MARI MENILAI DIRI KITA SENDIRI…

Siapakah orang yang sibuk?
Orang yang sibuk adalah orang yang tidak mengambil berat akan waktu solatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi
Sulaiman a.s

Siapakah orang yang manis senyumanya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ditimpa musibah lalu dia kata “Inna lillahi wainna illaihi rajiuun.” Lalu sambil
berkata,”Ya Rabbi Aku redha dengan ketentuanMu ini”, sambil mengukir senyuman.

Siapakah orang yang kaya? Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.

Siapakah orang yang miskin? Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada sentiasa menumpuk-numpukkan harta.

Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadat dan amal-amal kebaikan.

Siapakah orang yang paling cantik? Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas? Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal-amal kebaikan di mana kuburnya akan di perluaskan saujana mata memandang.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit? Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikkan lalu kuburnya menghimpitnya.

Siapakah orang yang mempunyai akal? Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni syurga kelak kerana telah mengunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka.

Siapakah org yg KEDEKUT ? Orang yg kedekut ialah org yg membiar atau membuang email ini begitu sahaja, malah dia tidak akan menyampaikan pula pada org lain.

RUMAHKU… SYURGAKU…

baitijannati – Awal mula kehidupan seseorang berumah tangga adalah dimulai dengan ijab Kabul, saat itulah segala sesuatu yang haram menjadi halal. Dan bagi orang yang telah menikah dia telah menguasai separuh agamanya.

Barang siapa menikah, maka dia telah menguasai separuh agamanya, karena itu hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi. [HR. al-Hakim].

Sebuah rumah tangga bagaikan sebuah bangunan yang kokoh, dinding, genteng, kusen, pintu berfungsi sebagaimana mestinya. Jika pintu digunakan sebagai pengganti maka rumah akan bocor, atau salah fungsi yang lain maka rumah akan ambruk. Begitu juga rumah tangga suami, istri dan anak harus tahu fungsi masing-masing, jika tidak maka bisa ambruk atau berantakan rumah tangga tersebut.

Mari kita telaah satu persatu masing-masing fungsi suami dan istri tersebut.


Kewajiban Suami

Suami mempunyai kewajiban mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, tetapi disamping itu ia juga berfungsi sebagai kepala rumah tangga atau pemimpin dalam rumah tangga. Alloh SWT dalam hal ini berfirman:

Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Alloh telah melebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lainnya dan karena mereka telah membelanjakan sebagian harta mereka. (Qs. an-Nisaa’: 34).

Menikah bukan hanya masalah mampu mencari uang, walaupun ini juga penting, tapi bukan salah satu yang terpenting. Suami bekerja keras membanting tulang memeras keringat untuk mencari rezeki yang halal tetapi ternyata tidak mampu menjadi pemimpin bagi keluarganya.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. (Qs. at-Tahriim: 6).

Suami juga harus mempergauli istrinya dengan baik:

Dan pergauilah isteri-isteri kalian dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (Qs. an-Nisaa’: 19).

Barang siapa menggembirakan hati istri, (maka) seakan-akan menangis takut kepada Allah. Barang siapa menangis takut kepada Allah, maka Allah mengharamkan tubuhnya dari neraka. Sesungguhnya ketika suami istri saling memperhatikan, maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan penuh rahmat. Manakala suami merengkuh telapak tangan istri (diremas-remas), maka berguguranlah dosa-dosa suami-istri itu dari sela-sela jarinya. [HR. Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi’ dari Abu Sa’id Al-Khudzri].

Dalam satu kisah diceritakan, pada suatu hari istri-istri Rasul berkumpul ke hadapan suaminya dan bertanya, “Diantara istri-istri Rasul, siapakah yang paling disayangi?” Rasulullah Saw hanya tersenyum lalu berkata, “Aku akan beritahukan kepada kalian nanti.

Setelah itu, dalam kesempatan yang berbeda, Rasulullah memberikan sebuah kepada istri-istrinya masing-masing sebuah cincin seraya berpesan agar tidak memberitahu kepada istri-istri yang lain. Lalu suatu hari hari para istri Rasulullah itu berkumpul lagi dan mengajukan pertanyaan yang sama. Lalu Rasulullah Saw menjawab, “Yang paling aku sayangi adalah yang kuberikan cincin kepadanya.” Kemudian, istri-istri Nabi Saw itu tersenyum puas karena menyangka hanya dirinya saja yang mendapat cincin dan merasakan bahwa dirinya tidak terasing.

Bahkan tingkat keshalihan seseorang sangat ditentukan oleh sejauh mana sikapnya terhadap istrinya. Kalau sikapnya terhadap istri baik, maka ia adalah seorang pria yang baik. Sebaliknya, jika perlakuan terhadap istrinya buruk maka ia adalah pria yang buruk.

Hendaklah engkau beri makan istri itu bila engkau makan dan engkau beri pakaian kepadanya bilamana engkau berpakaian, dan janganlah sekali-kali memukul muka dan jangan pula memburukkan dia dan jangan sekali-kali berpisah darinya kecuali dalam rumah. [al-Hadits].

Orang yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik perlakuannya terhadap keluarganya. Sesungguhnya aku sendiri adalah yang paling baik diantara kalian dalam memperlakukan keluargaku. [al-Hadits].

Begitulah, suami janganlah kesibukannya mencari nafkah di luar rumah lantas melupakan tanggung jawab sebagai pemimpin keluarga. Suami berkewajiban mengontrol dan mengawasi anak dan istrinya, agar mereka senantiasa mematuhi perintah Allah, meninggalkan larangan Allah swt sehingga terhindar dari siksa api neraka. Ia akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah jika anak dan istrinya meninggalkan ibadah wajib, melakukan kemaksiatan, membuka aurat, khalwat, narkoba, mencuri, dan lain-lain.

Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. [HR. Bukhari].


Kewajiban Istri

Istri mempunyai kewajiban taat kepada suaminya, mendidik anak dan menjaga kehormatannya (jilbab, khalwat, tabaruj, dan lain-lain.). Ketaatan yang dituntut bagi seorang istri bukannya tanpa alasan. Suami sebagai pimpinan, bertanggung jawab langsung menghidupi keluarga, melindungi keluarga dan menjaga keselamatan mereka lahir-batin, dunia-akhirat.

Tanggung jawab seperti itu bukan main beratnya. Para suami harus berusaha mengantar istri dan anak-anaknya untuk bisa memperoleh jaminan surga. Apabila anggota keluarganya itu sampai terjerumus ke neraka karena salah bimbing, maka suamilah yang akan menanggung siksaan besar nantinya.

Ketaatan seorang istri kepada suami dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah jalan menuju surga di dunia dan akhirat. Istri boleh membangkang kepada suaminya jika perintah suaminya bertentangan dengan hukum syara’, missal: disuruh berjudi, dilarang berjilbab, dan lain-lain.

Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana saja yang dikehendaki. [al-Hadist].

Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita shalihah. [HR. Muslim, Ahmad dan an-Nasa’i].

Wanita yang shalihah ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). (Qs. an-Nisaa’: 34).

Ta’at kepada Allah, ta’at kepada Rasul, memakai jilbab (pakaian) yang menutup seluruh auratnya dan tidak untuk pamer kecantikan (tabarruj) seperti wanita jahiliyah. (Qs. al-Ahzab: 32).

Sekiranya aku menyuruh seorang untuk sujud kepada orang lain. Maka aku akan menyuruh wanita bersujud kepada suaminya karena besarnya hak suami terhadap mereka. [al-Hadits].

Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkan hatimu jika engkau memandangnya dan mentaatimu jika engkau memerintahkan kepadanya, dan jika engkau bepergian dia menjaga kehormatan dirinya serta dia menjaga harta dan milikmu. [al-Hadist].

Perselisihan

Suami dilarang memukul/menyakiti istri, jika terjadi perselisihan ada beberapa tahapan yang dapat ditempuh,

Istri-istri yang kalian khawatirkan pembangkangannya, maka nasihatilah mereka, pisahkanlah mereka dari tempat tidur, dan pukullah mereka (dengan pukulan yang tidak membahayakan). Akan tetapi, jika mereka menaati kalian, janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. (Qs. an-Nisaa’: 34).

Hendaklah engkau beri makan istri itu bila engkau makan dan engkau beri pakaian kepadanya bilamana engkau berpakaian, dan janganlah sekali-kali memukul muka dan jangan pula memburukkan dia dan jangan sekali-kali berpisah darinya kecuali dalam rumah. [al-Hadits].

Jika kalian merasa khawatir akan adanya persengketaan diantara keduanya, maka utuslah seorang (juru damai) dari pihak keluarga suami dan sorang juru damai dari pihak keluarga istri. Jika kedua belah pihak menghendaki adanya perbaikan, niscaya Allah akan memberi taufik kepada suami-istri. (Qs. an-Nisaa’: 35).

Demikianlah Islam mengatur dengan sempurna kehidupan keluarga sehingga terbentuk keluarga sakinah dan bahagia dunia-akhirat. Wallahua’lam. (baitijannati.wordpress.com)

RAHSIA PADERI

RAHSIA PADERI

Assalamualaikum dan salam sejahtera…
” LAA ILAHA ILLA ANTA SUBHANAKA INNI KUNTU MINALZHAALIMIIN“
Hayati kandungannya

Bismillahirrahmanir rahim.

Bila Paderi Terpaksa Buka Rahsia Ada seorang pemuda Arab yang baru saja menyelesaikan bangku kuliahnya di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah berupa pendidikan agama Islam bahkan dia mampu mendalaminya.

Selain belajar, dia juga seorang jurudakwah Islam. Ketika berada di Amerika , dia berkenalan dengan salah seorang Nasrani.. Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah s.w.t. memberinya hidayah masuk Islam.

Pada suatu hari mereka berdua berjalan- jalan di sebuah perkampungan di Amerika dan melintas dekat sebuah gereja yang terdapat di kampung tersebut. Temannya itu meminta agar dia turut masuk ke dalam gereja. Mula mula dia keberatan, namun kerana desakan akhirnya pemuda itu pun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana kebiasaan mereka..

Ketika paderi masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghormatan lantas kembali duduk. Di saat itu, si paderi agak terbeliak ketika melihat kepada para hadirin dan berkata, ” Di tengah kita ada seorang Muslim. Aku harap dia keluar dari sini.” Pemuda Arab itu tidak bergerak dari tempatnya. Paderi tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun dia tetap tidak bergerak dari tempatnya. Hingga akhirnya paderi itu berkata, “Aku minta dia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya. ” Barulah pemuda ini beranjak keluar.

Di ambang pintu, pemuda bertanya kepada sang paderi, “Bagaimana anda tahu bahawa saya seorang Muslim?” Paderi itu menjawab, “Dari tanda yang terdapat di wajahmu.” Kemudian dia beranjak hendak keluar. Namun, paderi ingin memanfaatkan kehadiran pemuda ini dengan mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memalukan pemuda tersebut dan sekaligus mengukuhkan agamanya. Pemuda Muslim
itupun menerima tentangan debat tersebut.

Paderi berkata, “Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan anda harus menjawabnya dengan tepat. ” Si pemuda tersenyum dan berkata, “Silakan!”

Sang paderi pun mulaibertanya,

“Sebutkan satu yang tiada duanya,
dua yang tiada tiganya,
tiga yang tiada empatnya,
empat yang tiada limanya,
lima yang tiada enamnya,
enam yang tiada tujuhnya,
tujuh yang tiada delapannya,
delapan yang tiada sembilannya,
sembilan yang tiada sepuluhnya,
sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh,
sebelas yang tiada dua belasnya,
dua belas yang tiada tiga belasnya,
tiga belas yang tiada empat belasnya.”

“Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh!
Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya?
Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga?
Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyukainya?
Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu!”

“Siapakah yang tercipta dari api,
siapakah yang diazab dengan api dan
siapakah yang terpelihara dari api?
Siapakah yang tercip tadari batu,
siapakah yang diazab dengan batu dan
siapakah yang terpelihara dari batu?”

“Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar!
Pohon apakah yang mempunyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah sinaran matahari?”

Mendengar pertanyaan tersebut, pemuda itu tersenyum dengan keyakinan kepada Allah. Setelah membaca “Bismillah.. .” dia berkata, -Satu yang tiada duanya ialah Allah s.w.t..

-Dua yang tiada tiganya ialah Malam dan Siang. Allah s.w.t. berfirman, ” Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami).” (Al-Isra’: 12).

-Tiga yang tiada empatnya adalah kesilapan yang dilakukan Nabi Musa
ketika Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.

-Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur’an.

– Lima yang tiada enamnya ialah Solat lima waktu.

-Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah Hari ketika Allah s.w.t. menciptakan makhluk.

-Tujuh yang tiada delapannya ialah Langit yang tujuh lapis. Allah s..w.t.
berfirman, “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu
sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.” (Al-Mulk: 3).

-Delapan yang tiada sembilannya ialah Malaikat pemikul Arsy ar-Rahman. Allah s.w.t. berfirman, ” Dan malaikat- malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka.” (Al-Haqah: 17).

-Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu’jizat yang diberikan kepada Nabi Musa yaitu: tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim
paceklik, katak, darah, kutu dan belalang.*

-Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah Kebaikan. Allah s..w.t.
berfirman, “Barang siapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat.” (Al-An’am: 160).

-Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah Saudara-Saudara Nabi Yusuf .

-Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah Mu’jizat Nabi Musa yang terdapat
dalam firman Allah, “Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu.” Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air.” (Al- Baqarah: 60).

-Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah Saudara Nabi Yusuf
ditambah dengan ayah dan ibunya.

-Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah
waktuSubuh. Allah s.w.t.. berfirman, “Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menyingsing. ” (At-Takwir: 18).

-Kuburan yang membawa isinya adalah Ikan yang menelan Nabi Yunus
AS…

-Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah
saudara-saudara Nabi Yusuf, yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlumba-lumba
dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan
serigala.” Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka, “Tak ada cercaan terhadap kamu semua.” Dan ayah mereka Ya’qub berkata, “Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku.
Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Yusuf:9

-Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara Keldai.
Allah s.w.t. berfirman, “Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara
keldai.” (Luqman: 19).

-Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapa dan ibu adalah Nabi Adam,
Malaikat, Unta Nabi Shalih dan Kambing Nabi Ibrahim..

-Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diazab dengan api
ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah s.w.t. berfirman, “Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim.” (Al-Anbiya’: 69).

-Makhluk yang terbuat dari batu adalah Unta Nabi Shalih, yang diazab dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ashabul Kahfi (penghuni gua).

-Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah Tipu
Daya Wanita, sebagaimana firman Allah s.w.t. “Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar.” (Yusuf: 28).

-Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran matahari maknanya: Pohon adalah Tahun, Ranting adalah Bulan, Daun adalah Hari dan Buahnya adalah Solat yang lima waktu, Tiga dikerjakan di malam hari dan Dua di siang hari.

Paderi dan para hadirin merasa takjub mendengar jawapan pemuda Muslim tersebut. Kemudian dia pun mula hendak pergi. Namun dia mengurungkan niatnya dan meminta kepada paderi agar menjawab satu pertanyaan saja.

Permintaan ini disetujui oleh paderi.

Pemuda ini berkata, “Apakah kunci surga itu?”

Mendengar pertanyaan itu lidah paderi menjadi kelu, hatinya diselimuti
keraguan dan rupa wajahnya pun berubah. Dia berusaha menyembunyikan
kekuatirannya, namun tidak berhasil.

Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab
pertanyaan tersebut, namun dia cuba mengelak.

Mereka berkata, “Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya
dan semuanya dia jawab, sementara dia hanya memberi *****a satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya! “

Paderi tersebut berkata, “Sesungguh aku tahu jawapannya, namun aku takut kalian marah.”

Mereka menjawab, “Kami akan jamin keselamatan anda. “

Paderi pun berkata, “Jawapannya ialah: Asyhadu An La Ilaha Illallah , Wa
Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah. “
Lantas paderi dan orang-orang yang hadir di gereja itu terus memeluk
agama Islam. Sungguh Allah telah menganugerahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda Muslim yang bertakwa.**

NOTA:

Kunci Syurga itu adalah Dua Kalimah Syahadah.

4 PERKARA BERKAITAN TUBUH BADAN KITA

PERKARA YANG DAPAT MENGUATKAN TUBUH
makan daging, mencium haruman, selalu mandi dan memakai pakaian yang diperbuat dari kapas

4 PERKARA YANG MELEMAHKAN TUBUH
terlalu banyak bersetubuh, terlalu banyak bersedih, terlalu banyak mereguk air liur, dan suka makan asam-asam

4 PERKARA YANG DAPAT MEMPERTAJAMKAN PENGLIHATAN
duduk menghadap Kaabah, mencelak mata setiap malam, memandang yang hijau-hijau dan membersihkan tempat duduk

4 PERKARA YANG DAPAT MENGABURKAN MATA
melihat yang kotor-kotor, melihat orang yang disalib, melihat kemaluan wanita dan duduk membelakngi Kaabah

4 PERKARA YANG DAPAT MENAMBAH KEKUATAN AKAL
meninggalkan berkata sia-sia, bersugi, sering menghadiri majlis orang-orang soleh dan majlis para ulama

Kesederhanaan, Keikhlasan dan Kejujuran Rasulullah SAW

Kesederhanaan, Keikhlasan dan Kejujuran Rasulullah SAW

Baginda menerima kunjungan orang ramai sejak awal pagi lagi

Sebaik sahaja selesai solat Subuh untuk mengajar mereka.

Baginda sering menyelesaikan perbalahan diantara dua pihak yang bersengketa.

Baginda sering membantu isterinya  menyelesaikan kerja rumah.

Baginda menziarahi orang sakit dan memberi bantuan pada orang miskin selepas membantu isterinya.

Baginda Solat Zhohur secara berjemaah di masjid kemudian Baginda makan tengah hari.

Baginda tunaikan Solat Asar berjemaah di masjid selepas solat baginda ke rumah isteri yang lain untuk membantu mereka.

Baginda menunaikan Solat Maghrib kemudian tidur dan berehat beberapa jam.

Baginda bangkit tengah malam untuk menunaikan Solat Isyak dan Qiamullail dan Solat Subuh.

Namun Baginda tidak pernah mengeluh kepenatan dan sebagainya.

SEDUTAN DARI BUKU KARANGAN MARYAM JAMILAH

MUTIARA KATA RASULULLAH SAW

Sabda RASULULLAH:

SEBAIK-BAIK PERCAKAPAN IALAH KITAB ALLAH,

SEBAIK-BAIK AGAMA IALAH IMAN NABI IBRAHIM,

SEBAIK-BAIK CONTOH IALAH RASULULLAH,

SEBAIK-BAIK BACAAN IALAH BACAAN AL-QURAN,

SEBURUK-BURUK DALAM AGAMA IALAH BIDAAH,

SEBAIK-BAIK  JALAN JALAN RASULULLAH,

SEBAIK-BAIK MATI IALAH MATI SYAHID,

SEBURUK-BURUK BUTA IALAH SESAT SETELAH MENDAPAT PETUNJUK,

SEBAIK-BAIK TINDAKAN IALAH MELAKUKAN KEBAJIKAN,

SEBAIK-BAIK PETUNJUK IALAH YANG DISERTAKAN DENGAN AMALAN,

SEDIKIT YANG MENDATANGAKAN KEPUASAN LEBIH BAIK DARIPADA BANYAK TETAPI MENIMBULKAN RIAK,

SEBURUK-BURUK TAUBAT IALAH TAUBAT KETIKA HAMPIR MATI DAN SEBURUK-BURUK PENYESALAN IALAH PENYESALAN PADA HARI KEBANGKITAN.

SEDUTAN DARI BUKU KARANAGAN MARYAM JAMILAH.

12 ORANG YANG DIDOA OLEH MALAIKAT

12 ORANG YANG DIDOA OLEH MALAIKAT

Allah SWT berfirman, “Sebenarnya (malaikat – malaikat itu) adalah hamba – hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah – perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa’at melainkan kepada orang – orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati – hati karena takut kepada-Nya” (QS Al Anbiyaa’ 26-28)

Inilah orang – orang yang didoakan oleh para malaikat :

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang duduk menunggu shalat. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’” (Shahih Muslim no. 469)

3. Orang – orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat. Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang – orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalm shaf). Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang – orang yang menyambung shaf – shaf” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu” (Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia’” (Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang – orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat’” (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan’” (Shahih Muslim no. 2733)

9. Orang – orang yang berinfak. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit’” (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10. Orang yang makan sahur. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang – orang yang makan sahur” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11. Orang yang menjenguk orang sakit. Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh” (Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)

12. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain” (dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

Maraji’ :
Disarikan dari Buku Orang – orang yang Didoakan Malaikat, Syaikh Fadhl Ilahi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005

NILAI MANUSIA

NILAI MANUSIA

Dunia hampir kiamat. Itulah kalimat yang terucap apabila menyaksikan dan menilai beberapa perkara yang dilakukan oleh manusia hari ini. Batas-batas ketamadunan seorang manusia semakin menipis. Manusia tidak lagi wujud sebagai makhluk tuhan paling mulia berbanding haiwan dan ciptaan Tuhan yang lain.

Menurut SMahadzir melalui artikelnya Antropologi Dalam Al-Quran (laman web YADIM, 22 Mei 2007), terdapat tiga istilah yang menerangkan makna asas manusia, iaitu ‘basyar’, ‘insan’, dan ‘al-nas’. ‘Basyar’ memberikan rujukan kepada manusia sebagai makhluk biologi.

Konsep ‘basyar’ selalu dihubungkan dengan sifat-sifat biologi manusia, iaitu makan, minum, seks, dan sebagainya.Konsep insan pula jelasnya merupakan keistimewaan manusia sebagai khalifah atau pemikul amanah, insan dihubungkan dengan ‘predisposition’ negatif dan positif diri manusia dan insan dihubungkan dengan proses penciptaan manusia. Ini bermakna semua konteks insan menunjukkan pada sifat-sifat psikologi atau spiritual.

Manakala konsep al-nas pula dikaitkan dengan hubungan manusia sesama manusia (hablu minan nas). Al-Quran menjelaskan bagaimana manusia dengan kelompok sosialnya berinteraksi sesama mereka. Ini menunjukkan bahawa al-Quran memandang manusia sebagai makhluk biologi, psikologi, dan sosial.

Manusia hari ini dilihat sebagai satu konsep yang terpisah. Aspek biologi tidak selari dengan psikologi malah terpisah dari konteks sosial. Kerana itu maka terlahir insan dan manusia yang tidak punya nilai yang konsisten. Percanggahan identiti dan krisis nilai yang berlaku menjadikan keadaan semakin tidak terkawal dan mengundang pelbagai konflik.

Bagaimana mahu membentuk ´basyar´, ´insan´ dan ´al-nas´ secara tersusun walaupun Allah s.w.t sendiri menyatakan sifat manusia itu sentiasa bersemuka dengan yang baik dan buruk iaitu manusia mempunyai predisposisi negatif dan positif?

Firman Allah dalam surah Al-Sajdah yang bermaksud;

“Tuhan yang membuat segala sesuatu yang diciptakan dengan sebaik-baiknya dan yang memulakan penciptaan manusia daripada tanah. Kemudian Dia menciptakan keturunannya daripada saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ke dalam tubuhnya akan roh ciptaan-Nya”.

Allah s.w.t menciptakan manusia sebaik-baik ciptaan. Hal yang membezakan manusia dengan ciptaan yang lain ialah akal. Dengan akal, tuhan membiarkan manusia berfikir dan menilai antara yang baik dengan yang buruk.

Islam sebagai agama yang paling sempurna menjanjikan syurga kepada umatnya yang taat dan beriman kepada Allah s.w.t. Ganjaran pahala dan syurga yang dijanjikan mudah digapai jika umat Islam menurut apa yang diperintahkan dan menghindar apa yang dilarang.

Namun, semua itu tidak menjanjikan umat Islam menggunakan akal sebaiknya. Ramai yang tersungkur dan gagal dalam perjalanan menggapai syurga yang dijanjikan. Mengapa hal ini boleh berlaku sedangkan Islam dari aspek penyampaiannya amat jelas kepada umat Islam iaitu setiap perkara yang buruk itu ada balasannya.

Mungkin juga hal ini boleh dikaitkan dengan peristiwa semasa Allah s.w.t meminta syaitan sujud kepada Adam. Syaitan enggan kerana merasakan Adam yang dicipta daripada tanah lebih rendah tarafnya daripada syaitan yang dicipta daripada api.

Surah al-A´araf, ayat 14-16 menjelaskan;

“Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh” .Iblis menjawab: “Kerana Engkau Telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.”

Melihat dendam dan keazaman sang syaitan mahu menyesatkan manusia, manusia harus sedar peranan yang perlu dimainkan dalam menjalani kehidupan sebagai khalifah Allah di muka bumi ini. Tanpa iman yang kukuh, syaitan dan iblis dengan mudah menunaikan sumpah mereka untuk menyesatkan umat manusia yang beragama Islam.

Mendidik Manusia Sedari Awal Pembentukannya.

Terlalu kerap kita mendengar ungkapan ‘anak umpama kain putih, ibu bapa adalah pencoraknya’. Begitu juga ungkapan lama seperti ‘bapa borek anak rintik’, ‘bagaimana acuan begitulah kuihnya´, ´bagaimana contoh begitulah gubahannya´, ´bagaimana ditanam, begitulah dituai´, ´bagaimana rupa begitulah bayangnya´, dan banyak lagi. Ungkapan pepatah dan peribahasa lama ini dengan jelas menyatakan bahawa bagaimana kita mendidik si cilik, begitulah nanti dewasanya si cilik dengan didikan kita.

Ungkapan itu juga menjelaskan betapa didikan yang pelbagai untuk anak-anak bakal memanusiakan mereka atau menjadikan mereka bukan manusia. Istilah memanusiakan anak-anak memerlukan kefahaman yang tinggi bukan sahaja dari sudut material malahan paling penting kefahaman dari aspek mental.

Rasulullah s.a.w pernah bersabda; “Tahukah engkau siapakah yang mandul?”

Para sahabat menjawab; “ Orang yang mandul ialah orang yang tidak mempunyai anak.”

Lalu Rasulullah s.a.w berkata ; Orang yang mandul ialah orang yang memepunyai banyak anak tetapi anak-anaknya tidak memberi manfaat kepadanya sesudah ia meninggal dunia.”

Firman Allah s.w.t melalui surah al-A’raaf ayat 58 bermaksud;

“Dan negeri yang baik (tanahnya), tanaman-tanamannya tumbuh (subur) dengan izin Allah dan negeri yang tidak baik (tanahnya) tidak tumbuh tanamannya melainkan dengan keadaan bantut…”

Meninjau kisah Imam Abu Hanifah (Hanafi An Nu’man), seseorang pernah bertanya kepada bapa Imam Abu Hanifah. “Tuan, bagaimanakah tuan mendidik Hanafi sehingga begini istimewa jadinya?”. Jawab bapa Imam Abu Hanifah “Aku didik Hanafi 40 tahun sebelum dia dilahirkan”.

Ini bermakna, bapa Imam Hanifah telah menyiapkan dirinya yang terbaik agar anak yang dilahirkan kelak mewarisi kebaikan dan akhlaknya. Hal ini harus dipandang berat oleh ibu bapa masa kini yang beranggapan bahawa pertalian mereka dan anak-anak hanya atas dasar pertalian darah semata.Sebenarnya ia lebih dari itu.

Dalami juga nasihat-nasihat berguna Luqman Al-Hakim kepada anaknya ketika mereka sedang dalam sebuah perjalanan yang jauh. Luqman Al-Hakim adalah seorang hamba yang miskin, namun telah mengayakan anaknya dengan nasihat-nasihat yang berguna sehingga nasihat beliau diwahyukan oleh Allah s.w.t di dalam al-Quran dan menjadi sebahagian ilmu yang berguna kepada umat Islam hari ini.

Rasulullah s.a.w pernah bersabda bermaksud;

“Setiap anak dilahirkan secara fitrah, kedua-dua ibu bapanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut memberi maksud seperti pepatah lama Melayu di atas iaitu ‘bagaimana acuan begitulah kuihnya’. Ini bermakna tugas ibu bapa bukan sahaja mendidik diri sendiri menjadi manusia yang baik, malah mendidik anak sejak di dalam kandungan sehingga ia lahir ke dunia.

Peranan Ibu Bapa

Setiap insan yang berpasangan pasti mengimpikan agar dikurniakan anak-anak bukan sahaja sebagai penyeri rumah tangga malah terlebih tepat sebagai penyambung zuriat dan keturunan. Menyedari hakikat ibu bapa sebagai pemegang amanah, mereka harus memainkan peranan dengan baik dan konsisten.

Terdapat pelbagai jenis buku ditulis bagi memberi panduan kepada ibu bapa dalam menghadapi dunia keibubapaan. Sedari penjagaan bayi dalam kandungan, menamakan bayi dengan nama yang baik, panduan penjagaan bayi selepas dilahirkan sehingga bayi berusia akil baligh, serta panduan bagi psikologi ibu bapa dalam mendidik anak-anak.

Tidak terlupakan juga banyak bengkel dan seminar-seminar diadakan untuk ibu bapa menangani konflik dalam penjagaan anak-anak. Pelbagai medium terutama medium berbentuk teknologi dan ciptaan moden diwujudkan bagi membantu ibu bapa memainkan peranan sebaiknya dalam usaha memanusiakan anak-anak mereka.

Al-Quran sendiri memainkan tanggungjawab yang besar dalam mengingatkan ibu bapa tentang peranan mereka mendidik anak. Begitu juga peranan anak terhadap ibu bapa serta hubungan baik sesama manusia.

Kelalaian ibu bapa tidak harus digaduhkan atau dipanjang-panjangkan. Terutama apabila si anak melakukan sesuatu yang tidak baik. Ungkapan ‘bukan salah ibu mengandung’ seringkali diluahkan oleh ibu bapa yang gagal mendidik anak-anak. Memang bukan salah ibu mengandung sehingga terlahir anak yang begitu atau begini. Namun, kesilapan kecil ibu bapa dan kelekaan yang mereka lakukan tidak harus diambil ringan dan dilupakan begitu sahaja.

Antara kelekaan ibu bapa yang sering berlaku adalah ;

1. Kurang berdoa semasa mengandung dan membesarkan anak. Banyak doa yang boleh diamalkan seperti doa Saidul Istighfar, memohon rahmat, memohon zuriat yang baik dan sebagainya.

2. Memberi ajaran tarhib (menakutkan) daripada targhib (dorongan atau motivasi). Biasanya ibu bapa mengambil jalan mudah dengan menakut-nakutkan anak dengan sesuatu agar anak mendengar kata-kata mereka. Antara perkara tarhib yang mereka gunakan ialah menakutkan anak dengan hantu, binatang yang berbisa dan sebagainya.

3. Tidak tegas dalam mendidik anak-anak iaitu tidak mendisiplinkan anak-anak dengan hukum agama terutamanya solat dan aurat sejak mereka kecil.

4. Menegur anak secara negatif dengan menggunakan kata-kata yang kasar dan menjatuhkan maruah mereka. Hal ini harus dielakkan kerana kata-kata ibu dan bapa merupakan doa buat anak mereka.

5. Memberi didikan yang tidak seimbang antara jasmani, rohani dan intelektual.

6. Kurang memberi sentuhan kepada anak-anak seperti menghabiskan masa yang berkualiti untuk anak-anak kerana sibuk bekerja.

7. Penampilan diri ibu bapa yang tidak manis untuk anak-anak. Walaupun punya talian darah, etika berpakaian tetap harus dijaga dan batas pandangan antara anak dan ibu bapa harus dipelihara.

8. Institusi kekeluargaan yang tidak harmoni menyumbang peribadi yang tidak seimbang dalam jiwa anak-anak.

9. Tidak mengawasi aktiviti anak-anak. Ibu bapa tidak mengambil tahu apa yang dilakukan oleh anak-anak di luar rumah, rancangan yang ditonton di televisyen dan sebagainya.

10. Memberi tanggungjawab memelihara anak kepada pembantu rumah sedangkan ibu bapa telah diamanahkan oleh Allah s.w.t untuk memelihara dan mendidik anak-anak.

Melihat kepada beberapa kelekaan yang telah dilakukan oleh ibu bapa masa kini, jika tidak ditangani, tidak mustahil setiap hari kita akan membaca berita tentang tingkah laku anak-anak yang tidak masuk akal.

Selalunya anak-anak yang menerima pendidikan dan persekitaran yang tidak baik akan menunjukkan sikap sebenar mereka apabila mereka berada di alam persekolahan atau meninjak usia remaja. Tidak hairan, kebanyakan kes jenayah melibatkan usia remaja. Ini termasuklah anak-anak remaja yang terlibat dalam kes mencuri, mencederakan orang lain, dadah, seks rambang, pembuangan anak dan paling memilukan jenayah berat seperti membunuh dan sebagainya.

Apabila membaca berita begini, terlintas di fikiran kita tentang pengaruh-pengaruh luar yang menyebabkan anak-anak menjadi liar dan tidak terkawal. Ya, pengaruh dari persekitaran memang tidak dapat dihalang. Namun, Seperti yang diberitakan sejak awal bahawa keikhlasan menjalankan amanah sebagai ibu bapa dalam mendidik anak-anak akan membantu mereka menggunakan akal dalam menerima atau menolak pengaruh yang mendatangi mereka.

Anak-anak umpama kain putih. Ibu bapa adalah pencoraknya. Apabila anak-anak dewasa, mereka akan cuba mengubah atau menokok tambah corak yang telah dilakarkan. Jika corak yang dilukis sedari awal oleh ibu bapa merupakan corak kelekaan, maka apabila si anak dewasa, corak kelekaan itu akan merugikan anak-anak kecuali anak tersebut bijak berfikir dan mencorakkan sendiri kehidupan mereka dengan corak yang bermakna.

Membentuk manusia bukan dengan menghantarnya ke sekolah semata-mata. Setinggi atau selama mana manusia bersekolah, tidak akan mampu mengubah sikap buruknya jika akar umbinya iaitu iman tidak ditanam sedari kecil. Malah sedari awal pembentukan manusia di dalam rahim ibu, manusia di sekelilingnya terutama ibu bapanya harus mencorak diri mereka dengan corak yang bermakna disulami dengan iman dan akal yang utuh. Dengan demikian, generasi yang terlahir dan membesar kelak adalah generasi yang bermakna dan bermanfaat untuk bangsanya dan agamanya.

7 TIPS MENGATASI KENAKALAN ANAK

7 TIPS MENGATASI KENAKALAN ANAK

Kenakalan anak-anak kadang kala membuatkan kemarahan anda sebagai ibu bapa memuncak sehingga membuatkan anda akan meninggikan suara, memukul mereka tanpa menghiraukan jiran tetangga dan sebagainya. Justeru, untuk menangani masalah ini, berikut merupakan 7 kaedah bagaimana untuk anda manjaga perilaku kenakalan anak-anak agar anda dapat mengawalnya.


1. Buat Peraturan

Sebagai ibu bapa anda berhak mengatur aktiviti anak-anak. Oleh itu, untuk menjaga kenakalan mereka pastikan anda membuat jadual peraturan yang sederhana. Senaraikan perkara-perkara yang boleh dan tidak boleh.. Bincangkannya bersama anak supaya mereka tidak merasa terkongkong.


2. Pencegahan Awal

Sekiranya anda merasa tingkah laku anak anda di luar kawalan seperti menjerit-menjerit (tanpa sebab), berlari-lari di dalam rumah dan sebagainya berusahalah untuk mengalihkan perhatian mereka kepada perkara lain seperti ajak dia bermain mainan kesukaannya, menonton televisyen dan sebagainya.


3. Fahami Tingkah Laku Si Kecil

Pastikan anda membuat catatan kecil mengenai sikap anak anda yang kurang menyenangkan, Dari catatan tersebut, anda dapat mengetahui pola kenakalan mereka dan cuba pertimbangkan segala kesalahan tersebut berpunca dari salah siapa. Jangan salahkan anak anda sepenuhnya, tanyakan sepenuhnya, tanyakan pada diri, adakah anda telah memberikan sepenuh perhatian kepadanya? Maka cubalah untuk mencari jalan penyelesaiannya.


4. Berdisiplin.

Amalkan disiplin yang mudah untuk mereka lakukan. Perhatikan berapa lama anak anda boleh mengikutinya. Misalnya minta anak anda berdiam diri seketika di kerusinya atau dia dilarang untuk bermain barang kesukaannya, mengemas bilik tidur selepas bangun dan beberapa perkara mudah yang lain.


5. Berikan Masa

Ketika kemarahan anda terhadap si kecil memuncak, cuba bertenang dan berikan masa sekurang-kurangnya 5 minit untuk anda meredakan suasana, Tarik nafas sedalam-salamnya dan cubalah mencari jalan penyelesaian untuk mengubah sikap sikecil


6. Hindari Memukul Ketika Marah.

Ketika marah, emosi sedang mengawal segala tindakan sehingga ada kalanya tidak sedar apa yang anda lakukan. Menurut kajian yang dijalankan, memukul anak kerana kenakalannya adalah perkara yang sangat tidak efektif dan tidak dapat membantu anda menyelesaikan masalah. Malahan ia mungkin akan mendatangkan kesan yang mendalam kepada anak-anak. Anda mahukan yang terbaik tetapi sebaliknya akan mereka lakukan.


7. Biarkan Berlalu

Lupakan sebentar kenakalan anak-anak yang telah membuat anda `tension’ dengan berolahraga atau bersiar-siar. Tindakan tersebut sekurang-kurangnya dapat memulihkan perasaan marah anda tadi. Cari sedikit masa untuk anda merehatkan fikiran yang kusut itu

Anak kita adalah lubuk pahala yang menjadikan kita jutawan di Akhirat nanti.

MENCARI KEBAHGIAAN YANG HAKIKI.

MENCARI KEBAHGIAAN YANG HAKIKI.

BAHAGIA adalah suatu perkataan yang abstrak. Pengertiannya begitu luas dan relatif. Lantaran itu ramai manusia gagal mencari dan mengejar kebahagiaan. Mereka tidak mengerti apa itu bahagia dan di mana adanya bahagia. Keadaan ini menjadikan pentafsiran bahagia berbeza antara seorang dengan seorang yang lain.

Semua orang mengejar kebahagiaan dan selalu bertanya bagaimana dapat menghabiskan waktu dengan penuh bahagia. Mengapa saya tidak bahagia? Namun, tidak seorang pun mencapai kebahagiaan. Seorang fakir akan mengatakan bahawa bahagia itu terletak pada kekayaan. Orang sakit pula akan mengatakan bahagia akan dirasai apabila dia sihat. Orang yang terjerumus ke lembah dosa akan mengatakan berhenti daripada melakukan dosa itulah kebahagiaan. Manakala seorang penganjur kemerdekaan pula berpendapat bahawa kemerdekaan dan kecerdasan umat yang dipimpinnya itulah bahagia.

Seorang penyair atau penulis sajak akan bahagia jika hasil karyanya menjadi hafalan orang. Seorang pengarang buku akan bahagia jika bukunya menjadi tatapan dan buah mulut orang.

Zaid bin Tsabit, ahli syair Rasulullah saw mengatakan jika pagi dan petang seseorang itu berjaya membebaskan diri dan dapat hidup dalam keadaan aman dan sentosa daripada gangguan manusia maka ia boleh dianggap seorang yang bahagia.

Orang yang berpegang teguh kepada agama, kebahagiaan ialah meninggalkan perkara yang dilarang, mengikut yang disuruh, menjauhi yang jahat dan mendekati yang baik. Kebahagiaannya adalah mengerjakan suruhan agama semata-mata.

Ibn Khaldun pula berpendapat bahagia itu ialah tunduk dan patuh mengikut garis ketentuan Allah dan berperikemanusiaan. Imam Al Ghazali berpendapat bahagia dan kelazatan sejati ialah apabila kita dapat mengingati Allah. Manakala kesempurnaan bahagia itu bergantung kepada tiga kekuatan, iaitu kekuatan marah, kekuatan syahwat dan kekuatan ilmu. Tetapi kekuatan itu perlu diawasi agar ia tidak terlalu lebih dan tidak tersangat kurang.

Aristotle berpendapat bahagia bukanlah suatu perolehan untuk semua manusia. Corak kebahagiaan yang diperoleh seseorang pula berbeza-beza dan pelbagai ragam mengikut corak dan ragam orang yang mencarinya.

Kadangkala sesuatu yang dipandang bahagia oleh seseorang itu tidak begitu dipentingkan pihak lain. Mengikut pandangan Aristotle, bahagia ialah suatu kesenangan yang dicapai setiap orang mengikut kehendak masing-masing.

Dari keadaan ini dapatlah dikatakan kemahuan manusia yang tidak sama itulah yang menyebabkan kebahagiaan juga tidak dapat disamakan. Sebab itu adalah satu perbuatan yang boleh dianggap keterlaluan sekiranya kita memaksa seseorang supaya berasa bahagia seperti yang kita rasa bahagia.

Aristotle juga pernah berkata hidup bahagia itu ialah apabila seseorang dapat mempergunakan seluruh bakat dan kebolehan yang ada padanya. Apabila kita berjaya mengisikan masa kita dengan kerja yang wajar sama ada bercucuk tanam, mengarang, menyuap makanan kepada bayi dan sebagainya maka kita akan berasa bahagia selepas melaksanakan kerja itu.

Jadi kebahagiaan adalah hasil daripada adanya aktiviti atau usaha seperti disifatkan Aristotle bahawa kebahagiaan itu laksana kemerahan di wajah yang cukup sihat. Seandainya kita menumpukan seluruh perhatian kepada diri kita sahaja maka kita akan menjadi manusia yang mementingkan diri, fanatik dan selalunya berasa tidak puas hati terhadap hidup. Sebab itu lupakanlah diri kita dan isikan waktu dan aktiviti dengan persoalan orang ramai atau curahkan segala daya usaha kita dalam kerja atau kegiatan yang berbentuk kerjasama dengan rakan.

Dengan perkataan lain, angkatkan diri kita daripada lembah nafsu syahwat dan soal titik bengik. Kemudian letakkan diri dengan kerja yang lebih mulia dan luhur. Ketika itulah kita dapat menoleh ke belakang dan mendapati diri kita bahagia.

Sementara itu amalan suka menangguh kerja hendaklah dielakkan. Setiap orang memerlukan masa releks yang banyak dalam mengharungi liku-liku hidup seharian. Mereka juga akan berasa senang apabila hidupnya tidak dikongkong. Mereka akan berasa bebas dan tidak tertekan sekiranya dapat melakukan kerja mengikut suka hati mereka sahaja.

Sebab itu kita sering mendengar ungkapan tunggu dulu, biarkanlah dahulu, esoklah dan pelbagai lagi yang menggambarkan sikap kerja bertangguh dan tiada kesungguhan bekerja di kalangan masyarakat kita.

Sesungguhnya amalan kerja bertangguh tidak harus ada dalam kotak fikiran orang beriman dan yang ingin maju serta mahu mencapai kebahagiaan baik di dunia lebih-lebih lagi di akhirat .

Kerja bertangguh menggambarkan si pelakunya pemalas dan tidak optimis.

Bidalan Melayu banyak menggambarkan akibat yang menimpa seseorang yang suka menangguhkan kerjanya – tidak mementingkan masa. Di antaranya ialah: Kerja bertangguh tak menjadi, bertangguh itu mencuri masa, masa itu emas, masa itu lebih tajam daripada mata pedang dan lain-lain.

Semua bidalan di atas jelas menggambarkan peri pentingnya masa. Allah juga benci kepada orang yang tidak mahu menggunakan masa dengan sebaik-baiknya. Dalam Surah Al Asr Allah berfirman bermaksud:

‘Demi masa! Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh dan berwasiat (nasihat menasihati) dengan kebenaran dan berwasiat dengan kesabaran’.

Daripada firman di atas, kita disuruh melakukan amalan soleh dan nasihat menasihati mengenai kebenaran dan kesabaran. Tetapi sebahagian besar manusia masih lalai dan cuai. Hidup mereka masih bergelumang dengan noda dan dosa. Keadaan ini bukan saja akan merugikan hidup kita di dunia malah di akhirat kelak kita akan menerima azab siksa yang pedih.

Hal yang sama dinyatakan Rasulullah dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Ibnu Omar berkata: Rasulullah telah memegang bahuku seraya bersabda:

‘Anggaplah dirimu di dunia ini sebagai seorang perantau atau pengembara. Jika engkau berada di waktu petang, jangan tunggu sampai pagi. Jika anda di waktu pagi, jangan tunggu sampai petang. Gunalah peluang masa sihat sebelum datang sakit. Dan gunalah peluang masa hidup sebelum tiba mati.’

Dalam hadis lain, Rasulullah bersabda:

‘Rebutlah lima sebelum lima. Masa muda sebelum tiba masa tua. Masa sihat sebelum tiba masa sakit. Masa kaya sebelum tiba masa miskin. Masa lapang sebelum tiba masa sibuk dan masa hidup sebelum tiba masa mati.’

Hadis di atas juga menyuruh kita menghargai masa dan menggunakan masa terluang yang keemasan itu sebaik-baiknya. Usahlah kita lalai dan cuai. Jangan tangguh kerja hari ini ke hari esok.

Sesungguhnya amalan menangguh kerja ini adalah sikap merugikan. Jika perkara yang ditangguh itu perkara dunia, kita mungkin akan menyesal sekiranya apa yang dicita-citakan itu tidak tercapai. Sekiranya perkara yang ditangguh itu perkara akhirat maka ia sudah tidak berguna untuk disesalkan lagi kerana masanya telah luput apabila ajal sudah menunggu.

Sesungguhnya setiap yang hilang mungkin dijumpai kembali. Tetapi masa yang luput tidak dapat dikembalikan. Oleh itu, masa dapat dianggap perkara paling berharga berbanding segala apa yang dimiliki manusia.

Menyedari hakikat ini, setiap orang yang waras fikirannya akan menjauhi amalan menangguh kerja dan menyambut kedatangan hari-harinya sebagai sambutan seorang yang amat rakus terhadap harta kesayangannya.

Muslim sejati amat sayangkan masanya kerana ia adalah umurnya. Jika ia biarkan masa berlalu dengan sia-sia dan membiarkan adat kebiasaan buruk seperti amalan kerja bertangguh menguasai dirinya, maka perbuatan itu seolah-olah membunuh diri sendiri.

Oleh itu gunakan masa terluang dengan sepenuhnya dan bertekunlah menjalankan kerja yang diamanahkan walaupun kerja itu sedikit.

Sesungguhnya kita tidak suka melihat amalan itu dibuat sekali-sekali (putus-putus) walau pun amalan itu besar rupanya. Amalan kecil jika dilakukan dengan tekun, lama kelamaan akan menjadi berat dan besar.

Satu faktor menyebabkan manusia suka mengamalkan sikap menangguh kerja ialah kerana mereka merasakan peluang bagi mereka untuk terus hidup di dunia ini masih panjang. Keadaan ini terjadi terutama bagi mereka yang belum menjangkau usia setengah abad.

Oleh kerana ingatan kepada dunia terlalu kuat, ia terlupa mengira hari yang masih tinggal. Mereka leka, lena dan lalai daripada mengingati hari mati.

Sesungguhnya nyawa manusia adalah reput dan pada bila-bila masa kita akan diragut maut. Oleh itu persiapkan diri dan bersedialah setiap masa untuk menghadapi maut agar kita pulang ke rahmatullah dengan bekalan cukup dan sempurna.