Apabila Semua Perkara Tidak Seperti Yang Kita Mahukan

Jangan ‘mengeluh’ pada apa yang kita hadapi dalam hidup ini kerana disuatu tempat didunia ini mungkin ada insan yang hidup hanya berserah pada Allah SWT, mereka tidak pernah kenal erti kemewahan dunia, keseronokan hidup yang berganti siang dan malam, merasai kelazatan makanan yang adakala berlaku pembaziran, mereka hanya tidur beratapkan langit bertilamkan bumi, dimanakah mereka berlindung pada hujan, rebut dan panas. Mereka begitu sabar, tabah dan redha berhadapan dengan apa saja yang mendatang, menerima seadanya kurnia Allah yang bernama ‘nikmat’ sedangkan kita bangun subuh belum pun keluar dari selimut sudah mula berkira dan berkeluh, ‘apalagi yang musibah terjadi hari ini’. 

Sukarnya kita bersyukur kerana masih diberi kesempatan untuk memperbaiki dosa semalam. Gelapkah penglihatan kita sepanjang 86,400 saat yang kita lalui terlalu banyak ‘nikmat’ yang dikurniakan kepada kita untuk meneruskan kehidupan kita. Tidak ada seorangpun yang tahu apa yang akan terjadi dalam hidup mereka. Kita memang boleh berharap dan merancang, tapi kadangkala hidup tersasar ke arah yang tak disangka-sangka. Ketika perkara yang terjadi tak menepati pengharapan kita, kita mula sibuk memenyesali diri. Maka, muhasabahlah wahai calon penghuni syurga, “Mahasuci Allah yang menguasai segala kerajaan, Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.”- (Al-Mulk: 1-2). Pujuklah hati andai dugaan yang datang itu seakan bertubi-tubi bagi kita. Bukan Allah tidak tahu, betapa dengan ujian dariNya ini, membuat kita terduduk, membuat kita menangis dan membuat kita lebih banyak ingat Dia. Allah tahu itu dan ketahuilah Allah sentiasa memerhati kita dengan pandangan kasih sayang. Dia sentiasa ingin yang terbaik untuk kehidupan kita.
Janganlah kita merasa kitalah yang paling menderita, mari kita lihat, renungkan dan fikirkan akan 8 perkara ini yang harus kita ingat bila apa yang kita rencanakan tidak bertepatan dengan apa yang terjadi;

1. Jadikan kesusahan dan kekecewaan membuat kita lebih berusahaKesusahan dan kecewa akan adalah sebahagian dari kehidupan. Fikirkan ianya akan membuat hidup kita lebih bermakna. Apa akan jadi jika hidup kita mudah saja? Tentu kebosanan melanda. Dari rasa susah kita akan memahami indahnya keberhasilan yang sedang kita usahakan. Kita perlu menjadikannya cermin dan belajar dari kesilapan-kesilapan yang membuat kisah hidup kita tidak terurus dan berkecamuk. Walaupun sukar, tetaplah optimis dan berpikiran positif. Ingatlah selalu ada asbab dari setiap kejadian yang terjadi pada kita, dalam perkara ini percayalah bahwa rasa kesusahan dan rasa kecewa kita adalah pembelajaran hidup yang akan mendewasakan kita. “Kesusahan tidak semuanya seksaan dan yang paling pahit itu bukan semuanya racun. Tetapi adakalanya lebih berguna daripada kesenangan yang terus-menerus.  Orang yang terlalu cepat berputus asa adalah orang yang putus harapan seumpama dia telah menyediakan dirinya untuk mati sebelum mati”
2. Segala perkara yang berlaku di dalam hidup ini hanya sementaraMasa-masa sukar kita akan berlalu dengan seiring perjalanan waktu. Tak kira betapa pantas masa berlalu, hujan yang turun akan pasti berhenti. Setiap titis air mata dan luka tetap akan kering dan sembuh. Dan selama kita masih menyedari matahari yang selalu terbit dan terbenam setiap harinya, di satu waktu kita akan sembuh dan menemukan bahwa hidup kita masih yang terbaik. Jika saat ini kita merasa hidup kita susah dan seluruh dunia mentertawakan kita, maka tabahlah. Semua itu hanyalah fasa kehidupan yang akan kita lalui seiring dengan masa. Jadi kita harus faham bahwa yang tidak pernah berubah dari hidup kita adalah perubahan itu sendiri jika kita masih leka dan lalai serta malas merubahnya.  “Doa memberikan kekuatan pada orang yang lemah, membuat orang tidak percaya menjadi percaya dan memberikan keberanian pada orang yang ketakutan.
3. Mengeluh tentang hidup tidak akan mengubah apapunBerhentilah ‘mengeluh’. Tak perlu membuang masa kita dengan berkeluh kesah. Itu tidak akan membuat hidup bertambah baik. Jestru kita akan kehilangan kesempatan untuk menikmati kehidupan ayng lebih baik dan indah. Kalau kita kehilangan mimpi, itu bukan bermakna berakhirnya hidup kita tetapi bangunlah dari lena yang panjang dan carilah mimpi yang baru. Berubah dan belajarlah dari masa lalu dan bukan menyesalinya. Jangan biarkan gelapnya masa lalu, memudarkan cerahnya masa depan yang menanti kita. Berhentilah mempertaruhkan masa depan kita dengan meratapi perkara yang telah berlalu. “Dunia ini umpama lautan yang luas. Kita adalah kapal yg belayar dilautan telah ramai kapal karam didalamnya.. andai muatan kita adalah iman, dan layarnya takwa, nescaya kita akan selamat dari tersesat di lautan hidup ini”

 4. Buktikan bahwa kita sebenarnya kuatBekas atau parut luka adalah tanda kekuatan kita. Halangan, musibah, maupun kejadian tak diduga yang terjadi di luar perancangan kita itu adalah sebuah halangan yang ingin menguji sejauh mana kekuatan dan ketegaran kita. Apakah kita mampu menghadapi masalah dengan baik, atau hanya akan mendiamkan diri di bilik tidur. Buktikan kita sebenarnya memang kuat dengan menyembuhkan luka dan rasa sakit hingga menjadi bekas luka yang boleh kita tunjukkan pada dunia yanag serba mencabar ini. Orang yang dikatakan kuat, bukan kerana dia tidak pernah jatuh atau gagal. Orang yang kuat adalah mereka yang akan selalu bangkit dan meneruskan kehidupan sekalipun hidup terus diuji dan diduga dengan pelbagai halangan hingga kita menyerah kalah. “Setiap jiwa yang dilahirkan telah tertanam dengan benih untuk mencapai keunggulan hidup. Tetapi benih itu tidak akan tumbuh seandainya tidak dibajai dengan keberanian.”
5. Selalu ada orang lain yang bernasib lebih buruk daripada diri kitaSebenarnya ada orang yang lebih menderita daripada diri kita. Jika di atas langit masih ada langit, maka tetap akan ada disatu tempat didunia ini orang lain yang lebih menderita daripada diri kita. Sesekali perglah ke rumah anak yatim dan lihatlah anak-anak ini yang masih boleh bergembira walaupun mereka tidak memiliki kedua orang tua. Lihat sekeliling dan kita pasti akan bertemu  dengan mereka yang memiliki nasib yang lebih buruk daripada nasib kita disaat ini. Jika kita masih ada rumah untuk pulang, kedua orang tua yang masih menanyakan khabarmu, atau masih mampu minum secawan kopi untuk merehatkan diri, maka percayalah bahwa kita jauh lebih beruntung daripada yang kita rasa atau fikirkan. “Kebanyakan orang membuang banyak masa dan tenaga untuk memikirkan masalah dan bukan cuba untuk menyelesaikannya.” 

6. Fokuslah pada apa yang kamu miliki, bukan pada perkara yang telah hilangSetiap dari kita pasti mengalami kehilangan, maka relakan apayang telah hilang. Merelakan apa yang telah hilang dari kita memang nampak mudah. Tapi hanya orang yang kurang cerdik yang akan mengabaikan apa yang dimilikinya untuk suatu waktu yang telah hilang darinya. Jadi daripada kita meratapi apa yang telah hilang dari kita, adalah lebih baik ikhlaskan saja dan lebih berfokus dengan apa yang kita ada ketika ini. Jangan sampai kita menyesal untuk kedua kalinya kerana kita kehilangan sesuatu yang sebenarnya boleh kita jaga. “Seseorang manusia harus cukup rendah hati untuk mengakui kesilapannya, cukup bijak untuk mengambil manfaat daripada kegagalannya dan cukup berani untuk membetulkan kesilapannya.”
7. Sedarilah bahawa beberapa perkara memang telah ditakdirkanDalam hidup beberapa perkara memang telah ditakdirkan dan tak boleh diubah. Beberapa perkara di dunia ini memang boleh kita usahakan atau dapatkan, tapi ada juga yang telah ditakdirkan dan tak akan boleh kita ubah dengan cara apa pun usaha yang kita lakukan. Dalam hidup ini ada tujuh perkara yang tidak boleh kita ubah iaitu: Jenis kelamin atau jantina kita, siapa ibubapa kita, bila kita dilahirkan, bentuk dan sifat fizikal kita, masa lalu kita, kedudukan kita dalam keluarga da nasal keturunan bangsa kita yang telah ditetapkan dan digariskan sejak azali kita menjalani hidup dan menjadi manusia. Kit tidak akan pernah menolak kematian yang mendatang atau orang-orang terdekat pada kita, kita tidak berhak mencabut hidup orang lain dan kita tidak akan pernah boleh bersama dengan orang yang tidak ditakdirkan untuk kita. Tak peduli berapa kuatnya kita bertahan, pada akhirnya kita akan tetap berpisahkan dan menjalani kehidupan masing-masing. “Jika ditakdirkan tidak kita temui sesuatu yang dicari di dunia ini, terimalah hakikat ia memang tidak ada. Di akhirat sana tempat ‘ada’ dan sempurna segala. Jika ‘langit’ hendak runtuh, masakan jari yang kecil ini mampu menahannya. Dalam setiap yang kita miliki, pasti ada jemu dan letihnya. Dalam setiap yang kita tidak miliki, pasti ada kesal dan sayunya. Jangan terlalu dalam segalanya. Jangan terlalu cinta, jangan terlalu benci. Jangan terlalu suka, jangan terlalu duka. Sederhana itulah yang selalu menyelamaktkan ‘hati’ kita.”

8. PerkaraTerbaik Yang boleh kita Lakukan Adalah Bangkit Dan Terus meneruskan hidup iniBangkit dan meneruskan hidup adalah satu-satu jalan yang terbaik. ‘Move on’ dan teruskan menjalani hidupkita adalah jalan satu-satunya yang boleh kita lakukan saat kehidupan kita tidak berjalan sesuai denagn apa yang direncana. Jangan takut untuk kembali mencuba, tak perlu ragu untuk kembali jatuh cinta, bermimpi dan kembali menata kehidupanmu. Jangan biarkan kenyataan pahit dan kerasnya hidup menggelapkan dan mengeraskan hati kita. Saat kita merasa pintu kebahagiaan tertutup untuk kita, temukan pintu kebahagian yang baru dengan membuka mata, telinga dan hati untuk kita terus menikmati hidup yang indah ini. Jangan pernah berhenti berharap dan mencuba apa yang ingin kita lakukan. Banyak jalan menuju kebahagian. Jika satu jalan membuat kita tersesat, yang harus kita lakukan hanya mencuba untuk mencari jalan lain, bukan mengalah malah tenggelam dan berputar-putar di jalan yang sama. “Seseorang manusia harus cukup rendah hati untuk mengakui kesilapannya, cukup bijak untuk mengambil manfaat daripada kegagalannya dan cukup berani untuk membetulkan kesilapannya. Mereka yang berjaya bukanlah mereka yang gagal dalam mencuba, bukan juga mereka yang sering gagal tetapi mereka yang tidak pernah gagal mencuba dan terus mencuba sehingga kejayaan yang dikecapi.”
Inilah dia 8 perkara yang harus kita ingat saat kita merasa sedih dan kecewa dengan kehidupan kita. Jangan sedih berterusan, kita pasti mampu melakukan yang terbaik buat diri kita, percayalah disebalik gelap pasti ada cahaya, bila kita lemah carilah kekuatan, dalam kita berduka ada senyum yang mampu merawatnya dan ketika kita hampir jatuh berpautlah didahan yang kuat kerana pasti ada tempat kita berehat sebelum kita meneruskan hidup ini. Kadangkala Allah hilangkan sekejap matahari…. Kemudian Dia datangkan pula mendung lalu hujan bersama guruh dan kilat…. Puas kita menangis dalam keresahan, mencari di mana matahari? Rupanya Allah nak hadiahkan kita pelangi yang paling indah… Itulah kehidupan.. 

https://perjalanantanpahenti.blogspot.com/2014/10/apabila-semua-perkara-tidak-seperti.html

Assalamualaikum  &  Selamat  Pagi,

FURMAN ALLAH SWT YANG BERMAKNA

SESUNGGUHNYA KAMU TIDAK AKAN DAPAT MEMBERI PETUNJUK KEPADA ORANG YANG KAMU KASIHI, TETAPI ALLAH MEMBERI PETUNJUK KEPADA ORANG YANG DIKEHENDAKI-NYA, DAN ALLAH LEBIH MENGETAHUI ORANG-ORANG YANG MAU MENERIMA PETUNJUK. Surah Al-Qasas : 56

Mohon  Kunjungi Blog Kami Untuk Mendapat Maklumat Tentang  Al-Quran Mendahului Sains  Dan Lebih 80 Blog Gerbang Ilmu Agama Terbaik :

PERINGATAN DARI ILAHI (IV) – RINGKASAN KITAB TANBIHUL GHAFILIN

https://jipskelantan88695409.wordpress.com/2020/09/13/peringatan-dari-ilahi-iv-ringkasan-kitab-tanbihul-ghafilin/

Sama2 Kita Berkongsi Pahala Jariah Dengan Menyebarkan Bahan2 Agama Yang Bermanfaat, Mohon Para Sahabat Follow Blog Kami Dan Beri Pandangan Berguna, Terima Kasih.

Padang Mahsyar – Antara Syafaat Nabi SAW dan Pembalasan Dari Allah SWT

Padang Mahsyar – Antara Syafaat Nabi SAW dan Pembalasan Dari Allah (Wajib Baca Bagi semua Mukmin)

Dari Usman bin Affan bin Dahaak bin Muzahim daripada Abbas r.a, bapa saudara Nabi SAW dari Rasulullah SAW telah bersabda: “Aku adalah orang (manusia) yang paling awal dibangkitkan dari kubur pada hari kiamat yang tiada kebanggaan. Bagiku ada syafaat pada hari kiamat yang tiada kemegahan. Bendera pujian di tanganku dan nabi-nabi keseluruhannya berada di bawah benderaku. Umatku adalah umat yang terbaik. Mereka adalah umat yang pertama dihisab sebelum umat yang lain. Ketika mereka bangkit dari kubur, mereka akan mengibas (membuang) tanah yang ada di atas kepala mereka. Mereka semua akan berkata: “Kami bersaksi bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan kami bersaksi bahawa Muhammad itu Rasulullah. Inilah yang telah dijanjikan oleh Allah SWT serta dibenarkan oleh para rasul.”

Ibnu Abbas r.a berkata: “Orang yang pertama dibangkitkan dari kubur di hari kiamat ialah Muhammad SAW. Malaikat Jibril a.s. akan datang kepadanya bersama seekor Buraq. Malaikat Israfil pula datang dengan membawa bersama bendera dan mahkota. Malaikat Izrail pula datang dengan membawa bersamanya pakaian-pakaian syurga.” Malaikat Jibril a.s. akan menyeru: “Wahai dunia! Di mana kubur Muhammad SAW?” Bumi akan berkata: “Sesungguhnya, Tuhanku telah menjadikan aku hancur. Telah hilang segala lingkaran, tanda dan gunung-ganangku. Aku tidak tahu di mana kubur Muhammad SAW.” Rasulullah SAW bersabda: “Lalu diangkatkan tiang-tiang dari cahaya dari kubur Nabi Muhammad SAW ke awan langit. Maka, empat malaikat berada di atas kubur.” Malaikat Israfil bersuara: “Wahai roh yang baik! Kembalilah ke tubuh yang baik!” Maka, kubur terbelah dua. Pada seruan yang kedua pula, kubur mula terbongkar. Pada seruan yang ketiga, ketika Rasulullah SAW berdiri, Baginda SAW telah membuang tanah di atas kepala dan janggut baginda SAW. Baginda SAW melihat kanan dan kiri. Baginda SAW dapati, tiada lagi bangunan. Baginda SAW  menangis sehingga mengalir air matanya ke pipi.
Malaikat Jibril as berkata kepadanya: “Bangun wahai Muhammad! Sesungguhnya kamu di sisi Allah SWT di tempat yang luas.” Baginda SAW bertanya, “Kekasihku Jibril! Hari apakah ini?” Malaikat Jibril a.s. menjawab: “Wahai Muhammad! Janganlah kamu takut! Inilah hari kiamat. Inilah hari kerugian dan penyesalan. Inilah hari pembentangan Allah SWT.” Baginda SAW bersabda: “Kekasihku Jibril! Gembirakanlah aku!” Malaikat Jibril as. berkata: “Apakah yang kamu lihat di hadapanmu?” Baginda SAW bersabda: “Bukan seperti itu pertanyaanku.” Malaikat Jibril a.s. berkata: “Adakah kamu tidak melihat bendera kepujian yang terpacak di atasmu?” Baginda SAW bersabda: “Bukan itu maksud pertanyaanku. Aku bertanya kepadamu akan umatku. Di mana perjanjian mereka?” Malaikat Jibril a.s. berkata: “Demi keagungan Tuhanku! Tidak akan terbongkar oleh bumi daripada manusia, sebelummu?” Baginda SAW bersabda: “Nescaya akan, kuatlah pertolongan pada hari ini. Aku akan mensyafaatkan umatku.”

Malaikat Jibril a.s. berkata kepada baginda SAW: “Tungganglah Buraq ini wahai Muhammad SAW dan pergilah ke hadapan Tuhanmu!” Malaikat Jibril a.s. datang bersama Buraq ke arah Nabi Muhammad SAW . Buraq cuba meronta-ronta. Malaikat Jibril as berkata kepadanya: “Wahai Buraq! Adakah kamu tidak malu dengan makhluk yang paling baik dicipta oleh Allah SWT? Sudahkah Allah SWT perintahkan kepadamu agar mentaatinya?” Buraq berkata: “Aku tahu semua itu. Akan tetapi, aku ingin dia mensyafaatiku agar memasuki syurga sebelum dia menunggangku. Sesungguhnya, Allah SWT akan datang pada hari ini di dalam keadaan marah. Keadaan yang belum pernah terjadi sebelum ini.” Baginda SAW bersabda kepada Buraq: “Ya! Sekiranya kamu berhajatkan syafaatku, nescaya aku memberi syafaat kepadamu.”
Setelah berpuas hati, Buraq membenarkan baginda SAW menunggangnya lalu dia melangkah. Setiap langkahan Buraq sejauh pandangan mata. Apabila Nabi Muhammad SAW berada di Baitul Maqdis di atas bumi dari perak yang putih, malaikat Israfil as menyeru: “Wahai tubuh-tubuh yang telah hancur, tulang-tulang yang telah reput, rambut-rambut yang bertaburan dan urat-urat yang terputus-putus! Bangkitlah kamu dari perut burung, dari perut binatang buas, dari dasar laut dan dari perut bumi ke perhimpunan Tuhan yang Maha Perkasa.” Roh-roh telah diletakkan di dalam tanduk atau sangkakala. Di dalamnya ada beberapa tingkat dengan bilangan roh makhluk. Setiap roh, akan didudukkan berada di dalam tingkat. Langit di atas bumi akan menurunkan hujan dari lautan kehidupan akan air yang sangat pekat seperti air mani lelaki. Daripadanya, terbinalah tulang-tulang. Urat-urat memanjang. Daging kulit dan bulu akan tumbuh. Sebahagian mereka akan kekal ke atas sebahagian tubuh tanpa roh. Allah SWT berfirman: “Wahai Israfil! Tiup sangkakala tersebut dan hidupkan mereka dengan izinKu akan penghuni kubur. Sebahagian mereka adalah golongan yang gembira dan suka. Sebahagian dari mereka adalah golongan yang celaka dan derita.”
Malaikat Israfil a.s. menjerit: “Wahai roh-roh yang telah hancur! Kembalilah kamu kepada tubuh-tubuh mu. Bangkitlah kamu untuk dikumpulkan di hadapan Tuhan semesta alam.” Allah SWT berfirman: “Demi keagungan dan ketinggianKu! Aku kembalikan setiap roh pada tubuh-tubuhnya!” Apabila roh-roh mendengar sumpah Allah SWT, roh-roh pun keluar untuk mencari jasad mereka. Maka, kembalilah roh pada jasadnya. Bumi pula terbongkar dan mengeluarkan jasad-jasad mereka. Apabila semuanya sedia, masing-masing melihat. Nabi SAW duduk di padang pasir Baitul Maqdis, melihat makhluk-makhluk. Mereka berdiri seperti belalang yang berterbangan. 70 umat berdiri. Umat Nabi Muhammad SAW  merupakan satu umat (kumpulan). Nabi SAW berhenti memperhatikan ke arah mereka. Mereka seperti gelombang lautan. Malaikat Jibril as menyeru: “Wahai sekalian makhluk, datanglah kamu semua ke tempat perhimpunan yang telah disediakan oleh Allah SWT.”

Umat-umat datang di dalam keadaan satu-satu kumpulan. Setiap kali Nabi Muhammad SAW berjumpa satu umat, baginda SAW akan bertanya: “Di mana umatku?” Malaikat Jibril a.s. berkata: “Wahai Muhammad! Umatmu adalah umat yang terakhir.” Apabila nabi Isa a.s. datang, Jibril a.s. menyeru: “Tempatmu!” Maka Nabi Isa a.s. dan Jibril a.s. menangis. Nabi Muhammad SAW berkata: “Mengapa kamu berdua menangis.” Malaikat Jibril a.s. berkata: “Bagaimana keadaan umatmu, Muhammad?” Nabi Muhammad bertanya: “Di mana umatku?” Malaikat Jibril a.s. berkata: “Mereka semua telah datang. Mereka berjalan lambat dan perlahan.” Apabila mendengar cerita demikian, Nabi Muhammad SAW menangis lalu bertanya: “Wahai Jibril! Bagaimana keadaan umatku yang berbuat dosa?” Malaikat Jibril a.s. berkata: “Lihatlah mereka wahai Muhammad SAW!” Apabila Nabi Muhammad SAW melihat mereka, mereka gembira dan mengucapkan selawat kepada baginda SAW dengan apa yang telah Allah SWT muliakannya. Mereka gembira kerana dapat bertemu dengan baginda SAW . Baginda SAW  juga gembira terhadap mereka. Nabi Muhammad SAW bertemu umatnya yang berdosa. Mereka menangis serta memikul beban di atas belakang mereka sambil menyeru: “Wahai Muhammad!” Air mata mereka mengalir di pipi. Orang-orang zalim memikul kezaliman mereka. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Wahai umatku.” Mereka berkumpul di sisinya. Umat-umatnya menangis.
Ketika mereka di dalam keadaan demikian, terdengar dari arah Allah SWT seruan yang menyeru: “Di mana Jibril?” Malaikat Jibril a.s. berkata: “Jibril di hadapan Allah, Tuhan semesta alam.” Allah SWT berfirman di dalam keadaan Dia amat mengetahui sesuatu yang tersembunyi: “Di mana umat Muhammad SAW ?” Malaikat Jibril a.s. berkata: “Mereka adalah sebaik umat.” Allah SWT berfirman: “Wahai Jibril! Katakanlah kepada kekasihKu Muhammad SAW bahawa umatnya akan datang untuk ditayangkan di hadapanKu.” Malaikat Jibril a.s. kembali di dalam keadaan menangis lalu berkata: “Wahai Muhammad! Umatmu telah datang untuk ditayangkan kepada Allah SWT.” Nabi Muhammad SAW berpaling ke arah umatnya lalu berkata: “Sesungguhnya kamu telah dipanggil untuk dihadapkan kepada Allah SWT.” Orang-orang yang berdosa menangis kerana terkejut dan takut akan azab Allah SWT. Nabi Muhammad SAW memimpin mereka sebagaimana pengembala memimpin ternakannya menuju di hadapan Allah SWT. Allah SWT berfirman: “Wahai hambaKu! Dengarkanlah kamu baik-baik kepadaKu tuduhan apa-apa yang telah diperdengarkan bagi kamu dan kamu semua melakukan dosa!” Hamba-hamba Allah SWT terdiam.

Allah SWT berfirman: “Hari ini, Kami akan membalas setiap jiwa dengan apa yang telah mereka usahakan. Hari ini, Aku akan memuliakan sesiapa yang mentaatiKu. Dan, Aku akan mengazab sesiapa yang menderhaka terhadapKu. Wahai Jibril! Pergi ke arah Malik, penjaga neraka! Katakanlah kepadanya, bawakan Jahanam!” Malaikat Jibril pergi berjumpa Malik, penjaga neraka lalu berkata: “Wahai Malik! Allah SWT telah memerintahkanmu agar membawa Jahanam.” Malaikat Malik bertanya: “Apakah hari ini?” Malaikat Jibril menjawab: “Hari ini adalah hari kiamat. Hari yang telah ditetapkan untuk membalas setiap jiwa dengan apa yang telah mereka usahakan.” Malaikat Malik berkata: “Wahai Jibril! Adakah Allah SWT telah mengumpulkan makhluk?” Malaikat Jibril menjawab: “Ya!” Malaikat Malik bertanya: “Di mana Muhammad dan umatnya?” Malaikat Jibril berkata: “Di hadapan Allah SWT!” Malaikat Malik bertanya lagi: “Bagaimana mereka mampu menahan kesabaran terhadap kepanasan nyalaan Jahanam apabila mereka melintasinya sedangkan mereka semua adalah umat yang lemah?” Malaikat Jibril berkata: “Aku tidak tahu!” Malik menjerit ke arah neraka dengan sekali jeritan yang menggerunkan. Neraka berdiri di atas tiang-tiangnya. Neraka mempunyai tiang-tiang yang keras, kuat dan panjang. Api dinyalakan sehingga tiada kekal mata seorang dari makhluk melainkan bercucuran air mata mereka (semuanya menangis). Air mata sudah terhenti manakala air mata darah manusia mengambil alih. Kanak-kanak mula beruban rambut. Ibu-ibu yang memikul anaknya mencampakkan mereka. Manusia kelihatan mabuk padahal mereka sebenarnya tidak mabuk.
Rasulullah SAW Membela UmatnyaDi Padang Mahsyar orang yang mula-mula berusaha ialah Nabi Ibrahim a.s. Baginda bergantung dengan asap Arsy yang naik lalu menyeru: “TuhanKu dan Penguasaku! Aku adalah khalilMu Ibrahim. Kasihanilah kedudukanku pada hari ini! Aku tidak meminta kejayaan Ishak dan anakku pada hari ini.” Allah SWT berfirman: “Wahai Ibrahim! Adakah kamu melihat Kekasih mengazab kekasihnya.” Nabi Musa as datang. Baginda bergantung dengan asap Arsy yang naik lalu menyeru: “KalamMu. Aku tidak meminta kepadaMu melainkan diriku. Aku tidak meminta saudaraku Harun. Selamatkanlah aku dari kacau bilau Jahanam!”Nabi Isa as datang di dalam keadaan menangis. Baginda bergantung dengan Arsy lalu menyeru:“Tuhanku… Penguasaku.. Penciptaku! Isa roh Allah. Aku tidak meminta melainkan diriku. Selamatkanlah aku dari kacau bilau Jahanam!”
Suara jeritan dan tangisan semakin kuat. Nabi Muhammad SAW menyeru: “Tuhanku.. Penguasaku Penghuluku…. !Aku tidak meminta untuk diriku. Sesungguhnya aku meminta untuk umatku dariMu!” Ketika itu juga, neraka Jahanam berseru: “Siapakah yang memberi syafaat kepada umatnya?” Neraka pula berseru: “Wahai Tuhanku… Penguasaku dan Penghuluku! Selamatkanlah Muhammad dan umatnya dari seksaannya! Selamatkanlah mereka dari kepanasanku, bara apiku, penyeksaanku dan azabku! Sesungguhnya mereka adalah umat yang lemah. Mereka tidak akan sabar dengan penyeksaan.” Malaikat Zabaniah menolaknya sehingga terdampar di kiri Arsy. Neraka sujud dihadapan Tuhannya. Allah SWT berfirman: “Di mana matahari?” Maka, matahari dibawa mengadap Allah SWT. Ia berhenti di hadapan Allah SWT. Allah SWT berfirman kepadanya: “Kamu! Kamu telah memerintahkan hambaKu untuk sujud kepada kamu?” Matahari menjawab. “Tuhanku! Maha Suci diriMu! Bagaimana aku harus memerintahkan mereka berbuat demikian sedangkan aku adalah hamba yang halus?” Allah SWT berfirman: “Aku percaya!”
Allah SWT telah menambahkan cahaya dan kepanasannya sebanyak 70 kali ganda. Ia telah dihampirkan dengan kepala makhluk. Ibnu Abbas r.h. berkata: “Peluh manusia bertitis dan sehingga mereka berenang di dalamnya. Otak-otak kepala mereka menggeleggak seperti periuk yang sedang panas. Perut mereka menjadi seperti jalan yang sempit.” Air mata mengalir seperti air mengalir. Suara ratap umat-umat manusia semakin kuat. Nabi Muhammad SAW lebih-lebih lagi sedih. Air matanya telah hilang dan kering dari pipinya. Sekali, baginda SAW sujud di hadapan Arsy dan sekali lagi, baginda SAW rukuk untuk memberi syafaat bagi umatnya. Para Nabi melihat keluh kesah dan tangisannya. Mereka berkata: “Maha Suci Allah! Hamba yang paling dimuliakan Allah SWT ini begitu mengambil berat, hal keadaan umatnya.”
Daripada Thabit Al-Bani, daripada Usman Am Nahari berkata: “Pada suatu hari Nabi SAW menemui Fatimah Az-Zahara’ r.h. Baginda SAW dapati, dia sedang menangis.” Baginda SAW bersabda: “Permata hatiku! Apa yang menyebabkan dirimu menangis?” Fatimah menjawab: “Aku teringat akan firman Allah SWT.” “Dan, kami akan menghimpunkan, maka Kami tidak akan mengkhianati walau seorang daripada mereka.” Lalu Nabi SAW pun menangis. Baginda SAW bersabda: “Wahai permata hatiku! Sesungguhnya, aku teringat akan hari yang terlalu dahsyat. Umatku telah dikumpulkan pada hari kiamat dikelilingi dengan perasaan dahaga dan telanjang. Mereka memikul dosa mereka di atas belakang mereka. Air mata mereka mengalir di pipi.” Fatimah r.h. berkata: “Wahai bapaku! Apakah wanita tidak merasa malu terhadap lelaki?” Baginda SAW  menjawab: “Wahai Fatimah! Sesungguhnya, hari itu, setiap orang akan sibuk dengan untung nasib dirinya. Adapun aku telah mendengar firman Allah SWT, “Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menjadikannya sibuk dengan hal dirinya sahaja.” (Surah ‘Abasa, ayat 37)

Fatimah r.h. bertanya: “Di mana aku hendak mendapatkanmu di hari kiamat nanti, wahai bapaku?” Baginda SAW menjawab: “Kamu akan menjumpaiku di sebuah telaga ketika aku sedang memberi minum umatku.” Fatimah r.h. bertanya lagi: “Sekiranya aku dapati kamu tiada di telaga?” Baginda SAW bersabda: “Kamu akan menjumpaiku di atas Sirat sambil dikelilingi para Nabi. Aku akan menyeru: “Tuhan Kesejahteraan! Tuhan Kesejahteraan! Para malaikat akan menyambut: “Aamiin.” Ketika itu juga, terdengar seruan dari arah Allah SWT lalu berfirman: “Nescaya akan mengikuti kata-katanya pada apa yang kamu sembah.” Setiap umat akan berkumpul dengan sesuatu yang mereka sembah. Ketika itu juga, neraka Jahanam melebarkan tengkuknya lalu menangkap mereka sebagaimana burung mematuk kacang. Apabila seruan dari tengah Arasy kedengaran, maka manusia yang menyembah-Nya datang beriring. Sebahagian daripada orang yang berdiri di situ berkata: “Kami adalah umat Muhammad SAW !” Allah SWT berfirman kepada mereka, “Mengapa kamu tidak mengikuti orang yang kamu sembah?” Mereka berkata: “Kami tidak menyembah melainkan Tuhan Kami. Dan, kami tidak menyembah selainNya.” Mereka ditanya lagi: “Kami mengenali Tuhan kamu?” Mereka menjawab: “Maha Suci diriNya! Tiada yang kami kenali selainNya.” Apabila ahli neraka dimasukkan ke dalamnya untuk diazab, umat Muhammad SAW mendengar bunyi pukulan dan jeritan penghuni neraka. Lalu malaikat Zabaniah mencela mereka. Mereka berkata: “Marilah kita pergi meminta syafaat kepada Muhammad SAW!”
Manusia berpecah kepada tiga kumpulan.1. Kumpulan orang tua yang menjerit-jerit.
2. Kumpulan pemuda.
3. Wanita yang bersendirian mengelilingi mimbar-mimbar.
Mimbar para Nabi didirikan di atas kawasan lapang ketika kiamat. Mereka semua berminat terhadap mimbar Nabi Muhammad SAW. Mimbar Nabi Muhammad SAW terletak berhampiran dengan tempat berlaku kiamat. Ia juga merupakan mimbar yang paling baik, besar dan cantik. Nabi Adam as dan isterinya Hawa berada di bawah mimbar Nabi SAW . Hawa melihat ke arah mereka lalu berkata: “Wahai Adam! Ramai dari zuriatmu dari umat Muhammad SAW serta cantik wajah mereka.” Mereka menyeru: “Di mana Muhammad?” Mereka berkata: “Kami adalah umat Muhammad SAW . Semua umat telah mengiringi apa yang mereka sembah. Hanya tinggal kami sahaja. Matahari di atas kepala kami. Ia telah membakar kami. Neraka pula, cahaya juga telah membakar kami. Timbangan semakin berat. Oleh itu tolonglah kami agar memohon kepada Allah SWT untuk menghisab kami dengan segera! Sama ada kami akan pergi ke syurga atau neraka.”
Nabi Adam as berkata: “Pergilah kamu dariku! Sesungguhnya aku sibuk dengan dosa-dosaku. Aku mendengar firman Allah SWT: Dan dosa Adam terhadap Tuhannya kerana lalai.” Mereka pergi berjumpa nabi Nuh as yang telah berumur, umur yang panjang dan sangat sabar. Mereka menghampirinya. Apabila Nabi Nuh as melihat mereka, dia berdiri. Pengikut (umat Nabi Muhammad SAW ) berkata: “Wahai datuk kami, Nuh! Tolonglah kami terhadap Tuhan kami agar Dia dapat memisahkan di antara kami dan mengutuskan kami dari ahli syurga ke syurga dan ahli neraka ke neraka.” Nabi Nuh a.s. berkata: “Sesungguhnya, aku sibuk dengan kesalahanku. Aku pernah mendoakan agar kaumku dimusnahkan. Aku malu dengan Tuhanku. Pergilah kamu berjumpa Ibrahim kekasih Allah SWT! Mintalah kepadanya agar menolong kamu!” Nabi Ibrahim a.s. berkata: “Sesungguhnya aku pernah berbohong di dalam usiaku sebanyak tiga pembohongan di dalam Islam. Aku takut dengan Tuhanku. Pergilah kamu berjumpa Musa a.s, Mintalah pertolongan darinya!” Nabi Musa a.s berkata: “Aku sibuk dengan kesalahanku. Aku pernah membunuh seorang jiwa tanpa hak. Aku membunuhnya bukan dari kemahuanku sendiri. Aku dapati dia melampaui batas terhadap seorang lelaki Islam. Aku ingin memukulnya. Aku terperanjat kerana menyakitinya lalu menumbuk lelaki tersebut. Ia jatuh lalu mati. Aku takut terhadap tuntutan dosaku. Pergilah kamu berjumpa Isa a.s.!” Mereka pergi berjumpa Nabi Isa a.s. Nabi Isa a.s. berkata: “Sesungguhnya Allah SWT telah melaknat orang-orang Kristian. Mereka telah mengambil aku, ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah SWT. Hari ini, aku malu untuk bertanya kepadaNya mengenai ibuku Mariam.”
Mariam, Asiah, Khadijah dan Fatimah Az-Zahra’ sedang duduk. Ketika Mariam melihat umat Nabi Muhammad SAW dia berkata: “Ini umat Nabi Muhammad SAW. Mereka telah sesat dari Nabi mereka.” Suara Mariam, telah didengari oleh Nabi Muhammad SAW Nabi Adam a.s. berkata kepada Nabi Muhammad SAW. “Ini umatmu, wahai Muhammad! Mereka berkeliling mencarimu untuk meminta syafaat kepada Allah SWT.” Nabi Muhammad SAW menjerit dari atas mimbar lalu bersabda: “Marilah kepadaku, wahai umatku! Wahai sesiapa yang beriman dan tidak melihatku. Aku tidak pernah lari dari kamu melainkan aku sentiasa memohon kepada Allah SWT untukmu!” Umat Nabi Muhammad SAW berkumpul di sisinya.  

Terdengar suara seruan: “Wahai Adam! Ke marilah kepada Tuhanmu!” Nabi Adam as berkata: “Wahai Muhammad! Tuhanku telah memanggilku. Moga-moga Dia akan meminta kepadaku.” Nabi Adam a.s. pergi menemui Allah SWT. Allah SWT berfirman kepadanya: “Wahai Adam! Bangunlah dan hantarkan anak-anakmu ke neraka!” Nabi Adam a.s. bertanya: “Berapa ramai untukku kirimkan?” Allah SWT berfirman: “Setiap seribu lelaki kamu hantarkan seorang ke syurga, 999 orang ke neraka.” Allah SWT berfirman lagi: “Wahai Adam! Sekiranya Aku tidak melaknat orang yang berdusta dan Aku haramkan pembohongan, nescaya Aku akan mengasihi anakmu keseluruhannya. Akan, tetapi, Aku telah janjikan syurga bagi orang yang mentaatiKu Neraka pula bagi orang yang menderhakaiKu Aku tidak akan memungkiri janji Wahai Adam! Berhentilah di sisi Mizan (timbangan). Sesiapa yang mempunyai berat pada kebaikannya daripada dosanya walaupun seberat biji sawi, bawalah dia untuk memasuki syurga tanpa perlu berunding denganKu! Sesungguhnya Aku telah menjadikan bagi mereka, satu kejahatan dengan satu dosa. Manakala satu kebaikan dengan sepuluh pahala agar memberitahu mereka bahawa, sesungguhnya Aku tidak akan memasukkan mereka ke dalam neraka melainkan setiap yang kembali akan dikembalikan dengan dosa bagi orang yang melampaui batas.” Nabi Adam a.s. berkata: “Tuhanku! Penguasaku! Engkau lebih utama bagi menghisab berbanding aku. Hamba itu adalah hambaMu dan Engkau Maha Mengetahui sesuatu yang ghaib!”

Wallahu A’lam Bish Shawab,  (Hanya Allah Maha Mengetahui apa yang benar) – Shafiqolbu

https://perjalanantanpahenti.blogspot.com/2014/10/padang-mahsyar-antara-syafaat-nabi-saw.html

Assalamualaikum  &  Selamat  Pagi,

FURMAN ALLAH SWT YANG BERMAKNA

SESUNGGUHNYA KAMU TIDAK AKAN DAPAT MEMBERI PETUNJUK KEPADA ORANG YANG KAMU KASIHI, TETAPI ALLAH MEMBERI PETUNJUK KEPADA ORANG YANG DIKEHENDAKI-NYA, DAN ALLAH LEBIH MENGETAHUI ORANG-ORANG YANG MAU MENERIMA PETUNJUK. Surah Al-Qasas : 56

Mohon  Kunjungi Blog Kami Untuk Mendapat Maklumat Tentang  Al-Quran Mendahului Sains  Dan Lebih 80 Blog Gerbang Ilmu Agama Terbaik :

PERINGATAN DARI ILAHI (IV) – RINGKASAN KITAB TANBIHUL GHAFILIN

https://jipskelantan88695409.wordpress.com/2020/09/13/peringatan-dari-ilahi-iv-ringkasan-kitab-tanbihul-ghafilin/

Sama2 Kita Berkongsi Pahala Jariah Dengan Menyebarkan Bahan2 Agama Yang Bermanfaat, Mohon Para Sahabat Follow Blog Kami Dan Beri Pandangan Berguna, Terima Kasih.

Pengucapan Yang Betul Dalam Islam

Pengucapan Yang Betul Dalam Islam

Assalamu alaikum wbrt wahai sahabat-sahabatku. Kali ini ingin saya kongsikan yang berkaitan ucapan-ucapan mahmudah yang sepatutnya kita amalkan dalam kehidupan seharian. Malangnya, ada antara ucapan-ucapan ini disalah guna oleh orang ramai lantaran terkeliru. Terima kasih kepada kepada individu yang mengumpulkan maklumat berharga ini.

1. Perkataan SUBHANALLAH (MAHA SUCILAH ALLAH)Ianya diucapkan tatkala kita melihat sesuatu perkara yang menggembirakan kita ataupun perkara-perkara yang hebat lagi ajaib. Contohnya tatkala kita melihat orang yang tidak cedera walaupun terlibat di dalam kemalangan. Tujuan kita mengucapkan “SUBHANALLAH” iaitu seolah-olah kita mendidik diri kita: “Wah! hebatnya orang itu, tak cedera langsung. Tapi Allah lebih Maha Hebat kerana itu semua tidak akan berlaku melainkan dengan izin Allah Ta’ala”.
Ianya diucapkan juga apabila kita melihat ada apa-apa perkataan ataupun perbuatan yang menyebabkan seseorang itu syirik kepada Allah. Contohnya kita ucapkan “SUBHANALLAH” apabila melihat ada orang yang menyembah berhala-berhala. Di dalam hati kita ketika itu seolah-olah kita berkata: “Allah Ta’ala Maha Suci dan tiada kena-mengena langsung sebagai Tuhan yang mereka anggap itu”. Lihatlah firman Allah Ta’ala berikut: “Dialah Allah yang tidak ada sama sekali Tuhan yang layak disembah kecuali Dia Yang Maha Berkuasa, Maha Suci, Maha Selamat, Maha Memberi Keamanan, Maha Peneguh, Maha Mulia, Maha Gagah-Perkasa, Maha Besar, Maha Sucilah Allah daripada apa yang mereka sekutukan” Surah al-Hasyr : ayat 23
Lihat penggunaan “SUBHANALLAH” ataupun yang semakna dengannya melalui ayat Al-Quranul Karim di bawah ini: “Maha Sucilah Tuhan yang telah memperjalankan hamba-Nya di waktu malam (Israk) dari Masjid al-Haram (di Mekkah al-Mukarramah) ke Masjid al-Aqsa (di Palestin) yang telah Kami berkati sekitarnya , agar Kami menunjukkan kepadanya (Nabi Muhammad SAW) beberapa tanda kekuasaan Kami. Sesungguhnya Dia (Allah) adalah Tuhan Yang Maha Mendengar Lagi Maha Melihat” Surah al-Israk, ayat 1
Ya! peristiwa Israk-Mikraj adalah satu peristiwa yang ajaib lagi hebat, namun sehebat-hebat peristiwa itu, lebih hebat lagi Tuhan yang telah mengatur dan mencipta peristiwa itu, Tuhan itulah Allah Ta’ala Yang Maha Hebat, Yang Maha Mendengar segala doa Nabi-Nya SAW dan tohmahan puak-puak yang tidak mempercayai kisah itu dan Maha Melihat segala-galanya. Dan Maha Sucilah Allah daripada segala sifat-sifat yang tidak sepatutnya dilemparkan kepada Dia. Ucapan “SUBHANALLAH” ini juga dikenali sebagai “TASBIH”.

2. Ucapan “ALHAMDULILLAH” (“Segala puja-puji hanyalah untuk Allah” ataupun “Segala syukur dan terima kasih hanyalah untuk Allah”.Ianya diucapkan sebagai puja-pujian dan bersyukur di atas segala nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepada kita. Contoh ayat Al-Quranul Karim yang menerangkan hal ini ialah: “Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (syurga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran.” Dan diserukan kepada mereka: “ltulah syurga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan” Surah al-‘Aaraf, ayat 43
Ayat di atas menerangkan nikmat yang diperolehi oleh orang-orang yang beriman kelak di hari akhirat iaitu nikmat mendiami syurga yang dijanjikan kepada mereka dahulu. Lihat! para penghuni syurga nanti akan mengucapkan “ALHAMDULILLAH” sebagai berterima-kasih dan bersyukur di atas ganjaran yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka dan disebabkan Allah Ta’ala telah mengutuskan kepada mereka wahyu dan panduan melalui Para Rasul a.s. Kita juga wajib mengucapkan syukur kepada Allah Ta’ala di atas nikmat sampainya Islam kepada kita dan masih ramai lagi para ulama’ rh, kerana tanpa Islam dan bimbingan para ulama’ rh, tidaklah kita layak masuk ke dalam syurga Allah Ta’ala kelak.
Lihat lagi firman Allah Ta’ala di dalam Surah al-Kahf, ayat pertama: “Segala puja-puji hanyalah untuk Allah (Tuhan ) yang telah menurunkan kepada hamba-Nya kitab dan tidak pula Allah ciptakan baginya ada sebarang kebengkokan (pertentangan dan perselisihan di antara satu ayat dengan ayat yang lain)”. Kita juga wajib bersyukur kepada Allah Ta’ala di atas nikmat adanya kitab Al-Quranul Karim sebagai panduan hidup kita, yang mana tanpanya, pastilah kita tidak akan menemui kebenaran dan kejayaan di dunia dan di akhirat.
Selain itu ianya diucapkan apabila kita dipuji, contohnya apabila orang memuji kita lantaran kejayaan kita, lalu kita pun menjawab: “Alhamdulillah, saya berjaya “(Diucapkan ucapan “Alhamdulillah” agar kita tidak lupa bahawa sehebat mana pun usaha kita, ianya tentu tidak akan berjaya jika tidak diizinkan oleh Allah Ta’ala). Ucapan “ALHAMDULILLAH” ini juga dikenali sebagai “ TAHMID”.

3. Ucapan “ALLAHU AKBAR” (Allah Maha Besar)Ianya diucapkan di dalam beberapa situasi:1 – Apabila berada di tempat yang tinggi.2 – Apabila berada di dalam ketakutan.3 – Sebagai teriakan untuk menakutkan dan menggerunkan musuh-musuh Allah Ta’ala.4 – Sebagai “pembakar semangat” para pejuang Islam.5 – Ketika azan , takbiratul ihram dan takbir hari raya.
Ucapan ini dikenali juga sebagai “TAKBIR”.

4. Ucapan “LA ILAHA ILLALLAH” (Tidak ada sama sekali Tuhan yang layak disembah melainkan Allah)Masyarakat Arab biasanya menyebut kalimah ini apabila melihat sesuatu yang menggerunkan ataupun peristiwa yang mengerikan. Kalimah ini adalah inti-pati dan dasar ajaran Islam . Silalah melihat kitab-kitab zikir dan wirid yang sahih (seperti RIYADHUS SOLIHIN oleh Al-Imam an-Nawawi rh ataupun KALIMUT TOIYIB oleh Al-Imam Ibnu Taimiyah rh) untuk mengetahui fadhilat-fadhilat kalimah Tauhid ini.
Ia dikenali juga dengan gelaran “TAHLIL”.

5. Ucapan “BISMILLAH” (Dengan Nama Allah)Ucapan ini dikenali sebagai “BASMALAH”. Dilakukan sebagai menunjukkan adab di antara seseorang hamba dengan Allah Ta’ala ketika melakukan perkara-perkara yang diredhai-Nya. Ertinya di sini ialah: “Bismillah” digunakan untuk melakukan perkara-perkara yang diredhai oleh Allah Ta’ala sahaja. Seolah-olah tatkala kita membacanya kita turut sama beriktiqad: “Aku menyebut nama Allah ini supaya kerja yang aku lakukan ini dirahmati dan diberkati oleh-Nya”.
Adapun jika digunakan untuk perkara-perkara yang dilarang, maka ia adalah haram bahkan kadang-kadang boleh membawa kepada murtad kerana dianggap menghina kesucian ataupun mempersendakan Allah Ta’ala. Contohnya:A. Membaca “Bismillah” untuk menyembelih binatang-bintang yang tidak disembelih untuk tujuan yang dibenarkan ( seperti untuk mandi safar, untuk “membuka gelanggang silat”, untuk “menyemah” rumah, untuk”menjamu” penunggu dan jin dan sebagainyaB. Membaca “Bismillah” untuk melakukan jampi-jampian yang dilarang oleh agama kita.C. Membaca “Bismillah” “ untuk tikam nombor ekor, toto dan lumba kuda serta sebarang perjudian.D. Membaca “”Bismillah” (supaya selamat konon-kononnya) untuk mengintai orang mandi.E. Membaca “Bismillah” untuk makan dan minum apa-apa yang haram.F. Membaca “Bismillah” kuat-kuat (agar didengar oleh orang ramai) ketika membuka warong demi melariskan jualan.

6. Ucapan “MASYAALLAH” (Apa yang Allah Kehendaki)Diucapkan ketika melihat apa-apa yang baik dan indah. Diucapkan juga ketika melihat perkara-perkara yang luar biasa dan hebat (sama seperti Tasbih). Tidak boleh digunakan sebagai ucapan tatkala melihat sesuatu yang dilarang , contohnya menyebut “MA SYA ALLAH” ketika melihat wanita-wanita yang berpakaian seksi sebab kalimah itu bermakna “Apa-apa yang Allah kehendaki”, sedangkan Allah Ta’ala tidak pernah sama-sekali menyuruh wanita-wanita berpakaian seksi di hadapan bukan suaminya. Dan begitu juga tidak boleh mengucapkan kalimah ini tatkala melihatpelakon- pelakon yang seksi-seksi di TV. Hati-Hati dan fahami baik-baik penggunakan kalimah dan ucapan ini. Ucapan ini diistilahkan sebagai: ” AL-MASYIAH”

7 Ucapan “A’UZUBILLAHI MINASY SYAITANIR RAJIM” (Aku memohon perlindungan Allah daripada syaitan yang direjam (terkutuk)Diucapkan sebagai memohon perlindungan dan keselamatan kepada Allah Ta’ala daripada segala jenis gangguan, sama ada gangguan syaitan ataupun bala-bencana. Diucapkan juga sebagai memulakan bacaan ayat-ayat suci Al-Quranul Karim. Ucapan ini digelar sebagai “AT-TA’AWWUDZ”

8. Ucapan “LA HAULA WA LA QUWWATA ILLA BILLAH” (Tidak adalah daya-upaya dan kekuatan (yang sebenar/yang terutama) melainkan dengan izin (pertolongan) Allah)Diucapkan apabila melihat perkara-perkara yang tidak disukai ataupun apabila kita tidak terdaya untuk melakukan sesuatu. Dan diucapkan apabila kita merasai kekurangan dan kelemahan yang ada pada diri kita seperti sedang berhadapan dengan jumlah musuh yang lebih ramai daripada pihak kita. Ucapan ini dikenali sebagai “AL-HAUQALLAH”

9. Ucapan “INSYA ALLAH” (Jika diizinkan Allah)Diucapkan apabila kita berjanji untuk menyempurnakan hajat seseorang. Ataupun apabila hati kita berat 70 % untuk memenuhi janji itu maka bolehlah kita menyebut “INSYA-ALLAH”, tetapi jika kita memang tidak mahu memenuhi hajat itu ataupun hati kita memang berat 70 % untuk tidak memenuhinya, maka tidaklah wajar kita menggunakan kalimah ini. [Hasil temuramah di antara Al marhum S.S Dato’ Ishak Baharom, Bekas Mufti Selangor Darul Ehsan dengan salah sebuah majalah di Malaysia]. Ucapan ini dikenali sebagai “TAWAKKUL” (Tetapi masyarakat Melayu memanggilnya sebagai tawakkal)

10. Ucapan “BARAKKALLAHU FIK” (Semoga Allah memberkati engkau)Diucapkan kepada seseorang yang kita cintai ataupun sebagai doa baginya. Menurut sunnah ucapan yang seumpama ini diucapkan juga kepada mereka yang baru berkahwin. Ucapan ini dikenali sebagai “AT-TABARRUK”.

11. Ucapan “JAZAKALLAHU KHAIRAN” (Semoga Allah membalas jasa-baikmu itu dengan kebaikan)Ucapan ini sebagai tanda terima kasih kita pada seseorang. Boleh juga diucapkan dengan “JAZAKALLAHU KHAIRAN KATSIRAN” (Semoga Allah membalas jasa-baikmu itu dengan kebaikan yang banyak). Boleh juga diucapkan dengan “JAZAKALLAHU KHAIRAL JAZAK” (Semoga Allah membalas jasa-baikmu dengan balasan yang paling baik). Adalah SALAH dan TIDAK BETUL jika sekadar mengucapkan “JAZAKALLAHU”(Semoga Allah membalasmu…) Membalas dengan apa? Ayat ini jadi ayat tergantung! Apabila kita diucapkan sedemikian rupa, maka respon kita pula ialah:”JAZANA WA IYYAK”. Erti respon itu ialah: “Semoga Allah juga membalas (kebaikan yang kau ucapkan tadi) kepada kita semua dan juga kepada dirimu. Ianya dikenali sebagai kalimah “ASY-SYUKR”

12. Ucapan “INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI’UN” (Sesungguhnya kita ini semuanya adalah milik Allah dan kepadanya nanti kita akan kembali)Diucapkan apabila ditimpa sesuatu yang tidak dikehendaki seperti banjir, kemalangan, kecurian dan seumpamanya. (Walhal orang-orang kita hanya mengucapkannya tatkala mendengar berita kematian seseorang). Firman Allah mengenai ucapan ini: “Orang-orang yang sabar itu apabila mereka ditimpa musibah mereka akan berkata: Sesungguhnya kita ini semuanya adalah milik Allah dan kepadanya nanti kita akan kembali” Surah al-Baqarah, ayat 155. Ucapan ini dikenali sebagai”LIL ISTIRJAA’/TARJIE”

13. Ucapan “HASBUNALLAHU WA NI’MAL WAKIL” (Cukuplah bagi kami ini Allah itu sebagai sebaik-baik pelindung/penolong)Diucapkan sebagai tanda kita ini berserah diri dan bergantung harap (bertawakkal) kepada Allah Ta’ala semata-mata. Dan ia juga merupakan ucapan “pembakar” semangat keberanian orang-orang yang beriman. Contohnya diucapkan tatkala menghadapi serangan musuh. Firman Allah Ta’ala yang mengisahkan keimanan para sahabat r.a menjelang Perang Badar: Orang-orang yang mentaati Allah dan Rasul itu apabila dikatakan kepada mereka: “Sesungguhnya manusia (musyrikin Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, kerana itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab:”Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung” Surah Ali ‘Imran , ayat 173. Ucapan ini dikenali sebagai”AL-HASBANA”.
Semoga kita semua dapat keredhaan Allah dengan amalan kita sepanjang hayat.

https://perjalanantanpahenti.blogspot.com/2014/11/pengucapan-yang-betul-dalam-islam.html

Assalamualaikum  &  Selamat  Pagi,

FURMAN ALLAH SWT YANG BERMAKNA

SESUNGGUHNYA KAMU TIDAK AKAN DAPAT MEMBERI PETUNJUK KEPADA ORANG YANG KAMU KASIHI, TETAPI ALLAH MEMBERI PETUNJUK KEPADA ORANG YANG DIKEHENDAKI-NYA, DAN ALLAH LEBIH MENGETAHUI ORANG-ORANG YANG MAU MENERIMA PETUNJUK. Surah Al-Qasas : 56

Mohon  Kunjungi Blog Kami Untuk Mendapat Maklumat Tentang  Al-Quran Mendahului Sains  Dan Lebih 80 Blog Gerbang Ilmu Agama Terbaik :

PERINGATAN DARI ILAHI (IV) – RINGKASAN KITAB TANBIHUL GHAFILIN

https://jipskelantan88695409.wordpress.com/2020/09/13/peringatan-dari-ilahi-iv-ringkasan-kitab-tanbihul-ghafilin/

Sama2 Kita Berkongsi Pahala Jariah Dengan Menyebarkan Bahan2 Agama Yang Bermanfaat, Mohon Para Sahabat Follow Blog Kami Dan Beri Pandangan Berguna, Terima Kasih.

Mencari Redha Allah Atas Karenah Manusia

Dalam sebuah riwayat menceritakan, pada suatu hari Luqman Al-Hakim telah masuk ke dalam pasar dengan menaiki seekor himar, manakala anaknya mengikut daripada belakang. Melihat tingkahlaku Luqman itu, setengah orang pun berkata; “Lihat itu, orang tua yang tidak bertimbang rasa, sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki”. Setelah mendengar desas-desus daripada orang ramai, maka Luqman pun turun daripada himarnya itu lalu diletakkan anaknya di atas himar itu. Melihat yang demikian, maka orang di kawasan itu berkata pula; “Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya sedap menaiki himar itu, sungguh kurang adab anak itu”. Sebaik saja mendengar kata-kata itu, Luqman pun terus naik ke atas belakang himar itu bersama-sama dengan anaknya. Kemudian orang ramai pula berkata lagi; “Lihat itu, dua orang menaiki seekor himar, sungguh menyeksakan himar itu”. Oleh kerana tidak suka mendengar percakapan orang, maka Luqman dan anaknya turun daripada himar itu, kemudian terdengar lagi suara orang berkata; “Lihat, dua orang yang berjalan kaki, sedangkan himar itu tidak dikenderaikan, membazir”. Dalam perjalanan ke rumah, Luqman Al-hakim telah menasihati anaknya tentang sikap manusia dan telatah mereka, katanya; “Sesungguhnya tiada seorang pun terlepas daripada percakapan manusia. Maka orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan pertimbangan Allah SWT sahaja (pandangan manusia yang baik boleh diambil).

Barangsiapa mengenali kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap sesuatu. Allah Yang Maha Sempurna itu juga ada yang mengejinya dan membencinya. Nabi Muhammad SAW yang sopan santun lagi maksum itu juga ada yang mengejinya dan membencinya. Jadi siapalah kita yang tidak sempurna dan banyak kekhilafan ini. Kita manusia biasa dan jangan anggap kita luar biasa. Apapun, utamakan pandangan Allah, jangan diutamakan pandangan manusia, biarkan manusia berkata – kata. Yakinlah, Allah lah sebaik-baik hakim Yang Maha Adil yang paling layak mengadili tindak tanduk kita.


Ironinya hari kita lihat fenomena berikut kerap berlaku dikalangan masyarakat kita;Bila kita jadi jahat, orang benci.., bila jadi baik, orang meluat…Bila kita ikut suruhan agama, ada orang kata kita berlagak alim…, bila kita langgar suruhan agama, ada orang kata… “Astaghfirullah! Apa la nak jadi… dah nak kiamat kot?…”Bila kita ikut peraturan, ada orang kata kita skema a.k.a nak tunjuk baik…, bila kita langgar peraturan, ada orang kata kita ni macam takde masa depan..Bila kita tegur dengan baik, ada orang kata kita ni bajet bagus…, bila kita tegur dengan kasar, ada orang kata kita ni kurang ajar…Bila kita pakai sopan-sopan, ada orang kata kita ni kampong gilerr…, bila kita pakai ‘dedah sana-sini’.. ada orang kata kita ni takde harga diri sebab tayang free..Bila kita bagi nasihat, ada orang kata “jangan sibuk jaga tepi kain orang, boleh?…..”, bila kita sindir-menyindir, ada orang kata “tak reti bagi nasihat leklok?..”Bila kita tolong buat kerja, ada orang kata “yang sibuk sangat nak tolong buat keja orang lain watpe?”.., Bila kita tak tolong apa-apa, ada orang kata “apesal pemalas sangat ni? Nak minta tolong pun susah?”..

Dan sebenarnya ramai orang lain tak berpuas hati dengan diri kita. Apa yang kita buat semua salah.. semuanya tak betul di mata mereka.. Kalau buat salah sudah tentunya salah.. tetapi jika buat baik pun masih ada yang mengata.. ingat pesanan ini; Keputusan yang kita ambil, langkah yang kita mula, perkara pertama yang perlu kita fikirkan ialah pandangan Allah SWT terhadap kita.. bukan pandangan manusia…. mari kita renung-renungkan.
Bila kita berdepan dengan BOB (Buat Orang Bersalah) dan ujian-ujian yang sebegitu, janganlah kita bersedih dan rendah diri, serta mula merasa ‘give up’ dalam proses untuk berubah ini. Don’t simply surrender. Jihad ini sememangnya sukar. Penuh dengan mehnah dan tribulasi. Apa yang boleh kita lakukan bila menghadapi BOB atau orang yang suka menjatuhkan semangat ini?
#1 : Sabar Dan Kuatkan HatiInilah langkah yang paling asas dan pertama kita perlu lakukan, iaitu bersabar. Pada mulanya mungkin kita berasa sangat sukar untuk bersabar bila sentiasa diuji hebat oleh orang sekeliling yang sentiasa ingin menjatuhkan semangat kita. Namun percayalah, jika kita teruskan untuk bertahan dalam kesabaran, lama-kelamaan ia akan membentuk hati kita untuk kuat. Memang pada mulanya kita akan selalu menangis dan berkecil hati, namun selepas itu kita akan mendapat hati yang jauh lebih teguh dan kuat dari sebelumnya. Pelangi akan muncul selepas turunnya hujan yang membasahi pipi bumi..
#2 : Berpura-pura bodoh dan buat selambaBiasa orang-orang dari golongan BOB ini suka menyindir dan memperlekehkan kerana bertujuan untuk menyakitkan hati. Mereka akan lebih seronok jika kita memberi reaksi tersinggung, kerana mereka telah berjaya mencapai tujuan mereka. Oleh apa yang boleh kita buat? Buat mereka mereka berasa tidak seronok bila cuba untuk menjatuhkan semangat kita. Bagaimana? Kita boleh “membodohkan” perkataan mereka untuk menyindir kita. Contohnya, jika dia berkata “Kau ingat kau baik sangat?” Kita boleh membalas, “Takde la baik sangat..”. Selalunya balasan seperti itu akan menyakitkan hati mereka kembali. Namun sekadar itu sahaja, tidak perlu kita memanjangkan perang mulut jika mereka membalas kembali. Senyum dan buat muka selamba. Rileks dan abaikan mereka. Sebab sebenarnya, apabila seseorang itu menyindir, mereka mengharapkan kita tersentak, atau berasa marah, rendah diri atau tidak yakin. Sebaliknya jika kita cuma tersenyum sahaja, itu membuatkan rancangan dia untuk ‘menjatuhkan semangat’ kita tidak menjadi. Oleh itu kekal tenang dan senyum. Mentertawakan tetapi tidak bermaksud ingin menjatuhkan. Kadang-kadang ada juga yang ketawa bila melihat kita, biasanya rakan-rakan rapat yang berasa lucu dan ingin bergurau dengan kita. Mungkin mereka terkejut melihat perubahan pada kita dan ingin mengusik kita. Bertenang, jangan cepat melatah. Layankan sahaja gelagat mereka dan teruskan ketawa bersama mereka. Namun kita harus pandai membezakan gurauan dan hinaan.
#3 Fokuskan kepada apa yang kita sedang usahakanKeep your eyes on the ball – Istilah ini sangatlah besar maknanya bagi kita untuk tetap fokus. Memperlekehkan, menyindir, mengejek, memalukan dan menjatuhkan semangat ini sebenarnya perkara biasa dalam kehidupan. Pernahkan kita menyaksikan pertandingan atau perlawan bola dipadang? Perasankah kita ada penonton yang berada dibahagian tepi padang? ada yang mengejek dan ada juga yang memberi semangat kepada pemain. Untuk memenangi perlawanan, pemain harus fokus pada perlawanan yang sedang dilalui dan tidak mempedulikan perkara lain. Jika dia gagal untuk mengekalkan fokus dan mendengar ejekan-ejekan, pasti dia tidak akan dapat beraksi dengan baik dan mudah ditewaskan. Jadi ibaratkan diri kita seperti pemain bola diatas padang yang sedang berusaha memenangi perlawanan. Yang menjadi masalah, kadang-kadang disebalik kata-kata kata semangat yang kita terima, pasti ada terselit juga kata-kata yang menjelekkan dan negatif. Bagaimana untuk kita menghadapi perkara ini? Berdirilah atas kaki kita sendiri. Jangan tentukan diri kita berdasarkan kata-kata dari orang lain. Jadilah diri kita sendiri dan yakinlah dengan perubahan yang kita buat kerana Allah ini adalah tepat dan terbaik. Jika kita memikirkan kata – kata orang lain, kita akan menjadi seseorang yang bergantung pada orang lain, dan membiarkan pendapat orang lain mengendalikan kita. Kita bukan semudah itu untuk menjadi loser!

#4 Mengelakkan Diri Dari Mereka, jika perlu..Apabila kita menghadapi situasi di mana kita berhadapan dengan sahabat yang memang kuat menyindir atau orang yang terlalu aggresif memprovokasi kita, sebaiknya kita menghindar diri buat sementara waktu. Lebih baik kita mendiamkan diri dan jangan mendekati orang tersebut dan carilah tempat yang membuat kita selesa. Ini dapat mengelakkan kita berasa sakit hati dan pergaduhan. Sebagai seorang muslim, kita digalakkan untuk segera berwuduk kerana dengan berwuduk akan dapat menenangkan fikiran kita. Lebih berkesan lagi jika kita mengamalkan membaca surah Yassin dan memperbanyakkan istigfar.
Penutup: Berdoalah kepada AllahJelas, hakikatnya dari 99 kebaikan yang kita dilakukan boleh tertutup dengan 1 kejahatan yang kalau dilakukan. Walaupun sebenarnya kita tidak melakukan kejahatan berkenaan. Penyakit hati manusia ini sukar untuk dikikis. Apabila tidak bendung, makin bercambah dalam diri. Manusia sebegini fikiran dan hatinya terlalu negatif. Dapat sesuatu isu terus dirasakan negatif. Terus menerus memang serong terhadap manusia lain. Tiada sesiapa yang dapat mengubah tafsiran dan tanggapan ini, hanyalah diri sendiri jua.
Jadi sekiranya kita tidak mampu mengawal mereka yang senantiasa membuat penilaian terhadap manusia lain ini, makanya kita redhakan saja. Itu yang terbaik. Manusia akan terus berkata-kata dan berfikiran negatif. Jadi, utamakan pandangan Allah SWT daripada penilaian manusia. Semua orang sedia maklum, sebaik mana pun kebaikan yang ditaburkan oleh seseorang tu, orang tetap mengata yang bukan-bukan. Orang tetap berfikiran negatif. Ada saja cacat cela. Ada saja yang tak kena. Lumrah sebagai insan manusia. Tapi kita tahu, bukan semua orang begitu. Mungkin segelintir daripada kita. Yang masih punya rasa tidak berpuas hati dengan manusia lain. Jadi, rahmatilah mereka. Dan kita terus jadi diri sendiri. Jadi diri sendiri hanya bermatlamatkanNya. Terus lakukan apa sahaja yang kita rasa itu adalah baik untuk kita. Baik untuk semua.

Apabila kita telah melakukan kesemua tips diatas tadi, tetapi belum juga berhasil, maka langkah terakhir kita adalah berdoa kepada Allah, menyerahkan semuanya kepada Allah. Memohon agar sahabat, jiran tetangga dan orang – orang ini dihilangkan penyakit hatinya kerana sifat menjatuhkan semangat orang itu merupakan penyakit hati. Semoga memberi manfaat. Artikel diatas cumalah pandangan saya yang naif berdasarkan pengalaman saya. Mungkin kalian ada pengalaman atau tips yang boleh dikongsikan? Catatkan apa yang bermain dalam fikiran kalian sekarang pada ruangan komen dibawah.

https://perjalanantanpahenti.blogspot.com/2014/11/mencari-redha-allah-atas-karenah-manusia.html

Assalamualaikum  &  Selamat  Pagi,

FURMAN ALLAH SWT YANG BERMAKNA

SESUNGGUHNYA KAMU TIDAK AKAN DAPAT MEMBERI PETUNJUK KEPADA ORANG YANG KAMU KASIHI, TETAPI ALLAH MEMBERI PETUNJUK KEPADA ORANG YANG DIKEHENDAKI-NYA, DAN ALLAH LEBIH MENGETAHUI ORANG-ORANG YANG MAU MENERIMA PETUNJUK. Surah Al-Qasas : 56

Mohon  Kunjungi Blog Kami Untuk Mendapat Maklumat Tentang  Al-Quran Mendahului Sains  Dan Lebih 80 Blog Gerbang Ilmu Agama Terbaik :

PERINGATAN DARI ILAHI (IV) – RINGKASAN KITAB TANBIHUL GHAFILIN

https://jipskelantan88695409.wordpress.com/2020/09/13/peringatan-dari-ilahi-iv-ringkasan-kitab-tanbihul-ghafilin/

Sama2 Kita Berkongsi Pahala Jariah Dengan Menyebarkan Bahan2 Agama Yang Bermanfaat, Mohon Para Sahabat Follow Blog Kami Dan Beri Pandangan Berguna, Terima Kasih.

Kisah Iblis Terpaksa Bertemu Rasulullah SAW

Kisah Iblis Terpaksa Bertemu Rasulullah

Dari Muadz bin Jabal, dari Ibn Abbas, Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Ansar, tiba-tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah, “Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan memerlukanku.”Rasulullah SAW bersabda, “Tahukah kalian siapa yang memanggil?”Kami menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih tahu.”Beliau melanjutkan, “Itu iblis, laknat Allah bersamanya.”Umar bin Khattab berkata, “Izinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah”Rasulullah SAW menahannya seraya bersabda, “Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan untuk ini, fahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik.”

Ibnu Abbas r.a berkata, Pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang tua yang cacat satu matanya. Di janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi. Iblis berkata, “Salam untukmu Muhammad…. Salam untukmu para hadirin…”Rasulullah SAW lalu menjawab, “Salam hanya milik Allah SWT, sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu?”Iblis menjawab, “Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemahuanku, namun kerana terpaksa.””Siapa yang memaksamu?””Seorang malaikat utusan Allah mendatangiku dan berkata, ‘Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri. Beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. Jawablah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin.’ Oleh kerana itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. Jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. Tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh.”
Orang yang dibenci iblisRasulullah SAW lalu bertanya kepada Iblis, “Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?”Iblis segera menjawab, “Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci.””Siapa selanjutnya?””Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT.””Lalu siapa lagi?””Orang alim dan warak.”” Lalu siapa lagi?””Orang yang selalu bersuci.””Siapa lagi?””Seorang fakir yang sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannnya kepada orang lain.””Apa tanda kesabarannya?”” Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang – orang yang sabar.””Selanjutnya apa?””Orang kaya yang bersyukur.””Apa tanda kesyukurannya?””Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya, dan mengeluarkannya juga dari tempatnya .””Orang seperti apa Abu Bakar menurutmu?””Ia tidak pernah menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam Islam.””Umar bin Khattab?””Demi Allah setiap berjumpa dengannya aku pasti lari.””Usman bin Affan?””Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya.””Ali bin Abi Thalib?””Aku berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. Tetapi ia tak akan mahu melakukan itu.” (Ali bin Abi Thalib selalu berzikir terhadap Allah SWT)
Amalan yang dapat menyakiti iblisRasulullah SAW bertanya, “Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku yang hendak solat?”Lalu iblis menjawab, “Aku merasa panas dingin dan gementar.””Kenapa?””Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1 kali kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 darjat.””Jika seorang umatku berpuasa?””Tubuhku terasa terikat hingga ia berbuka.””Jika ia berhaji?””Aku seperti orang gila.””Jika ia membaca al-Quran?””Aku merasa meleleh laksana timah di atas api.””Jika ia bersedekah?””Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji.””Mengapa jadi begitu?””Sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya… Iaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka dan segala macam musibah akan terhalau dari dirinya.””Apa yang dapat mematahkan pinggangmu?””Suara kuda perang di jalan Allah.””Apa yang dapat melelehkan tubuhmu?””Taubat orang yang bertaubat.””Apa yang dapat membakar hatimu?””Istighfar di waktu siang dan malam.””Apa yang dapat mencoreng wajahmu?””Sedekah yang diam – diam.””Apa yang dapat menusuk matamu?””Solat fajar.””Apa yang dapat memukul kepalamu?””Solat berjamaah.””Apa yang paling mengganggumu?””Majlis para ulama.””Bagaimana cara makanmu?””Dengan tangan kiri dan jariku.””Dimanakah kau menaungi anak-anakmu di musim panas?””Di bawah kuku manusia.”
Manusia yang menjadi teman iblisRasulullah SAW lalu bertanya, “Siapa temanmu wahai iblis?””Pemakan riba.””Siapa sahabatmu?””Penzina.””Siapa teman tidurmu?””Pemabuk..””Siapa tamumu?””Pencuri.””Siapa utusanmu?””Tukang sihir.””Apa yang membuatmu gembira?””Bersumpah dengan cerai.””Siapa kekasihmu?””Orang yang meninggalkan solat Jumaat””Siapa manusia yang paling membahagiakanmu?””Orang yang meninggalkan solatnya dengan sengaja.”
Iblis tidak berdaya di hadapan orang yang ikhlasRasulullah SAW lalu bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu.”Iblis segera menimpali, “Tidak, tidak.. Tak akan ada kebahagiaan selama aku hidup hingga hari akhir. Bagaimana kau boleh berbahagia dengan umatmu, sementara aku boleh masuk ke dalam aliran darah mereka dan mereka tak boleh melihatku. Demi yang menciptakan diriku dan memberikanku kesempatan hingga hari akhir, aku akan menyesatkan mereka semua. Baik yang bodoh, atau yang pintar, yang boleh membaca dan tidak boleh membaca, yang durjana dan yang soleh, kecuali hamba Allah yang ikhlas.””Siapa orang yang ikhlas menurutmu ?””Tidakkah kau tahu wahai Muhammad, bahawa barang siapa yang menyukai emas dan perak, ia bukan orang yang ikhlas. Jika kau lihat seseorang yang tidak menyukai dinar dan dirham, tidak suka pujian dan sanjungan, aku boleh pastikan bahawa ia orang yang ikhlas, maka aku meninggalkannya. Selama seorang hamba masih menyukai harta dan sanjungan dan hatinya selalu terikat dengan kesenangan dunia, ia sangat patuh padaku.”
Iblis dibantu oleh 70000 anak-anaknyaIblis berkata, “Tahukah kamu Muhammad, bahawa aku mempunyai 70000 anak.. Dan setiap anak memiliki 70000 syaitan. Sebahagian ada yang aku tugaskan untuk mengganggu ulama. Sebahagian untuk menggangu anak-anak muda, sebahagian untuk menganggu orang-orang tua, sebahagian untuk menggangu wanita-wanita tua, sebahagian anak-anakku juga aku tugaskan kepada para Zahid.
Aku punya anak yang suka mengencingi telinga manusia sehingga ia tidur pada solat berjamaah. Tanpanya, manusia tidak akan mengantuk pada waktu solat berjamaah.
Aku punya anak yang suka menaburkan sesuatu di mata orang yang sedang mendengarkan ceramah ulama hingga mereka tertidur dan pahalanya terhapus.
Aku punya anak yang senang berada di lidah manusia, jika seseorang melakukan kebajikan lalu ia khabarkan kepada manusia, maka 99% pahalanya akan terhapus.
Pada setiap seorang wanita yang berjalan, anakku dan syaitan duduk di pinggul dan pahanya, lalu menghiasinya agar setiap orang memandanginya.
Syaitan juga berkata, ‘Keluarkan tanganmu’, lalu ia mengeluarkan tangannya lalu syaitan pun menghiasi kukunya.
Mereka, anak-anakku selalu meyusup dan berubah dari satu tempat ke tempat lainnya, dari satu pintu ke pintu yang lainnya untuk menggoda manusia hingga mereka terhempas dari keikhlasan mereka. Akhirnya mereka menyembah Allah tanpa ikhlas, namun mereka tidak merasa.”
Iblis menambah, “Tahukah kamu, Muhammad, bahawa ada rahib yang telah beribadat kepada Allah selama 70 tahun. Setiap orang sakit yang didoakan olehnya, sembuh seketika. Aku terus menggodanya hingga ia berzina, membunuh dan kufur.”
Cara iblis menggodaIblis berkata, “Tahukah kau Muhammad, dusta berasal dari diriku? Akulah makhluk pertama yang berdusta. Pendusta adalah sahabatku. Barangsiapa bersumpah dengan berdusta, ia kekasihku.
Tahukah kau Muhammad, aku bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan nama Allah bahawa aku benar-benar menasihatinya. Sumpah dusta adalah kegemaranku.
Ghibah (gosip) dan Namimah (adu domba) kesenanganku. Kesaksian palsu kegembiraanku.
Orang yang bersumpah untuk menceraikan isterinya ia berada di pinggir dosa walau hanya sekali dan walaupun ia benar. Sebab barang siapa membiasakan dengan kata-kata cerai, isterinya menjadi haram baginya. Kemudian ia akan beranak cucu hingga hari kiamat. Jadi semua anak-anak zina dan ia masuk neraka hanya kerana satu kalimat ‘cerai’.
Wahai Muhammad, umatmu ada yang suka lalai semasa solat. Setiap ia hendak berdiri untuk solat, aku bisikan padanya waktu masih lama, kamu masih sibuk, lalu ia manundanya hingga ia melaksanakan solat di luar waktu, maka solat itu dipukulkannya kemukanya.
Jika ia berhasil mengalahkanku, aku biarkan ia solat. Namun aku bisikkan ke telinganya ‘lihat kiri dan kananmu’. Dia pun menoleh. Pada masa itu aku usap dengan tanganku dan kucium keningnya serta aku katakan ‘solatmu tidak sah’. Bukankah kamu tahu Muhammad, orang yang banyak menoleh dalam solatnya akan dipukul.
Jika ia solat sendirian, aku suruh dia untuk bergegas. Dia pun solat seperti ayam yang mematuk beras. Jika dia berhasil mengalahkanku dan dia solat berjamaah, aku ikat lehernya dengan tali, hingga dia mengangkat kepalanya sebelum imam, atau meletakkannya sebelum imam. Kamu tahu bahawa melakukan itu batal solatnya dan wajahnya akan dirubah menjadi wajah keldai.
Jika dia berhasil mengalahkanku, aku tiup hidungnya hingga dia menguap dalam solat. Jika ia tidak menutup mulutnya ketika menguap, syaitan akan masuk ke dalam dirinya, dan membuatnya menjadi bertambah serakah dan gila dunia. Dan diapun semakin taat padaku.
Kebahagiaan apa untukmu, sedang aku memerintahkan orang miskin agar meninggalkan solat. Aku katakan padanya, ‘kamu tidak wajib solat, solat hanya wajib untuk orang yang berkemampuan dan sihat. Orang sakit dan miskin tidak, jika kehidupanmu telah berubah baru kau solat.’ Dia pun mati dalam kekafiran. Jika dia mati sambil meninggalkan solat maka Allah akan menemuinya dalam kemurkaan.
Wahai Muhammad, jika aku berdusta Allah akan menjadikanku debu.
Wahai Muhammad, apakah kau akan bergembira dengan umatmu padahal aku mengeluarkan seperenam mereka dari islam?”
10 permintaan iblis kepada Allah SWTRasulullah SAW bertanya kepada iblis, “Berapa yang kau pinta dari Tuhanmu?”Jawab iblis, “10 macam.”Lalu Rasulullah SAW bertanya lagi, “Apa saja?”
Lalu iblis menjawab, “Aku minta agar Allah membiarkanku berbagi dalam harta dan anak manusia, Allah mengizinkan. Allah berfirman, “Berbagilah dengan manusia dalam harta dan anak. Dan janjikanlah mereka, tidaklah janji syaitan kecuali tipuan.” (Al-Isra: 64)
Harta yang tidak dizakatkan, aku makan darinya. Aku juga makan dari makanan haram dan yang bercampur dengan riba, aku juga makan dari makanan yang tidak dibacakan nama Allah.
Aku minta agar Allah membiarkanku ikut bersama dengan orang yang berhubungan dengan isterinya tanpa berlindung dengan Allah, maka syaitan ikut bersamanya dan anak yang dilahirkan akan sangat patuh kepada syaitan.Aku minta agar boleh ikut bersama dengan orang yang menaiki kenderaan bukan untuk tujuan yang halal.Aku minta agar Allah menjadikan bilik mandi sebagai rumahku.Aku minta agar Allah menjadikan pasar sebagai masjidku.Aku minta agar Allah menjadikan syair sebagai Quranku.Aku minta agar Allah menjadikan pemabuk sebagai teman tidurku.Aku minta agar Allah memberikanku saudara , maka Ia jadikan orang yang membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku. Allah berfirman, “Orang-orang boros adalah saudara-saudara syaitan.” (Al-Isra: 27)
Wahai Muhammad, aku minta agar Allah membuatku boleh melihat manusia sementara mereka tidak boleh melihatku.Dan aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk mengalir dalam aliran darah manusia.Allah menjawab, “Silakan”, aku bangga dengan hal itu hingga hari kiamat. Sebahagian besar manusia bersamaku di hari kiamat.”Iblis berkata, “Wahai muhammad, aku tak boleh menyesatkan orang sedikitpun, aku hanya boleh membisikan dan menggoda. Jika aku boleh menyesatkan, tak akan tersisa seorangpun. Sebagaimana dirimu, kamu tidak boleh memberi hidayah sedikitpun, engkau hanya rasul yang menyampaikan amanah. Jika kau boleh memberi hidayah, tak akan ada seorang kafir pun di muka bumi ini. Kau hanya boleh menjadi penyebab untuk orang yang telah ditentukan sengsara. Orang yang bahagia adalah orang yang telah ditulis bahagia sejak di perut ibunya, dan orang yang sengsara adalah orang yang telah ditulis sengsara semenjak dalam kandungan ibunya.”
Rasulullah SAW lalu membaca ayat, “Mereka akan terus berselisih kecuali orang yang dirahmati oleh Allah SWT.” (Hud: 118 – 119)
Juga membaca, “Sesungguhnya ketentuan Allah pasti berlaku” (Al-Ahzab: 38)

Iblis lalu berkata, “Wahai Rasulullah, takdir telah ditentukan dan pena takdir telah kering. Maha Suci Allah yang menjadikanmu pemimpin para nabi dan rasul, pemimpin penduduk syurga, dan yang telah menjadikan aku pemimpin makhluk-makhluk celaka dan pemimpin penduduk neraka. aku si celaka yang terusir, ini akhir yang ingin aku sampaikan kepadamu. Dan aku tak berbohong.”

https://perjalanantanpahenti.blogspot.com/2016/

Assalamualaikum  &  Selamat  Pagi,

FIRMAN ALLAH SWT YANG BERMAKNA

SESUNGGUHNYA KAMU TIDAK AKAN DAPAT MEMBERI PETUNJUK KEPADA ORANG YANG KAMU KASIHI, TETAPI ALLAH MEMBERI PETUNJUK KEPADA ORANG YANG DIKEHENDAKI-NYA, DAN ALLAH LEBIH MENGETAHUI ORANG-ORANG YANG MAU MENERIMA PETUNJUK. Surah Al-Qasas : 56

Mohon  Kunjungi Blog Kami Untuk Mendapat Maklumat Tentang  Al-Quran Mendahului Sains  Dan Lebih 80 Blog Gerbang Ilmu Agama Terbaik :

PERINGATAN DARI ILAHI (IV) – RINGKASAN KITAB TANBIHUL GHAFILIN

https://jipskelantan88695409.wordpress.com/2020/09/13/peringatan-dari-ilahi-iv-ringkasan-kitab-tanbihul-ghafilin/

Sama2 Kita Berkongsi Pahala Jariah Dengan Menyebarkan Bahan2 Agama Yang Bermanfaat, Mohon Para Sahabat Follow Blog Kami Dan Beri Pandangan Berguna, Terima Kasih.

10 PERMINTAAN IBLIS KEPADA ALLAH SWT

Aku minta agar Allah membiarkanku ikut bersama dengan orang yang berhubungan dengan isterinya tanpa berlindung dengan Allah, (1) maka syaitan ikut bersamanya dan anak yang dilahirkan akan sangat patuh kepada syaitan. Aku minta agar boleh ikut bersama dengan orang yang menaiki kenderaan bukan untuk tujuan yang halal. (2) Aku minta agar Allah menjadikan bilik mandi sebagai rumahku. (3) Aku minta agar Allah menjadikan pasar sebagai masjidku. (4) Aku minta agar Allah menjadikan syair sebagai Quranku. (5) Aku minta agar Allah menjadikan pemabuk sebagai teman tidurku. (6) Aku minta agar Allah memberikanku saudara , (7) maka Ia jadikan orang yang membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku. Allah berfirman, “Orang-orang boros adalah saudara-saudara syaitan.” (8)(Al-Isra: 27)
Wahai Muhammad, aku minta agar Allah membuatku boleh melihat manusia sementara mereka tidak boleh melihatku.(9) Dan aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk mengalir dalam aliran darah manusia. (10) Allah menjawab, “Silakan”, aku bangga dengan hal itu hingga hari kiamat. Sebahagian besar manusia bersamaku di hari kiamat.”Iblis berkata, “Wahai muhammad, aku tak boleh menyesatkan orang sedikitpun, aku hanya boleh membisikan dan menggoda. Jika aku boleh menyesatkan, tak akan tersisa seorangpun. Sebagaimana dirimu, kamu tidak boleh memberi hidayah sedikitpun, engkau hanya rasul yang menyampaikan amanah. Jika kau boleh memberi hidayah, tak akan ada seorang kafir pun di muka bumi ini. Kau hanya boleh menjadi penyebab untuk orang yang telah ditentukan sengsara. Orang yang bahagia adalah orang yang telah ditulis bahagia sejak di perut ibunya, dan orang yang sengsara adalah orang yang telah ditulis sengsara semenjak dalam kandungan ibunya.”
Rasulullah SAW lalu membaca ayat, “Mereka akan terus berselisih kecuali orang yang dirahmati oleh Allah SWT.” (Hud: 118 – 119)

https://perjalanantanpahenti.blogspot.com/2016/

Assalamualaikum  &  Selamat  Pagi,

FURMAN ALLAH SWT YANG BERMAKNA

SESUNGGUHNYA KAMU TIDAK AKAN DAPAT MEMBERI PETUNJUK KEPADA ORANG YANG KAMU KASIHI, TETAPI ALLAH MEMBERI PETUNJUK KEPADA ORANG YANG DIKEHENDAKI-NYA, DAN ALLAH LEBIH MENGETAHUI ORANG-ORANG YANG MAU MENERIMA PETUNJUK. Surah Al-Qasas : 56

Mohon  Kunjungi Blog Kami Untuk Mendapat Maklumat Tentang  Al-Quran Mendahului Sains  Dan Lebih 80 Blog Gerbang Ilmu Agama Terbaik :

PERINGATAN DARI ILAHI (IV) – RINGKASAN KITAB TANBIHUL GHAFILIN

https://jipskelantan88695409.wordpress.com/2020/09/13/peringatan-dari-ilahi-iv-ringkasan-kitab-tanbihul-ghafilin/

Sama2 Kita Berkongsi Pahala Jariah Dengan Menyebarkan Bahan2 Agama Yang Bermanfaat, Mohon Para Sahabat Follow Blog Kami Dan Beri Pandangan Berguna, Terima Kasih.

14 Amalan Yang Dapat Menyakiti Iblis

Amalan yang dapat menyakiti iblis Rasulullah SAW bertanya, “Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku yang hendak solat? “Lalu iblis menjawab, “Aku merasa panas dingin dan gementar.” “Kenapa?” “Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1 kali kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 darjat.” (1) “Jika seorang umatku berpuasa?” “Tubuhku terasa terikat hingga ia berbuka.” (2) “Jika ia berhaji?” (3) “Aku seperti orang gila.” “Jika ia membaca al-Quran?” (4) “Aku merasa meleleh laksana timah di atas api.” “Jika ia bersedekah?” (5) “Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji.” “Mengapa jadi begitu?” “Sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya… Iaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka dan segala macam musibah akan terhalau dari dirinya.” “Apa yang dapat mematahkan pinggangmu?” (6) “Suara kuda perang di jalan Allah.” “Apa yang dapat melelehkan tubuhmu?” “Taubat orang yang bertaubat.” (7) “Apa yang dapat membakar hatimu?” “Istighfar di waktu siang dan malam.” (8) “Apa yang dapat mencoreng wajahmu?” “Sedekah yang diam – diam.” (9) “Apa yang dapat menusuk matamu?” “Solat fajar.” (10) “Apa yang dapat memukul kepalamu?” “Solat berjamaah.” (11) “Apa yang paling mengganggumu?” “Majlis para ulama.” (12) “Bagaimana cara makanmu?” “Dengan tangan kiri dan jariku.” (13) “Dimanakah kau menaungi anak-anakmu di musim panas?” “Di bawah kuku manusia.” (14)

https://perjalanantanpahenti.blogspot.com/2016/

Assalamualaikum  &  Selamat  Pagi,

FURMAN ALLAH SWT YANG BERMAKNA

SESUNGGUHNYA KAMU TIDAK AKAN DAPAT MEMBERI PETUNJUK KEPADA ORANG YANG KAMU KASIHI, TETAPI ALLAH MEMBERI PETUNJUK KEPADA ORANG YANG DIKEHENDAKI-NYA, DAN ALLAH LEBIH MENGETAHUI ORANG-ORANG YANG MAU MENERIMA PETUNJUK. Surah Al-Qasas : 56

Mohon  Kunjungi Blog Kami Untuk Mendapat Maklumat Tentang  Al-Quran Mendahului Sains  Dan Lebih 80 Blog Gerbang Ilmu Agama Terbaik :

PERINGATAN DARI ILAHI (IV) – RINGKASAN KITAB TANBIHUL GHAFILIN

https://jipskelantan88695409.wordpress.com/2020/09/13/peringatan-dari-ilahi-iv-ringkasan-kitab-tanbihul-ghafilin/

Sama2 Kita Berkongsi Pahala Jariah Dengan Menyebarkan Bahan2 Agama Yang Bermanfaat, Mohon Para Sahabat Follow Blog Kami Dan Beri Pandangan Berguna, Terima Kasih.

9 ORANG YANG PALING DIBENCI OLEH IBLIS

Orang yang dibenci iblis Rasulullah SAW lalu bertanya kepada Iblis, “Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci? “Iblis segera menjawab, “Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci.” (1&2) “Siapa selanjutnya?” “Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT.” (3) “Lalu siapa lagi?” “Orang alim dan warak.” (4) ” Lalu siapa lagi?” “Orang yang selalu bersuci.” (5) “Siapa lagi?” “Seorang fakir yang sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannnya kepada orang lain.” (6) “Apa tanda kesabarannya?” ” Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang – orang yang sabar.” “Selanjutnya apa?” “Orang kaya yang bersyukur.” (7) “Apa tanda kesyukurannya?” “Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya, dan mengeluarkannya juga dari tempatnya .” “Orang seperti apa Abu Bakar menurutmu?” (8) “Ia tidak pernah menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam Islam.” “Umar bin Khattab?” “Demi Allah setiap berjumpa dengannya aku pasti lari.” “Usman bin Affan?” “Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya.” (9) “Ali bin Abi Thalib?” “Aku berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. Tetapi ia tak akan mahu melakukan itu.” (Ali bin Abi Thalib selalu berzikir terhadap Allah SWT)

https://perjalanantanpahenti.blogspot.com/2016/

Assalamualaikum  &  Selamat  Pagi,

FURMAN ALLAH SWT YANG BERMAKNA

SESUNGGUHNYA KAMU TIDAK AKAN DAPAT MEMBERI PETUNJUK KEPADA ORANG YANG KAMU KASIHI, TETAPI ALLAH MEMBERI PETUNJUK KEPADA ORANG YANG DIKEHENDAKI-NYA, DAN ALLAH LEBIH MENGETAHUI ORANG-ORANG YANG MAU MENERIMA PETUNJUK. Surah Al-Qasas : 56

Mohon  Kunjungi Blog Kami Untuk Mendapat Maklumat Tentang  Al-Quran Mendahului Sains  Dan Lebih 80 Blog Gerbang Ilmu Agama Terbaik :

PERINGATAN DARI ILAHI (IV) – RINGKASAN KITAB TANBIHUL GHAFILIN

https://jipskelantan88695409.wordpress.com/2020/09/13/peringatan-dari-ilahi-iv-ringkasan-kitab-tanbihul-ghafilin/

Sama2 Kita Berkongsi Pahala Jariah Dengan Menyebarkan Bahan2 Agama Yang Bermanfaat, Mohon Para Sahabat Follow Blog Kami Dan Beri Pandangan Berguna, Terima Kasih.

8 GOLONGAN MANUSIA MENJADI TEMAN IBLIS

Manusia yang menjadi teman iblis Rasulullah SAW lalu bertanya, “Siapa temanmu wahai iblis?” “Pemakan riba.” “Siapa sahabatmu?” “Penzina.” “Siapa teman tidurmu?” “Pemabuk..” “Siapa tamumu?” “Pencuri.” “Siapa utusanmu?” “Tukang sihir.” “Apa yang membuatmu gembira?” “Bersumpah dengan cerai.” “Siapa kekasihmu?” “Orang yang meninggalkan solat Jumaat” “Siapa manusia yang paling membahagiakanmu?” “Orang yang meninggalkan solatnya dengan sengaja.”

https://perjalanantanpahenti.blogspot.com/2016/

Assalamualaikum  &  Selamat  Pagi,

FURMAN ALLAH SWT YANG BERMAKNA

SESUNGGUHNYA KAMU TIDAK AKAN DAPAT MEMBERI PETUNJUK KEPADA ORANG YANG KAMU KASIHI, TETAPI ALLAH MEMBERI PETUNJUK KEPADA ORANG YANG DIKEHENDAKI-NYA, DAN ALLAH LEBIH MENGETAHUI ORANG-ORANG YANG MAU MENERIMA PETUNJUK. Surah Al-Qasas : 56

Mohon  Kunjungi Blog Kami Untuk Mendapat Maklumat Tentang  Al-Quran Mendahului Sains  Dan Lebih 80 Blog Gerbang Ilmu Agama Terbaik :

PERINGATAN DARI ILAHI (IV) – RINGKASAN KITAB TANBIHUL GHAFILIN

https://jipskelantan88695409.wordpress.com/2020/09/13/peringatan-dari-ilahi-iv-ringkasan-kitab-tanbihul-ghafilin/

Sama2 Kita Berkongsi Pahala Jariah Dengan Menyebarkan Bahan2 Agama Yang Bermanfaat, Mohon Para Sahabat Follow Blog Kami Dan Beri Pandangan Berguna, Terima Kasih.

Sekilas Berkenaan Hukum Murtad

Murtad, takut kita mendengarkannya, namun di akhir zaman ini seolah-olah bahan mainan, jadi paderi melayu konon, menagih di gereja macam la tak ada baitul mal ( wang berjuta zakat kerajaan pungut, ntahlah..)pemantauan Jabatan Agama,?? kurang kakitangan agaknya… Elok la kita renung2kan dari A sampai la Z pasal murtad ni.. A) Definisi murtad.

B) Kategori orang murtad dan hukumannya.

C) Hikmah di sebalik hukum murtad.

D) Menganalisa dan menjawab beberapa syubhat berkenaan hukum murtad.

Sebelum bermula, ingin saya gariskan beberapa perkara terlebih dahulu:

1. Risalah ini adalah sebuah penulisan ilmiah. Sesuatu yang berdasarkan dalil dan hujah sudah pasti akan memiliki perbezaan dalam beberapa sudut berbanding sesuatu yang menjadi ikut-ikutan. Oleh itu seandainya ditemui sesuatu pandangan yang berbeza dalam penulisan ini, harap perbezaan tersebut dapat dinilai betul atau salah berdasarkan dalil dan hujah bukan emosi atau semangat.

2. Sesuatu yang ilmiah tidak bererti sempurna. Maka dialu-alukan apa-apa pembetulan, pembaikan dan perbandingan daripada para pembaca sekalian.

3. Peranan risalah ini hanyalah mengupas hukum murtad dari sudut dalil-dalilnya serta penjelasan para ilmuan Islam. Ada pun pelaksanaannya di Malaysia, maka ia adalah sesuatu yang agak rumit kerana suasana rakyat Malaysia yang berbilang agama, ditambah lagi dengan realiti umat Islam Malaysia yang berpecah kepada sekian-sekian jamaah dan parti. Maka risalah ini hanyalah bersifat teori manakala praktikalnya di serah kepada para agamawan dan cerdik pandai negara.[1]

4. Sepertimana penulisan saya yang lain, sejauh yang boleh saya akan menggunakan sumber rujukan dalam bahasa Malaysia, Indonesia dan Inggeris, sama ada ia adalah hasil asli atau hasil terjemahan. Tujuannya adalah untuk memudahkan para pembaca sekalian melanjutkan kajian mereka dalam topik ini kepada sumber-sumber tersebut.

A: Definisi Murtad.

Dari sudut bahasa, “Murtad” adalah dari bahasa Arab yang berasal daripada perkataan “Riddah”. Kamus-kamus bahasa Arab menjelaskan bahawa riddah bermakna kembali daripada sesuatu kepada selainnya. Oleh itu dari sudut bahasa, murtad bermakna orang yang kembali daripada sesuatu kepada selainnya.[2]

Ada pun dari sudut syara’, dengan merujuk kepada penjelasan para ilmuan Islam, murtad ialah seorang muslim mukallaf yang keluar daripada agama Islam sama ada dengan kepercayaan, perkataan atau perbuatan, dengan kehendaknya sendiri.[3]

B: Kategori Orang Murtad Dan Hukumannya.

Orang yang murtad beserta hukumannya terbahagi kepada tiga kategori:

1. Orang yang murtad, namun menyembunyikannya.
2. Orang yang murtad dan menzahirkannya.
3. Orang yang murtad dan menzahirkannya serta menyerang Islam dengannya.

Penjelasannya adalah seperti berikut:

Kategori Pertama: Orang yang murtad, namun menyembunyikannya.

Orang yang murtad namun menyembunyikannya kemurtadannya sehingga tiada siapa yang mengetahui kecuali ahli keluarga dan rakan-rakan terdekat, tidak dijatuhkan hukum hudud di dunia. Hukuman mereka adalah di sisi Allah di Hari Akhirat kelak.

Orang murtad dari kategori pertama inilah yang disinggung oleh sekian banyak ayat al-Qur’an, salah satu daripadanya:

وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ.

Dan sesiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya (Islam) lalu dia mati sedang dia tetap kafir, maka orang-orang yang demikian rosak binasalah amal usahanya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah ahli neraka, kekal mereka di dalamnya. [al-Baqarah 2:217]

Syaikh Yusuf al-Qaradhawi hafizhahullah menjelaskan:

Islam tidak menjatuhkan hukuman bunuh atas orang yang murtad yang tidak menghebahkan murtadnya dan tidak menyeru orang lain agar murtad sepertinya. Islam membiarkannya agar menerima balasannya di akhirat kelak jika dia mati dalam kekafirannya itu. Allah berfirman……(lalu beliau mengemukakan ayat 217 surah al-Baqarah di atas).[4]

Sebelum itu dalam risalah Berkenalan Dengan Ciri-Ciri Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah Dalam Pelaksanaan Hukum Jenayah, telah saya jelaskan bahawa hukuman hudud hanya dijatuhkan apabila jenayah tersebut dilakukan secara terbuka, yakni dizahirkan kepada khalayak ramai. Ada pun jika jenayah tersebut dilakukan secara tertutup, maka hukuman di dunia tidak dijatuhkan. Ini kerana antara tujuan hukuman hudud dijatuhkan adalah untuk menghindar sesuatu jenayah yang dilakukan secara terbuka di khalayak ramai daripada menjadi ikutan dan fitnah kepada masyarakat. Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

اجْتَنِبُوا هَذِهِ الْقَاذُورَةِ الَّتِي نَهَى الله عَنْهَا فَمَنْ أَلَمَّ فَلْيَسْتَتِرْ بِسَتْرِ الله وَلْيَتُبْ إِلَى الله. فَإِنَّهُ مَنْ يُبْدِ لَنَا صَفْحَتَهُ نُقِمْ عَلَيْهِ كِتَابَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Jauhilah perkara-perkara keji yang telah dilarang oleh Allah, sesiapa yang telah melakukannya, hendaklah dia menutupinya dengan tutupan Allah dan bertaubat kepada Allah. Ini kerana jika sesiapa menampakkan perkara keji (yang dilakukannya) kepada kami, kami akan menjatuhkan hukuman yang telah diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.[5]

Kategori Kedua: Orang Yang Murtad Dan Menzahirkannya.

Orang yang murtad lalu menzahirkannya atau mengumumkannya dengan apa cara sekali pun seperti media cetak, media elektronik, internet, Sistem Pesanan Ringks (SMS) dan sebagainya, maka dia dijatuhkan hukuman bunuh setelah terlebih dahulu diberi tempoh dan diajak untuk bertaubat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ.

Sesiapa yang menukar agamanya, maka bunuhlah dia.[6]

Ada pun berkenaan permintaan taubat, terdapat perbincangan di kalangan para ilmuan dan ia menghasilkan lima pendapat:[7]

1. Wajib meminta orang murtad untuk bertaubat.
2. Dianjurkan meminta orang murtad untuk bertaubat.
3. Harus meminta orang murtad untuk bertaubat.
4. Wajib meminta taubat kepada orang yang asalnya kafir, kemudian memeluk Islam, kemudian murtad. Permintaan taubat tidak dibolehkan bagi orang yang asalnya Islam, kemudian murtad.
5. Orang yang murtad tidak perlu diminta untuk bertaubat melainkan memadai diperintahkan untuk kembali kepada Islam sambil diacukan pedang di lehernya.

Setelah mengemukakan lima pendapat di atas serta menganalisa dalil-dalil setiap pendapat, Syaikh Abu Malik Kamal bin al-Sayyid Salim hafizhahullah menjelaskan pendapat yang terkuat:[8]

Dalam pandangan saya, dan Allah sahaja yang lebih mengetahui, bahawa nas yang disampaikan secara terus kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanya menunjukkan kewajipan hukuman mati terhadap orang yang murtad. Dan ini sudah merupakan ketetapan dasarnya. Akan tetapi jika imam (atau hakim) berpendapat untuk menundakan (hukuman) dan menilai permintaan taubat terhadap orang yang murtad sebagai langkah kebijaksanaan yang memiliki maslahat, maka hal itu boleh dilakukan, sesuai dengan perbuatan para sahabat yang (sememangnya) terpercaya.

Juga atas dasar keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Kemudian jika mereka bertaubat dan mendirikan solat serta memberi zakat, maka biarkanlah mereka (jangan diganggu). Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani. [al-Taubah 9:05]

Saya turut bersetuju dengan kesimpulan di atas. Dalam suasana banyaknya fitnah kepada Islam pada akhir zaman ini, sama ada dari kalangan umat Islam sendiri atau dari kalangan bukan Islam, adalah dianjurkan agar hakim menunda hukuman untuk tempoh yang tertentu agar orang yang menzahirkan tindakan murtadnya diberi kaunseling dan diajak untuk bertaubat.

Jika dirujuk kepada hukuman para tokoh al-Salaf al-Shalih rahimahumullah, akan didapati bahawa mereka berbeza-beza dalam menundakan hukuman.[9] Ada yang menjatuhkan hukuman bunuh serta merta, ada yang menundanya selama 3 hari, 20 hari, sebulan dan sebagainya. Semuanya bergantung kepada kemaslahatan yang ingin dicapai dalam kes yang berbeza-beza. Walaubagaimana pun ingin ditegaskan bahawa sekali pun mereka berbeza-beza dalam tempoh penundaan, pada akhirnya hukuman bunuh tetap dijatuhkan jika orang yang murtad enggan bertaubat atau tidak menunjukkan harapan untuk bertaubat.

Kategori Ketiga: Orang Yang Murtad Dan Menzahirkannya Serta Menyerang Islam Dengannya.

Orang yang murtad dan menzahirkannya serta menyerang Islam dengan apa cara sekali pun, sama ada dengan menggunakan senjata, pena, lisan, pemikiran serta menggunakan bantuan orang bukan Islam dan munafik, maka mereka ditangkap dan dibunuh serta merta tanpa diberi tempoh dan diajak untuk bertaubat. Pengecualian adalah jika mereka bertaubat sebelum ditangkap, maka taubat mereka diterima.

Berkenaan orang murtad kategori ketiga ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ: النَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالثَّيِّبُ الزَّانِي وَالْمَارِقُ مِنْ الدِّينِ التَّارِكُ لِلْجَمَاعَةِ.

Tidak dihalalkan darah seorang muslim yang bersaksi bahawasanya tiada tuhan selain Allah dan bahawasanya aku adalah Rasulullah melainkan salah satu dari tiga perkara:

1. Membunuh,
2. Penzina yang sudah bernikah dan
3. Orang yang meninggalkan agamanya serta memisahkan diri dari jamaah (umat Islam).[10]

Yang dimaksudkan sebagai: “…orang yang meninggalkan agamanya serta memisahkan diri dari jamaah (umat Islam)” adalah orang murtad dan menzahirkannya serta menyerang Islam dengannya. Ini dijelaskan oleh sebuah hadis yang lain:

لاَ يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ: رَجُلٌ زَنَى بَعْدَ إِحْصَانٍ فَإِنَّهُ يُرْجَمُ وَرَجُلٌ خَرَجَ مُحَارِبًا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ فَإِنَّهُ يُقْتَلُ أَوْ يُصْلَبُ أَوْ يُنْفَى مِنْ الأَرْضِ أَوْ يَقْتُلُ نَفْسًا فَيُقْتَلُ بِهَا.

Tidak dihalalkan darah seorang muslim yang bersaksi bahawasanya tiada tuhan selain Allah dan bahawasanya Muhammad adalah Rasulullah melainkan salah satu dari tiga perkara:

1. Seorang yang berzina setelah dia menjaga kehormatannya dengan perkahwinan, maka sesungguhnya dia direjam,
2. Seorang yang keluar (dari Islam dan jamaah, lalu) memerangi Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia dibunuh atau disalib atau dibuang negeri dan
3. Seorang yang membunuh satu jiwa, maka dia dibunuh sebagai hukum timbal balik.[11]

Mereka ditangkap dan dibunuh serta merta tanpa diberi tempoh dan diajak untuk bertaubat berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلاَفٍ أَوْ يُنفَوْا مِنْ الأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنيَا وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ (33) إِلاَّ الَّذِينَ تَابُوا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَقْدِرُوا عَلَيْهِمْ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (34).

Hanyasanya balasan orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya serta melakukan bencana kerosakan di muka bumi ialah dengan dibalas atau dipalang atau dipotong tangan dan kaki mereka bersilang atau dibuang negeri. Hukuman yang demikian itu adalah suatu kehinaan di dunia bagi mereka, dan di akhirat kelak mereka beroleh azab seksa yang amat besar.

Kecuali orang-orang yang bertaubat sebelum kamu dapat menangkapnya, (mereka terlepas dari hukuman itu). Maka ketahuilah, bahawasanya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani. [al-Maidah 5:33-34]

C: Hikmah Di Sebalik Hukum Murtad.

Sebelum dijelaskan hikmah di sebalik hukum murtad, ingin ditegaskan bahawa sifat orang-orang yang beriman adalah taat sepenuhnya kepada perintah larangan agama tanpa mengira sama ada diketahui hikmah di sebaliknya atau tidak. Kewajipan orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah “Kami dengar dan kami taat” kepada perintah larangan al-Qur’an dan al-Sunnah manakala mengetahui hikmah di sebaliknya hanyalah sesuatu yang harus (mubah) sifatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُوْلَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ.

Sesungguhnya perkataan yang diucapkan oleh orang-orang yang beriman ketika mereka diajak kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, supaya menjadi hakim memutuskan sesuatu di antara mereka, hanyalah mereka berkata: “Kami dengar dan kami taat”, dan mereka itulah orang-orang yang beroleh kejayaan. [al-Nur 24:51]

Kembali kepada persoalan hikmah di sebalik hukum murtad, sejauh kajian saya, penjelasan yang dikemukakan oleh Syaikh ‘Abd al-Qadir Audah hafizhahullah adalah yang paling tepat, dimana beliau berkata:[12]

The raison d’etre of capital punishment for apostasy is Syariah is that apostasy is repugnant to the faith of Islam on which the Islamic society is founded. If this offence is taken lightly, the collective system of Islam may collapse. The severe punishment laid down for it aims at the total elimination of apostasy on the one hand and warning and preventing others from committing it.

Obviously, capital punishment serves as a more effective deterrent than any other punishment. Whatever the factors inciting commitment of the offence, capital punishment stirs up the preventive factors in human psyche and a man refrains as often as not from committing the offence.

Most of the modern law in operation ensure security of the social system by prescribing harshest punishment for those who violate and destroy the system. The first of such punishments is death penalty. In other words, modern laws lay down the same punishment for causing disorder, safeguarding the social system as does the Islamic syariah.

Menarik untuk diperhatikan perenggan terakhir di atas. Kesemua negara yang mengamalkan hukum jenayah konvesional menjatuhkan hukuman mati kepada jenayah yang paling merosakkan sistem negara dan rakyatnya. Ambil saja contoh pengedar dadah di Malaysia. Sesiapa yang didapati mengedar dadah di atas jumlah tertentu akan dijatuhkan hukuman mati. Di sini tidak timbul persoalan “Hak asasi individu untuk mengedar dadah” atau “Dadah itu kegunaan peribadi dan bukan kegunaan orang lain”. Hukuman tetap dikenakan kepada siapa saja yang mengedar dadah, sekali pun yang mengedarnya adalah warga negara asing. Kenapa sedemikian? Jawapannya, kerana dadah adalah perosak kepada sistem negara dan rakyatnya.

Semua ini tidak berbeza dengan hukum jenayah Islam. Antara tujuan utama hukuman hudud disyari‘atkan adalah untuk menghindari sebarang fitnah kepada agama Islam dan umat Islam. Hukuman hudud bersifat tegas kerana hanya dengan ketegasan tersebut manusia akan mematuhinya dan menjauhi jenayah yang dihukuminya.

Antara hukuman hudud yang dimaksudkan adalah hukuman bagi kes murtad. Orang yang menzahirkan murtadnya menimbulkan fitnah kepada Islam dan umatnya. Ia merosakkan sistem Islam yang secara keseluruhannya berperanan mengurusi hal-ehwal kehidupan manusia dalam sesebuah negara, tanpa mengira rakyat negara tersebut beragama Islam atau selainnya. Sama-sama diketahui bahawa Islam bukan sekadar agama solat dan zikir, tetapi ia adalah agama yang mengurusi kepimpinan, politik, ekonomi, keselamatan, pendidikan dan pelbagai lagi.

Orang yang murtad namun menyembunyikannya (Kategori Pertama), dia tidak dijatuhkan hukuman hudud kerana tindakannya itu tidak diketahui ramai dan tidak sehingga ke tahap menimbulkan fitnah kepada Islam dan umatnya. Maka tidak dijatuhkan hukuman kepadanya di dunia, hukumannya diserahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di Hari Akhirat kelak.

Apabila tidak dijatuhkan hukuman di dunia, tidaklah bererti Islam meredhai tindakan mereka untuk murtad. Hanya yang dipertimbangkan adalah, jika mereka dihalang daripada murtad, maka mereka akan tinggal dalam masyarakat Islam sebagai seorang munafik dan lambat laun akan tetap membawa fitnah kepada Islam dan umatnya. Maka mereka dibebaskan daripada Islam dengan syarat mereka tidak menzahir atau mengumumkan kemurtadan tersebut. Pada waktu yang sama, Islam tetap membuka peluang untuk mereka kembali kepada Islam satu hari kelak, sekali pun ia mungkin dalam masa 20 tahun akan datang.

Ada pun orang murtad yang duduk dalam Kategori Kedua, tindakan menzahirkan kemurtadannya adalah sesuatu yang mengancam kestabilan Islam dan umatnya. Bahkan ia secara halus adalah satu serangan terhadap Islam dan umatnya. Jika tidak ditangani, ia akan merebak dan menimbulkan fitnah yang meluas. Maka kerana itulah hukuman bunuh dijatuhkan sebagai langkah yang paling efektif untuk menghindari timbulnya fitnah tersebut.

Walaubagaimana pun Islam sebagai agama yang rahmat lagi adil tetap memberi peluang kepada mereka untuk mempertimbangkan semula keputusan untuk murtad. Mereka diberi kaunseling dan peluang untuk bertaubat. Hukuman ditangguhkan selagi mana terdapat harapan bertaubat.

Jika orang yang murtad menyerang Islam dan umatnya (Kategori Ketiga), maka hukuman hendaklah dijatuhkan tanpa lengah. Ini kerana mereka bukan lagi sekadar murtad tetapi telah menjadi dari kalangan orang kafir yang memusuhi Islam dan umatnya. Serangan yang mereka lancarkan hendaklah dipatahkan dan orang yang melancarkannya segera dijatuhkan hukuman bagi menghentikan serangan dan sebagai amaran keras kepada orang lain yang bercadang untuk mengikutinya.

D: Menganalisa Dan Menjawab Beberapa Syubhat Berkenaan Hukum Murtad.

“Hak Asasi Manusia” adalah satu agama yang sedang berkembang pesat masa kini. Kepesatannya menyebabkan sebahagian umat Islam, yang sebelum ini memang menghadapi masalah sikap kekerdilan diri, terpengaruh dengannya. Mereka berpandangan Islam juga memberi perhatian kepada “Hak Asasi Manusia”, tetapi tidak tahu apa dan bagaimana. Akhirnya mereka mencairkan Islam agar ia larut ke dalam agama “Hak Asasi Manusia” buatan manusia. Akhirnya mereka juga melaungkan slogan: “Kami Muslim yang turut menjaga hak asasi manusia!”

Bersama slogan ini, mereka meletak beberapa syubhat, iaitu keraguan dan kesamaran, ke dalam syari‘at Islam. Antara yang masyhur adalah berkenaan hukuman hudud bagi kes murtad. Dalam kesempatan ini, saya akan kemukakan beberapa syubhat yang lazim mereka kemukakan, kemudian menganalisa dan menjawabnya.

Syubhat Pertama: Hukum Murtad Tidak Terdapat Dalam al-Qur’an.

Ini adalah syubhat yang paling masyhur. Ia dijawab, bahawa syari‘at Islam tidak hanya terkandung dalam al-Qur’an tetapi kedua-dua al-Qur’an dan al-Sunnah. Kita umat Islam bukan sahaja disuruh mentaati Allah tetapi juga mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Orang yang membezakan antara Allah dan Rasulullah, membezakan antara al-Qur’an dan al-Sunnah, lalu mengingkari Rasulullah dan al-Sunnah, maka mereka bakal ditimpa fitnah yang besar atau diazab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَلْيَحْذَرْ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ.

Oleh itu, hendaklah mereka yang mengingkari perintahnya (Rasulullah), beringat serta berjaga-jaga jangan mereka ditimpa bala bencana, atau ditimpa azab seksa yang tidak terperi sakitnya. [al-Nur 24:63]

Bahkan orang yang enggan menerima keputusan hukum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan penuh kerelaan dan ketenangan, mungkin sahaja ia adalah tanda kecacatan iman dalam diri mereka:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

Maka demi Tuhanmu! Mereka tidak disifatkan beriman sehingga mereka menjadikan engkau hakim dalam mana-mana perselisihan yang timbul di antara mereka, kemudian mereka pula tidak merasa di hati mereka sesuatu keberatan dari apa yang telah engkau hukumkan, dan mereka menerima keputusan itu dengan sepenuhnya. [al-Nisa 4:65]

Oleh itu hendaklah berhati-hati agar jangan membezakan sama ada sesuatu perintah larangan atau hukum, sama ada berkenaan hukuman murtad atau selainnya, terkandung dalam al-Qur’an atau al-Sunnah.

Syubhat Kedua: Dalil Hukum Murtad Adalah Sebuah Hadis Ahad.

Sebelum ini terdapat satu pendapat yang berkata konon Hadis Ahad tidak dapat dijadikan dalil dalam persoalan aqidah kini muncul pula pendapat yang berkata Hadis Ahad juga tidak dapat dijadikan dalil dalam persoalan hukum hudud.[13]

Semua ini hanya alasan untuk menjatuhkan hadis daripada syari‘at Islam. Di sisi Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, Hadis Ahad menjadi dalil dalam semua persoalan agama. Ada pun perbincangan sebahagian ahli usul zaman terkemudian berkenaan peranan Hadis Ahad, sama ada ia dapat dijadikan dalil atau tidak, maka perbincangan mereka hanya ditujukan kepada Hadis Ahad yang berdiri dengan sendirinya. Sebaliknya jika Hadis Ahad tersebut memiliki pembuktian (qarinah) atau sudah terkenal dan menjadi amalan orang ramai, maka ia adalah dalil yang pasti tanpa sebarang perbincangan lagi. Imam al-Syaukani rahimahullah (1250H) menjelaskan:[14]

Ketahuilah bahawa perbezaan pendapat yang kami sebut pada awal perbahasan ini berkenaan Hadis Ahad sama ada menghasilkan ilmu yang berupa sangkaan atau kepastian, ia hanyalah berlaku apabila Hadis Ahad tersebut tidak disertai dengan pembuktian yang menguatkannya. Adapun jika ia disertai dengan pembuktian yang menguatkannya atau ia sudah masyhur atau dikenali secara terperinci, maka perbezaan tersebut tidak berlaku.

Merujuk kepada hadis-hadis berkenaan hukum murtad, ia adalah hadis yang masyhur sepanjang sejarah Islam dan para ilmuan Islam telah bersepakat untuk menjadikan dalil berdasarkannya. Berkata Syaikh Wahbah al-Zuhaili hafizhahullah ketika mengupas hukum bagi orang murtad:[15]

Ulama’ bersepakat tentang wajibnya hukuman bunuh ke atas orang murtad berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: Sesiapa yang menukar agamanya, maka bunuhlah dia.

Syubhat Ketiga: Hadis Hukum Murtad Memiliki Kelemahan.

Ada juga yang berpendapat, selain hadis hukum murtad adalah sebuah Hadis Ahad, ia juga memiliki kelemahan dalam sanadnya. Seorang penulis bernama Nawab Azam Yar Jang dalam bukunya Proposed Political, Legal and Social Reforms Under Muslim Rule, ms. 86[16] meragui kesahihan hadis “Sesiapa yang menukar agamanya, maka bunuhlah dia” dengan berkata:

……there is a gap between Ikramah and Ibn Abbas and again between the latter and the Prophet, in the chain of narrators. (Rangkaian perawinya terputus antara Ikramah dan Ibn Abbas, juga antara Ibn Abbas dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam)

Ini adalah satu penilaian yang agak aneh kerana sanad yang terdiri dari rangkaian perawi Ikrimah, daripada Ibn Abbas, daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah amat masyhur lagi jelas kesambungannya. Ikrimah adalah budak kerja Ibn Abbas manakala Ibn Abbas adalah anak saudara Rasulullah. Masing-masing saling bertemu, pernah hidup bersama dan meriwayatkan hadis dengan jumlah yang banyak.

Syubhat Keempat: Hukum Murtad Bertentangan Dengan Konsep Tiada Paksaan Dalam Agama.

Ramai yang mendakwa atau bertanya, bukankah hukum murtad bertentangan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنْ الغَيِّ.

Tidak ada paksaan dalam agama (Islam), kerana sesungguhnya telah nyata kebenaran (Islam) dari kesesatan (kufur). [al-Baqarah 2:256]

Dakwaan atau pertanyaan ini dijawab, bahawa hukuman murtad tidak memiliki apa-apa kaitan dengan ayat di atas. Ini kerana hukuman murtad tidak ditujukan kepada pilihan agama seseorang, tetapi ditujukan kepada sikap seseorang yang menzahirkan pilihannya untuk murtad dari agama Islam. Penzahiran itulah yang menyebabkan hukuman dijatuhkan bagi mengelak pilihannya itu daripada menimbulkan fitnah kepada Islam dan umatnya.

Syubhat Kelima: Hadis Arab Badwi Yang Menarik Bai‘ahnya.

Dalam Shahih al-Bukhari terdapat sebuah hadis seperti berikut:

عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعَهُ عَلَى الإِسْلاَمِ فَجَاءَ مِنْ الْغَدِ مَحْمُومًا فَقَالَ: أَقِلْنِي. فَأَبَى ثَلاَثَ مِرَارٍ. فَقَالَ: الْمَدِينَةُ كَالْكِيرِ تَنْفِي خَبَثَهَا وَيَنْصَعُ طَيِّبُهَا.

Daripada Jabir (bin ‘Abdillah) radhiallahu ‘anh, seorang Arab Badwi datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan membai‘ah baginda di atas Islam. Kemudian dia datang pada esok harinya dalam keadaan menderitai demam yang berat, lalu berkata: “Perkenankan untuk aku menarik bai‘ahku.” (Rasulullah) enggan mengembalikannya. Dia mengulangi permintaannya sebanyak tiga kali. Akhirnya Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Madinah adalah seumpama alat peniup api seorang tukang besi, ia mengeluarkan yang tidak baik dan membiarkan yang baik”.[17]

Dalam Shahih Muslim, ianya adalah seperti berikut:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ أَعْرَابِيًّا بَايَعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَصَابَ الأَعْرَابِيَّ وَعْكٌ بِالْمَدِينَةِ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ! أَقِلْنِي بَيْعَتِي. فَأَبَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. ثُمَّ جَاءَهُ فَقَالَ: أَقِلْنِي بَيْعَتِي. فَأَبَى. ثُمَّ جَاءَهُ فَقَالَ: أَقِلْنِي بَيْعَتِي. فَأَبَى. فَخَرَجَ الأَعْرَابِيُّ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا الْمَدِينَةُ كَالْكِيرِ تَنْفِي خَبَثَهَا وَيَنْصَعُ طَيِّبُهَا.

Daripada Jabir bin ‘Abdillah (radhiallahu ‘anh), bahawasanya seorang Arab Badwi membai‘ah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian dia menderitai demam yang berat di Madinah. Lalu dia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Muhammad! Perkenankan aku untuk menarik bai‘ah aku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam enggan mengembalikannya.

Kemudian dia datang lagi dan berkata: “Perkenankan aku untuk menarik bai‘ah aku.” Rasulullah tetap enggan mengembalikannya. Kemudian dia datang lagi dan berkata: “Perkenankan aku untuk menarik bai‘ah aku.” Rasulullah tetap enggan mengembalikannya. Akhirnya Arab Badwi tersebut pergi.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Madinah adalah seumpama alat peniup api seorang tukang besi, ia mengeluarkan yang tidak baik dan membiarkan yang baik”.[18]

Orang yang meragui hukum murtad berhujah, dalam hadis di atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menjatuhkan hukuman murtad ke atas Arab Badwi yang ingin menarik balik bai‘ahnya. Bahkan baginda membiarkan Arab Badwi tersebut pergi begitu sahaja.

Hujah ini ditolak dengan dua cara:

Pertama: Mungkin yang ingin ditarik balik oleh Arab Badwi tersebut adalah bai‘ahnya untuk memeluk Islam. Jika ini kesnya, maka perhatikan bahawa dia memeluk Islam hanya selama sehari tanpa sempat mendalami apa-apa ilmu berkenaan Islam. Justeru dia termasuk dalam kategori orang jahil dan di sisi Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, orang yang jahil tidak dikenakan hukuman hudud atas sesuatu jenayah yang dilakukannya. Sila rujuk risalah saya Berkenalan Dengan Ciri-Ciri Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah Dalam Pelaksanaan Hukum Jenayah.

Kedua: Mungkin yang ingin ditarik balik oleh Arab Badwi tersebut adalah bai‘ahnya untuk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berhijrah dan tinggal di Madinah. Namun sesampainya dia ke Madinah, dia jatuh sakit dan tidak sanggup menderitai ujian tersebut. Maka dia pergi berjumpa Rasulullah dan meminta untuk menarik bai‘ahnya berhijrah dan tinggal di Madinah. Rasulullah enggan mengembalikan bai‘ahnya sekali pun dia mengulangi permintaannya sebanyak tiga kali. Akhirnya dia tetap pergi jua.

Melihat yang sedemikian, Rasulullah menerangkan keistimewaan Madinah yang hanya menerima Muslim yang benar lagi teguh imannya dan mengeluarkan Muslim yang lemah imannya, munafik atau masih jahil.[19] Oleh itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menjatuhkan hukuman murtad kerana Arab Badwi tersebut tidak murtad. Dia tidak meminta untuk meninggalkan Islam tetapi sekadar untuk meninggalkan Madinah.

Syubhat Keenam: Kisah Ahli Kitab Yang Beriman Kemudian Murtad.

Orang yang meragui hukum murtad juga berhujah dengan kisah sekumpulan Ahli Kitab yang beriman pada waktu pagi, kemudian murtad pada waktu petang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menjatuhkan hukuman murtad kepada mereka. Kisah sekumpulan Ahli Kitab tersebut terdapat dalam al-Qur’an:

وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمِنُوا بِالَّذِي أُنْزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ.

Dan berkatalah segolongan dari Ahli Kitab (sesama sendiri): “Berimanlah kamu kepada al-Quran yang diturunkan kepada orang-orang yang beriman itu pada sebelah pagi dan kufurlah pada petangnya, supaya mereka (merasa ragu-ragu, lalu) kembali menjadi kafir semula.” [Ali Imran 3:72]

Hujah ini dijawab bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menjatuhkan hukuman murtad kerana sekumpulan Ahli Kitab tersebut pada asalnya tidak pernah memeluk Islam. Mereka hanya melakukan tipudaya untuk mengelirukan umat Islam dengan cara berlakon sebagai seorang Muslim pada waktu pagi dan kembali kepada agama asal pada waktu petang. Jika sekali pun hendak dikategorikan perbuatan sekumpulan Ahli Kitab tersebut sebagai murtad, ia hanya murtad dari sudut bahasa, tidak dari sudut syara’.

Syubhat Ketujuh: Pendapat Imam Ibrahim al-Nakha’e dan Imam Sufyan al-Tsauri.

Imam ‘Abd al-Razzaq rahimahullah (211H) dalam kitabnya al-Musannaf, jld. 10, ms. 166, riwayat no: 18697 telah mengemukakan pendapat seorang tokoh al-Salaf al-Shalih yang bernama Imam Ibrahim al-Nakha’e rahimahullah (95H) bahawa orang yang murtad diminta untuk bertaubat selama-lamanya. Ini juga merupakan pendapat Imam Sufyan al-Tsauri rahimahullah (161H). Pendapat kedua-dua tokoh ini dijadikan hujah oleh mereka yang meragui hukum murtad, bahawa orang yang murtad hanya diminta untuk bertaubat tanpa dijatuhkan hukuman bunuh.

Pendapat kedua-dua tokoh al-Salaf al-Shalih di atas telah dianalisa oleh para tokoh terkemudian. Jika hendak difahami secara zahir, sebagaimana ulas Imam Ibn Qudamah rahimahullah (620H), ia adalah pendapat yang menyelisihi sunnah dan ijma’.[20] Melainkan yang dimaksudkan oleh kedua-dua tokoh tersebut adalah, orang yang murtad ditangguhkan hukumnya selagi mana ada harapan untuk dia bertaubat. Demikian jelas Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah rahimahullah (728H).[21] Jika tiada harapan untuk bertaubat, hukuman bunuh tetap dijatuhkan.

Syubhat Kelapan: Murtad Masuk Dalam Kategori Takzir Dan Bukan Hudud.

Orang yang ingin menabur kesamaran dalam hukuman murtad juga berhujah bahawa terdapat sebahagian ilmuan Islam yang meletakkan jenayah murtad dalam kategori takzir dan bukannya hudud.

Hujah ini dijawab, bahawa:

1. Hukuman takzir tersebut hanya merujuk kepada jenayah murtad dalam Kategori Kedua.
2. Hukuman takzir tersebut hanya dalam tempoh sementara menunggu orang murtad tersebut bertaubat dan kembali kepada Islam. Sementara menunggu dia bertaubat, hakim boleh menjatuhkan hukuman takzir seperti mewajibkan kaunseling, kuarantin, penjara dan sebagainya. Akan tetapi setelah berlalunya tempoh tertentu dan dia masih enggan bertaubat atau tiada harapan untuk bertaubat, maka hukuman bunuh (hudud) tetap dijatuhkan.

Antara tokoh yang dikatakan meletakkan jenayah murtad dalam kategori takzir ialah Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah. Ini kerana dalam tulisannya Siyasah al-Syar‘iyyah fi Islah al-Ra‘iy wa al-Ra‘iyyah[22] beliau telah meletakkan perbincangan berkenaan jenayah murtad dalam bab Kemaksiatan-kemaksiatan yang baginya tiada hukuman tertentu dan kafarah (jld. 28, ms. 343). Sekali pun demikian, ketika menyentuh berkenaan jenayah murtad dalam bab tersebut (jld. 28, ms. 347), beliau berkata:

……orang yang murtad diminta bertaubat sehingga kembali kepada Islam. Jika bertaubat, dia diterima kembali dan jika tidak maka dibunuh.

Justeru sekali lagi ditegaskan, hukuman takzir yang dimaksudkan hanya dalam tempoh sementara menunggu orang murtad tersebut bertaubat dan kembali kepada Islam. Jika dia enggan bertaubat, maka hukuman hudud tetap dilaksanakan.
_____________________________________________________________________________________

[1] Lebih lanjut tentang kerumitan yang saya maksudkan, rujuk buku saya Marilah Berkenalan Dengan Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah dalam bab berkenaan politik, terbitan Jahabersa, Johor Bahru, 2007.

[2] Arieff Salleh Rosman – Murtad Menurut Perundangan Islam (Univ. Teknologi Malaysia, Skudai, 2001), ms. 7.

[3] Arieff Salleh Rosman – Murtad Menurut Perundangan Islam, ms. 7.

[4] Jinayat al-Riddah wa ‘Uqubah al-Murtad fi Dhau’i al-Qur’an wa al-Sunnah (edisi terjemahan oleh Zaharan Mohamed & Mohd. Akhir Yaacob atas judul Jenayah Murtad dan Hukumannya Menurut Perspektif al-Qur’an dan al-Sunnah (Rmi Multimedia, Shah Alam, 2000), ms. 56.

[5] Sahih: Dikeluarkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak, hadis no: 7615 (Kitab al-Taubah wa al-Inabah) dan beliau berkata: “Hadis ini sahih atas syarat kedua-dua syaikh (al-Bukhari dan Muslim) dan mereka tidak mengeluarkannya.” Ini dipersetujui oleh al-Zahabi.

[6] Sahih: Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya, hadis no: 6922 (Kitab Istitabah al-Murtaddin… Bab hukum lelaki yang murtad dan wanita yang murtad).

[7] Syaikh Abu Malik Kamal bin al-Sayyid Salim – Shahih Fiqh al-Sunnah wa Adillatuh wa Taudih Mazahib al-A’immah (edisi terjemahan oleh Khairul Amru & Faisal Saleh atas judul Shahih Fiqh al-Sunnah; Pustaka Azzam, Jakarta, 2007), jld. 4, ms. 262-266

[8] Shahih Fiqh al-Sunnah, ms. 266.

[9] Rujuk riwayat-riwayat tersebut dalam al-Musannaf karya Imam Abd al-Razzaq (tahqiq: Habib al-Rahman al-‘Azhami; al-Maktab al-Islami, Beirut, 1983), jld. 10, ms. 164 dan seterusnya (Bab berkenaan kafir sesudah iman).

[10] Sahih: Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya, hadis no: 6878 (Kitab al-Diyat, Bab firman Allah: “Jiwa dibalas dengan jiwa”).

[11] Sahih: Dikeluarkan oleh Abu Daud dalam Sunannya dan ia dinilai sahih oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud, hadis no: 4353 (Kitab al-Hudud, Bab hukuman bagi orang yang murtad).

[12] Al-Tasyri’ al-Jina’i al-Islami Muqarinan bi al-Qanun al-Wad’i (edisi terjemahan oleh Zakir Aijaz atas judul Criminal Law of Islam; Kitab Bhavan, Delhi, 1999), jld. 3, ms. 58-59.

[13] Lebih lanjut berkenaan Hadis Ahad, rujuk risalah saya Kedudukan Hadis Ahad: Dari Zaman Awal Islam Sehingga Kini yang dimuatkan dalam buku Himpunan Risalah Dalam Beberapa Persoalan Ummah (Buku 1) terbitan Jahabersa, Johor Bahru.

[14] Irsyad al-Fuhul ila Tahqiq al-Haq min ‘Ilm al-Usul (tahqiq: Muhammad Hasan bin Muhammad; Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut 1999), jld. 1, ms. 203-204.

[15] Fiqh al-Islami wa Adillatuh (edisi terjemahan oleh Ahmad Shahbari Salamon atas judul Fiqh dan Perundangan Islam; Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1997) jld. 6, ms. 178.

[16] Sebagaimana dikemukakan oleh S.A. Rahman dalam bukunya Punishment of Apostasy in Islam (Kitab Bhavan, Delhi, 1996), ms. 64. Rahman kemudian menolak hujah ini dengan berkata: “This may not perhaps appeal to many as a solid ground for rejection of the hadith which figures in several well known compilations”. Mohammad Hashim Kamali dalam bukunya Freedom of Expression In Islam (Ilmiah Publishers, Kuala Lumpur, 1998), ms. 93 berkata: “Rahman finds some weakness in its transmission (isnad).” Ini adalah satu kesilapan kerana yang mendakwa wujudnya kelemahan adalah Nawab Azam Yar Jang. Rahman hanya menukil dakwaan tersebut, bahkan setelah itu menolaknya.

[17] Sahih: Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya, hadis no: 1883 (Kitab al-Haj, Bab Madinah mengeluarkan yang tidak baik).

[18] Sahih: Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahihnya, hadis no: 1383 (Kitab al-Haj, Bab Madinah mengeluarkan yang buruk darinya).

[19] Kemungkinan kedua inilah yang lebih kuat kerana ia dikemukakan al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah (544H) dalam Ikmal al-Mu’lim bi Fawa‘id Muslim (tahqiq: Yahya Ismail; Dar al-Wafa’, Kaherah, 1998), jld. 4, ms. 500. Juga secara ringkas oleh Imam al-Nawawi rahimahullah (676H) dalam al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj (Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, Beirut), jld. 5, ms. 276-277 dan al-Hafiz Ibn Hajar al-‘Asqalani rahimahullah (852H) dalam Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari (edisi terjemahan oleh Amiruddin atas judul yang sama; Pustaka Azzam, Jakarta, 2004), jld. 4, ms, 394.

[20] al-Muqhni (Dar al-Fkr, Beirut, 1997), jld. 10, ms. 75 (Kitab al-Murtad, masalah no: 7086).

[21] Dr. Shalah al-Shawi – Taqrib al-Sharim al-Maslul ‘ala Syatim al-Rasul li Syaikh al- Islam Ibn Taimiyah (edisi terjemahan oleh Ghunaim Ihsan & Ali Ma’mun atas judul Pedang Terhunus: Hukuman Mati Bagi Pencaci Maka Nabi s.a.w.; Griya Ilmu, Jakarta, 2006), ms. 241.

[22] Sebagaimana dalam Majmu’ al-Fatawa (Dar al-Wafa, Kaherah, 2001), jld. 28, ms. 244 dan seterusnya.

http://zakieusof.blogspot.com/2011/08/apa-itu-murtad.html

Assalamualaikum  &  Selamat  Pagi,

FURMAN ALLAH SWT YANG BERMAKNA

SESUNGGUHNYA KAMU TIDAK AKAN DAPAT MEMBERI PETUNJUK KEPADA ORANG YANG KAMU KASIHI, TETAPI ALLAH MEMBERI PETUNJUK KEPADA ORANG YANG DIKEHENDAKI-NYA, DAN ALLAH LEBIH MENGETAHUI ORANG-ORANG YANG MAU MENERIMA PETUNJUK. Surah Al-Qasas : 56

Mohon  Kunjungi Blog Kami Untuk Mendapat Maklumat Tentang  Al-Quran Mendahului Sains  Dan Lebih 80 Blog Gerbang Ilmu Agama Terbaik :

PERINGATAN DARI ILAHI (IV) – RINGKASAN KITAB TANBIHUL GHAFILIN

https://jipskelantan88695409.wordpress.com/2020/09/13/peringatan-dari-ilahi-iv-ringkasan-kitab-tanbihul-ghafilin/

Sama2 Kita Berkongsi Pahala Jariah Dengan Menyebarkan Bahan2 Agama Yang Bermanfaat, Mohon Para Sahabat Follow Blog Kami Dan Beri Pandangan Berguna, Terima Kasih.

Create your website with WordPress.com
Get started