RAMALAN KEDATANGAN NABI MUHAMMAD DI DALAM ALKITAB

RAMALAN KEDATANGAN NABI MUHAMMAD DI DALAM ALKITAB

Ramalan Kedatangan Nabi Muhammad dalam Alkitab
Alkitab sudah meramalkan tentang kedatangan Nabi Muhammad dengan ciri-ciri yang  sangat jelas. Tapi ramalan itu dengan segala upaya dihilangkan dari alkitab atau ramalan itu disamarkan agar tidak jelas lagi kalau ramalan itu ditujuhkan untuk nabi Muhammad. Kemudian pihak Kristen membelokan ramalan itu seolah-olah ditujuhkan untuk pribadi Yesus walaupun dengan kalimat yang sangat janggal dan aneh. Apapun usaha pihak Kristen untuk menutupi kebenaran, namun ramalan-ramalan dari alkitab itu masih tersimpan dengan baik. Dibawah ini kita coba menjelasan ramalan tersebut satu persatu. Pertama-tama, mari kita mulai dari Abraham (Ibrahim A.S.). Nabi Abraham A.S. (Ibrahim A.S.) adalah nabi yang dikenal oleh umat Yahudi, Kristen, dan Muslim. Itulah mengapa sebagian orang menjulukinya “Ayah dari 3 kepercayaan Abrahamic.” Dan Abraham disebutkan berulang kali di dalam Al-Qur’an dan agamanya disebut sebagai agama yang benar. Jadi agama Abraham (Ibrahim A.S.) dan Abraham sendiri, merupakan suri tauladan yang baik bagi kita sehingga kita lebih bertakwa kepada Tuhan.
Dalam Bible, di dalam Kitab Kejadian disebutkan salah satu kisah tentang Nabi Abraham. Ayatnya adalah:”Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.“(Kejadian 12:2-3)
Sebuah ayat yang sangat menarik. Sebelum Abraham punya anak, Tuhan berjanji bahwa Dia akan memberkati Abraham (Ibrahim A.S.), memberkati orang-orang yang memberkati Abraham, dan seluruh keluarga di bumi akan diberkati melalui Abraham.
Pertama-tama, lihatlah kehormatan besar yang telah Tuhan berikan kepada kekasih-Nya, Abraham. Sebagaiman Alqur’an juga menyatakan bahwa Abraham adalah Khalif Allah, seperti kekasih Allah S.W.T. Bahkan disebutkan bahwa dialah satu-satunya orang yang benar-benar beriman kepada Tuhan selama dia hidup, meskipun dia sendirian dan tak ada orang lain kecuali istrinya Sarah, saudara sepupunya Luth dan Hagar, dan anaknya.
Ketika Tuhan berfirman tentang “kebesaran”, kebesaran tidak berarti hanya dalam jumlah penduduk suatu bangsa. Kebesaran dan keagungan dalam kriteria Tuhan berarti sebuah bangsa yang mematuhi Tuhan dan mengikuti ajaran-Nya. Inilah yang membuat seseorang menjadi mulia di mata Tuhan. Inilah mengapa Abraham (Ibrahim) begitu terhormat, karena dia begitu patuh kepada Sang Pencipta. Dan inilah mengapa Tuhan memberi kehormatan dan membuatnya mashyur hingga hari ini. Jadi ketika Tuhan berfirman kepada Abraham “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar” itu berarti dia akan membuat bangsa itu besar karena kepatuhan dan ketaatan mereka terhadap Tuhan.
Hal ini menarik karena Tuhan berfirman “engkau akan menjadi berkat” dan “Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau.” Jadi aku ingin bertanya kepada para pembaca yang beragama Kristen. Siapakah orang-orang yang memberkati Abraham? Salah satu yang muslim ucapkan dalam shalatnya adalah “Allahumma shalli ala Muhammad wa ala ali Muhammad. Kama shalaita ala Ibrahim wa ala ali Ibrahim. Innaka hamidun majid.” Artinya “Ya Allah, berikanlah kesejahteraan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan kesejahteraan kepada Ibrahim dan kepada keluarga IbrahimSesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” 
Jadi lima kali dalam sehari ketika shalat, kami sebagai umat muslim mengirimkan salam kepada Abraham dan keluarga Abraham. Dan Tuhan berfirman bahwa Dia akan memberkati mereka yang memberkati Abraham dalam Kitab Kejadian ayat 12:2-3. Dan kurasa tidak ada umat yang memuji Abraham (Ibrahim A.S.) sebanyak yang muslim lakukan, bahkan ketika kami mendengar dan mengucapkan nama Abraham, setelahnya kami ucapkan Alaihissalam yang berarti “Semoga salam sejahtera senantiasa dilimpahkan Allah kepadanya.
Dan hal ini sangat penting, untuk memahami kejadian ketika istri Abraham melahirkan dua orang anak. Abraham mempunyai dua anak, yang satu adalah Ishmael (Ismail A.S.) dan yang satunya lagi adalah Isaac (Ishaq A.S.). Dan anak pertama Abraham adalah Ishmael (Ismail A.S.) yang berasal dari istrinya, yaitu Hagar (Siti Hajar). Jadi Ishmael adalah anak pertama dari Abraham.
Dan dalam Kitab Kejadian 17 : 4 difirmankan …..Inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.”  (Bible: Kejadian 17:4)
Dan dalam Kitab Kejadian 21:13 Tuhan Menjanjikan “Begitu juga kepada anak budak perempuan (bondwoman) akan Kuberikan banyak anak cucu supaya mereka menjadi suatu bangsa. Sebab ia anakmu juga.” (Bible: Kejadian 21:13)
Mari kita baca lagi Kitab Kejadian 21:13 “Begitu juga kepada anak budak perempuan (bondwoman).” Budak perempuan itu adalah Hagar (Siti Hajar). Dia adalah seorang budak dari Sarah, dan Sarah memberikan Hagar kepada Abraham untuk dinikahinya. Dari pernikahan itu lahirlah Ishmael. Dan Tuhan berfirman dalam Kitab Kejadian 21:13 “Begitu juga kepada anak budak perempuan (bondwoman) akan Kuberikan banyak anak cucu supaya mereka menjadi suatu bangsa sebab ia anakmu juga.” Dan lagi dalam Kitab Kejadian 21:18 “Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar.” (Bible: Kejadian 21:18)
Dan sudah dikenal bahwa orang Arab adalah saudara Ishmael (Ismail A.S.). Bahkan, Bible menyebut orang-orang Arab sebagai Ishmaelites. Para Ishmaelite adalah orang-orang Arab. Jadi orang Arab adalah sepupu dari Bani Israel. Dan menurut Alqur’an, Ishmael adalah Nabi Tuhan, Abraham bersama Ishmael-lah yang membangun Ka’bah bersama-sama sebagai tempat untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Jadi tampaknya Yesus meramalkan bahwa masa lalu dari Bani Israel, batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan, berarti nyatanya Ishmael akan menjadi landasan, seseorang yang menyatukan monoteisme (penyembahan terhadap Tuhan Yang Maha Esa). Karena orang-orang Yahudi menolak Yesus sebagai penyelamat mereka, dengan begitu 10 Perintah Allah berakhir dan diwariskan kepada saudara Ishmael. 
Dan pada zaman Yesus, tampak sangat jelas menurut gospel bahwa para Yahudi mengharapkan 3 orang nabi yang akan datang dan karenanya mereka bertanya kepada Yohanes Pembabtis dalam Kitab Yohanes dalam 1:21“Apakah kau Kristus?” Apakah kau Elia? Apakah kau nabi itu?” (Bible: Yohanes 1:21)
Jadi sangat jelas 3 nabi yang mereka tanyakan adalah “Sang Messiah, sang Elia yang seharusnya datang lagi, dan sang nabi.” Dan tentu Yesus adalah seorang messiah. Yesus juga mengatakan bahwa Yohanes Pembabtis adalah Elia. Jadi ada satu lagi yang belum datang yaitu “Nabi itu.
Nabi Itu Merujuk Kepada Ramalan dalam Kitab Ulangan Bab 18 : 18 “Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik. Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.”  (Bible: Ulangan 18:18)
Dalam ayat di atas, Tuhan berbicara kepada Musa bahwa Dia akan mengirimkan seorang nabi, yang mirip seperti Musa, yang taat pada Tuhan. Bagi orang-orang yang tidak mengikutinya, maka Tuhan akan meminta pertanggung jawaban dari mereka dan Tuhan akan membalas dendam pada orang-orang itu. Jadi sangat jelas “Nabi itu” yang mereka harapkan. Jadi messiah telah datang, Elia telah datang, tapi tinggal satu lagi yang belum datang yaitu “Nabi itu.”
Siapa nabi itu yang telah diramalkan di 18:18? Dikatakan bahwa “Dari saudara mereka.” Siapa saudara dari Bani Israel? Kita dapat mengetahuinya dari Kitab Kejadian 16:12 dan juga Kitab Kejadian 25:18. Semua ayat ini mengacu kepada Israelites (Bani Israel) sebagai saudara dari Ishmaelites.
Dan dalam kamus Bahasa Ibrani Bible, dijelaskan bahwa :“saudara ” berarti sekumpulan orang yang mengacu pada kerabat dekat dari Israelites (Bani Israel).
Mari kita baca Collins Dictionary of the Bible, ini adalah buku yang sangat menarik. Mari baca apa yang dikatakan di sini “Sebagai negarawan dan pembuat hukum, Musa-lah yang membangkitkan orang-orang Yahudi. Dia menemukan komunitas orang-orang Semitik yang lemah dan hanya menjadi budak, yang pengetahuan agamanya dalam keadaan bingung. Dia membuat mereka bangkit dan membentuk mereka menjadi bangsa dengan hukum, rasa kebangsaan, dan rasa sebagai orang-orang pilihan Tuhan yang Maha Kuasa. Satu-satunya orang dalam sejarah yang bisa dibandingkan dengan Musa adalah Muhammad. (Collins Dictionary of the Bible)
Pernyataan yang menakjubkan! Satu-satunya orang yang dapat disamakan dengan Musa adalah Muhammad.
Dari saudara dari Israelites, dia akan membangkitkan seorang nabi. Setiap kali Alqur’an memulai surat baru, dimulai dengan ucapan “Bismillahirrahmanirrahim” (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang) dan yang dikatakan Kitab Ulangan 18:18 “Dia akan menyebut nama-Ku, firman yang Kuucapkan, dia akan mengucapkannya.” Alqur’an berfirman bahwa Nabi Muhammad tidak pernah bersabda dari hasratnya sendiri, dia tidak berbicara dari pikirannya,  kecuali dari wahyu yang diturunkan Allah, tepat seperti yang telah diramalkan dalam Kitab Ulangan 18:18. 
Tentu Saja Yesus Tidak Seperti Musa. Berikut Ini Adalah Kemiripan Antara Muhammad dan Musa :1.  Yesus terlahir tanpa seorang ayah dan ini merupakan sebuah mukjizat, namun Muhammad dan Musa sama-sama mempunyai ayah. 2.     Yesus diasuh oleh ibunya, tapi Musa dan Muhammad sudah tak punya ibu   sejak masih kecil.3.      Yesus adalah pengikut dari hukum mosaic, dimana Musa membawa hukum baru dan Muhammad S.A.W. juga membawa hukum yang baru. 4.       Musa terasing dan Muhammad juga terasing.5.   Musa merupakan pemimpin dari kaumnya dan juga seorang nabi. Muhammad juga pemimpin dari kaumnya dan seorang nabi.6.  Musa merupakan saudara Ishmaelites. Begitu juga Muhammad yang merupakan saudara Ishmaelites. 
Jadi ketika kita membandingkan antara Musa dan Muhammad, maka kita tahu bahwa kedua nabi ini begitu mirip. Mereka sama-sama berdakwah bahwa hanya ada satu Tuhan, Tuhan tidak seperti ciptaan-Nya, dan kau seharusnya tunduk pada hukum Tuhan. Inilah yang Musa ajarkan, inilah yang Muhammad ajarkan, dan Yesus juga mengajarkan demikian.
Tentu saja ada beberapa ahli kitab, Rabbi, pendeta Kristen, yang mengenali Muhammad S.A.W. bahwa dia adalah utusan dan rasul terakhir. Mari kita lihat Yesaya, kitab Yesaya 29:12 dalam bible. Tertulis disini:
dan ketika kitab itu diberikan kepada dia yang tidak dapat membaca dengan mengatakan: “Baiklah baca ini,” maka ia menjawab: “Aku tidak dapat membaca.” (Yesaya 29:12)
Ayat ini begitu luar biasa. Nabi Muhammad S.A.W. tidak dapat membaca dan tidak dapat menulis. Dia tidak belajar kitab suci, tidak seperti Yesus yang tumbuh bersama rabbi dan bahkan pada usia muda dia membuat kagum orang-orang dengan pengetahuan hukumnya. Tapi Muhammad hidup di dataran Arab, sebuah tanah pagan. Orang-orang tidak tahu tentang kitab suci kecuali beberapa suku Yahudi.Nabi Muhammad dijuluki ummi yang berarti tidak berpendidikan. Jadi sama persis seperti yang Bible katakan bahwa buku (salah satu nama Al-Qur’an adalah al-kitab yang berarti buku), diberikan kepada dia yang tidak bisa membaca (ummi) dengan mengatakan: “Baca ini” (Iqra). Ayat paling pertama yang Allah wahyukan kepada Nabi Muhammad S.A.W. seperti adalah Iqra yang berarti baca. 
Malaikat Gabriel (Jibril) datang kepada Nabi Muhammad S.A.W. ketika dia bermeditasi di Gunung Jabbal Nur dekat kota Mekkah. Dia duduk disana untuk menenangkan pikiran dari masalah yang menerpa penduduk Mekkah, yaitu masalah politeisme (menyembah berhala), dia pergi ke sana untuk memikirkan Tuhan. Pada bulan Ramadhan di saat Nabi Muhammad berumur 40 tahun, Malaikat Gabriel datang dan berkata “Iqra” (bacalah) namun Rasulullah berkata “Aku tidak bisa baca.” Sekali lagi malaikat Gabriel menyuruhnya membaca, tapi kali ini dia mencengkramnya dan Nabi Muhammad tetap mengatakan “Aku tidak bisa baca.” Kemudian malaikat Gabriel mencengkramnya lebih kuat dan mengatakan “Iqra” (bacalah). Nabi Muhammad berkata “Apa yang harus kubaca?” Inilah persis seperti yang dikatakan dalam Yesaya 29:12. 
Juga di dalam Yesaya dalam 42:1-13, aku tidak akan membaca semuanya tapi hal itu menunjukkan tentang seseorang yang dicintai Tuhan dan dia disebutkan sebagai keturunan Kedar. Kedar adalah anak kedua dari Ishmael, nenek moyang Nabi Muhammad S.A.W. Tampak sangat jelas dari pernyataan ini, bahwa orang-orang Yahudi sedang menunggu akan seorang Nabi yang akan muncul dari Bani Israel yang merupakan keturunan Kedar. Nabi ini akan membawa hukum Tuhan dan dia seperti Musa.
Lalu, apakah ada nubuat tentang kedatangan Nabi Muhammad dalam Gospel? Sebenarnya ada sebuah ayat, dan ayat ini terasa kontroversial bahkan di kalangan orang-orang Kristen sendiri. Ini ada dalam Gospel Yohanes 14:16 yang berbunyi:“Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu Penolong lain, yang akan tinggal bersama kalian untuk selama-lamanya.” (Yohanes 14:16)
Jadi kata-kata aslinya dalam Bahasa Yunani adalah Paracletos. Lalu kata ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “penolong.” Ada perbedaan pendapat tentang apakah makna sebenarnya dari kata ini? Tapi beberapa sarjana Kristen mengatakan bahwa kata itu dalam Bahasa Aramik berarti Ahmad. Ahmad sebuah julukan yang diberikan kepada Nabi Muhammad di dalam Alqur’an. Dan sebenarnya kata Ahmad dalam Bahasa Aramik berarti penolong atau sama dengan Bahasa Yunani “Paracletos“. Dan sangat menarik karena disebutkan bahwa “Dia akan tinggal bersama kalian untuk selama-lamanya.” Setelah Penolong terakhir ini datang, maka tidak ada lagi Penolong yang lain.
Mari Lihat dalam Yohanes 15:26 “Aku akan mengutus kepadamu Penolong yang berasal dari Bapa. Dialah Roh yang akan menyatakan kebenaran tentang Allah. Apabila Ia datang, Ia akan memberi kesaksian tentang Aku” 
Dengan kata lain, Nabi Muhammad bersaksi tentang Yesus (Nabi Isa) persis seperti yang ada di dalam Al-Qur’an. Dan Allah menetapkan bahwa kita tidak bisa menjadi seorang muslim kecuali mengimani para rasul termasuk Yesus (Nabi Isa), karena dia adalah seorang Rasul Tuhan dan seorang messiah bagi Bani Israel, berbeda dengan pemahaman orang Kristen yang menganggapnya sebagai Tuhan atau anak Tuhan. 
Dan di dalam Yohanes 14:26 Tertulis :“tetapi Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam namaku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah kukatakan kepadamu.”
Dan dalam Yohanes 16:7-14 Tertulis :“Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika aku pergi. Sebab jikalau aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau aku pergi, aku akan mengutus Dia kepadamu. Kalau Ia datang, Ia akan menyatakan kepada dunia arti sebenarnya dari dosa, dari apa yang benar, dan dari hukuman Allah.” 
Beberapa umat Kristen mengatakan bahwa sang penolong adalah Roh Kudus. Tapi ini tidak benar karena Yesus berkata “Jikalau aku tidak pergi, penolong itu tidak akan datang” sedangkan Roh Kudus mendampingi Yesus dan murid-muridnya. Jadi Penolong itu bukanlah Roh Kudus. 
Sedangkan umat Muslim meyakini bahwa Roh Kudus adalah Malaikat Gabriel (Malaikat Jibril). Ruhul Qudus adalah Roh Kudus. Ruh = Roh, Qudus=Kudus. Malaikat Jibril adalah malaikat penyampai wahyu. Jadi wahyu yang baru/Roh Kudus tidak akan datang, kecuali kalau Yesus telah tiada. Jadi Yesus harus pergi agar penolong Muhammad S.A.W. datang.
Dan dikatakan “Kalau ia datang, ia akan menyatakan kepada dunia arti sebenarnya dari dosa, dari apa yang benar, dan dari hukuman Allah. Akan dosa, karena mereka tidak percaya kepada-Ku” yang berarti mereka tidak percaya kepada Yesus sebagai messiah sebagaimana diramalkan dalam alkitab. “Akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak akan melihat aku lagi.” 
Dengan kata lain, jika tidak ada rasul yang diutus, maka manusia akan kehilangan arah. “Tetapi apabila ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab ia tidak akan berkata-kata dari dirinya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarnya itulah yang akan dikatakannya.” Apakah kalian ingat yang tertulis dalam Ulangan 18:18, bahwa “Ia tidak akan berkata-kata dari dirinya sendiri, dia tidak berbicara oleh kemauannya sendiri, dia berbicara dari apa yang diwahyukan kepadanya.” Yesus terus mengulang-ulang kata itu. “Dan dia akan menunjukkanmu hal-hal yang akan datang” yang berarti nubuat-nubuat Nabi Muhammad tentang masa depan. “Ia akan memuliakan Aku”  yang berarti dia akan berbicara jujur tentang siapa Yesus yang sebenarnya “Sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari padaku.”
Rudolf Bultmann, dalam bukunya “Gospel of John: A Commentary” menulis:“Paraclete (penolong) adalah figur yang sama dengan Yesus. Dan hal ini sendiri mengkonfirmasi kesimpulan bahwa bukti-buktinya cocok untuk keduanya (baik untuk Yesus maupun “penolong”), jadi dia pasti seperti Yesus. Dan sangat jelas dari Yohanes 14:16, bahwa akan ada 2 paraclete, yaitu Yesus dan orang setelahnya.” 
Jadi gambaran sang Penolong begitu cocok dengan Nabi Muhammad S.A.W. Siapa lagi Penolong yang lain setelah Yesus? Pasti Nabi Muhammad, karena hanya nabi Muhammad yang memuliakan Yesus, hanya Nabi Muhammad yang membela Yesus. Dan hanya didalam Al-Qur’an ada ayat-ayat Tuhan yang menceritakan tentang Yesus dan Ibundanya.

http://mujahidah213.blogspot.com/2015/03/ramalan-kedatangan-nabi-muhammad-di.html

Hadiah di Balik Musibah

وَأَصْبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَىٰ فَارِغًا ۖ إِنْ كَادَتْ لَتُبْدِي بِهِ لَوْلَا أَنْ رَبَطْنَا عَلَىٰ قَلْبِهَا لِتَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Al Qasas: 10

Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah).

Al Qasas:10

Kisah yang menjadi contoh dalam ulasan materi kali ini adalah ujian yang dialami oleh ibunda Nabi Musa As, bagaimana ia menghadapinya, dan bagaimana Allah Swt. membimbing ibu Nabi Musa As. dalam menghadapi ujian. Satu pengalaman personal saya berkaitan dengan kisan Nabi Musa As. adalah keyakinan baru tentang Al Quran. Ustaz Nouman menyebut mayoritas kisah-kisah yang terdapat dalam Al Quran adalah “celebrating the story of Musa As.” Masyaallah, dari kalimat ini saja saya sudah menjadi tercengang. Pilihan katanya membuat saya mulai belajar mencintai kisah dalam Al Quran yang terkadang berlalu begitu saja ketika dibaca. Kemarin dan hari ini saya membaca Al Quran Juz 16 s.d. Juz 20, di dalamnya sambung-menyambung kisah Nabi Musa As. bersama sang ibu. Serpihan kisah ini membuat saya mengubah keyakinan bahwa nabi umat Islam adalah Muhammad Saw. Kini saya sadar dan yakin bahwa Nabi Musa As. adalah nabi umat Islam. Dulu, sejak kecil, setelah diajari 25 nabi, saya hanya percaya tentang nabi-nabi tersebut. Saya hanya mengenali nama mereka dan beberapa kisah yang dipilih dan diajarkan dalam buku kisah pada pelajaran agama Islam di sekolah. Dengan kajian Ustaz Nouman mengenai ayat-ayat kisah para nabi, keyakinan -keimanan- muncul.

Keyakinan saya terhadap Al Quran sebagai kitab terakhir penyempurna kitab-kitab lain pun semakin kuat. Dari sisi sejarah dan sains, sebagai kitab yang diturunkan terakhir oleh Allah Swt., Al Quran memuat kisah para nabi terdahulu untuk menepis kisah-kisah palsu yang diyakini oleh penganut agama sebelum Islam yang telanjur mendapatkan kitab yang sudah ditambah-tambahkan di sana-sini pada masa sekarang sampai akhir zaman kelak. Salah satu penyebab di dunia ini masih eksis agama selain Islam adalah keterputusan pembelajaran terhadap kitab-kitab asli terdahulu yang diwahyukan kepada para nabi sebelum Nabi Muhammad Saw. Al Quran juga menjadi penjelasan bahwa kisah para nabi yang ada di dalamnya merupakan contoh yang dapat diteladani pada kehidupan saat ini.

Al Quran berbahasa Arab tetapi tokoh di dalamnya tidak semuanya murapakan orang Arab. Nabi Musa As., Nabi Yusuf As., dan Nabi Isa As. misalnya, mereka adalah bani Israil. Sebuah golongan yang saat ini Zionisnya sangat saya benci. Teh Een (Al Hafizah), teman saya yang mengambil kepakaran Ulumul Quran menyebut, kata-kata dalam Al Quran tidak semuanya berbahasa Arab. Ada juga kata-kata serapan dari bahasa Ibrani dan mungkin bahasa lain yang tidak saya ketahui. Ini make sense buat saya karena alasan di atas, tidak semua tokoh berasal dari Arab. Fakta ini pun menguatkan Al Quran sebagai kitab yang diperuntukkan bagi siapapun manusia dari suku mana pun sampai akhir zaman kelak. Ini kitab bukan perkataan Muhammad Saw., bukan kitabnya orang Arab, bukan artevak kebudayaan Arab. Kitab ini adalah perkataan Allah Swt. yang disampaikan untuk manusia melalui Rasulullah Saw.

KISAH IBU NABI MUSA AS DAN POSPARTUM DEPRESSION

Tugas ulasan pada matrikulasi NAK Indonesia kali ini merupakan jawaban Allah Swt. terhadap kegelisahan saya sejak dua tahun lalu. Kuncinya pertama adalah: kalau ingin mencari kisah kasih sayang seorang ibu pada anaknya, jangan dicari pada kisah Yusuf As. carilah pada kisah Musa As. Pelajaran tentang kehamilan dan melahirkan dapat kita temukan pada kisah Maryam As. Maryam As. mengajarkan bagaimana perjuangan mempertahankan kehamilan dan melahirkan secara normal di tengah fitnah masyarakat. Namun, pelajaran pascamelahirkan yang lebih lengkap dapat kita temukan pada kisah ibu Nabi Musa As. terutama bagi para ibu yang mengalami postpartum depression (depresi pascamelahirkan).

Mengapa seorang ibu mengalami depresi pascamelahirkan? Salah satu pencetusnya adalah ketika ia tidak dapan melakukan boanding secara cepat dengan anaknya akibat beberapa hal. Misal: akibat operasi caesar, anak kuning dan harus disinar di ruang inkubator, atau ada pihak yang mengambilnya. Seorang ibu yang baru melahirkan dan gagal mengeluarkan oksitosin (hormin cinta) saat melahirkan rawan terkena depresi. Saat melahirkan normal, ketika bayi lahir, hormon oksitosin “membanjiri tubuh ibu” dan kemungkinan besar ASI akan mudah keluar. Sebaliknya, apabila ibu tidak berhasil melahirkan normal, hormon oksitosin tidak keluar, ASI pun akan terhambat pengeluarannya. Ini yang saya alami ketika melahirkan anak pertama. Ditambah lagi pascamelahirkan, setiap anak saya menangis, dia selalu serta-merta diambil oleh neneknya. Pada pekan pertama melahirkan, saya bahkan tidak memahami tangisan bayi saya. Padahal, walaupun berisik, pada hakikatnya tangisan itulah yang ditunggu-tunggu oleh seorang ibu setelah melahirkan. Mungkin karena manusia awam menganggap tangisan sebagai sesuatu yang mengganggu, ibu saya mengambil bayi saya ketika ia menangis. Padahal meredakan tangisan anak merupakan salah satu cara seorang ibu membangun kelekatan dengan anak. Hilangnya kesempatan untuk melakukan kelekatan dengan anak membuat saya mengalami depresi. Sederhananya begini: kita sering atau pernah menemukan induk binatang yang baru melahirkan bukan? Tiga binatang yang paling akrab dengan kehidupan manusia: anjing, kucing, dan ayam. Binatang tersebut apabila anaknya diambil atau didekati, mereka akan bereaksi cepat dan sangat galak. Nah, menurut saya, insting ini pula yang dimiliki oleh seorang ibu yang baru melahirkan. Ia ingin anaknya selalu berada di sisinya.

Lantas, apa sih yang terjadi pada mental ibu saat depresi pascapersalinan: hati dan pikiran yang kosong. Bayangkan, ketika tubuhnya selesai operasi caesar -yang baru dapat pulih total setelah 3 bulan- seorang ibu akan merasa tidak berdaya. Kemudian saat anaknya diambil dari pangkuannya, ia masih kesulitan bergerak untuk mempertahankan anaknya. Lalu yang mengambil anaknya adalah ibunya atau ibu mertuanya. Hal yang ada dipikiran sang ibu: sudahlah jangan baper, kamu tidak bisa dan tidak pantas untuk melawan dan menganggap bahwa pengambilan anak itu sebagai sesuatu yang salah. Padahal secara sentimentil, masa awal melahirkan adalah masa membangun kelekatan antara ibu dan anak. Masa-masa pascamelahirkan adalah masa ketika seorang perempuan dilahirkan menjadi seorang ibu. Ini fase kehidupan yang amat berharga bagi seorang perempuan. Ketika ada pihak yang berusaha merenggut atau mengambilnya tanpa sadar, ia akan mengalami depresi.

Kenapa sih intronya panjang banget? Ah, ini adalah realitas yang sebetulnya sudah Allah Swt sampaikan dalam kisah Ibunda Nabi Musa As. Sejak 14 abad lalu kondisi hati seorang ibu yang mengalami postpartum depression memang kosong.

وَ اَصۡبَحَ فُؤَادُ اُمِّ مُوۡسٰی فٰرِغًا ؕ اِنۡ کَادَتۡ لَتُبۡدِیۡ بِہٖ لَوۡ لَاۤ اَنۡ رَّبَطۡنَا عَلٰی قَلۡبِہَا لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ

Al Qashas: 10

“Dan hati ibu Musa menjadi kosong. Sungguh, hampir saja dia menyatakannya (rahasia tentang Musa), seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, agar dia termasuk orang-orang yang beriman (kepada janji Allah)”

(Al Qasas: 10).

Apa yang saya alami mungkin tak satu persen dari ujian yang dialami ibunda Nabi Musa As. Setelah melahirkan, ia harus menghanyutkan anaknya ke sungai dengan menggunakan keranjang yang belum tentu dapat mengapung dengan baik dan belum jelas akan diterima oleh siapa. Namun, bila anaknya tidak dihanyutkan, ia harus siap-siap menerima kematian anak lelakinya itu. Dalam kondisi hati yang kosong, ia hampir mengakui Musa As. sebagai anaknya. Ya, siapa yang tidak ingin mengakui anak yang baru dilahirkan?! Akan tetapi, berkat pertolongan Allah Swt. hatinya menjadi tenang dan ia dapat mulai berpikir jernih. Allah Swt. meneguhkan hatinya untuk melakukan apa yang diperintahkan dan berhasil menguasai dirinya. Menguasai diri, adalah salah satu tantangan bagi seorang ibu yang mengalami postpartum depression. Bila hatinya tidak dikendalikan dan ditundukkan, ia bisa marah kepada orang sekitar dengan serta-merta, atau ia bisa menangis tersedu-sedu seperti tanpa alasanan.

Ibu yang mengalami depresi pascamelahirkan perlu lingkungan yang mendukungnya untuk sadar dan menguasai hati dan diri. Pasangan yang selalu dapat mengajak berzikir merupakan kunci dalam penyembuhan depresi ini. Seperti yang dikatakan Ustaz Nouman, ketahuilah bahwa Allah dapat campur tangan untuk memberi ketenangan dalam pikiran, ketenangan dalam hati, dan Allah pun dapat memberi kedamaian lagi. Tugas kita hanya memintanya kepada Allah Swt. Rasa takut, marah, kecewa, benci, dan perasaan negatif lainnya dapat menghilang apabila kita memintanya kepada Allah Swt. Bagian ini cukup bagi ibu yang baru melahirkan -apalagi melahirkan melalui operasi caesar- karena setelah melahirkan para ibu menjalani nifas dan terlepas dari ibadah-ibadah ritual. Kesadaran dan kedekatan dengan Allah Swt. perlu benar-benar dijalin dalam aktivitas keseharian. Zikir dan doa dilakukan setiap saat. Lagi-lagi, menurut saya bagian ini perlu dukungan keluarga.

Mengapa Musibah Menimpa?

مَاۤ اَصَابَ مِنۡ مُّصِیۡبَۃٍ اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ وَ مَنۡ یُّؤۡمِنۡۢ بِاللّٰہِ یَہۡدِ قَلۡبَہٗ ؕ وَ اللّٰہُ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡم

At Taghabun: 11

“Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”

At Taghabun: 11)

Salah satu makna kata اَصَابَ dalam bahasa Arab adalah “menargetkan”. Makna semantik ini menyiratkan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada setiap orang sebenarnya sudah ditargetkan kepadanya. Musibah yang menimpas seseorang memang secara khusus ditargetkan kepadanya. Karena sudah ditargetkan, tidak ada satu orangpun yang dapat mengelak dari musibah yang ditetapkan Allah Swt. Pelajaran keimanan dalam ayat ini adalah penggunaan kata مَا di awal ayat. Huruf ini merupakan sangkalan bahwa jangan sekali-kali berpikir musibah datang bukan karena izin Allah Swt. Jangan pernah mengira musibah datang karena orang lain atau takdir lain. Sangat lumrah di antara kita, apabila seseorang mengalami situasi traumatis, kehilangan sesuatu, ditinggalkan seseorang, yang pertama kali ia salahkan adalah orang lain. Pihak yang dijadikan penyebab musibah datang adalah orang lain. Akibatnya, ia sibuk menyalahkan dan meminta pertanggungjawaban. Selain itu, biasanya, saat awal-awal terjadi musibah, seseorang biasanya sibuk mencari pertolongan kepada teman, sahabat, atau teman kerja. Hilangnya koneksi dengan Allah Swt. membuat trauma tau depresi terjadi lebih lama. Orang sekitar sebetulnya hanya bisa berucap, “sabar ya!” Padahal sabar adalah respons diri yang seharusnya dimiliki pada pukulan pertama ketika musibah satang.

Bila koneksi dengan Allah Swt baik, pada hentakan pertama, kita sudah sadar betul bahwa musibah sudah pasti darang dari Allah Swt, tidak akan tertukar dengan orang lain, dan kadarnya sudah disesuaikan dengan kemampuan kita. Bila kita mampun menjadikan Allah Swt. sebagai pegangan, hati kita akan digenggam-Nya dan merasa tenang menghadapi musibah yang datang. Lebih indah lagi, Allah Swt berkata:
وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ
Dia menenangkan hati kita dengan seolah berkata, “Ya, Aku tahu hatimu sakit. Ya Aku tahu kamu depresi. Ya, Aku tahu kamu ingin marah kepada A,B,C: Allah mengetahui segala sesuatu.” Dengan demikian, lebih baik terus mendekat kepada-Nya karena ia juga mengetahui cara mengobati hati yang terluka.

Sesederhana pernyataan Pidi Baiq: Sakit hati itu karena kau mengizinkannya. Jika tidak, maka bukan. Bersama Allah Swt. kita takkan mengizinkan hati ini sakit karena ketenangan sudah lebih dulu ada dan yang akan eksis adalah penerimaan. Lebih beruntung lagi, bila sudah dekat dengan Allah Swt. hati kita akan diberi petunjuk untuk menghadapi ujian yang ada. Namun, yang perlu diingat, perjalanan menjalin koneksi dengan Allah Swt. butuh mujahadah karena hati adalah bagian dari diri kita yang mudah berubah.

Perubahan hati terjadi semudah perubahan orang-orang yang beriman kepada Allah Swt. hanya dalah waktu sekejap, hanya dipinggiran, hanya sesekali. Mereka beriman hanya ketika Allah Swt. memberikan takdir baki kepada mereka. Piliang menyebutnya religiusitas semu. Seperti orang-orang yang tidak pernah beribadah ritual lalu saat mendapat nikmat ia berkata, “Allah Swt. sayang banget sama aku, padalah aku solatnya masih bolong-bolong.” Kemudian ketika musibah datang, ia menyalahkan Allah Swt. dan berkata, “Kenapa harus aku yang ditimpa musibah ini?” Allah Swt. berkata kerugian bagi orang-orang ini bertumpuk. Ia mengalami kerugian di dunia dan kerugian di akhirat. Inilah orang yang paling merugi.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

Al Hajj: 11

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.

Al Hajj: 11

Allah Swt. memberi hamba-Nya dua pilihan dalam menghadapi ujian dan membebaskan untuk memilih. Masyallah, pilihan pertama sudah selayaknya kita ambil agar tidak merugi dunia dan akhirat. Rasa sakit pasti ada tetapi Allah Swt. akan mengendalikannya. Rasa sakit pasti terasa, tetapi dengan izin Allah Swt. akan berujung ketenangan dan kesabaran.

Semoga saya bisa lebih baik pada proses persalinan berikutnya. Semoga setiap ibu yang mengalami baby blues atau pospartum depression diobati hatinya oleh Allah Swt. Semoga siapapun yang mengalami situasi traumatis dapat segera kembali kepada Allah Swt. Sang Maha Penyembuh. Wallahua’lam.[]

Tulisan ini adalah tugas ulasan dalam Matrikulasi Nouman Ali Khan Indonesia

https://wordpress.com/read/blogs/177567451/posts/115

Cara Nabi Yusuf hadapi krisis ekonomi

Mendepani cabaran ekonomi yang mendatang dalam Tahun 2016, pelbagai persiapan perlu dilakukan. Sebagai mukmin sejati, pedoman yang semestinya perlu kita rujuk adalah  menerusi kitab Al-Quran yang sudah pastinya sebagai kitab rujukan yang lengkap.

Allah SWT apabila menceritakan sesuatu kisah menerusi Al-Quran, sudah pasti ia bukan semata-mata releven untuk zaman tersebut sahaja, bahkan ia sesuai untuk menjadi pengajaran sampai bila-bila.

Berkongsi menerusi Segmen Ibrah pada minggu lalu, yang bersiaran pada hari Isnin, 5.15 petang di IKIMfm, Ustaz Muhammad Syaari Ab Rahman membawa kisah bagaimana Nabi Yusuf AS menyelesaikan krisis ekonomi dan kemarau yang melanda Mesir.

Kisah ini disampaikan oleh Allah SWT sebagai panduan kepada seluruh umat manusia melalui Surah Yusuf, ayat 47 – 49 yang bermaksud :

Yusuf menjawab: “Hendaklah kamu menanam bersungguh-sungguh tujuh tahun berturut-turut, kemudian apa yang kamu ketam biarkanlah dia pada tangkai-tangkainya; kecuali sedikit dari bahagian yang kamu jadikan untuk makan. (47)

Kemudian akan datang selepas tempoh itu, tujuh tahun kemarau yang besar, yang akan menghabiskan makanan yang kamu sediakan baginya; kecuali sedikit dari apa yang kamu simpan (untuk dijadikan benih).(48)

“Kemudian akan datang pula sesudah itu tahun yang padanya orang ramai beroleh rahmat hujan, dan padanya mereka dapat memerah (hasil anggur, zaitun dan sebagainya)”.(49)

Kisah ini merupakan tafsiran mimpi yang dilakukan oleh Nabi Yusuf AS di dalam penjara apabila rakan sepenjara Baginda yang telah datang kepadanya untuk ditafsir mimpi Raja Mesir.

Mesir telah berjaya bertahan dan mendepani cabaran kemarau teruk untuk tempoh tujuh tahun. Kejayaan Mesir ini turut dikongsi oleh seluruh Timur Tengah yang mendapatkan bantuan Mesir yang juga berdepan dengan situasi yang sama termasuk Palestin.

Melihat kejayaan Mesir dalam usaha berhadapan dengan krisis kemarau panjang yang berlarutan, ia adalah hasil usaha dan idea Nabi Yusuf AS yang dilantik sebagai Menteri Kewangan Mesir. Beberapa formula telah disusun oleh Nabi Yusuf AS agar Mesir mampu bertahan ketika musim kemarau tersebut.

Formula kejayaan itu, diringkaskan oleh Ustaz Syaari menerusi perkataan Yusuf itu sendiri yang merujuk kepada yakin kepada Allah, usaha yang luar biasa, simpan dahulu belanja kemudian, utamakan yang utama dan akhirnya fokus pada bulatan kawalan.

Formula pertama dalam menyelesaikan dan berhadapan dengan krisis kemarau Mesir pada ketika itu ialah melalui fasa yakin Allah SWT ada. Apabila kita menghadapi krisis ekonomi, kita perlu sentiasa ingat bahawa Allah SWT itu ada dan Dia ciptakan kita dengan tujuan. Kita hidup di dunia ini adalah untuk diuji termasuk ujian ekonomi yang didatangkan oleh Allah SWT.

Allah SWT mahu uji kita sejauhmana ujian yang datang mendekatkan kita kepadaNya atau sebaliknya. Lihat secara positif, pasti ada hikmah pada setiap sesuatu. Apabila kita yakin Allah SWT ada, kita akan menjadi hamba yang lebih kuat.

Ini ditunjukkan oleh Nabi Yusuf AS apabila didatangi bekas rakan sepenjara Baginda untuk bertanyakan kisah mimpi Raja Mesir. Sekiranya Nabi Yusuf AS ingin membalas dendam terhadap apa yang dilakukan oleh bekas rakan sepenjara Baginda itu, maka Nabi Yusuf AS boleh sahaja mengendahkan mimpi tersebut. Nabi Yusuf AS sentiasa yakin akan setiap yang berlaku itu adalah ketentuan daripada Allah SWT dan baginda dipenjara bukan kerana lelaki tersebut tetapi kerana itu adalah takdir Allah SWT dan lelaki itu hanya asbab kepada Baginda dipenjara.

Formula kedua Nabi Yusuf AS dalam menyelesaikan isu kemarau Mesir iaitu usaha yang luar biasa secara berterusan. Nabi Yusuf AS mentafsirkan mimpi Raja Mesir dengan penyelesasian masalah dengan menanam selama tujuh tahun secara bersungguh-sungguh dengan berterusan.  Nabi Yusuf AS memastikan rakyat Mesir bersungguh dalam tiga cara. Pertamanya Nabi Yusuf AS menyebut bersungguh-bersungguh hanya untuk tujuh tahun sahaja. Maknanya usaha tersebut perlu disertakan dengan jangka masa berapa lama perlu berusaha bersungguh-sungguh.

Keduanya Nabi Yusuf AS menggunakan kaedah ancaman iaitu sekiranya tidak bersungguh-sungguh, maka tujuh tahun berikutnya akan menderita semua orang kerana segala apa yang disimpan kemungkinan akan habis apatah lagi sekiranya tidak menyimpan. Ketiga adalah kaedah memberi ganjaran dan menyampaikan berita gembira. Setelah tujuh tahun kedua dengan kemarau dahsyat, maka Nabi Yusuf AS menyampaikan berita gembira semua rakyat Mesir akan mendapat hujan dengan kelimpahan rezeki yang melimpah ruah.

Dalam menyelesaikan masalah kemarau Mesir, Nabi Yusuf AS mengajarkan tentang formula simpan dahulu belanja kemudian. Baginda mengatakan, bila datang musim menuai, jangan semua yang dituai dijadikan makanan dan ada sebahagiannya yang disimpan ke dalam gudang. Baginda turut mengajar kepada rakyat Mesir supaya kekalkan kesegaran gandum yang disimpan di dalam gedung dengan tidak membuang kulitnya beserta tangkainya agar apabila tempoh tujuh tahun, gandum tersebut masih lagi segar untuk digunakan.

Utamakan yang utama diajarkan oleh Nabi Yusuf AS apabila kita beroleh rezeki jangan digunakan mengikut hawa nafsu. Perihal mimpi Raja Mesir juga mengajarkan bahawa utamakan yang utama dengan simbolik lembu dan juga tangkai gandum tersebut. Lembu merujuk kepada kenderaan manakala gandum pula merujuk kepada pertanian. Nabi Yusuf AS dalam hal ini melihat pertanian adalah lebih utama untuk diusahakan berbanding fokus kepada kenderaan.

Fokus pada bulatan kawalan dalam formula yang terakhir telah diajarkan oleh Nabi Yusuf AS. Dalam kehidupan kita sentiasa ada lingkungan masalah yang diluar kawalan kita seperti lembu dalam mimpi Raja Mesir. Jangan kita fokus kepada perkara yang dliuar kawalan kita seperti zaman yang semakin mencabar atau ekonomi yang semakin merosot. Sedangkan kita perlu fikirkan  apa usaha yang perlu kita lakukan yang di dalam kawalan kita seperti tangkai gandum tersebut agar masalah yang mendatang dapat kita selesaikan.

Sekiranya kita terlalu memikirkan punca masalah tanpa memikirkan cara penyelesaiannya, dibimbangi kita akan kalah dengan hasutan syaitan dan akhirnya tidak melakukan apa-apa usaha dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Kita tidak boleh mengubah sesuatu takdir yang berlaku, tetapi kita boleh mengubah cara kita melihat setiap takdir yang berlaku.

Kredit kepada http://ikimfm.my/nabi-yusuf-as-mengurus-ekonomi-mesir/

Pentingan sifat Amanah agensi penguat kuasa

Oleh Dr Ahmad Sanusi Azmi

JABATAN kerajaan serta badan penguat kuasa adalah agensi yang diberikan amanah untuk membantu kerajaan dan rakyat dalam melancarkan urusan pentadbiran setempat. Adalah menjadi tanggungjawab untuk setiap institusi melaksanakan tugas mereka dengan penuh amanah dan berintegriti. Bersikap tidak adil atau menjalankan tugas sambil lewa bukan sahaja memberikan impak negatif kepada kerajaan dan masyarakat, malah mengganggu kelancaran sistem pengurusan.

Adil dalam penguatkuasaan

Dalam urusan penguatkuasaan undang-undang, Rasulullah amat menekankan mengenai sikap adil. Pernah terjadi di zaman Rasulullah, seorang wanita daripada Bani Makhzum  melakukan kesalahan mencuri. Namun, Bani Makhzum adalah antara kabilah yang mempunyai kedudukan dan pengaruh di sisi Quraisy. Tiada siapa yang berani memaklumkan perkara ini kepada Rasulullah kerana menjaga kedudukan kumpulan manusia yang mempunyai kedudukan ini. Quraisy mengambil langkah berjaga-jaga. Mereka menggunakan pendekatan memujuk dan berdiplomasi dengan Baginda Nabi agar melepaskan pihak yang melakukan kesalahan ini. Reaksi Rasulullah sangat teguh. Rasulullah marah dengan sikap tidak adil sebegini lantas menegaskan: “Apakah kamu meminta syafaat (supaya dilindungi mereka yang melakukan kesalahan) berkenaan hukuman hudud ini? Sesungguhnya telah
binasa umat sebelum kamu kerana apabila yang mencuri itu orang berpengaruh, kamu bebaskan. Dan apabila yang mencuri itu orang yang lemah (orang biasa) maka kamu kenakan hukuman hudud terhadap mereka.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Perhatikan ketegasan sikap Baginda Nabi. Dari aspek penguatkuasaan Rasulullah tidak pernah bersikap pilih kasih. Baginda meneruskan penguatkuasaan undang-undang dan hukuman ke atas mereka yang melakukan kesalahan tidak kirsa sama ada yang melakukan kesalahan tersebut orang yang mempunyai pangkat atau kedudukan.

Menjauhi rasuah

Bagi melancarkan urusan pentadbiran, Islam menolak keras amalan rasuah. Rasuah bukan sahaja membuka ruang untuk menzalimi pihak lain, ia turut berupaya menghilangkan keyakinan rakyat terhadap pihak yang berautoriti. Dengan sebab itu Saidina Abdullah bin Amru pernah meriwayatkan sebuah hadis yang menyebutkan bahawa: “Rasulullah melaknat pemberi dan penerima rasuah.” (Hadis riwayat Ahmad)

Perhatikan hadis ini betul-betul. Perkataan yang digunakan adalah ‘laknat’. Bererti perbuatan rasuah ini adalah perlakuan yang amat terkutuk sehingga mereka yang melakukannya dilaknat oleh Allah dan Rasul. Dengan sebab itu al-Imam al-San’ani dan al-Zahabi meletakkan kumpulan perasuah ini sebagai pelaku dosa besar (murtakib al-kabirah) (Lihat Kitab Subul al-Salam dan al-Kaba’ir). Malah, al-Imam al-Qurtubi menegaskan penerima rasuah ini dikategorikan sebagai orang fasiq. Ini menggambarkan betapa Islam membenci rasuah bahkan meletakkannya di bawah satu kesalahan yang berat seperti zina dan minum arak.

Implikasi perbuatan rasuah sangat jelas. Rasuah berupaya menyebabkan berlakunya kezaliman terhadap pihak tertentu. Mereka yang sepatutnya mendapat hak yang diperlukan mungkin akan kehilangan hak tersebut. Dengan sebab itu Rasulullah menolak keras perlakuan ini kerana ia akan menyebabkan kezaliman boleh berleluasa.

Ruang aduan dan komunikasi

Bagi melancarkan urusan pentadbiran dan mengelakkan berlakunya kezaliman, pihak penguat kuasa juga disarankan agar membuka ruang aduan dan komunikasi rakyat dengan mereka. Ini bagi memastikan segala permasalahan yang dihadapi oleh rakyat dapat didengari. Menurut Dr Ali al-Salabi, tindakan seperti ini pernah dilakukan oleh Umar Abdul Aziz. Khalifah Umar Abdul Aziz dikatakan menulis iklan kepada rakyat bahawa barang siapa yang datang menceritakan kezaliman atau kesusahan yang berlaku di sisi rakyat, maka dia akan diberikan ganjaran kerana memberikan maklumat mengenai kesukaran yang dihadapi oleh rakyat. Perhatikan bagaimana Umar Abdul Aziz membuka ruang komunikasi antara rakyat dengan pemerintah. “Dan mana-mana lelaki yang tampil kepada kami mendedahkan tentang kezaliman (yang berlaku) atau perkara yang perlu diislah (diperbaiki) tidak kira sama ada perkara khusus atau umum tentang urusan agama ini, maka dia akan diberikan anugerah 100 dinar ke 300 dinar bergantung kepada apa yang difikirkan munasabah oleh Jabatan Hisbah.” (Dr Ali al-Salabi, al-Khalifah al-Rasyid wa al-Muslih al-Kabir Umar Abdul Aziz, 2009)

Ini hanyalah sebahagian daripada prinsip asas yang digariskan dalam Islam sebagai panduan buat seorang Muslim dalam urusan penguatkuasaan. Ia bukan sahaja bagi memastikan agar tiada kezaliman yang berlaku terhadap rakyat malah bagi menjamin hak setiap rakyat mestilah terpelihara.

https://wordpress.com/read/feeds/129742/posts/2862499195

Hidup biar bermaruah jauhi rasuah

Mohd Shahrizal Nasir

KETETAPAN Islam mengenai pahala dan dosa adalah jelas. Sebab itu sesiapa yang melakukan kebaikan maka dia akan menerima pahala. Manakala orang yang melakukan kemungkaran pasti mendapat dosa. Semua balasan atas setiap perbuatan manusia akan diberikan secara adil dalam perhitungan Allah di akhirat nanti.

Penjelasan tentang hal ini dinyatakan oleh Allah dalam al-Quran bermaksud:  (Ingatlah) hari Kami menyeru setiap kumpulan manusia dengan nama imamnya; kemudian sesiapa diberikan kitabnya di tangan kanannya, maka mereka itu akan membacanya (dengan sukacita) dan mereka tidak dikurangkan (pahala amalnya yang baik) sedikitpun.”  (Surah al-Isra’, ayat 71)

Firman Allah dalam ayat lain bermaksud:  Adapun orang yang diberikan menerima kitab amalnya dengan tangan kirinya, maka dia akan berkata (dengan sesalnya): ‘Alangkah baiknya kalau aku tidak diberikan kitab amalku.‘”  (Surah al-Haqqah, ayat 25)

Justeru,  ketetapan Allah tentang perkara yang halal dan haram tidak boleh diragui. Keraguan mengenai perbuatan baik dan buruk hanya terjadi dalam fikiran orang yang hatinya tidak berasa takut dengan janji Allah. Golongan seperti ini bukannya tidak tahu mengenai perbuatan dosa yang dilakukannya, malah tahu bahawa perbuatannya mengundang kemurkaan Allah. Namun kerana akur terhadap tuntutan hawa nafsu, maka mereka buat-buat keliru tentang halal dan haram dalam Islam.

Lihatlah dalam isu rasuah yang sememangnya dihukumkan haram di sisi Islam. Masih ada dalam kalangan umat Islam yang terjebak dalam rasuah. Kita semua dapat menyaksikan adanya kes yang dilaporkan dalam media massa tentang individu yang disyaki terlibat dengan rasuah. Ada juga yang dijatuhkan hukuman tertentu disebabkan perbuatan rasuah dilakukan.

Meskipun begitu, kesalahan rasuah masih terus berlaku. Malah hari ini dosa rasuah cuba disembunyikan kejelekannya dengan nama lain seperti hadiah saguhati, duit kopi, komisen, pelincir,   angpau,  kautim,  under table  dan seumpamanya. Penjenamaan rasuah dengan nama baharu ini bertujuan menghalalkan rasuah, sekali gus untuk memastikan perbuatan terkutuk tersebut kelihatan suci.

Sebenarnya hal ini sudahpun dijelaskan dalam al-Quran. Allah menjelaskan perihal Ratu Saba’ yang memberi ‘hadiah’ kepada Nabi Sulaiman setelah baginda mengutus surat mengajak pemimpin wanita tersebut mengesakan Allah, sekali gus meninggalkan perbuatan syiriknya menyembah matahari.

Ratu Saba’ membalas surat Nabi Sulaiman dengan mengirim bersamanya hadiah. Apakah tujuan pemberian hadiah tersebut? Hadiah tersebut dikirimkan untuk Nabi Sulaiman agar baginda menerimanya dan menghentikan dakwah baginda agar ratu tersebut menerima Allah sebagai Tuhan yang selayaknya disembah.

Peristiwa ini dirakam Allah dengan menyatakan ayat Ratu Saba’ bermaksud:  “Dan bahawa aku (Ratu Saba’) hendak menghantarkan hadiah kepada mereka kemudian aku akan menunggu, apakah balasan yang akan dibawa balik oleh para utusan kita.  (Surah an-Naml, ayat 35)

Walau bagaimanapun, hadiah yang dikirimkan Ratu Saba’ kepada Nabi Sulaiman ditolak oleh baginda. Ini membuktikan Nabi Sulaiman menyedari tujuan pemberian hadiah tersebut yang hakikatnya adalah satu bentuk rasuah. Hadiah itu menuntut agar baginda tidak meneruskan dakwahnya kepada pemerintah wanita tersebut.

Nabi Sulaiman memberi respons terhadap perbuatan Ratu Saba’ dengan berkata:  Maka apabila (utusan pembawa hadiah itu) datang menghadap Nabi Sulaiman, berkatalah Nabi Sulaiman (kepadanya): ‘Tidaklah patut kamu memberikan kepadaku pemberian harta kerana apa yang telah diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang telah diberikan-Nya kepada kamu; (bukan aku yang memandang kepada pemberian hadiah) bahkan kamulah yang bergembira dengan hanya kekayaan yang dihadiahkan kepada kamu (atau yang kamu hadiahkan dengan perasaan megah).’”  (Surah an-Naml, ayat 36)

Bukan setakat pemberian Ratu Saba’ ditolak oleh Nabi Sulaiman, malah baginda memberi amaran yang keras:  “Kembalilah kepada mereka, (jika mereka tidak juga mahu beriman), maka demi sesungguhnya Kami akan mendatangi mereka dengan angkatan tentera yang mereka tidak terdaya menentangnya dan kami akan mengeluarkan mereka dari negeri Saba’ dalam keadaan hina menjadi orang tawanan.” (Surah an-Naml, ayat 37)

Menurut Sheikh Solah ‘Abdul Fattah Al-Khalidi dalam kitabnya Lata’if Qur’aniyyah, Ratu Saba’ adalah orang pertama yang cuba menggunakan istilah hadiah bagi menutup kemungkaran rasuah. Walau apa pun nama yang cuba diberikan bagi mengaburi kesalahan rasuah, perbuatan tersebut tetap dilarang Allah SWT.

Ketegasan Nabi Sulaiman dalam menolak pemberian rasuah patut dicontohi setiap Muslim. Sesungguhnya hukum memberi mahupun menerima rasuah adalah haram. Rasuah termasuk dalam perbuatan dosa berat kerana pelakunya dilaknat Allah dan Rasul-Nya. Daripada Abdullah bin ‘Amr, dia berkata: “Rasulullah melaknat pemberi rasuah dan penerima rasuah.”  (Hadis riwayat at-Tirmidzi)

Perbuatan rasuah menyebabkan berlakunya banyak kezaliman. Rasuah dapat menafikan hak sebenar orang ramai, menzalimi golongan yang tidak berdosa, menjadi punca tergadainya maruah negara, membuka ruang permusuhan antara sesama manusia, menyebabkan kemungkaran berleluasa, memusnahkan nilai integriti dalam diri dan seumpamanya.

Sebagai contoh apabila ada pihak yang diberi tanggungjawab untuk memastikan tidak ada kegiatan judi dalam masyarakat, namun disebabkan rasuah maka kegiatan mungkar tersebut terus berleluasa. Pihak yang terlibat dengan jenayah tersebut juga tidak akan berasa khuatir dengan sebarang tindakan pihak berkuasa.

Begitu juga sekiranya sesuatu projek melibatkan peruntukan wang yang besar dibuat secara tender terbuka namun dengan wujudnya rasuah maka peluang orang ramai untuk terlibat dalam projek tersebut terus tertutup. Pihak yang memberi rasuah pula akhirnya tidak mampu untuk merealisasikan projek yang diberikan sehingga akhirnya projek terbengkalai. Inilah keburukan daripada perbuatan memberi dan menerima rasuah.

Duit daripada sumber rasuah termasuk kategori duit haram. Oleh itu, makan daripada hasil perbuatan rasuah menyebabkan diri tergolong dalam kalangan orang yang memakan hasil daripada sumber yang batil.

Firman Allah bermaksud: “Dan janganlah kamu makan (atau mengambil) harta (orang lain) di antara kamu dengan jalan salah, dan jangan pula kamu menghulurkan harta kamu (memberi rasuah) kepada hakim kerana hendak memakan (atau mengambil) sebahagian daripada harta manusia dengan (berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui (salahnya).” (Surah al-Baqarah, ayat 188)

Jadilah masyarakat yang menolak rasuah serta membenci perbuatan buruk tersebut. Orang yang terlibat dengan amalan rasuah sememangnya sedar akan perbuatan buruk dilakukannya. Sebab itu golongan seperti ini akan melakukan perbuatan rasuah secara tersembunyi. Ditambah pula dengan usaha melabel perbuatan rasuah dengan nama yang cuba untuk mengaburi kesalahan tersebut.

Rasulullah mengingatkan umatnya perihal dosa yang juga termasuk di dalamnya rasuah: “Dan dosa adalah apa yang menggetarkan jiwa dan kamu tidak suka jika (perbuatan dosa tersebut) diketahui oleh manusia.” (Hadis riwayat Muslim)

https://wordpress.com/read/feeds/129742/posts/2863618413#comments

Indahnya Sifat Qonaah.

Daripada Saidina Umar Al-Khatab “Bekerjalah untuk dunia seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya dan beribadatlah untuk akhirat seolah-olah kamu akan mati esok”. Menolak keperluan dunia yang menjerumuskan diri kepada kemungkaran dan

kebinasaan merupakan suatu jihad diri yang perlu ada pada setiap seorang mukmin. Tipu daya dunia sering mengajak manusia terpesona mengejar

kesenangan hidup di dunia dan tidak mempedulikan

kehidupan di akhirat.  Seluruh usaha dan tenaga

dikerahkan untuk mendapatkan kekayaan,

kesenangan dan kenikmatan hidup di dunia tanpa mempedulikan sama ada ia halal atau haram.

Malah, ada yang menghalalkan cara untuk mendapatkan kekayaan dunia.

Kesimpulan

Sifat Qonaah dalam kehidupan seorang mukmin   merupakan asas utama kepada kejayaan sesebuah ummah.

Sifat Qonaah memberi manfaat kepada seorang mukmin dari sudut kehidupan seharian seperti        perjalanan hidup lebih tenang dan tenteram,               melahirkan sikap optimis dan tidak putus asa pada setiap usaha yang dijalankan, mampu menundukkan sikap hasad dengki, ego terhadap keberhasilan diri sendiri dan orang lain serta menebalkan rasa                  kesyukuran terhadap Allah SWT dengan gaya hidup yang sederhana.

Setiap seorang mukmin mestilah berupaya untuk  merancang hala tuju dalam kehidupan sebagaimana yang diamanahkan oleh Allah SWT. Justeru, dalam menggemblengkan tenaga bagi menunaikan          tanggungjawab seorang mukmin  perlu membuat perancangan sesuatu aktiviti mahupun program       memajukan diri.  Sudah pasti untuk memperoleh       sesuatu perancangan itu lebih berilmu sehingga mampu melaksanakan perintah Allah SWT.

SEMOGA MEMBERI MANFAAT KEPADA SEMUA PIHAK

PENYAKIT WAHAN YANG AMAT BERBAHAYA

PENGERTIAN PENYAKIT WAHAN


Istilah wahan diungkapkan oleh Nabi  Muhammad S.A.W. – tatkala menjelaskan kedudukan umat manusia di masa akan datang. Penyakit wahan ini menjadi   penyebab utama segala keburukan umat Islam sehingga kerananya mereka menjadikan umat Islam sebagai bahan ujian. Nabi Muhammad S.A.W. mengibaratkan mereka seperti makanan yang menjadi rebutan haiwan-haiwan ganas yang kelaparan.


Dari Sauban R.A. berkata, “Rasulullah S.A.W. bersabda “Akan datang suatu masa, di mana bangsa-bangsa di dunia akan merebut umat Islam seperti orang-orang lapar memperebutkan makanan di atas meja.

Ada seorang sahabat bertanya, ‘Apakah kerana pada saat itu jumlah kami sedikit?’


Rasulullah S.A.W. menjawab: ‘Tidak, bahkan kamu pada saat itu ramai, akan tetapi kamu seperti buih di atas permukaan air laut. Sesungguhnya Allah SWT telah mencabut rasa takut dari musuh-musuh kamu dan telah mencampakkan penyakit al-wahan pada hati kamu’.

Seorang sahabat bertanya:

‘Ya Rasulallah, apa penyakit al-wahan itu?.’

Rasulullah S.A.W. menjawab: ‘Al-Wahan adalah penyakit cinta dunia dan takut mati’ “. (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan lainnya)

SEBAB-SEBAB PENYAKIT WAHAN

Penyakit wahan timbul kerana kerasukan perasaan cinta kepada dunia ke dalam hati manusia seperti cinta berlebihan kepada harta, benda, tahta, wanita dan lainnya. Dari kecintaan dunia yang berlebihan melahirkan mental pengecut tidak sanggup  menghadapi kematian kerana tiada bekalan dan persediaan menghadapi mati.


Cinta dunia dan takut mati saling berkait, laksana satu pakej. Keduanya menjadi  penyebab kehinaan dalam agama Islam di hadapan musuh-musuh Islam. Semoga Allah SWT  melindungi kita dari penyakit wahan.


Akibat kesan penyakit wahan akan melumpuhkan semangat  juang dan berjihad untuk mempertahankan iman dan memperjuangkan agama sehingga menyebabkan kermunduran kepada umat Islam.

Manusia pada dasarnya ingin menjadi kaya, pangkat tinggi, memiliki pangaruh yang besar, terkenal di mana-mana dan mempunyai isteri yang cantik. Manakala seseorang telah mencapai keinginannya sementara peraturan Allah SWT tidak dipergunakan dalam mengatur dan mengendalikan kekayaan dunianya, maka inilah yang disebut materialistis atau cinta dunia.

Fahaman materialisme ini sama sekali tidak dibolehkan dalam ajaran Islam, bahkan ianya adalah musuh utama dalam agama Islam.      Faham ini merupakan warisan dari sifat Iblis yang dimurkai oleh Allah SWT yang berperanan   menggoda manusia sehingga menjadi penghuni neraka. 

Allah S.W.T. telah  bertanya kepada Iblis : “Apakah yang menghalangimu dari bersujud kepada Adam?” Iblis menjawab: “Aku lebih  mulia daripada Adam. Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau menciptakannya dari tanah ?”(QS.Al-A’raaf: 12).

Setidaknya ada empat hal yang menyebabkan timbulnya penyakit wahan di dalam masyarakat Islam kini.


Umat Islam kini belum memahami kandungan ajaran Islam itu sendiri. Kesannya, dengan mudah mereka menerima faham-faham yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Mereka hanya menerima perkara-perkara yang sesuai dengan tuntutan hawa nafsu, sedangkan hal-hal yang jelas berdasarkan prinsip-prinsip ajaran Islam dianggap sebagai satu bebanan dan menyusahkan kehidupan manusia. Mereka merasa ragu dan tidak  yakin terhadap ajaran agama Islam.

Racun fahaman barat yang bersalut dengan jenama-jenama mirip Islam berjaya mendapat penghormatan dari umat Islam. Proses merosakkan pemikiran berlaku dengan     

begitu halus dan sehingga umat Islam  menjadi lemah dan berpecah-belah. Kini kesan tersebut dapat dilihat dengan jelas pada umat Islam dan negara-negara Islam.

Kekuasaan ketenteraan, politik dan pemerintahan yang tidak berada di tangan orang Islam sehingga urusan umat Islam diserahkan kepada orang-orang bukan Islam yang tidak jujur. Mereka mengawal umat Islam dalam semua bidang.

Untuk menjayakan cita-citanya musuh-musuh Islam terutama Yahudi dan Nasrani merancang berbagai strategi untuk menghadapi umat Islam.

Mereka memanfaatkan kekayaan, ilmu pangetahuan dan teknologi yang mereka miliki untuk menghadapi dan memperdaya umat Islam.           Sehingga situasi dan kedudukan dunia lslam benar-benar dalam keadaan lemah,  mundur, berpecah-belah dan malah berperang sesama umat Islam.

CARA MEMBASMI PENYAKIT WAHAN

Penyakit wahan ini boleh diatasi dengan cara bertaubat kepada Allah S.W.T. dan kembali kepada tuntunan agama Islam. Mereka yang merasa bahawa penyakit ini telah menghinggapi dirinya hendaklah melakukan langkah-langkah berikut :


1-Meningkatkan keimanan kepada Allah S.W.T.  Terutama hari kiamat, sehingga sampai pada derajat yakin. Dengan keyakinan ini penyakit cinta dunia atau takut mati akan hilang. “Ketahuilah, bahawa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya menggembirakan para petani, kemudian tanaman tersebut menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al Hadid:20)


2–Selalu mengkaji dan memahami ajaran Islam, terutama bidang akidah, yang merupakan intipati ajaran Islam.
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang Hak) melainkan  Allah.” (QS.Mubammad: 19)

3– Menghayati perspektif Islam terhadap konsep kebahagiaan dunia dan akhirat. Sesungguhnya Islam tidak mengharamkan dunia dan perhiasannya, akan tetapi menjadikannya sebagai alat untuk mencapai kehidupan dan kebahagjaan akhirat.

4-Meningkatkan dan memantapkan ibadah dan pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan demikian maka sifat qana’ahnya muncul dan menjadi citra diri dan kehidupannya. Rasa syukurnya semakin meningkat, dan tawadhu (rendah hati) akan menjadi benteng dan sekaligus penghias dirinya.

“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”(QS An-Nahl:96).

5– Bersungguh-sungguh melakukan amal kebajikan di jalan Allah dengan segenap kemampuannya yang ada. Karena orang yang melakukan kebajikan di jalan Allah SWT telah menjual diri dan hartanya kepada Allah SWT dengan syurga. Ini adalah sebesar-besar ketundukan kepada Allah SWT dan sebesar-besar pengorbanan untuk-Nya. Maka tepat sekali jika Allah menjamin hidayah bagi orang yang benar-benar melakukan amal kebajikan di jalan Allah SWT.

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Furqaan :52)

Sekian Terima Kasih, Semoga Bermanfaat.

APA ITU ISTIDRAJ ?

MAKSUD ISTIDRAJ

Adalah pemberian nikmat Allah SWT kepada manusia yang mana pemberian itu tidak diredhaiNya. Inilah yang dinamakan istidraj.

DALIL ISTIDRAJ

Rasullulah s. a. w. bersabda :”Apabila kamu melihat bahawa Allah Taala memberikan nikmat kepada hambanya yang selalu membuat maksiat(durhaka),ketahuilah bahawa orang itu telah diistidrajkan oleh Allah SWT.”(Diriwayatkan oleh At-Tabrani, Ahmad dan Al-Baihaqi)

Manusia yang derhaka dan sering berbuat maksiat yang terkeliru dengan pemikirannya merasakan bahawa nikmat yang telah datang kepadanya adalah kerana Allah SWT bersama kasih  terhadap perbuatan maksiat mereka.

Masih ada juga yang ragu-ragu dengan ajaran Islam, kerana kalau kita hendak dapat kebahagian di dunia dan akhirat kita mesti ikut jejak langkah Rasullulah SAW dan berpegang teguh pada agama Islam.

Tetapi bagaimana dengan ada orang yang sembahyang 5 waktu sehari semalam, bangun tengah malam  bertahajjud,

puasa penuh pada  bulan Ramadhan dan puasa sunat Isnin, Khamis  serta lain-lain puasa sunat tetapi hidup mereka biasa sahaja.

Ada juga yang susah dalam kehidupan. Kenapa?  Bagaimana pula orang yang seumur hidup tidak pernah solat dan puasa tetapi memiliki rumah tersergam indah, kereta mewah, duit yang banyak dan hidup dalam keadaan kaya dan mewah.

Bila kita tanya, apa kamu tidaak takut mati? Katanya, semua orang akan mati, kalau masuk neraka, ramai-ramai…tak kisahlah!.

Rasullulah SAW yang naik ke langit bertemu Allah SWT pun tidak bersikap begini, Nabi Sulaiman, sebesar-besar pangkatnya sehingga semua makhluk di muka bumi tunduk di bawah perintahnya pun tidak sombong! Secantik-cantik Nabi Yusof dan semerdu suara Nabi Daud, mereka tidak sombong. Bila sampai masa dan ketikanya, mereka tunduk dan sujud menyembah Allah SWT dengan penuh rasa rendah diri.

MANUSIA YANG BERSIFAT ISTIDRAJ

Manusia yang bersifat istidraj merupakan manusia yang telah lupa daratan. Walaupun berbuat maksiat, dia merasa Allah SWT masih menyayanginya.

Mereka memandang hina kepada orang yang beramal soleh tetapi miskin. “Dia tu siang malam ke masjid, basikal pun tidak mampu beli, sedangkan aku ke kelab malam dengan kereta mewah.

Tidak payah beribadat pun, rezeki datang mencurah-curah. Kalau dia tu sikit ibadat tentu boleh kaya macam aku, katanya sombong. ” Sebenarnya, kadang-kadang Allah SWT memberikan nikmat yang banyak dengan tujuan untuk menghancurkan seseorang.

Rasullulah SAW  bersabda: “Apabila Allah menghendaki untuk membinasakan semut, Allah terbangkan semua itu dengan dua sayapnya” (Kitab Nasaibul’Ibad)

Anai-anai, jika tidak bersayap, maka dia akan duduk diam di bawah batu atau merayap di celah-celah daun, tetapi jika Allah hendak membinasakannya, Allah berikan dia sayap. Lalu, bila sudah bersayap, anai-anai pun menjadi kelkatu. Kelkatu, bila mendapat nikmat(sayap), dia akan cuba melawan api. Begitu juga manusia, bila mendapat nikmat, cuba hendak melawan Allah SWT.

Buktinya, Firaun. Nikmatnya tidak terkira, tidak pernah sakit, tidak pernah bersin kerana Allah berikannya nikmat kesihatan. Orang lain selalu sakit, tetapi Firaun tidak, orang lain mati, namun dia masih belum mati Disaat hampir mati  masih angkuh dan besar diri lantas mengaku dirinya tuhan. Tetapi dengan nikmat itulah Allah binasakan dia.

Namrud, yang membakar Nabi Ibrahim. Betapa besar pangkat Namrud? Dia begitu sombong dengan Allah, akhirnya menemui ajalnya hanya disebabkan seekor nyamuk masuk ke dalam lubang hidungnya.

Tidak ada manusia hari ini sekaya Qarun. Anak kunci gudang hartanya sahaja  dibawa oleh 40 ekor unta. Akhirnya dia ditenggelamkan bersama-sama hartanya sekali akibat terlalu takabbur. Jadi kalau kita kaya, jangan sangka Allah sayang, Qarun lagi kaya, akhirnya binasa juga.

Tidak ada manusia hari ini sekaya Qarun. Anak kunci gudang hartanya sahaja  dibawa oleh 40 ekor unta. Akhirnya dia ditenggelamkan bersama-sama hartanya sekali akibat terlalu takabbur. Jadi kalau kita kaya, jangan sangka Allah sayang, Qarun lagi kaya, akhirnya binasa juga.

Jadi, jika kita kaji dan fikir betul-betul, maka terjawablah segala keraguan yang mengganggu fikiran kita. Mengapa orang kafir kaya dan melakukan maksiat hidup senang dan mewah. Pemberian yang diberikan oleh Allah SWT kepada mereka bukanlah yang diredhaiNya. Rupa-rupanya ianya adalah bertujuan untuk menghancurkannya.  Untuk apa hidup ini tanpa keredhaan Allah SWT?

Tetapi jangan pula ada orang kaya beribadat, masuk masjid dengan kereta mewah kita katakan itu istidraj. Orang naik pangkat, istidraj. Orang-orang besar, istidraj. Jangan! Orang yang mengunakan nikmatnya untuk kebajikan untuk mengabdi kepada Allah bukan istidraj.

Dan jangan pula kita tidak mahu kekayaan. Kalau hendak selamat, hidup kita mesti ada pegangan. Bukan kaya yang kita cari, juga bukan miskin yang kita cari.

Tujuan hidup kita adalah mencari keredaan Allah SWT. Bagaimana cara untuk menentukan nikmat yang diredhai Allah SWT? Seseorang itu dapat menyedari hakikat yang sebenarnya tentang nikmat yang diterimanya itu ialah apabila dia bersyukur dengan nikmat yang diperolehi. Dia mengunakan nikmat pemberian ke jalan kebaikan serta sentiasa redha. Sentiasa ikhlas mengabdikan diri kepada Allah SWT. Maka segala limpah kurnia yang diperolehi itu adalah nikmat pemberian yang diredhai Allah SWT. Bila tujuan hidup kita untuk mencari keredhaan Allah, nescaya selamat di dunia dan akhirat-In Sya Allah.

KESAN DISEBALIK ISTIDRAJ :

1– Nikmat sentiasa tidak mencukupi.

2– Nikmat yang didapati tidak mampu

     membersihkan jiwa.

3– Amat susah melakukan ibadat kepada

     Allah SWT.

4-Tidak mensyukuri nikmat kurniaan

    Allah SWT.

5-Semakin bertambah nikmat kurniaan

   Allah SWT semakin jauh dengan Allah SWT.

SEMOGA BERMANFAAT.