adalah seorang Bilal di kampungnya Masjid Kenali dan terkenal sebagai seorang yang soleh di kampungnya ketika itu.

Ketika Tok Kenali berusia 5 tahun , Keluarganya dikejutkan dengan pemergian Ayahandanya yang telah meninggal dunia , Selepas kepemergian ayahnya, Segala tugas ayahnya diambil dan digalas oleh Datuk kepada Tok Kenali sebelah ibunya iaitu al-Marhum Haji Muhammad Soleh.

Maka semenjak itu Datuknya lah yang mendidik dan memberikan asas ilmu agama kepada Tok Kenali seperti anaknya sendiri , Manakala Ibu Tok Kenali al-Marhumah Hajah Fatimah adalah seorang guru al-quran dan mengajarkan anaknya membaca quran , tajwid dan lainnya.

Semenjak kecil lagi Tok Kenali menunjukkan minat pada ilmu dan daya hafalannya sangat cerdas, Beliau menghabiskan masanya di kampung belajar ilmu al-quran , menghafal syair dan pantun yang sarat mengandungi nasihat agama dan saranan adab dan akhlak mulia.

Sehinggalah Tok Kenali berusia 10 Tahun (1881) timbul hasrat dan tekad dihatinya untuk menimba ilmu agama jauh lebih mendalam dan bersungguh , Beliau lantas meminta izin datuk dan ibunya untuk keluar dari kampung untuk menimba ilmu agama daripada guru-guru agama diluar sana. Bayangkan umur 10 tahun dah ada tekad seperti ini.

Maka setelah mendapat keizinan , Tok Kenali berjalan kaki dengan berkaki ayam dari kampungnya kubang kerian sehingga ke Masjid Muhammadi di Kota Bharu , Ketika itu masjid Muhammadi adalah lubuk dan tempat pengajian ilmu yang terkenal. Disana beliau berguru dengan al-Marhum Haji Abdul Samad bin Haji Salleh , Kenal tak siapa gurunya ini ? Beliau lebih dikenali dengan nama ‘Tuan Tabal’ (1840 – 1891).

Semenjak kecil lagi Tok Kenali gemar berjalan kaki dengan berkaki ayam , Kerana Tok Kenali seorang yang tidak suka membuang masa , Baginya berjalan dengan berkaki ayam lebih pantas , Bahkan jika beliau berjalan dengan sahabatnya ketika itu , Mereka ketinggalan jauh dibelakang Tok Kenali. Lagi satu sebab mengapa Tok Kenali Berjalan berkaki ayam kerana malu dan merendah diri di tempat-tempat orang Alim.

Di Masjid Muhammadi Kota Bharu beliau mula menuntut ilmu tasawwuf dengan al-Marhum Tuan Tabal. Kemudian dalam ilmu nahu pula, beliau berguru dengan al-Marhum Qadhi Haji Ismail bin Mahmud yang terletak tak jauh dari Masjid Muhammadi, Kota Bharu. Tok Kenali juga berguru dengan al-Marhum Haji Awang Alim di Kampung Atas Banggol sebelah hilir masjid.

Tok Kenali seorang yang sangat cintakan ilmu , Hasrat beliau untuk mendalami ilmu lebih mendalam semakin berkobar-kobar , Selama 8 Tahun beliau keluar dari kampungnya untuk mencari dan menuntut ilmu agama di sekitar Kelantan , Sehinggalah pada usia 18 Tahun (1889) beliau membuat keputusan untuk berhijrah ke Mekah bagi mendalami ilmu agama jauh lebih mendalam. Baginya Ilmu itu sangat luas dan tiada penghujungnya.

Tok Kenali pun menyatakan hasratnya kepada keluarganya , Dan atas Niatnya yang telus itu , Allah permudahkan urusan Tok Kenali , Orang-orang kampungnya ketika itu berpakat mengumpul dana bagi membiayai tiket Tok Kenali ke Mekah dengan menaiki Kapal laut. Pada waktu itu tiket untuk ke Mekah RM50. Orang-orang kampung percaya satu hari nanti Tok Kenali akan menjadi seorang yang Alim.

Maka berlayarlah Tok Kenali ke Mekah dengan sedikit wang belanja harian dari keluarganya dan orang kampungnya sebanyak RM22 , Bayangkan betapa tingginya keyakinan Tok Kenali kepada Allah dan tekadnya untuk menuntut ilmu, Dengan berbekalkan RM22 beliau menghabiskan masanya di Mekah selama 22 Tahun semata untuk menuntut ilmu.

Beliau juga tidak mempunyai rumah sewa disana, hanya tidur di serambi-serambi masjid selama 6 bulan lamanya. Disebabkan amalan inilah apabila pulang ke Kelantan dan menyebarkan Islam di sana sehingga Kelantan digelar serambi Mekah menurut info daripada orang ramai. (Wallahu’alam)

Selama Tok Kenali disana beliau tiada tempat penginapan melainkan tidur di Masjid-Masjid. Pada mulanya Tok Kenali juga menghadapi sedikit kesukaran dan bertungkus-lumus untuk mencari ilmu kerana beliau tiada kenalan mahupun teman ketika disana. Tok Kenali sentiasa memasuki halaqah ilmu di sekitar Masjidil Haram yang pada ketika itu terkenal dengan pengajian di tiang-tiang masjid. Setiap tiang akan diajar oleh Mashaikh yang berkelayakan.

Kehidupan Tok Kenali penuh Tawakal sepanjang 22 tahun disana ,Tiada siapa tahu adakah beliau makan setiap hari atau adakah beliau makan sehari sekali. Ketika itu para penuntut ilmu lainnya kehairanan melihat gelagat Tok Kenali pergi ke setiap Halaqah , Ditambah pula ketika itu beliau hadir majlis ilmu tanpa membawa kitab seperti penuntut ilmu lainnya yang duduk didalam satu halaqah.

Cuba kalian bayangkan , Disetiap majlis ilmu Tok Kenali tiada pena , kertas mahupun kitab untuk merujuk dan mencatat ilmu apa yang disampaikan oleh para mashaikh @ guru. Tok Kenali bukannya orang senang seperti pelajar lainnya yang mempunyai kelengkapan kitab dan alat lainnya.

Pada kebanyakan Halaqah , Tok Kenali hanya duduk dan memejamkan matanya , Makanya disebakan gelagatnya itu para penuntut lainnya memerhati gelagat aneh Tok Kenali , Adakah beliau hadir dari halaqah ke halaqah lainnya semata-mata untuk tidur. Tapi mereka silap sebenarnya Tok Kenali pejam mata untuk fokus mendengar dan setiap apa yang didengarinya akan diingatinya.

Para pelajar lainnya kehairanan dengan Tok Kenali , Manakala para Mashaikh yang terang mati hatinya hanya mendiamkan dan memerhati Tok Kenali , Kerana mereka tahu budak ini bukanlah seperti pelajar lainnya. Segala gelagat Tok Kenali ini mengingatkan saya kepada al-Imam asy-syafie yang sama seperti Tok Kenali keluar kampung semasa muda untuk merantau mencari ilmu tanpa sebarang kitab mahupun alat untuk mencatit.

Dan kebiasaan Tok Kenali lainnya pula sebelum ke kelas pengajian, beliau akan ke kedai kitab untuk telaah dan hafaz isi kandungan kitab tersebut. Sehinggakan pernah ditegur oleh penjual kitab. Tok Kenali menceritakan perihal beliau itu lalu penjual tersebut faham akan kesusahan Tok Kenali yang tidak mempunyai wang dan membenarkan Tok Kenali untuk menalaah kitab-kitab di dalam kedai tersebut.

Saya begitu kagum dengan daya Ingatan Tok Kenali. Dengan memejam mata di setiap halaqah dan pembacaan melalui telaahnya itu, beliau mampu menghafal sekaligus isi kandungannya disertai juga dengan kefahaman yang dikurniakan Allah kepadanya. Inilah antara kelebihan Allah kurniakan kepadanya. Maha Suci Allah.

Dalam masa berbulan-bulan peristiwa seperti di atas, Akhirnya pada satu hari ditakdirkan oleh Allah, Tok Kenali mengunjungi halaqah Ulama Melayu kita iaitu al-Marhum Sheikh Wan Ahmad al-Fathani. Tok Kenali ketika itu duduk jauh di belakang pelajar-pelajar lain. Sheikh Wan Ahmad al-Fathani telah mempersiapkan sekurang-kurangnya tiga kemusykilan atau masalah yang pada pemikiran Sheikh Wan Ahmad al-Fathani.

Kemudiannya Sheikh Wan Ahmad al-Fathani melontarkan segala soalan itu dan tidak ada seorangpun yang hadir dalam halaqahnya dapat menjawab kemusyiklan itu. Padahal yang hadir ketika itu bukanlah pelajar yang baru mendalami ilmu agama , Para pelajar disana telah hadir berbagai halaqah dan berguru dengan ramai guru.

Tok Kenali ketika itu seperti kebiasaannya hanya duduk diam dan memejamkan mata , Ketika Sheikh Wan Ahmad al-Fathani menanti untuk mendengar siapa yang dapat menjawab soalannya , Pandangan Sheikh Wan Ahmad tertumpu kepada Tok Kenali. Lalu Sheikh Ahmad menyergah Tok Kenali sehingga Tok Kenali terkejut dan terus membuka matanya.

Sheikh Wan Ahmad al-Fathani kemudiannya menyuruh Tok Kenali supaya datang ke hadapan duduk didepan beliau. Tiba-tiba Sheikh Wan Ahmad al-Fathani meminta Tok Kenali untuk menjawab permasalahan yang dikemukakannya tadi , Tanpa mengulangi soalan itu semula.

Para pelajar ketika itu menyangkakan sudah pasti Tok Kenali tidak dapat menjawab kerana beliau hanya tidur dibelakang , Kalau mereka yang mendengar soalan itupun tidak dapat menjawab apatah lagi Tok Kenali yang tidur dan tidak mendengar atau tahu apakah soalan yang diajukan oleh Sheikh Wan Ahmad al-Fathani.

Namun segala sangkaan mereka meleset , Tok Kenali tanpa teragak-agak menjawab ketiga-tiga permasalahan dan kemusykilan yang diajukan oleh Sheikh Wan Ahmad al-Fathani dengan jelas dan terang. Apalagi terkejutlah semua pelajar yang hadir ketika itu , Kalau saya kat situpun saya terkejut. Hehe

Maka dari semenjak kejadian ini , Tok Kenali menjadi rapat dengan Sheikh Ahmad , Beliau menjadi murid kesayangan Sheikh Wan Ahmad al-Fathani malam menjadi’Khadam’ (Pembantu) untuk Sheikh Wan Ahmad. Semenjak itu Tok Kenali hanya mengikut Sheikh Wan Ahmad untuk berbakti kepadanya , Ditambah pula mereka memang serasi kerana keduanya berasal dari Alam Melayu Kelantan dan Patani.

Sebenarnya kalau kalian nak tahu , Sebelum Tok Kenali datang ke majlisnya lagi, Sheikh Wan Ahmad al-Fathani telahpun mengenali Tok Kenali secara lahiriah dan rohaniah. Sheikh Wan Ahmad al-Fathani terkenal sebagai ulama dan Wali Allah yang mempunyai ‘kasyaf’ , Nama beliau bukan saja terkenal di Alam Melayu malah di Mekah dan Madinah.

Menurut riwayat , firasat Sheikh Wan Ahmad

al-Fathani mengatakan selepas 6 bulan akan datang seorang pemuda dari Kelantan yang memiliki keistimewaan ke Majlis ilmunya , Dan firasatnya benar akhirnya Tok Kenali mendatangi majlis ilmunya selepas 6 bulan dari hari beliau mendapat firasat itu. Seperti kebiasaan, Tok Kenali akan duduk di belakang sekali tanpa sebarang kitab dan tidur didalam tiap-tiap majlis ilmu sehingga dikenali sebagai orang yang suka tidur dalam majlis ilmu.

Sebermula Sheikh Wan Ahmad mengambil Tok Kenali sebagai anak murid rapatnya kerana keistimewaan dan juga terserlah ‘kewalian’ yang ada pada dirinya. Tok Kenali tidak lagi tidur di serambi-serambi masjid tetapi di rumah Sheikh Wan Ahmad. Sebagai murid yang sangat patuh dan adab kepada guru, segala perintah Sheikh Wan Ahmad dilaksanakan sebaiknya dan beliau menjadi khadam sepenuhnya kepada Sheikh Ahmad sehinggalah kepemergian guru tercintanya itu.

Selepas kepemergian Sheikh Wan Ahmad al-Fathani pada tahun 1908M dan ada riwayat mengatakan 1909M di Mina,  Ketika ini Tok Kenali berusia 38 Tahun, Bermakna selama 20 tahun Tok Kenali berguru dan berkhidmat untuk Sheikh Wan Ahmad al-Fathani , Setelah 2 tahun berlalu semenjak perginya guru tercinta itu ,Tok Kenali memutuskan untuk kembali ke tanah air ketika berumur 40 tahun (1911M) untuk mencurahkan bakti dan jasa buat anak bangsa, Tok Kenali pulang hanya dengan membawa dua buah kitab sahaja iaitu Tafsir Al-Khazin dan Mughni Labib (Nahu).

Bersambung…(Panjang sangat dah)

*Sheikh Wan Ahmad al-Fathani (1856 – 1909) adalah seorang Waliyullah yang sangat alim , Saya percaya di zaman kini tiada yang dapat membatasi kealiman beliau , Beliau sangat mengasihi dan sukakan muridnya Tok Kenali sehingga memberikan dan memanggilnya dengan nama samaran ‘Awang’ yang diberikannya.

Bisirril Fatihah.

Semoga Allah Merahmati Ruh al-Marhum Muhammad Yusof @ Tok Kenali .

1871 – 1933

PESANAN ALLAH SWT KEPADA MUKMININ DAN MUKMINAH DALAM SURAH AN NUR

1

PESANAN ALLAH SWT KEPADA MUKMININ DAN MUKMINAH DALAM SURAH AN NUR

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ―Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat‖. Ayat 30: Arahan kepada orang mukmin. Ini untuk mengelak terjadinya perkara yang tidak elok. قُم نِّهمُؤمِىيهَ يَغُضّىا مِه أَبصٰسِهِم

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, Kalimah يَغُضّىا dari غ ض ض yang bermaksud mengurangkan, memendekkan, atau menurunkan sesuatu. Ia boleh digunakan untuk pandangan mata dan juga suara. Oleh itu hendaklah mereka rendahkan pandangan mata dari melihat perkara yang tidak patut dilihat. Maka jangan lihat perkara yang haram. Kalau pandangan mata mereka melihat sesuatu yang diharamkan tanpa sengaja, hendaklah dia memalingkan pandangan matanya dengan segera darinya. Jangan terus dipandang tidak berkelip pula. Tetapi kalau ternampak, janganlah terus ditenung atau dipandang untuk kali yang kedua – larikanlah pandangan kamu itu. Pandangan pertama itu tidak berdosa, tetapi kalau terus memandang buat kali kedua, maka itu yang berdosa – seperti yang disebut dalam satu hadis riwayat Abu Daud : Dari Abdullah ibnu Buraidah, dari ayahnya yang mengatakan bahawa Rasulullah saw pernah bersabda kepada sahabat Ali: Hai Ali, janganlah kamu mengikutkan suatu pandangan ke pandangan berikutnya, kerana sesungguhnya engkau hanya diperbolehkan menatap pandangan yang pertama, sedangkan pandangan yang berikutnya tidak boleh lagi bagi kamu.

2

Kalimah مُؤمِىيهَ termasuk untuk lelaki dan perempuan juga (walaupun ia lafaz kepada lelaki). Maka janganlah kata hanya lelaki sahaja kena tundukkan pandangan kerana wanita pun harus menjaga mata mereka juga. Pandangan mata ini amat bahaya. Seperti kata pepatah: ―Dari mata turun ke hati‖. Kalau kita tidak menjaga mata kita, maka akan ternampaklah kaum berlainan jenis yang boleh menyebabkan timbul keinginan-keinginan pelik dalam diri kita. Maka Allah swt awal-awal lagi memerintahkan kita agar menjaga mata. Malangnya, ada orang yang sudah menjadikan ‗profesion‘ mereka duduk melepak di jalanan dan memerhatikan orang yang lalu lalang. Ini selalunya dilakukan oleh budak-budak muda yang akal masih tidak cukup lagi. Sudahlah mereka menakutkan orang yang lalu lalang, malah mereka kacau lagi, menegur wanita dan anak dara yang lalu dan mengganggu mereka. Nabi saw sudah berpesan tentang perkara ini. Di dalam kitab sahih disebutkan melalui Abu Sa‘id رضي الله عىه , bahawa Rasulullah saw pernah bersabda: ―Janganlah kalian duduk-duduk di (pinggir-pinggir) jalan.‖ Mereka bertanya, ―Wahai Rasulullah saw, kami perlu tempat untuk bercakap-cakap.‖ Rasulullah saw bersabda, ―Jika kalian tetap ingin duduk-duduk di jalanan, maka berikanlah jalan akan haknya.‖ Mereka bertanya, ―Apakah hak jalan itu, wahai Rasulullah saw?‖ Rasulullah saw bersabda, ―Menahan pandangan mata, menahan diri untuk tidak mengganggu (orang yang lalu), menjawab salam, memerintahkan kepada kebajikan, dan mencegah kemungkaran.‖ وَيَحفَظىا فُسوجَهُم

dan memelihara kemaluannya; Dan mestilah dijaga kemaluan daripada melakukan maksiat. Maknanya jauhkan diri dari zina. Sebelum zina terjadi di dalam bentuk jimak, sudah ada zina-zina lain yang harus dijaga dari berlaku. Di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan sebuah hadis melalui Abu Hurairah رضي الله عىه yang mengatakan bahawa Rasulullah saw pernah bersabda:

3

Telah ditetapkan atas anak Adam bahagian dari perbuatan zina yang pasti dialaminya: ‗zina mata‘ adalah pandangan mata, ‗zina lisan‘ adalah ucapan, ‗zina kedua telinga‘ adalah pendengaran, ‗zina kedua tangan‘ ialah memukul, dan ‗zina kedua kaki‘ ialah melangkah, dan hawa nafsu yang berharap dan menginginkannya, sedangkan kemaluanlah yang membenarkannya atau mendustakannya. Jadi sebelum zina kemaluan itu berlaku, zina-zina yang lain hendaklah dijaga dari berlaku. Maka dari hadis di atas, bukanlah dukhul (memasukkan) sahaja yang dikira sebagai zina, tetapi perlakuan sebelum itu lagi sudah dikira sebagai zina. Cuma yang ada hukum hudud adalah zina dukhul sahaja. Maka janganlah kita pandang ringan zina-zina yang lain. Jangan kita katakan: ―Alaaahhh, aku tengok jer, bukan buat apa pun…..‖ ذٰنِكَ أَشكىٰ نَهُم

yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Amat penting untuk pandangan mata kerana terdapat kaitan rapat antara pandangan mata dan kemaluan. Kalau tidak dijaga pandangan, maka akan timbul masalah pada hati yang boleh membawa kepada perbuatan zina.‖ Imam Ahmad رحم الله meriwayatkan dari Abu Umamah, dari Nabi saw yang telah bersabda: Tiada seorang lelaki muslim pun yang melihat kecantikan seorang wanita, kemudian dia menundukkan pandangan matanya, melainkan Allah akan menggantinya dengan (pahala) suatu ibadah yang dia rasakan kemanisannya (kenikmatannya). Menjaga pandangan mata dari membuat dosa akan menyebabkan kita dapat berasa nikmat untuk beribadat. Kita akan berasa nikmat dan seronok sahaja untuk solat, baca Qur‘an dan lain-lain. Maka, kalau kita rasa kita tidak mendapat kemanisan dalam ibadat kita, atau berasa berat dan malas, itu mungkin petanda yang kita tidak menjaga pandangan mata kita agaknya. Maka selepas ini, berusahalah untuk menjaganya.

4

إِنَّ اللهَ خَبيسٌ بِما يَصىَعىنَ

sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Allah mengingatkan yang Dia tahu apa sahaja yang kita perhatikan dan lakukan, walaupun kita tengok secara sembunyi-sembunyi. Ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah dalam firmanNya: { يَعْلَمُ خَائِىَت الأعْيُهِ وَمَا حُخْفِي الصُّذُورُ } Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. (Al-Mu’min: 19) Allah mengetahui semua tentang apa yang manusia lakukan. Allah menggunakan kalimah يَصىَعىنَ yang bermaksud ‗bina, buat, usahakan‘ (seperti usahakan perusahaan kilang dan sebagainya). Ini adalah kerana kebanyakan perbuatan manusia ini ada usahanya, bukannya tanpa sengaja dilakukan. Maka Allah menyuruh kita tundukkan mata kita kerana perkara ini boleh membawa kepada perkara yang tidak elok, kerana semuanya berasal dari mata, Malangnya zaman sekarang perkara ini lagi senang terjadi kerana tidak perlu lihat di khalayak ramai pun kerana ramai sudah ada FB. Maka senang sahaja lelaki untuk melihat wanita-wanita yang banyak meletakkan gambar mereka di FB itu untuk tatapan semua orang. Boleh ditenung lama-lama. Kalau tenung di jalanan tentu nampak pelik dan orang marah. Tetapi kalau tenung gambar di media sosial, tidak ada orang yang larang. Tidaklah kita menyalahkan FB itu sepenuhnya kerana ia boleh digunakan untuk berdakwah dan menyambung silaturahim dengan keluarga dan kenalan kita, tetapi kita haruslah menjaga perhubungan di dalamnya dan janganlah kita meletakkan gambar-gambar yang boleh menyebabkan fitnah. Maka tidaklah perlu untuk ―post‖ gambar-gambar yang tidak perlu untuk tatapan semua dan janganlah kita sibuk untuk membuang masa melayari gambar-gambar wanita cantik di FB lagi.

5

Ayat 31: Sekarang ayat untuk wanita pula. Allah beritahu bukan sahaja mesti ditundukkan pandangan tetapi mesti juga menutup anggota dengan menjaga aurat.

وَقُم نِّهمُؤمِىٰثِ يَغضُضهَ مِه أَبصٰسِهِهَّ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, Ini pula adalah arahan kepada wanita juga untuk menundukkan pandangan mereka. Maknanya, bukan lelaki sahaja yang mesti menundukkan dan menjaga pandangan mereka tetapi wanita juga mesti menundukkan pandangan. Janganlah mereka salahkan orang lelaki sahaja yang sentiasa melihat wanita. Haruslah sedar yang wanita juga mempunyai nafsu apabila mereka melihat lelaki. Oleh kerana itu, wanita juga tidak boleh memandang kepada lelaki yang bukan suami mereka. Sebahagian besar dari ulama‘ berdalilkan kepada sebuah hadis: Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Imam Turmuzi melalui hadis Az-Zuhri dari Nabhan maula Ummu Salamah, yang menceritakan kepadanya bahawa Ummu Salamah رضي الله عىها pernah bercerita kepadanya bahawa pada suatu hari beliau dan Maimunah berada di hadapan Rasulullah saw. Ummu Salamah melanjutkan kisahnya, ―Ketika kami dalam keadaan demikian, tiba-tiba datanglah Ibnu Ummi Maktum. Ibnu Ummi Maktum masuk menemui Rasulullah saw. Kejadian ini sesudah Rasulullah saw memerintahkan kepada kami agar berhijab. Maka Rasulullah saw bersabda: ― احْخَجِبَا مِىْه ‖ ‗Berhijablah kamu berdua darinya!‘

6

Maka saya (Ummu Salamah) bertanya, ‗Wahai Rasulullah saw, bukankah dia buta tidak dapat melihat kami dan tidak pula mengetahui kami?‘ maka Rasulullah saw bersabda: أَوَ عَمْيَاوَانِ أَوْخُمَا؟ أَلَسْخُمَا حُبْصِرَاوِهِ ― ‖ ‗Apakah kamu berdua juga buta? Bukankah kamu berdua dapat melihatnya?‘.‖ Ulama‘ lainnya berpendapat bahawa kaum wanita dibolehkan memandang lelaki lain jika tanpa berahi. Seperti yang disebutkan di dalam kitab sahih, bahawa Rasulullah saw menyaksikan orang-orang Habsyah sedang bermain dengan tombak mereka di hari raya di dalam masjid, sedangkan Aisyah Ummul Mu‘minin رضي الله عىها menyaksikan pertunjukan mereka dari balik tubuh baginda, dan Nabi saw menutupinya dari pandangan mereka hingga A‘isyah رضي الله عىها jemu, lalu pulang. Oleh itu, ini menunjukkan bahawa orang perempuan melihat lelaki tidak sama dengan orang lelaki melihat wanita. Perbuatan lelaki melihat wanita lebih keras lagi. Lelaki lebih perlu menjaga pandangan mereka. Dan memang lelaki suka melihat wanita dengan pandangan ghairah. Kerana itulah wanita disuruh menutup aurat mereka sampai menutup rambut mereka, tetapi tidaklah lelaki disuruh berbuat begitu. Allahu a‘lam. وَيَحفَظهَ فُسوجَهُهَّ

dan menjaga kemaluannya, Dan mereka juga disuruh untuk menjaga kemaluan mereka. Kalaulah mereka tidak menjaganya, maka tentu akan lebih susah lagi kerana lelaki ini memang senang terangsang, tetapi mereka susah untuk mendapatkan wanita. Oleh sebab itu apabila Allah menyebut hukuman kepada penzina dalam ayat 2 surah ini, Allah memulakan dengan penzina wanita, kerana merekalah yang memegang ‗kunci‘nya. Kerana itu aurat wanita lebih banyak perlu dijaga dari lelaki. Mereka mesti menutup aurat mereka kecuali muka dan tangan sahaja. Dan mereka tidak boleh memakai pakaian yang ketat yang boleh memberi maklumat tentang bentuk tubuh badan mereka. Kerana itu pernah kakak A‘isyah رضي الله عىها yang bernama Asma‘ datang ke rumah Nabi saw memakai pakaian yang agak tipis dan ditegur oleh baginda.

7

وَلا يُبديهَ شيىَحَهُهَّ

dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, Salah satu cara untuk mengelakkan penzinaan terjadi, ialah dengan menjaga penampilan kaum wanita. Kaum wanita ini memang sudah menarik perhatian lelaki secara semulajadi. Kalau mereka tidak berbuat apa-apa pun memang kaum lelaki sudah tertarik. Maka kalau mereka menambah lagi penampilan mereka, maka tentu akan jadi lebih menarik dan merbahaya bagi kebanyakan lelaki. Kerana itulah pandangan lelaki susah untuk dijaga, kerana ada wanita-wanita yang memang menghiasi penampilan mereka supaya dinampak indah oleh manusia, terutama golongan lelaki. Kalimah زيىَخَهُ ه (perhiasan mereka) ada tiga tafsiran: Tafsiran yang pertama mengatakan ia merujuk kepada tubuh badan wanita itu sendiri. Oleh kerana itu di dalam syari‘at, tubuh badan orang perempuan itu sendiri sudah dikira sebagai ‗aurat‘. Dan kerana itu jikalau tidak ada keperluan untuk mereka keluar, maka mereka harus duduk di dalam rumah sahaja. Ini ada disebut di dalam Surah Ahzab. Kerana jikalau mereka tidak ada urusan dan keluar rumah juga, maka syaitan akan menyebabkan lelaki ajnabi melihat mereka.Maka, yang terbaik adalah mereka duduk sahaja di dalam rumah supaya selamat dari pandangan kaum lelaki. Tafsiran yang kedua, kalau mereka ada keperluan untuk keluar, maka hendaklah mereka menutup aurat mereka. Kalau boleh buka pun hanyalah muka dan tapak tangan mereka sahaja. Maka yang boleh dilihat adalah pakaian yang di luar sahaja. { يَا أَيُّهَا الى بِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَىَاحِكَ وَوِسَاءِ الْمُؤْمِىِيهَ يُذْوِيهَ عَلَيْهِ ه مِهْ جَلابِيبِهِ ه رَلِكَ أَدْوَى

أَنْ يُعْرَفْهَ فَلا يُؤْرَيْهَ } Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin, ―Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.‖ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, kerana itu mereka tidak diganggu.(Al-Ahzab: 59) Tafsiran yang ketiga, merujuk kepada kecantikan perhiasan mereka. Maksudnya mereka jangan pakai benda-benda yang boleh menarik perhatian.

8

Jangan pakai pakaian yang ketat. Jangan pakai alat solek yang tebal dan sebagainya. Ini kerana perhiasan itu semua menarik perhatian kaum lelaki. إِلّا ما ظَهَسَ مِىها

kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Hendaklah ditutup kesemuanya sekali kecuali perkara yang tidak dapat dielakkan lagi. Contohnya, mereka itu orang yang tinggi, maka mereka tidak boleh berbuat apa-apa tentang ketinggiannya itu. Juga baju di bahagian luar mereka, memang tidak dapat dielak lagi. Ada juga yang berpendapat, ia bermaksud bahagian tubuh mereka yang terbuka kerana ditiup angin, contohnya. Iaitu perkara yang tidak disengajakan. Perkara yang tidak disengajakan, dimaafkan. وَنيَضسِبهَ بِخُمُسِهِهَّ عَهىٰ جُيىبِهِهَّ

Dan hendaklah mereka menutupkan kain tudung ke dadanya, Dan wanita hendaklah panjangkan ‗khimar‘ mereka ke atas dada mereka. Digunakan kalimah ‗khimar‘ yang bunyinya seperti ‗khamar‘ (arak) kerana sifatnya yang menutup akal di kepala. Jadi ‗khimar‘ dalam ayat ini adalah sesuatu yang menutup kepala mereka. Kebiasaan bagi orang Arab sebelum Islam, bahagian kepala mereka sudah biasa ditutup dengan khimar. Tetapi kain hujungnya dibawa ke belakang (macam kain serban yang leretan kainnya dilepaskan di belakang). Maknanya pakaian wanita waktu itu terbuka di bahagian dada. Maka apabila Islam datang, Allah memerintahkan agar kain itu dibawa ke bahagian depan menutupi belahan dada. Yang penting adalah bahagian dada yang menonjol itu yang perlu ditutup. Saidatina A‘isyah رضي الله عىها menceritakan bagaimana apabila ayat ini mula turun, mereka membacakan ayat ini kepada keluarga mereka dan para wanita terus mencari kain untuk menutupi bahagian tubuh mereka. Dan mereka terus meninggalkan kain yang jarang dan mula memakai kain yang kasar dan tebal.

9

Ini menunjukkan betapa warak dan taatnya mereka dengan ayat-ayat Qur‘an. Mereka terus buat tanpa soal dan tanpa lengah. Ada hujah jahil yang mengatakan tidak ada ayat Qur‘an yang memerintahkan untuk ‗menutup kepala‘. Mereka kata, hanya tutup ‗dada‘ sahaja. Dan sememangnya kalau dicari terjemahan ‗menutup kepala‘ tidak ada dalam terjemahan Qur‘an. Ini kerana mereka tidak faham apakah maksud ‗khimar‘. Khimar itu sudah membawa maksud ‗tutup kepala‘, jadi tidak disebut ‗tutup kepala‘ dalam Qur‘an lagi kerana ia memang telah diamalkan pada zaman itu. Cuma perubahan yang ditambah adalah kain yang jatuh ke belakang itu dahulu dibawa ke hadapan untuk menutupi belahan dada sahaja. Maka, haruslah pandai dan memahami cara memakai kain tudung ini. Mestilah diajarkan anak-anak perempuan kita dan isteri-isteri kita. Supaya kain tutup kepala itu juga benar-benar menutupi dada. Mestilah menggunakan kain yang panjang supaya dapat menutupi keseluruhan bahagian dada. وَلا يُبديهَ شيىَحَهُهَّ إِلّا نِبُعىنَحِهِهَّ

dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, Maka seorang wanita mestilah menjaga penampilan mereka. Tidak boleh menampakkan aurat dan juga perhiasan mereka melainkan kepada yang dibenarkan sahaja. Maka Allah memberikan senarai dan Allah memulakan dengan suami wanita itu sendiri. Dalam ayat ini, disebut 12 golongan yang dibenarkan. Sedangkan dalam Surah Ahzab hanya disebut tujuh (7) golongan sahaja. Ini adalah kerana Surah Nur ini datang kemudian selepas Surah Ahzab, maka ada penambahan dari surah yang awal turun. Kalau dengan suami, maka berhiaslah semolek-moleknya. Pakailah mana-mana hiasan yang disukai oleh suami. Dengan suami tidak perlu dijaga aurat kerana wanita itu halal bagi suaminya, semua benda boleh tengok. Kita haruslah ingat yang wanita itu jangan menarik perhatian lelaki lain. Janganlah kita sangka yang kalau wanita itu sudah menutupi auratnya, maka itu sudah cukup. Kerana aurat itu lebih lagi dari sekadar pakaian sahaja.

10

Kalau dia menutupi aurat tubuh badannya, dia haruslah juga menjaga tingkah lakunya. أَو ءآبائِهِهَّ أَو ءآباءِ بُعىنَحِهِهَّ

atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, Wanita itu boleh menampakkan perhiasannya kepada bapanya sendiri dan juga bapa mertuanya. Ini termasuklah datuk dan moyang juga. Aurat dengan mahram tidak sama dengan aurat bersama ajnabi. Dibenarkan membuka aurat kepada ahli keluarga kerana ahli keluarga menghormati sesama sendiri dan tidaklah akan mengambil kesempatan ke atas ahli keluarga sendiri. Dan tambahan pula, susah kalau hendak dijaga aurat di dalam rumah kerana mereka tinggal di dalam rumah yang sama. Jadi Islam membenarkannya. Tetapi hendaklah di dalam keadaan yang sesuai. Aurat yang dibenarkan adalah setakat rambut, tangan, wajah dan yang sesuai sahaja. أَو أَبىائِهِهَّ أَو أَبىاءِ بُعىنَحِهِهَّ

atau anak-anak lelaki mereka, atau anak-anak lelaki suami mereka, Juga boleh menunjukkan perhiasan kepada anak-anak mereka dan juga anak-anak suami mereka (anak tiri — mungkin suaminya itu sudah mempunyai anak dengan isteri yang lain). أَو إِخىٰوِهِهَّ أَو بَىي إِخىٰوِهِهَّ أَو بَىي أَخَىٰجِهِهَّ

atau saudara-saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau anak-anak lelaki saudara perempuan mereka, Juga dibenarkan menunjukkan perhiasan mereka kepada adik beradik lelaki mereka. Ini termasuk kepada adik beradik tiri juga. Juga kepada anak-anak saudara mereka, sama ada anak adik beradik lelakinya atau anak adik beradik perempuannya. Sama sahaja bagi keduanya.

11

Mereka yang disebutkan di atas (dari ayahnya tadi) adalah ‗mahram‘ bagi wanita itu, mereka dibolehkan memperlihatkan perhiasannya kepada orang-orang tersebut, tetapi bukan dengan cara tabarruj (berlebihan). Dalam ayat ini tidak disebut pakcik dan juga anak menantu. Ini kerana mereka juga tidak boleh dikahwini, maka mereka juga termasuk di dalam ayat ini. Pernah sekali pakcik kepada A‘isyah رضي الله عىها datang dan beliau takut untuk berjumpa dengannya. Maka selepas itu Nabi Muhammad kembali dan berkata A‘isyah رضي الله عىها boleh berjumpa dengan pakciknya itu tanpa menutup aurat. Kebenaran ini tidak termasuk ipar duai kerana mereka itu bukanlah mahram. Memang waktu itu mereka tidak boleh dikahwini kerana mereka pasangan orang lain. Tapi kalau mereka bercerai, kita boleh menikahi mereka. Dan ipar duai ini memang bahaya, kerana mereka itu selalunya rapat dengan kita dan mereka itu dianggap sebagai keluarga. Kita biasanya selalu berkumpul bersama-dalam dalam majlis keluarga. Jadi selalu boleh lihat melihat sesama sendiri. Dan kerana itu memang hendaklah dijaga sungguh dengan mereka. Malangnya selalunya orang kita tidak menjaga perkara ini kerana mereka sangka itu semua keluarga sahaja. Tetapi lihatlah hadis Nabi saw. Di dalam kitab Sahihain telah disebutkan sebuah hadis dari Rasulullah saw yang telah bersabda: ― إِي اكُمْ وَالذُّخُىلَ عَلَى الىِّسَاءِ ”. قَالُىا: يَا رَسُىلَ اللهِ، أَفَرَأَيْجَ الحَمْى؟ قَالَ: “الحَمْى الْمَىْثُ ‖ ―Janganlah kalian masuk menemui wanita.‖ Dikatakan, ―Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapatmu tentang (masuk menemui) saudara ipar?‖ Rasulullah menjawab, ―(Masuk menemui) saudara ipar ertinya maut.‖ Lihatlah bagaimana Nabi Muhammad saw sampai mengatakan mereka itu boleh dikaitkan dengan ‗maut‘ kerana berat sangat apa yang akan terjadi kalau kita tidak menjaga aurat dari ipar duai. Ingatlah yang mereka itu bukanlah mahram dan mereka boleh juga ada keinginan kepada ipar mereka. Dan kita pun tahu ada banyak kisah bagaimana seorang lelaki ‗terlajak‘ dengan iparnya sendiri.

12

أَو وِسائِهِهَّ

atau wanita-wanitanya, Yakni seorang wanita dibolehkan menampakkan perhiasannya kepada ‗wanita muslimat‘, bukan wanita kafir. Kerana itu ayat ini menyebut ‗wanitanya‘ yang merujuk kepada sesama Muslim. Wanita Muslim dibenarkan kerana mereka tidak menceritakan keadaan kaum wanita muslimat kepada kaum lelaki mereka. Tapi kenalah berhati-hati dengan wanita bukan Muslim. Ini kerana takut mereka akan menceritakan tentang wanita itu kepada lelaki lain. Ini kita dapat tahu dari kalimah yang digunakan. Kerana tidaklah digunakan kalimah وِسائِ sahaja yang boleh membawa maksud mana-mana wanita. Tapi kalimah yang digunakan adalah وِسائِهِ ه (wanita-wanita ‗mereka‘) yang membawa maksud wanita yang tertentu sahaja. Adapun wanita muslimah, sesungguhnya dia sepatutnya mengetahui bahawa perbuatan menceritakan perihal wanita lain (kepada lelaki) adalah haram sehingga dia hendaklah menahan dirinya dari melakukan hal tersebut. Rasulullah saw telah bersabda: ―لَ حُبَاشِرُ المرأة المرأةَ، حَىْعَخُهَا لِسَوْجِهَا كَأَو ه يَىْظُرُ إِلَيْهَا ‖ Janganlah seorang wanita menceritakan (menggambarkan) keadaan wanita lain kepada suaminya, (hingga) seakan-akan suaminya memandang ke arahnya. (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim) Inilah hukum yang telah diketengahkan. Mungkin ramai wanita kita tidak tahu tentang perkara ini. Maka mereka sangka yang mereka boleh membuka tudung mereka di hadapan wanita yang bukan beragama Islam sedangkan perkara ini dilarang. Sa‘id ibnu Mansur telah meriwayatkan di dalam kitab sunannya, bahawa Khalifah Umar menulis surat kepada Abu Ubaidah yang isinya sebagai berikut:

13

Amma Ba‘du, sesungguhnya telah sampai berita kepadaku yang mengatakan bahawa sebahagian dari kaum wanita muslimat sering memasuki tempat mandi sauna bersama wanita-wanita musyrik, dan hal itu terjadi di daerah selenggaraanmu. Maka tidak dihalalkan bagi wanita yang beriman kepada Allah swt dan hari kemudian memperlihatkan auratnya kepada wanita lain kecuali wanita yang seagama dengannya. Satu lagi pendapat yang mengatakan, وِسائِهِ ه yang dimaksudkan adalah golongan wanita yang selalu berurusan dengan wanita itu, tidak kira sama ada Muslim atau pun tidak. Iaitu mereka yang dipercayai. Maka kerana itu ada pendapat yang mengatakan boleh wanita yang bukan Muslim melihat aurat wanita. Tambahan pula kerana zaman sekarang amat susah untuk menjaga aurat dari mereka. Allahu a‘lam. Perhiasan yang dimaksudkan ialah bahagian leher, anting-anting, bahagian yang ditutupi oleh kain tudung, dan anggota lainnya yang tidak halal dilihat kecuali hanya oleh mahramnya. أَو ما مَهَكَث أَيمٰىُهُهَّ

atau hamba-hamba yang mereka miliki, Ibnu Jarir رضي الله عىه mengatakan, yang dimaksudkan adalah ‗hamba‘ perempuan yang musyrik. Dalam hal ini wanita muslimat dibolehkan memperlihatkan perhiasannya kepada hamba-hamba perempuannya, sekalipun mereka musyrik, kerana mereka adalah hambanya. Demikianlah menurut pendapat Abdullah bin Mas`ud, Mujahid, Hasan Basri, Ibn Sirin, Said bin Musayyab, Ta`us dan Imam Abu Hanifah, dan juga Imam Shafi`i. Jadi ini tidak termasuk hamba lelaki walaupun dimiliki oleh wanita itu. Kerana kalaulah hamba itu dibebaskan, dia boleh berkahwin dengan wanita itu. Tetapi menurut ulama‘ seperti A‘ishah dan Ummu Salamah berpendapat wanita muslimat dibolehkan memperlihatkan perhiasannya kepada hamba-hamba, baik yang lelaki mahupun yang perempuan. Mereka mengatakan demikian dengan berdalilkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud رحم الله

14

أَوِ انحّٰبِعيهَ غَيسِ أُونِي الإِزبَةِ مِهَ انسِّجالِ

atau pelayan-pelayan lelaki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) Yakni seperti para pelayan yang bergaji di mana mereka yang berakal kurang dan lemah, tiada keinginan terhadap wanita dan tidak pula berkeinginan terhadap wanita. Jadi terdapat dua kategori: Mereka itu adalah pekerja bawahan dan mereka tidak ada keinginan terhadap wanita. Ini kerana apabila mereka itu orang bawahan, mereka tidak berani untuk membuat benda tidak patut. Walau bagaimanapun janganlah pula gunakan ayat ini sebagai alasan untuk bermudah-mudah dengan pekerja lelaki seperti pemandu, orang gaji dan sebagainya. Jangan cari alasan untuk memudahkan diri. Ibnu Abbas رضي الله عىه mengatakan, yang dimaksudkan adalah lelaki dungu yang tidak mempunyai nafsu syahwat. Sedangkan menurut Ikrimah, yang dimaksudkan adalah lelaki lembut (pondan) yang kemaluannya tidak dapat berereksi. Hal yang sama dikatakan oleh bukan hanya seorang dari kalangan ulama‘ Salaf. أَوِ انطِّفمِ انَّريهَ نَم يَظهَسوا عَهىٰ عَىزٰتِ انىِّساءِ

atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Ia bermaksud kanak-kanak kecil belum mengenali aurat lagi. Yakni anak-anak kecil yang masih belum mengerti keadaan wanita dan aurat mereka seperti perkataannya yang lemah lembut lagi merdu, lenggak-lenggoknya dalam berjalan, gerak-geri dan sikapnya. Apabila anak lelaki kecil masih belum memahami hal tersebut, maka dia boleh masuk menemui wanita walaupun wanita itu tidak menutup aurat dengan sempurna. Ulama‘ mengatakan mereka ini paling tua adalah berumur 12 tahun. Ini kerana mereka sepatutnya tidak ada lagi keinginan itu. Tapi pada zaman

15

sekarang tidaklah dapat dipastikan kerana ada di kalangan kanak-kanak ini yang cepat matangnya. Ini kerana mereka dari kecil lagi sudah terdedah kepada perkara-perkara yang tidak senonoh dalam media sosial. Jadi mereka sudah terangsang dari kecil lagi. Maka, kenalah pandai menilai. وَلا يَضسِبهَ بِأَزجُهِهِهَّ نِيُعهَمَ ما يُخفيهَ مِه شيىَحِهِهَّ

Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Wanita tidak boleh menghentakkan kaki sampai berbunyi perhiasan kaki mereka. Ini adalah perbuatan untuk menarik perhatian orang lelaki. Pada zaman Jahiliah dahulu, apabila seorang wanita berjalan di jalan, sedangkan dia memakai gelang kaki, jika tidak ada lelaki yang melihat dirinya, dia akan memukul-mukul kakinya ke tanah sehingga kaum lelaki mendengar bunyi gelangnya (dengan maksud menarik perhatian mereka). Maka Allah melarang kaum wanita mukmin melakukan hal seperti itu. Kalau zaman sekarang, ia boleh dilakukan dengan kasut tinggi. Ini kerana wanita zaman sekarang tidak memakai gelang kaki yang berbunyi, tetapi kalau dengan kasut tinggi yang berderap-derap bunyinya, itu pun sudah boleh dikira menarik perhatian. Termasuk ke dalam apa yang dilarang ialah memakai wangian bila keluar rumah, sebab kaum lelaki akan mencium baunya. Abu Isa At-Tirmizi رضي الله

عىه mengatakan: Dari Abu Musa,Nabi saw telah bersabda: Setiap mata ada zinanya. Seorang wanita bila memakai wangian, lalu melewati suatu majlis, maka dia (akan memperoleh dosa) . Yakni dosa zina mata. Maka kaum wanita, elaklah dari berhias semasa keluar rumah. Sepatutnya perhiasan itu adalah untuk suami sahaja. وَجىبىا إِنَى اللهِ جَميعًا أَيُّهَ انمُؤمِىىنَ نَعَهَّكُم جُفهِحىنَ

Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. Dan bertaubatlah kalau dahulu kamu pernah melakukan perkara-perkara yang dilarang ini. Bertaubatlah kamu kerana banyak yang kamu telah langgar. Ikutlah saranan dari Allah ini kerana ia adalah untuk kebaikan kita semua.

16

Perkara ini perlu dijaga dari rumah lagi, dari anak-anak kita sejak kecil lagi. Fahamkanlah mereka tentang perkara ini supaya tidak susah untuk kita ubah mereka apabila mereka dewasa nanti. Islam amat menjaga perkara ini sampaikan terdapat larangan berdua-duaan dengan wanita ajnabi. Kalau perlu berjumpa, maka kenalah ada mahram wanita itu. Wanita juga dilarang untuk menyentuh lelaki. Kerana itulah apabila Nabi saw mengadakan bai‘ah dengan wanita, baginda tidak pernah berjabat tangan dengan mereka. Maka ini menjadi larangan bagi kita untuk berjabat salam dengan wanita. Kerana itulah juga wanita dilarang untuk mengembara jauh tanpa mahramnya. Pentingnya wanita dipisahkan dari lelaki, sampaikan baginda mengatakan wanita lebih afdhal untuk solat di rumah sahaja. Dan kalaupun mereka datang solat berjemaah di masjid, wanita haruslah duduk di saf belakang jauh dari lelaki. Dan Nabi saw mengarahkan supaya menyediakan pintu asing bagi wanita supaya tidak bertembung dengan lelaki yang berjemaah itu. Dan pada zaman Nabi saw selepas solat, lelaki akan duduk dahulu untuk memberikan peluang kepada wanita untuk keluar dan balik dahulu. Ini supaya dua golongan itu tidak bertembung. Rujukan: Maulana Hadi Nouman Ali Khan Tafsir Ibn Kathir Tafhim-ul-Qur‘an, Abul A‘la Maududi Tafsir Maariful Qur‘an, Mufti Shafi Usmani__