Rasulullah SAW Ungkap Rahsia Ubat Pada Sayap Lalat

gomuslim.co.id – Banyak orang mungkin membenci lalat, serangga kecil yang terbiasa hidup di lingkungan kotor. Sering hinggap di atas makanan yang hendak dikonsumsi manusia. Hewan ini pun sering dianggap sebagai pembawa penyakit yang menjijikan.

Lalat yang berjumlah banyak di Bumi disebutkan hampir memiliki 87 ribu spesies. Faktanya, lalat makan dari sampah dan limbah bahan organik yang mengandung bakteri, virus, mikroba, atau kuman.

Namun, tahukah anda bahwa Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa selain membawa penyakit, lalat juga menyediakan penawar pada salah satu sayapnya. Hal ini sebagaimana dalam hadist berikut:

Dari Abu Hurairah RA, beliau berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Apabila seekor lalat masuk ke dalam minuman salah seorang dari kalian, maka celupkanlah ia, sebab pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya ada obat penawarnya, maka dari itu celupkan semuanya,” (HR Abu Daud).

Bagi sebagian orang, mungkin menganggap aneh dan tidak percaya pada adanya hadits ini. Bagaimana tidak, makhluk kotor yang sering mengganggu itu mempunyai obat penawar yang dibutuhkan manusia.

Penelitian tentang Lalat

Untuk menjawab hal tersebut, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Tim Departemen Mikrobiologi Medis, Fakultas Sains, Universitas Qasim, Arab Saudi tentang sayap lalat telah membuktikannya. Ternyata penelitian ini menghasilkan kesimpulan cukup mencengangkan.

Penelitian menggunakan media air steril yang dijatuhi lalat tanpa dibenamkan dan media air kedua dijatuhkan lalat dengan cara dibenamkan. Masuknya lalat pada makanan atau minuman dengan dan tanpa dicelup, ternyata memberikan hasil berbeda secara signifikan.

Media pertama yang dimasukan lalat ke dalamnya kemudian dibenamkan secara sempurna, di sana tumbuh bakteri Actinomyces yang memproduksi antibiotic. Bakteri ini biasanya menghasilkan antibiotic yang dapat diekstrak, yaitu actinomycetin dan actinomycin yang berfungsi menghambat bakteri dan bersifat anti bakteri serta anti fungi.

Sedangkan pada media kedua ditumbuhi oleh koloni bakteri pathogen tipe E. Coli, yang merupakan penyebab berbagai macam penyakit.

Dr Amin Ridha, Guru Besar Bedah Tulang Fakultas Kedokteran Universitas Iskandariyah, juga telah meneliti hadits tentang lalat dan menulis ulasannya. Dalam tulisannya, ia menyebutkan bahwa dalam rujukan-rujukan ilmu kesehatan di masa silam telah ada penjelasan tentang lalat untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Bahkan, lalat pun juga menjadi obat penyakit kronis dan pembusukan yang sudah menahun.

Penelitian lain tentang lalat juga dilakukan Departemen Ilmu Biologi, Macquarie University, Australia. Para ilmuan Australia tengah mencari antibiotik baru yang diharapkan bermanfaat bagi kehidupan. Uniknya, antibiotik baru itu ada pada permukaan tubuh dan sayap lalat.

Baca juga:

Ini Rahasia Aloe Vera yang Kaya Manfaat 

Dasar penelitian ini adalah teori tentang sistem pertahanan pada tubuh lalat terhadap mikroba. Sistem pertahanan itu dianggap luar biasa karena lalat mampu bertahan hidup di kotoran, sampah, daging dan buah di tengah ancaman bakteri, virus, kuman dan mikroba berbahaya lain.

“Penelitian kami adalah bagian kecil dari upaya penelitian global untuk menemukan antibiotik baru. Tapi kami sedang mencari dimana kami yakin belum semua orang tahu itu (antibiotik pada lalat),” kata Ms Joanne Clarke, yang mempresentasikan hasil penelitiannya.

Para ilmuwan menguji empat spesies lalat yang berbeda: lalat rumah, lalat domba, lalat buah, lalat buah Queensland yang bertelur di buah segar.

Hasil penelitian itu disimpulkan, larva dari lalat buah ini tidak membutuhkan banyak senyawa antibakteri karena mereka tidak hidup dengan banyak bakteri. Berbeda dengan larva lalat jenis lainnya yang banyak hidup di kotoran dan sampah.

Namun demikian, semua jenis lalat pada dasarnya memiliki antibakteri yang berada di kulit dan sayap mereka. Antibakteri itu diekstraksi sederhana oleh lalat untuk menjaga tubuh mereka. “Kami sekarang berusaha untuk mengidentifikasi senyawa antibakteri tertentu (pada tubuh lalat) yang bermanfaat bagi manusia,” kata Ms Clarke.

Dari kedua penelitian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa masuknya lalat pada makanan atau minuman dengan atau tanpa dicelup, maka memberikan hasil berbeda secara signifikan. Penelitian ini semakin mempertegas kebenaran sabda Nabi Muhammad bahwa pada sayap lalat itu terdapat penyakit beserta penawarnya.

Keterangan ini telah terungkap belasan abad yang lalu sampai penelitian sains membuktikan kebenaran mengenai hadits Rasulullah tersebut. Dengan demikian, Allah SWT menciptakan serangga tidak serta merta tanpa ada manfaatnya. Lalat pun memiliki obat penawar bagi manusia. (njs)

Wallahu A’lam Bishowab. 

Sumber:

Andriawan, Didik. Rahasia Hidup Sehat Ala Nabi, Solo: Al Fath Publishing

‘Cerita-Cerita Sains Terbaik dari Alquran’ (2015)

Shubi Sulaeman, Nabi Sang Tabib, Penebit: Aqwamedika

Techno Okezone, Muslim Media, E-Polymers

Baca juga:

Anjuran Nabi, Ini Khasiat Kayu India bagi Kesehatan 

KENAPA PERLU SOLAT?

KENAPA PERLU SOLAT?

1-Kerana  Solat Adalah Hasil Rumusan Segala Arahan Agama.

2-Bersabar Atas Solat Adalah Arahan Allah.

3-Kerana Solat Diantara Rukun Islam.

4-Kerana Solat Tiang Agama.

5-Kerana Solat Menjadi Petunjuk Kepada Segala Nabi-Nabi Dan Utusan Allah.

6-Kerana Ianya Lambang Islam Dan Membezakan Antara Islam Dan Bukan Islam.

7-Mengeluarkan Kita Dari Lingkungan Dosa.

8-Dapat Menyucikan Dosa Di Hadapan Allah Swt.

9-Kerana Allah Tidak Menerima Alaman Soleh Dari Mereka Yang Meninggalkan Solat.

10-Kerana Solat Dapat Menarik Pertolongan Daripada Allah Swt.

11-Kerana Solat Adalah Pakaian Islam-Terdapat Riwayat Dalam Hadis.

12-Kerana Solat Adalah Pesanan Terakhir Dari Rasulullah Sebelum Baginda Wafat.

13-Dapat Menjadi Benteng Daripada Perkara Maksiat.

14-Amalan Pertama Akan Disoal  Pada Hari Kiamat.

15-Kerana Solat Adalah Amanah Daripada Allah Dan Sesiapa Menjaganya Kan Mendapat Perlindungan Daripada Allah Azzawajal.

KENALILAH ALLAH SWT

Al-hamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam atas pemimpin para nabi, Muhammad saw, beserta keluaga, para sahabat dan mereka yang mengikuti dengan baik hingga hari pembalasan. Selanjutnya…

Tidak diragukan lagi akibat keras dan pahitnya realita, dan kuatnya tekanan; dari internal secara umum bangsa mengalami kerusakan system yang berkuasa, dan secara khusus para du’at mengalami berbagai perang, tipu daya, tekanan dan penyiksaan, dihadapkan dengan berbagai tuduhan bathil, diajukan kepengadilan secara dzalim, kehormatan dihinakan dan keluarga diintimidasi, gerak dan kebebasan mereka dibelenggu, harta dan kekayaan mereka dirampas serta jabatan dan pekerjaan mereka dijauhkan!!

Adapun diluar mereka dihadapkan dengan persekongkolan, rekayasa, proyek dan agenda dengan maksud menguasai dan mengkebiri kita, menjajah negeri, mengotori kesucian, merampas sumber daya alam, mencabik-cabik persatuan, menghalangi kebangkitan, menghancurkan azimah seperti yang kita saksikan di Palestina, Iraq, Afghanistan, Somalia, sudan dan Lebanon serta Negara dan dunia Islam lainnya.

Dihadapan kenyataan yang kelam dan suasana yang ironi ini, kami sampaikan kepada umat secara umum –dan ikhwan khususnya- janganlah menyerah dengan merendah diri dan putus asa, tunduk dengan merasa hina dan lemah dan marilah kita semua renungkan firman Allah SWT : “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, Maka Sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’ dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim”. (Ali Imron : 139-140) dan sabda nabi dan pemimpin kita yang tercinta saw saat menghadapi permusuhan “Wahai Dzat yang memiliki hari pembalasan, hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan”, inilah yang kita jadikan bekal –al-hamdulillah- dalam setiap rakaat dari setiap shalat.

Wahai al-ikhwan al-muslimun dan wahai umat manusia seluruhnya… sikapilah realita ini dengan baik, lakukanlah persiapan dengan senjata yang memadai, dengan melakukan sebab-sebab yang dibutuhkan dan kewajiban yang difardhukan, diantaranya:

1. Hubungan yang kuat kepada Allah

Tidak ada kerajaan kecuali milik-Nya, tidak ada perkara kecuali perkara-Nya, tidak ada hukum kecuali hukum-Nya, tidak ada Tuhan selain-Nya dan tidak ada Rabb kecuali Dia “Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya”. (Huud : 56) “Sesungguhnya keadaan-Nya apabila dia menghendaki sesuatu hanyalah Berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia”. (Yasiin : 82), dan seluruh yang diserahkan kepada-Nya oleh hamba yang shalih dan mujahid tersimpan di tempat kemuliaan dan karunianya, maka petunjuk hanyalah dari-Nya saja “Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah Aku bertawakkal dan Hanya kepada-Nya-lah Aku kembali. (Huud : 88), dan pertolongan hanya dari-Nya saja “(Muhammad) berkata: “Ya Tuhanku, berilah Keputusan dengan adil. dan Tuhan kami ialah Tuhan yang Maha Pemurah lagi yang dimohonkan pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu katakan”. (Al-Anbiya : 112), dan keteguhan hanya dari-Nya saja “Dan kalau kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka.” (Al-Israa : 74), dan kemenangan hanya dari-Nya saja “Sesungguhnya kami menolong rasul-rasul kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (Ghafir : 51)

Maka temukanlah ini semua dan dari selainnya serta dari selainnya –dari apa yang anda harapkan dan cintai wahai ikhwan al-muslimun- melalui Allah saja; dengan menjalin hubungan yang kuat dengan-Nya, tawakkal kepada-Nya, dan ingatlah arahan Rasulullah saw :

-: “تعرَّفْ إلى الله في الرخاء يعرفْك في الشدة”،

“Kenalilah Allah pada saat senang sehingga Dia akan mengenalmu pada saat susah”.

Hendaklah kita mengenal kepada-Nya dengan ikhlas beribadah kepada-Nya, senantiasa taat, mengamalkan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, banyak berdzikir (mengingat) kepada-Nya, berinteraksi dengan kitab-Nya, menjaga waktu-waktu malam dengan ibadah, mengisi waktu sahur dengan ruku’, sujud, doa (munajat), dan air mata. Begitu dahsyatnya kesadaran sang Sholahuddin –rahimahullah- dan apa yang didapati dengan sunnah kemenangan dan kekalahan; ketika memantau dan melakukan inspeksi perkemahan pasukan di kegelapan malam, membangunkan orang yang tertidur untuk tahajjud dan munajat, dan memberikan peringatan kepada mereka dengan ungkapannya : “siapa yang seperti kalian akan kami berikan”.!

2. Merpersenjatai diri dengan ilmu pengetahuan

Setiap manusia yang berakal dan cerdas harus mempersenjatai diri dengan ilmu pengetahuan dan membekali diri dengan tsaqofah; sehingga memiliki wawasan terhadap setiap peristiwa dan masalah secara benar, memutuskan hukum secara tepat, melakukan aktivitas secara baik, dan ilmu pengetahuan ini lebih berhak atas seorang muslim; karena dirinya menyadari bahwa kata yang pertama kali diturunkan Allah dalam Al-Quran Al-Karim adalah : “Iqra” (Bacalah), kemudian membaca hal yang dapat menunjukkan bacaan dan membenarkan arahnya; agar menjadi di dalamnya manusia yang bermanfaat, memberikan kebaikan, membangun dan memakmurkan, seperti firman Allah “dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan” (Al-Alaq : 1), kemudian menyebutkan kata-kata wahyu pertama setelah bacaan sarana menuntut ilmu dan pengetahuan kedua yaitu tulisan, seperti dalam firman Allah : “Bacalah dan Tuhanmu yang Maha Mulia. Yang telah mengajarkan dengan pena. Mengajarkan manusia sesuatu yang tidak diketahui”. (Al-Alaq : 3-5), dan karena seorang muslim selalu membaca juga firman Allah : “Dan katakanlah –wahai Muhammad- Ya Allah tambahkanlah kepadaku ilmu”. (Toha : 114) dan membaca doa nabi saw :

اللّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا، وَالْحَمْدُ لِلّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ، وَأَعُوذُ بِاللّهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ” (سنن ابن ماجة عن أبي هريرة).

“Ya Allah berikanlah manfaat dari ilmu yang telah saya pelajari, dan karuniakanlah ilmu yang bermanfaat bagiku, tambahkanlah kepadaku ilmu, segala puji bagi Engkau dalam segala hal, dan aku berlindung kepada Allah dari adzab neraka”. (HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

Seorang muslim juga cerdas terhadap tujuan nasihatnya saw kepada Abu Dzar :

: “يا أبا ذر، لأن تغدوَ فتعلم آيةً من كتاب الله خيرٌ لك من أن تصلي مائة ركعة، ولأن تغدو فتعلم بابًا من العلم عُمِل به أو لم يُعمل به خيرٌ لك من أن تصلي ألف ركعة” (سنن ابن ماجة عن أبي ذر)

“Wahai Abu Dzar, Sungguh engkau pergi mengajarkan satu ayat dari kitab Allah lebih baik bagimu dari shalat sebanyak 100 rakaat, pergi mengajarkan satu bab dari ilmu, diamalkan atau tidak diamalkan lebih baik bagimu dari shalat sebanyak 1000 rakaat”. (HR. Ibnu Majah dari Abu Dzar)

Begitupun dengan memahami hikmah para salafusshalih .. “Semoga Allah merahmati seseorang yang terkenal pada masa hidupnya dan istiqomah pada jalannya”

Jika seperti ini kondisi setiap muslim dengan memiliki pengetahuan dan tsaqofah; maka kalian wahai ikhwan lebih utama dan berhak darinya, kalian akan menghadapi setiap berbagai macam fikroh (ideology) dan pandapat, teori dan filsafat, dalam berbagai sisi dan dimensi, maka dari itu perbanyaklah wahai ikhwan dalam mempelajari buku-buku, majalah-majalah, Koran dan surat kabar, cermatlah dalam memantau berita-berita pada saluran dunia, kantor berita international dan berbagai peristiwa lainnya dari antena parabola; agar bisa mengikuti peristiwa dan perkembangan, dan memiliki kemampuan mengemban amanat dan risalah.

3. Tanggung jawab dan semangat yang tinggi

Hendaklah mengisi hati dengan perasaan yang memiliki tanggungjawab terhadap agama, dakwah dan umat..perasaan ini yang kami perhatikan terdapat pada sikap Abu Bakar As-Shiddiq –saat mencegah sebagian a’rab yang tidak mau membayar zakat; beliau berkata dalam ungkapannya yang menakjubkan : “telah putus wahyu dan sempurna agama, apakah berkurang ajaran agama sementara saya masih hidup, apakah berkurang ajaran agama sementara saya masih hidup”. Begitupun yang kami dapati pada diri Sholahuddin rahimahullah –orang yang paling kuat mengikuti sunnah, dalam satu kondisi dirinya tidak mampu tersenyum dan ketika ditanya alasannya beliau menjawab dalam ungkapan yang menakjubkan : “Bagaimana saya dapat tertawa sementara al-Aqsho tertawan”, maka dengarkanlah wahai orang-orang yang suka bergurau dan bercanda.

Perasaan yang kuat akan tanggung jawab inilah yang bersinar dalam jiwa dan semangat yang tinggi, azimah yang kokoh yang mampu memudahkan segala kesulitan, meringankan segala beban dan mendekatkan segala yang jauh.

Sudahkah kalian menyaksikan kondisi sahabat sebelum perang Badr, ketika lepas dalam memantau kafilah, berjalan dalam khayalan dan pedang yang berkilat, dipelupuk mata ada warna darah, sementara dihidungnya tercium bau kematian, Al-Miqdad bin Amru berbicara dengan lisan para muhajirin; sebagian ungkapan beliau adalah : “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan benar, jika engkau membawa kami menuju lembah yang dalam maka kami akan mengikutimu hingga engkau sampai padanya”. Sedangkan Sa’ad bin Muadz mewakili lisan Anshor dengan bersumpah beliau berkata : “Demi dzat yang mengutusmu dengan benar, jika engkau mengarungi lautan ini, lalu engkau ingin kami mengikutinya maka kami akan ikut bersamamu dan tidak ada seorangpun dari kami yang menyimpang”.

Semangat yang tinggi dan menyala telah menggerakkan generasi awal yang unik dan istimewa ini; terjun dalam perang demi perang, melaju marhalah demi marhalah dan melahirkan prestasi demi prestasi sehingga terjadi perubahan –dalam waktu yang singkat- kondisi Islam dan kaum muslimin, dari sembunyi-sembunyi kepada mujahadah secara terang-terangan dan keperkasaan, dari kondisi sedikit dan minoritas kepada kekuatan dan mayoritas, dari perasaan hina dan rendah diri menuju kewibawaan dan kejayaan.

Untuk itulah bekerjalah wahai orang-orang yang memiliki kesungguhan bekerja, bersemangatlah orang-orang yang memiliki kesungguhan, karena tidak akan baik akhir umat ini kecuali dengan kebaikan pada awalnya.

4. Berjiwa positif

Yaitu sikap yang mampu mendorong pemiliknya untuk bersegera mengambil al-maslahah (kebaikan) untuk orang lain –individu ataupun jamaah- dan meninggalkan kerusakan darinya, sekalipun perkara tersebut bukan dalam kewajiban syar’i… saksikan Khobbab bin Al-Mundzir ra –saat beliau melihat peristiwa yang dipilih oleh nabi saw; sambil bertanya dengan etika dan terus terang: Wahai Rasulullah, apakah posisi ini yang telah diturunkan Allah kepadamu sehingga tidak ada bagi kami mendahului atau terlambat, atau itu merupakan taktik perang, pendapat dan tipu daya?! Maka nabi menjawab : “Ini adalah perang, pendapat dan tipu daya. Lalu Khabbab berkata lagi tanpa rasa ragu: tempat ini bukanlah posisi yang tepat, namun kita harus berada diposisi paling rendah yang ada airnya, sehingga kita bisa membuat lembah, lalu kita kuasai semua sumur, kita dapat minum sementara mereka tidak bisa minum, kita bisa meneguk air namun mereka tidak bisa, nabipun akhirnya mengikuti pendapat tersebut dan menjadi salah satu penyebab kemenangan yang besar dalam perang yang menentukan.

Lihatlah Umar ra yang memberikan pendapat untuk membunuh tawanan perang tanpa belas kasih; sehingga menjadi pelajaran bagi setiap orang yang berani melecehkan agama ini atau melecehkan kaum muslimin; maka turunlah wahyu yang menyetujui pendapatnya dan menetapkan sikapnya : “Tidak patut, bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al-Anfal : 67) lihatlah kepadanya saat menyampaikan pendapat kepada khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan Al-Quran setelah banyak berjatuhan korban dari para penghafal Al-Quran saat perang Al-Yamamah memerangi pasukan Musailamah al-Kadzab, namun Abu bakar menolak pendapat beliau hingga akhirnya dilapapangkan dadanya oleh Allah terhadap perkara tersebut, sungguh ini merupakan pendapat yang lurus dan tepat sehingga terwujud dengannya janji Allah dengan memelihara kitab-Nya yang kekal dan wahyunya yang menjadi penutup.

Maka dari itu bersemangatlah –wahai ikhwan- mengikuti fenomena ini, berada pada kondisi seperti ini, karena dengan itulah agama kalian akan tetap mulia, dakwah akan menang serta umat akan bangkit.

5. Menjalin silaturrahim dengan masyarakat

Begitu luas lapangan yang menjadi tujuan Islam yang mulia!! Dan begitu jauh jangkauan yang ingin dicapai olehnya!! Bertujuan menjangkau bumi demi bumi, menyapa setiap insan… simaklah firman Allah : “Dan tidaklah Kami mengutusmu kecuali sebagai rahmat untuk sekalian alam”. (Al-Anbiya : 107) dan firman Allah : “Tidaklah Kami mengutusmu kecuali untuk seluruh manusia, member kabar dan peringatan”. (Saba : 28), dan tadabburkan sabda Rasulullah saw : “Aku diutus untuk semua yang berwarna merah dan kuning”. Maka setiap yang ingin melayani agama ini, mengemban amanah dakwah ini harus memperbaiki hubungan dan komunikasi dengan orang lain sekalipun terdapat perbedaan pendapat dan madzhab mereka.

Dalam kehidupan Rasulullah saw bagi kalian ada tauladan yang baik, beliau dikenal dan dicintai oleh orang yang keras dan dekat dari keluarga dan kaumnya, mereka mengakui kelurusan pendapatnya, akhlak yang baik dalam setiap munasabah dan kondisi yang berbeda; seperti mereka rela atas keputusan diantara mereka saat berselisih dalam peletakkan hajar aswad setelah melakukan renovasi ka’bah, mereka berkata : ini adalah kejujuran…kami rela dengan keputusannya, lalu merekapun mentaati hukum yang telah diputuskan.

Begitupun mereka menegaskan kesaksian mereka dengan kejujuran dan amanah pada awal pertemuan yang ramai bersama mereka setelah beliau diperintah melakukan dakwah jahriah (terang-terangan), saat mereka bertanya : “Apa pendapat kalian jika aku kabarkan kepada kalian bahwa ada pasukan berkuda di balik gunung ingin menyerang kalian, apakah kalian mempercayainya”.! Mereka menjawab dengan serentak: Ya kami percaya, karena kami tidak pernah mendapatkan dalam diri kamu kebohongan sedikitpun.. demikian pula Khadijah bersumpah kepadanya saat melihat pertama kali diturunkan wahyu kepadanya : “Demi Allah, Allah tidak akan menyesatkan dirimu”. kemudian diapun memberikan alasan dengan apa yang Allah inginkan menuju kemenangan dan keselamatan : “Sungguh engkau akan menyambung rahim (silaturrahim), memuliakan tamu, meringankan beban, mengadakan yang hilang dan membantu para pencari kebenaran”.

Maka hendaklah setiap kalian wahai ikhwan keluar dari kondisi yang tidak baik, negative yang ironis, sikap malu yang tercela, hendaklah diantara kalian berinteraksi dengan manusia dan berkomunikasi, memberi pengaruh dan perubahan, khususnya pada marhalah ini; sehingga mereka menerima kalian dalam berbagai pemilihan, memberikan kepercayaan kepada kalian, dan memberikan amanah diatas pundak kalian serta menjadi delegasi untuk menjadi penyambung lidah mereka terhadap masalah dan meminta kalian untuk memelihara hak-hak mereka dan menjaga kepentingan mereka, dan selalu husnudzon terhadap kalian, karena kalian memiliki hak, dan Allah akan menghisab perbuatan kalian, dan tidak ada seorangpun yang dapat mentazkiyah diri kecuali Allah dan cukuplah Allah pelindung kita dan sebaik-baik pelindung.

Shalawat dan salam atas nabi Muhammad saw beserta keluarga dan sahabat dan akhir seruan kami adalah segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam.

___

Risalah dari Muhammad Mahdi Akif, Mursyid Am Al-Ikhwan Al-Muslimun, 25-10-2007

KELEBIHAN ORANG MENUNTUT ILMU

KELEBIHAN ORANG MENUNTUT ILMU

( Adapun ) kelebihan orang yang menuntut ‘ilmu itu maka iaitu beberapa dalil Qur’an, dan Hadits Nabi (صلى الله عليه وسلم), dan perkataan ‘ulama itu amat banyak.

( Dan setengah ) daripadanya, firman (الله تعالى) ([ Surah An-Nahl, ayat 43 ])::

(( فَسْئَلُوآ أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ ))

Ertinya::

“Maka tanya oleh kamu akan orang yang ahli zikir ya’ni akan orang yang ‘alim jikalau kamu tiada mengetahui.”

( Dan setengah ) daripadanya, firman (الله تعالى) ([ Surah At-Taubah, ayat 122 ])::

(( فَلَوْلاَ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوآ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ ))

Ertinya::

“Mengapa tiada pergi daripada tiap-tiap kaum daripada mereka itu oleh seorang yang Thoifah ( satu Thoifah iaitu kumpulan ) kerana menuntut ‘ilmu, supaya memfaham (- memagami -) pada agama Islam dan supaya mengajar mereka itu akan kaum mereka itu apabila kembali mereka itu kepadanya. Mudah-mudahan takut mereka itu akan (الله تعالى).”

( Dan ) setengah daripada Hadits Nabi (صلى الله عليه وسلم) yang menunjukkan akan kelebihan menuntut ‘ilmu itu, iaitu ([ Hadits riwayat Muslim, (Al-‘Iraqi). Sila betulkan matan hadits tersebut sebagaimana berikut. ])::

(( مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَطْلُبُ فِيْهِ عِلْمًا سَلَكَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ ))

Ertinya::

“Barang siapa menjalani ia akan jalan menuntut di dalamnya akan ‘ilmu nescaya menjalankan (الله تعالى) dengan dia akan jalan yang memasukkan ke dalam Syurga.”

( Dan ) setengah daripadanya sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) ([ Hadits riwayat Imam Ahmad, dan Ibnu Hibban, (Al-‘Iraqi). Sila betulkan matan hadits tersebut sebagaimana berikut. ])::

(( إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَايَصْنَعُ ))

Ertinya::

“Bahawasanya Malaikat itu merendahkan akan beberapa sayapnya bagi orang yang menuntut ‘ilmu kerana sangat redha ia dengan yang diperbuatnya itu.”

( Dan ) setengah daripadanya sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) ([ Hadits riyarat Ibn ‘Abdil Bar, (Al-‘Iraqi). Sila betulkan matan hadits tersebut sebagaimana berikut. ])::

(( لأَنْ تَغْدُوْ فَتَتَعَلَّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تُصَلِّىَ مِائَةَ رَكْعَةٍ ))

Ertinya::

“Demi Tuhanku sanya berpagi kamu maka pergi menuntut ‘ilmu akan suatu bab daripada ‘ilmu itu terlebih baik daripada bahawa kamu sembahyang seratus raka’at.”

( Dan ) lagi sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) ([ Hadits riwayat Ibn Hibban, dha’if menurut Al-‘Iraqi ])::

(( بَابٌ مِنَ الْعِلْمِ يَتَعَلَّمُهُ الرَّجُلُ خَيْرٌلَهُ مِنَ الدُّ نْيَا وَمَا فِيْهَا ))

Ertinya::

“Satu bab daripada ‘ilmu yang dipelajarkan akan dia oleh seorang laki-laki terlebih baik baginya daripada dunia dan barang yang ada di dalamnya.”

( Dan ) lagi sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) ([ Hadits riwayat Al-Baihaqi dan At-Thabrani ])::

(( طَلِبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمِ ))

Ertinya::

“Menuntut ‘ilmu itu fardhu atas segala Muslim yang ‘aqil baligh berkehendak kemenangan di dalam Akhirat.”

( Dan ) lagi sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) ([ Hadits riwayat Abu Nu’im, dha’if menurut Al-‘Iraqi. Sila betulkan matan hadits tersebut sebagaimana berikut.])::

(( اَلْعِلْمُ خَزَائِنُ . وَمَفَاتِيْحُهَا السُّؤَالُ ، أَلاَ فَاسْئَلُوْا ، فَإِنَّهُ يُؤْجَرُ فِيْهِ أَرْبَعَةٌ : السَّائِلُ وَالْعَالِمُ وَالْمُسْتَمِعُ وَالْمُحِبُّ لَهُمْ ))

Ertinya::

“( Bermula ) ‘ilmu itu perbendaharaan dan anak kuncinya itu iaitu bertanya. Maka tanya oleh kamu akan ‘ilmu itu ( hendaklah kamu suka bertanya ), kerana bahawasanya diberi pahala di dalamnya itu akan empat orang: ( pertama ) diberi pahala akan orang yang bertanya akan ‘ilmu itu, dan ( kedua ) diberi pahala akan orang yang mengetahui akan ‘ilmu itu lagi mengajar(kannya), dan ( ketiga ) diberi pahala akan orang yang mendengarkan akan orang yang mengajar akan ‘ilmu itu, dan ( keempat ) diberi pahala akan orang yang kasih bagi mereka itu.”

( Dan ) lagi sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) ([ Hadits riwayat Ath-Thabrani, dha’if menurut Al-‘Iraqi. ])::

((لاَ يَنْبَغِىْ لِلْجَاهِلِ أَنْ يَسْكُتَ عَلَى جَهْلِهِ وَلاَ لِلْعَالِمِ أَنْ يَسْكُتَ عَنْ عِلْمِهِ ))

Ertinya::

“Tiada sayogianya bagi orang yang jahil itu bahawa diam ( ia ) atas jahilnya itu, dan tiada sayogianya bagi orang yang ‘alim itu bahawa diam ( ia ) daripada ‘ilmunya itu.”

Ya’ni ( sayogianya) bagi orang yang ‘alim itu mengajarkan ‘ilmunya bagi seorang yang berkehendak menjalani akan jalan Akhirat.

( Dan ) lagi sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) ([ Hadits seumpama ini diriwayatkan oleh Al-Hakim pada Tarihnya. ])::

(( حُضُوْرُ مَجْلِسِ عَالِمٍ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ أَلْفِ رَكْعَةٍ وَعِيَادَةِ أَلْفِ مَرِيْضٍ وَشُهُوْدِ أَلْفِ جَنَازَةٍ . فَقِيْلَ يَارَسُوْلَ اللهِ ! وَمِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ ؟ فَقَالَ : وَهَلْ يَنْفَعُ الْقُرْآنُ إِلاَّ بِالْعِلْمِ ))

Ertinya::

“( Bermula ) hadzir pada tempat duduk orang yang mengajarkan ‘ilmu itu terlebih afdhal daripada sembahyang seribu raka’at dan daripada mengunjung seribu orang yang sakit dan daripada hadzir menghantar seribu jenazah. Maka sembah shahabat: Ya Rasulallah! Dan terlebih afdhal daripada membaca (قرآن)? Maka sabdanya: Tiada manafaat membaca (قرآن) itu melainkan dengan ‘ilmu. ”

( Dan ) lagi sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) ([ Hadits riwayat Ad-Darami, dha’if menurut Al-‘Iraqi. Sila betulkan matan hadits tersebut sebagaimana berikut. ])::

(( مَنْ جَاءَهُ الْمَوْتُ وَهُوَ يَطْلُبُ الْعِلْمَ لِيُحْىَ بِهِ اْلإِسْلاَمَ ، فَبَيْنَهُ وَبَيْنَ اْلأَنْبِيَاءِ فِى الْجَنَّةِ دَرَجَةٌ وَاحِدَةٌ ))

Ertinya::

“Barang siapa datang akan dia maut padahal ia menuntut ‘ilmu supaya menghidupkan ia dengan dia agama Islam, maka adalah antaranya dan antara Anbiya itu di dalam Syurga ( hanya ) suatu darjat jua.”

( Dan ) kata Abu Ad-Darda (رضى الله عنه)::

(( لأَنْ أَتَعَلَّمَ مَسْئَلَةً أَحَبَّ إِلَىَّ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةٍ ))

Ertinya::

“Demi Tuhankuو bahawasanya aku belajar ‘ilmu akan suatu masalah itu terlebih kasih kepada aku daripada ( aku ) mendirikan ‘ibadat semalam-malam(an).”

( Dan ) lagi kata Abu Darda (رضى الله عنه) ( – Sila betulkan matan di kitab Jawi saudara/i sebagaimana berikut.) ::

(( اَلْعَالِمُ وَالْمُتَعَلِّمُ شَرِيْكَانِ فِى الْخَيْرِ.وَسَائِرُ النَّاسِ هَمَجٌ لاَ خَيْرَ فِيْهِمْ ))

Ertinya::

“( Bermula ) orang yang ‘alim dan orang yang belajar ‘ilmu itu bersekutu keduanya di dalam kebajikan. ( Dan) segala (ya’ni sekelian) manusia yang lain daripadanya ( ya’ni keduanya ) itu sejahat-jahat manusia yang tiada kebajikannya pada mereka itu.”

( Dan kata ) Abu Darda (رضى الله عنه) ( – Sila betulkan matan di kitab Jawi saudara/i sebagaimana berikut.)::

(( كُنْ عَالِمًا أَوْمُتَعَلِّمًا أَوْمُسْتَمِعًا وَلاَ تَكُنْ رَابِعً فَتَهْلِكَ ))

Ertinya::

“Jadikan dirimu itu ‘alim, atau orang yang belajar ‘ilmu, atau orang yang mendengarkan orang yang mengajar ‘ilmu; dan jangan kamu jadikan diri kamu itu orang yang keempat ( maksudnya ialah orang yang lain daripada tiga orang yang tersebut tadi ) maka jadi binasalah kamu.”

( Dan ) kata ( Imam ) ‘Atha (رحمه الله تعالى) ( – Sila betulkan matan di kitab Jawi saudara/i sebagaimana berikut.)::

(( مَجْلِسُ عِلْمٍ يُكَفِّرُ سَبْعِيْنَ مَجْلِسًا مِنْ مَجْلِسِ اللَّهْوِ ))

Ertinya::

“Perhimpunan orang yang duduk belajar ‘ilmu itu iaitu menghapuskan akan tujuh puluh perhimpunan orang yang duduk ( di ) tempat ( duduk ) orang yang bermain-main.”

( Dan ) kata Sayyidina Umar (رضى الله عنه)::

(( مَوْتُ أَلْفِ عَابِدٍ قاَئِمُ اللَّيْلِ وَصَائِمِ النَّهَارِ أَهْوَنُ مِنْ عَالِمٍ بَصِيْرٍ بِجَلاَلِ اللهِ وَحَرَامِهِ ))

Ertinya::

“Mati seribu orang yang ‘abid yang mendirikan ‘ibadat semalam-malam dan puasa sehari-hari itu terlebih mudah daripada mati seorang yang ‘alim yang mengetahui ia akan barang yang dihalalkan (الله تعالى) dan yang diharamkan-Nya.”

( Dan ) kata Imam Syafi’e (رضى الله عنه) ( – Sila betulkan matan di kitab Jawi saudara/i sebagaimana berikut.) ::

(( طَلَبَ الْعِلْمِ أَفْضَلَ مِنْ صَلاَةِ النَّافِلَةِ ))

Ertinya::

            “( Bermula ) menuntut ‘ilmu itu terlebih afdhal daripada berbuat sembahyang sunat.”

( Syahdan ) ketahui olehmu hai segala orang yang menuntut ‘ilmu kerana Akhirat! Bahawasanya

i)                    segala ayat (قرآن), dan

ii)                   segala Hadits Nabi (صلى الله عليه وسلم), dan

iii)                 segala perkataan ‘ulama dan shahabat Nabi (صلى الله عليه وسلم)

yang ( mana ) menyebutkan ( tentang )

i)                    ‘ilmu, dan

ii)                   kelebihan orang yang menuntut ‘ilmu, dan

iii)                 kelebihan orang yang mengajarkan ilmu itu;

hanya sesungguhnya murad (, ya’ni dikehendaki atau dimaksudkan) dengan ( sekeliannya ) itu iaitu ‘ilmu yang memberi manafaat pada agama-nya (, ya’ni orang yang berkaitan) dan memberi manafaat ( kepadanya nanti ) di dalam Akhirat, seperti(mana) yang disebutkan oleh Syeikh Ibn ‘Abbad dan lain-nya (, ya’ni ulama-ulama yang disebutkan sebelum ini) yang telah tersebut dahulu itu.

( Bermula ) ‘ilmu yang memberi manafaat itu ( ialah ) seperti yang disebutkan oleh Sidi Syaikh ‘Abdullah Al-Haddad dahulu itu, iaitu ‘ilmu yang tersebut di dalam (kitab-kitab)::

i)                    Ihya’ Ulumiddin,

ii)                   dan yang tersebut di dalam Arba’in Al-Ushul,

iii)                 dan yang tersebut di dalam Minhajul ‘Abidin,

iv)                dan ‘ilmu yang tersebut di dalam Bidayatul Hidayah,

v)                  dan ‘ilmu yang tersebut di dalam Mukhtashar Ihya’ yang hamba terjemahkan di dalam kitab ini,

vi)                dan ‘ilmu yang tersebut di dalam Hidayatus Salikin yang hamba terjemahkan daripada kitab Bidayatul Hidayah,

dan lainnya.

( Dan demikian lagi ) segala kitab ‘ilmu Tashauf, semuanya itu iaitulah ‘ilmu yang memberi manafaat kerana kitab(-kitab) Tashauf itu telah terkandung di dalamnya ‘ilmu Ushuluddin, dan ‘ilmu Fiqah yang fardhu ‘ain yang tiada dapat tiada daripada mengetahui akan dia (ya’ni ilmu Fiqah yang fadhu ‘ain itu) oleh segala orang yang Suluk, ya’ni (, maksud Suluk di sini ialah)::

i)                    orang yang menjalani jalan Akhirat yang menyampaikan ke dalam Syurga, dan

ii)                   menyampaikan kepada ma’rifat (, ya’ni mengenal ) akan (الله تعالى), dengan mengetahui sebenar-benarnya ( perkara-perkara ) yang membawa takut akan (الله تعالى).

( Dan ) dari kerana inilah kata Imam Malik (رضى الله عنه) ( – Sila betulkan matan di kitab Jawi saudara/i sebagaimana berikut.) ::

(( مَنْ تَصَوَّفَ وَلَمْ يَتَفَقَّهُ فَقَدْ تَزَنْدَقَ ؛ وَمَنْ تَفَقَّهُ وَلَمْ يَتَصَوَّفْ فَقَدْ تَفَسَّقَ وَمَنْ جَمَعَ بَيْنَهُمَا فَقَدْ تَحَقَّيقَ ))

Ertinya::

“Barang siapa menuntut ‘ilmu Tashauf dan tiada ( ia ) mengetahui ‘ilmu Fiqah yang fardhu ‘ain itu, maka (bahawa)sanya ( ia ) jadi Zindiq – (زنديق); dan barang siapa menuntut ‘ilmu Fiqah dan tiada menuntut ‘ilmu Tashauf, maka (bahawa)sanya ( ia ) jadi Fasiq – (فاسق); dan barang siapa menghimpunkan antara kedua-nya (, ya’ni ilmu Tashauf dan ilmu Fiqah tersebut ) maka (bahawa)sanya jadilah ia ‘ulama yang Muhaqqiq yang ‘Arif Billah Ta’ala, iaitulah yang bernama ‘ulama Ahlus Sufi – (أهل الصوفى) yang menghimpunkan mereka itu antara Syariat, dan Thoriqat, dan Haqiqat.”

( Bermula ) segala kitab Imam Al-Ghazali yang tersebut itu iaitu telah terhimpun di dalamnya itu::

i)                    (‘ilmu’) Usuluddin iaitu ‘ilmu i’tiqad, dan

ii)                   ‘ilmu Fiqah iaitu ‘ilmu ‘ibadat dan ‘adat,

dan lagi di dalamnya itu

iii)                 ‘ilmu Tashauf iaitu dinamakan ‘ilmu Bathin.

( Dan ) sekelian itu dinamakan ‘ilmu Suluk dan ‘ilmu Thoriqat seperti yang lagi akan datang (ان شاء الله تعالى) bicara sekelian(nya) itu di dalam kitab ini. ( Dan ) itulah dinamakan ‘ilmu yang memberi manafaat di dalam Akhirat dan dinamakan pula ‘ilmu Taqwa pula, iaitulah yang disuruh (الله تعالى) mengambil akan dia (, ya’ni mempelajari ilmu-ilmu yang disebutkan di atas) supaya jadi bekal di dalam Akhirat dengan firman-Nya ( Surah Al-Baqarah, ayat 197)::

(( وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى ))

Ertinya::

“Dan ambil oleh kamu akan bekal kamu di dalam Akhirat, maka sebaik-baik bekal kamu di dalam Akhirat itu ( adalah ) takut akan (الله تعالى).”

( Dan ) tiada takut seorang itu akan (الله تعالى) melainkan dengan mengetahui segala ‘ilmu yang tersebut itu seperti firman-Nya ( Surah Al-Fathir, ayat 28)::

(( إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَـؤُاْ (قلى) ))

Ertinya::

“Hanya sungguhnya yang takut akan (الله تعالى) itu iaitu daripada hamba-Nya yang ‘ulama.”

( Dan ) murad (, ya’ni yang dikehendaki) dengan ‘ulama pada ayat itu dan lainnya daripada beberapa ayat (قرآن) dan beberapa Hadits Nabi (صلى الله عليه وسلم) itu iaitu ‘ulama yang menjalani jalan ahli sufi, seperti yang disebutkan oleh Shaikh Ibn ‘Abbad dahulu itu.

( Dan ) kerana inilah, berkata As-Syaikh Al-‘Arif Billah Al-‘Alim Ar-Rabbany Husein bin Abdullah Ba-Fadhal (رحمه الله تعالى) di dalam kitabnya yang bernama Al-Fushul Al-Miftahiyyah Wan Nafahat Ar-Ruhiyyah – (الفصول المفتحية وانفتات الروحية) dengan katanya ( – Sila betulkan matan di kitab Jawi saudara/i sebagaimana berikut.)::

(( قَدْ تَقَرَّرَ مَذْهَبُ الصُّوفِيَّةِ الْيَوْمَ كَتَقْرِيْرِسَائِرِ الْمَذَاهِبِ وَصَارَ مَذْهَبًا مُسْتَقِلاًّ بِأُصُوْلِهِ وَفُرُوْعِهِ وَأَحْكَامِهِ وَسَائِرِ مَايَتَعَلَّقَ بِهِ . فَمَنْ أَرَاد تَحْقِيْقَةُ وَالتَّفَقُّهَ فِيْهِ قَدَرَ عَلَيْهِ بِالْقِرَاءَةِ عَلى مَشَايِخِهِ وَمُطَالَعَةِ الْكُتُبِ الْمُصَنَّفَةِ فِيْهِ عَلى أَتَمِّ مَايَكُوْنُ ))

Ertinya::

“Sesungguhnya telah tetap mazhab ahli sufi pada hari ini ya’ni pada masa sekarang ini seperti tetap segala mazhab ( yang empat itu ) dan jadilah ia seolah-olah mazhab yang mustaqil – (مستقل) (, ya’ni yang berdiri sendiri) dengan ushul-nya ya’ni ‘ilmu Ushuluddin, dan furu’-nya ya’ni ‘ilmu Fiqah dan segala hukumnya ya’ni segala hukum haram dan halal dan hukum batal dan sah dan barang yang bergantung dengan dia. Maka barang siapa berkehendak akan mengetahui segala haqiqat ‘ilmu itu dan berkehendak memfahami akan barang yang di dalamnya itu, nescaya kuasa ia atasnya (ya’ni berusaha sedaya upaya) dengan membaca segala kitab yang dikarang oleh MaSyayikh ( ya’ni guru-guru yang juga ‘ulama kepada) ahli sufi, dan kuasa ia (ya’ni berusaha sedaya upaya) me-mutala’ah akan segala kitab yang dikarang oleh mereka itu di dalam Tashauf itu atas sempurna pengetahuannya itu, kerana di dalam segala kitab karangan ahli sufi itu telah terhimpun di dalamnya ‘ilmu Ushuluddin, dan ‘ilmu Fiqah, dan ‘ilmu Thoriqat, dan ‘ilmu Haqiqat. ( Bermula ) ‘ilmu yang menghimpunkan di dalamnya akan segala ( ilmu ) yang tersebut itu iaitu dinamakan akan dia ( sebagai ) ‘ilmu Tashauf yang sebenar-benarnya.”

( Dan ) barang siapa tiada masyhgul (مشغول) (, ya’ni menyibukkan diri ) di dalam menuntut ‘ilmu Tashauf itu maka ( telah ) ada ( pada ) mereka itu ‘alamat orang yang kurang iman-nya lagi kurang ‘aqal-nya dan kurang agama-nya. Demikianlah ( yang ) disebutkan akan dia oleh Syaikh Husien bin ‘Abdullah di dalam kitabnya yang tersebut itu.

( Maka sayogianya ) orang yang berkehendak kemenangan di dalam Akhirat menuntut ‘ilmu Tashauf dan mengajarkan akan dia (, ya’ni ilmu tersebut) seperti orang yang menuntut ( ‘ilmu yang lain) yang mengajarkan ‘ilmu yang lain itu (, ya’ni ‘ilmu yang lain tersebut ). Ini ( disebabkan ) kerana barang siapa menuntut ‘ilmu Tashauf itu nescaya terkaya ia daripada ‘ilmu yang lainnya. (Sebaliknya, orang yang menuntut ) ‘ilmu yang lain daripada ‘ilmu Tashauf itu tiada terkaya ia ( ya’ni tidak lebih kaya ia, iaitu tidak lebih ‘alim atau berilmu ia, dan seumpamanya) daripada ( orang yang menuntut dan/atau mengetahui ilmu ) Tashauf itu dan (ya’ni meskipun) jika ia ( seorang ) ‘ulama yang sebesar-besar sekalipun.

( Dan ) dari kerana inilah kata Waliyullah yang amat besar, Sayyidi Syaikh Ibrahim Ad-Dusuki (رحمه الله تعالى), dengan katanya ( – Sila betulkan matan di kitab Jawi saudara/i sebagaimana berikut.)::

(( طَلَبُ الشَّيْخِ فِىْ طَرِيْقَةٍ وَاجِبٌ عَلى مُرِيْدٍ وَلَوْ كاَنَ مِنْ أَكَبِرِ الْعُلَمَاءِ ))

Ertinya::

“( Bermula ) menuntut ‘ilmu Thoriqat, ya’ni Tashauf itu, wajib atas tiap-tiap murid, ya’ni atas tiap-tiap orang yang menjalani akan jalan Akhirat yang berkehendak kemenangan di dalam Akhirat, dan jikalau ia daripada sebesar-besar ‘ulama pada mengetahui ‘ilmu yang lain daripada ‘ilmu Tashauf itu sekalipun.”

( Dan ) dari kerana inilah kata ‘ulama::

(( كُلُّ صُوْفِىٍّ فَقِيْهٌ ، وَلَيْسَ كُلُّ فَقِيْهٍ صُوْفِيًّا ))

Ertinya::

“Tiap-tiap Shufi itu patut dinamakan Faqih dan tiada patut tiap-tiap Faqih dinamakan Shufi.”

Ya’ni, tiap-tiap ‘ulama ahli shufi itu ada kepadanya ( iaitu pada mereka ) mengetahui ‘ilmu Fiqah, dan tiada lazim ‘ulama ahli Fiqah itu mengetahui ia akan ‘ilmu Tashauf, kerana ‘ilmu Fiqah itu dimisalkan oleh ‘ulama seperti kulit nyiur ( iaitu kulit buat kelapa ) yang di luar dan ‘ilmu Tashauf, ya’ni ilmu Thoriqat itu, seperti kulit yang di dalam, dan ( ilmu ) haqiqat ( itu ) isinya yang di dalam. ( Dan lagi ) patut dikatakan ‘ilmu Fiqah itu seperti kulit nyiur, dan ‘ilmu Tashauf itu seperti isi nyiur, dan ‘ilmu Haqiqat itu seperti minyak nyiur.

KELEBIHAN ORANG MENGAJAR ILMU

KELEBIHAN ORANG MENGAJAR ILMU

(( بسم الله الرحمن الرحيم ))

( Adapun ) kelebihan orang yang mengajar ‘ilmu itu iaitu ( berdasarkan ) beberapa dalil (قرآن), dan Hadits Nabi (صلى الله عليه وسلم), dan perkataan ‘ulama’ yang amat banyak.

( Dan ) setengah daripadanya, firman (الله تعالى) [ Surah At-Taubah, ayat 122 ]::

(( وَلِيُنْذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوآ إِلَيْهِمْ ))

Ertinya::

“Dan supaya menakuti mereka itu akan kaumnya apabila kembali mereka itu kepada kaum mereka.”

Kata Imam Al-Ghazali (رحمه الله تعالى) di dalam Ihya Ulumiddin: “dan murad ( ya’ni yang dikehendaki ) yang di dalam ayat ini iaitu mengajar ‘ilmu dan menunjukkan jalan Akhirat.”

Dan setengah daripadanya, firman (الله تعالى) [ Surah Ali Imran, ayat 187, sila betulkan matan dan maksud di kitab Versi Jawi saudara/i ]::

(( وَ إِذْ أَخَذَاللهُ مِيثَـقَ الَّذِيْنَ أُوتُواْالْكِتـَبَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلاَ تَكْتُمُونَهُ ))

Ertinya::

“Dan pada ketika Allah mengambil ( , ya’ni mengikat ) (per)janjian (akan) mereka itu yang diberi akan mereka itu kitab supaya menyatakan mereka itu akan yang di dalam kitab mereka itu bagi manusia dan supaya jangan menyembunyikan mereka itu akan ‘ilmu yang di dalam kitab mereka itu.”

Dan kata Imam Al-Ghazali (رحمه الله تعالى) di dalam Ihya Ulumiddin: “( Bermula ) makna ayat itu ( menunjukkan ) iaitu wajib ( atas ) orang yang diberi ‘ilmu itu mengajarkan bagi manusia dan haram menyembunyikan akan ‘ilmu itu.”

( Dan ) tatkala membaca Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) akan ayat ini, maka bersabda ia ( ya’ni baginda (صلى الله عليه وسلم) ) dengan katanya [; sila betulkan matan di kitab Jawi saudari/i sebagaimana berikut; Hadits riwayat Abu Na’im, (Imam Al-Iraqi); ]::

(( مَا أَتَى اللهُ عَالِمًا عِلْمًا إِلاَّ أَخَذَ اللهُ عَلَيْهِ مِنَ الْمِيْثَاقِ مَا أَخَذَ عَلى النَّبِيِّيْنَ أَنْ يُبَيِّنُوْهُ لِلنَّاسِ وَلاَ يَكْتُمُوْهُ ))

Ertinya::

“Tiada memberi (الله) itu akan ulama’ akan ‘ilmu melainkan mengambil (الله) atasnya daripada janjinya barang yang ( ya’ni seperti (الله) ) mengambil janji atas segala Anbiya’ bahawa menyatakan mereka itu akan ‘ilmunya itu bagi manusia dan jangan menyembunyikan mereka itu akan ‘ilmunya itu.”

Dan setengah daripadanya, firman (الله تعالى) [ Surah An-Nahl, ayat 125 ]::

(( أدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ))

Ertinya::

“Seru olehmu akan manusia kepada jalan Tuhan-mu dengan ‘ilmu hikmah dan pengajaran yang baik.”

( Dan ) setengah daripadanya sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) tatkala menyuruh ia akan Muaz ( bin Jabal ) (رضى الله عنه) ke negeri Yaman [ Hadits riwayat Imam Ahmad, (Al-Iraqi) ]::

(( َلأَنْ يَهْدِىَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌلَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا ))

Ertinya::

“Sesungguhnya bahawa memberi hidayat (الله تعالى) dengan dikau (iaitu engkau) akan seorang laki-laki iaitu terlebih baik bagimu daripada dunia dan barang yang di dalamnya.”

( Dan ) sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) [ Hadits riwayat Ad-Dailami, dha’if menurut penilaian Imam Al-Iraqi ]::

(( مَنْ تَعَلَّمَ بَاباً مِنَ الْعِلْمِ لِيُعَلِّمَ النَّاسَ أُعْطِىَ ثَوَابَ سَبْعِيْنَ صِدِّيْقًا ))

Ertinya::

“Barang siapa belajar ‘ilmu akan satu bab daripada ‘ilmu kerana (ia) berkehendak mengajar akan manusia, nescaya diberi (الله) akan dia pahala tujuh puluh daripada pahala ‘ulama’ yang Shiddiqin.”

Dan sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) [ Hadits riwayat At-Tirmidzi. Sila betulkan matan hadits sebagaimana berikut. ]::

(( إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَأَهْلَ اْلأَرْضِ حَتىَّ النَّمْلَةَ فِىْ جُحْرِهَاوَحَتىَّ الْحُوْتَ فِى الْبَحْرِ لِيُصَلُّوْنَ عَلى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ ))

Ertinya::

“Bahawasanya (الله تعالى) dan segala Malaikat-Nya dan isi tujuh petala langit dan segala isi bumi hingga semut yang di dalam lubangnya dan hingga ikan yang di dalam laut, sesungguhnya mengucap(kan) shalawat (ya’ni mendoakan supaya mendapat kebajikan) atas orang yang mengajar akan manusia dengan kebajikan itu.”

( Dan lagi ) sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) [ Hadits riwayat Ibnu Al-Mubarak, dha’if menurut penilaian Imam Al-Iraqi. Sila betulkan matan hadits sebagaimana berikut. ]::

(( كَلِمَةٌ مِنَ الْخَيْرِيَسْمَعُهَا الْمُؤْمِنُ فَيَعْمَلُ بِهَا وَيُعَلِّمُهَا خَيْرٌلَهُ مِنْ عِبَادةِ سَنَةٍ ))

Ertinya::

“Suatu kalimah daripada kebajikan yang mendengar akan dia oleh orang yang mu’min maka mengamalkan ia akan dia (ya’ni ilmu yang dipelajari itu) dan mengajarkan ia akan dia (ya’ni ilmu yang dipelajari itu) iaitu terlebih baik baginya daripada berbuat ‘ibadat setahun.”

( Dan lagi ) sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) [ Hadits riwayat Imam Muslim ]::

(( إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلاَثٍ : عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، وَصَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ ))

Ertinya::

“Apabila mati anak Adam nescaya putus segala ‘amalnya yang kebajikan melainkan daripada 3 perkara ( maka iaitu tiada (ter)putus ). Pertama, ‘ilmu yang memberi manafaat dengan dia (ya’ni dengan ilmu itu); dan kedua, sedeqah jariah ya’ni berbuat waqaf Lillahi Ta’ala (لله تعالى); dan ketiga, anak yang sholeh mendoakan baginya.”

( Dan lagi ) sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) [ Hadits riwayat At-Tirmidzi ]::

(( اَلداَّلُ عَلى الْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ ))

Ertinya::

“( Bermula ) orang yang menunjukkan akan manusia atas berbuat kebajikan itu iaitu seperti orang yang berbuat kebajikan.”

Ya’ni dapat pahala oleh orang yang menunjukkan akan kebajikan itu, iaitu seperti pahala orang yang berbuat akan dia.

Dan lagi sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) [ Hadits riwayat Ibn Abdul Bar, (Al-Iraqi). Sila betulkan matan hadits sebagaimana berikut. ]::

(( عَلى خُلَفَائِىْ رَحْمَةُ اللهِ . قِيْلَ وَمَنْ خُلَفَاؤُكَ ؟ قَالَ : الَّذِيْنَ يُحْيُوْنَ سُنَّتِىْ وَيُعَلِّمُوْنَهَا عِبَادَاللهِ . ))

Ertinya::

“( Bermula ) segala khalifahku itu dapat rahmat (الله تعالى). Maka sembah shahabat: “Siapa khalifahmu ya Rasulullah?” Maka sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) : “Khalifahku itu iaitu mereka yang menghidupkan akan jalan agamaku dan mengajarkan ia akan dia (ya’ni ilmu agama itu ) akan hamba (الله).”

( Dan kata ) Sayyidina Umar (رضى الله عنه): “Barang siapa mencerterakan ( menceritakan ) suatu hadits Nabi (صلى الله عليه وسلم) maka (lalu) diamalkan oleh orang akan dia (ya’ni apa yang diajarkannya itu), maka dapat baginya seperti pahala orang yang mengamalkan akan dia (ya’ni hadits tersebut, iaitu apa yang diajarkan itu) itu.

( Dan kata ) Muadz Bin Jabal, (رضى الله عنه), ::

“( Bermula ) belajar ‘ilmu kerana (الله تعالى) itu iaitu kebajikan ( ya’ni belajar ‘ilmu untuk mencari keredhaan (الله تعالى) itu akan menambahkan takut akan (الله تعالى) ). Dan

i)                    menuntut ‘ilmu itu ‘ibadat, dan

ii)                   muthalaah ‘imu itu tasbih, dan

iii)                 bertanya ‘ilmu itu perang sabil (, ya’ni jihad), dan

iv)                mengajarkan ‘ilmu bagi orang yang jahil itu sadaqah, dan

v)                  memberikan ‘ilmu bagi ahlinya itu Qurbah (قربة), ya’ni menghampirkan diri kepada (الله تعالى).

Dan lagi ‘ilmu itu::

(( اْلأَنِيْسُ فِى الْوَحْدَة ))

ya’ni: “menjinakkan (hati) seseorang”. – [[ Ya’ni menjinakkan hati seseorang yang duduk bersendirian, dan menjadi sahabat di kesunyian dan panduan yang menunjukkan jalan agama, dan dapat dijadikan kawan ketika suka dan duka dan menjadi penolong yang setia, dan yang menjadi keluarga di perantauan, dan yang menerangkan jalan menuju ke Syurga.”

“Dengan ‘ilmu itu (الله تعالى) mengangkat darjat sekumpulan manusia, lalu mereka layak untuk menjadi pemimpin yang membawa petunjuk kepada kebaikan. Keperibadian mereka dapat dicontohi. Akhlaq mereka boleh dijadikan ikutan, dan perbuatan mereka dipandang dengan penuh kepercayaan.”

“Selain daripada itu, para Malaikat meminati untuk bersahabat dengan mereka, dan rela menghamparkan sayapnya untuk mereka berjalan di atasnya. Dan segala yang basah dan segala yang kering memintakan ampun untuk mereka sehinggakan ikan-ikan yang ada di laut, segala binatang buas, binatang ternak, langit dan segala bintang gemintangnya, semuanya memintakan ampun untuk mereka.” ]]

“Dan lagi (segala kelebihan ini adalah berpunca daripada kerana) ilmu itu (menghidupkan akan mata hati daripada butanya, dan yang ) menerangkan akan hati daripada kelamnya dan ( yang ) menguatkan badan daripada dha’ifnya (, ya’ni lemahnya ), dan ( yang ) menyampaikan (ia) seseorang (ke)pada martabat orang ( yang ) Abrar (أبرار) (, ya’ni orang yang kuat berbuat ‘ibadat, ), dan ( yang ) meninggikan ia akan darjat seseorang.”

“Dan memikirkan ‘ilmu itu iaitu menyamai puasa sehari-hari, dan memuthalaah (, ya’ni mentelaah dan/atau mengulangkaji, ) ‘ilmu itu menyamai akan ber’ibadat semalam-malam(an), dan dengan dia (, ya’ni ilmu itu, kita) taat kepada (الله تعالى), dan dengan dia (, ya’ni ilmu itu kita menyembah dan) mengesakan (الله تعالى), dan dengan ( dia [, ya’ni ilmu itu, ] kita boleh menjadi orang yang wara’, dan dengan dia [, ya’ni ilmu itu, ] kita dapat menghubungkan Silaturrahim, dan dengan dia [, ya’ni ilmu itu, ] kita ) mengetahui haram dan halal (. ‘Ilmu adalah imam dan ‘amal adalah pengikutnya ) dan dengan dia [, ya’ni ilmu itu, ] jadi sah amalnya, dan dengan dia (, ya’ni ilmu itu, ) dapat kemenangan di dalam Akhirat, dan dengan dia (, ya’ni ilmu itu, ) lepas daripada api Neraka Jahannam.

Demikianlah certera (ya’ni diceritakan) daripada Muadz bin Jabal (رضى الله عنه).

KELEBIHAN ORANG BERILMU

KELEBIHAN ORANG BERILMU

KITAB SAIRUS SALIKIN

Adapun ) kelebihan ‘ilmu maka iaitu beberapa dalil daripada ayat Qur’an yang amat banyak.

( Dan setengah ) daripadanya, firman (الله تعالى)::

﴿ يَرْفَعِ الله ُ الَّذِيْنَ آمَنُواْ مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أ ُوتُواْ الْعِلْمَ دَرَجَتٍ ﴾

Ertinya::

“Mengangkatkan Allah Ta’ala akan mereka yang percaya ia akan Allah Ta’ala, dan mereka yang diberi ilmu itu akan beberapa darjat.”

Dan kata Sayyidina ‘Abdullah bin ‘Abbas (رضى الله عنهما): “bermula darjat ‘ulama itu atas darjat orang yang mukmin tujuh ratus darjat, dan antara tiap-tiap suatu darjat itu sekira-kira perjalanan lima ratus tahun.”

( Dan ) setengah daripadanya, firman (الله تعالى) ::

﴿ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لاَيَعْلَمُوْنَ (قلى) إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْ لُواْ ا ْلأَلْبَـبِ ﴾

Ertinya::

“Kata olehmu (ya Muhammad), adakah bersamaan mereka yang mempunyai ‘ilmu dan mereka yang tiada mempunyai ‘ilmu itu (ya’ni tiada bersamaan orang yang ‘alim itu dengan orang yang jahil). Hanya sanya ingat akan الله تعالى itu orang yang mempunyai aqal.”

( Dan ) setengah daripadanya itu firman (الله تعالى) ::

﴿ إِ نَّمَا يَخْشَى الله َ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَـؤُاْ ﴾

Ertinya::

            “Hanya sanya mereka yang takut akan (الله) itu iaitu daripada hamba-Nya yang ‘ulama.”

( Dan ) setengah daripadanya itu firman (الله تعالى) ::

﴿ وَتِلْكَ ا ْلأَمْثَـلُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ (صلى) وَمَا يَعْقِلُهَآ إِلاَّ الْعَـلِمُونَ ﴾

Ertinya::

“Demikian itu segala misal yang Aku (- الله) umpamakan bagi manusia dan tiada mengetahui akan dia melainkan orang yang ‘alim.”

Dan setengah daripadanya firman (الله تعالى) ::

﴿ شَهِدَالله ُأَنَّهُ لآإِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلَـئِكَةُ وَ أُوْلُوْالْعِلْمِ ﴾

Maksudnya::

“Naik saksi الله تعالى bahawa sanya tiada Tuhan melainkan Dia dan (begitu pula) naik saksi Malaikat dan orang orang yang mempunyai ilmu.”

( Dan ) kata Imam Al-Ghazali (رحمه الله تعالى) di dalam Ihya ‘Ulumiddin : “Maka tilik olehmu akan ayat ini, betapa memulai (الله تعالى) akan ketuhanan-Nya itu dengan diri-Nya, dan mengiringkan Ia (- الله) dengan Malaikat-Nya akan saksi yang kedua, dan mengiringkan Ia ( – الله) dengan orang yang mempunyai ‘ilmu akan saksi yang ketiga; bahawa sanya tiada Tuhan yang sebenarnya melainkan (الله تعالى). (Dan) memadalah dengan yang tersebut di dalam ayat ini akan kemuliaan ‘ilmu itu, dan kelebihan dan kebesarannya.”

( Dan demikian lagi ) dalil yang menunjukkan akan kelebihan ilmu itu, beberapa Hadits Nabi (صلى الله عليه وسلم).

( Dan ) setengah daripadanya, sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) ([ rujuk keterangan ])::

(( اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ ))

Ertinya::

            “( Bermula para ) ‘ulama itu mempusakai ia akan Anbiya’.”

Dan telah maklum bahawa sanya tiada martabat yang mulia itu di atas martabat Anbiya’. ( Dan ) demikian pula martabat orang yang mempusakai akan mereka itu, maka tiada martabat yang kemuliaan yang tinggi daripada martabat mereka itu.

Hadits ini adalah hadits riwayat Abu Daud dan At-Tarmizi, dan Ibnu Hiban – ( Al-Iraqi ). Maksudnya ialah para ‘ulama’ itu mempusakai para Anbiya’.

( Dan ) setengah daripadanya, sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) ( Hadits riwayat Al-Baihaqi, dha’if menurut Al-‘Iraqi ) ::

(( أَفْضَلُ النَّاسِ الْمُؤْمِنُ الْعَالِمُ ، الَّذِىْ إِنِ احْتِيْجَ إِلَيْهِ نَفَعَ ، وَإِنِ اسْتُغْنِىَ عَنْهُ أَغْنى نَفْسَهُ ))

Ertinya::

“( Bermula ) yang terlebih afdhal manusia itu iaitu mukmin yang ‘alim. Adalah mereka itu jika dikehendaki orang kepadanya nescaya memberi manafaat akan dia, dan jika terkaya orang daripada mereka itu nescaya terkaya diri mereka itu daripada orang.”

( Dan ) setengah daripadanya, sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) ( Hadits riwayat Al-Hakim, dha’if menurut Al-‘Iraqi )::

(( اَلإِيْمَانُ عُرْيَانٌ ، وَلِبَاسُهُ التَّقْوى ، وَزِيْنَتُهُ الْحَيَاءُ ، وَثَمَرَ تُهُ الْعِلْمُ ))

Ertinya::

“( Bermula ) iman itu bertelanjang, dan pakaiannya itu takut akan (الله تعالى), dan perhiasannya itu malu, dan buahnya itu ilmu.”

( Dan lagi ) sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) ( Sila rujuk nota keterangan saya.)::

(( أَقْرَبُ النَّاسِ مِنْ دَرَجَةِ النُّبُوَّةِ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَهْلِ الْجِهَادِ . أَمَّا أَهْلُ الْعِلْمِ فَدَلُّوْا النَّاسَ عَلى مَاجَاءَتْ بِهِ الرُّسُلُ . وَأَمَّا أَهْلُ الْجِهَادِ فَجَاهِدُوْا بِأَسْيَافِهِمْ عَلى مَاجَاءَتْ بِهِ الرُّسُلُ ))

Ertinya::

“( Bermula ) manusia yang terhampir kepada darjat Anbiya’ (ia)itu ( ialah ) yang mempunyai ‘ilmu dan orang yang perang sabil ( Dan adapun ) orang yang mempunyai ‘ilmu itu maka iaitu menunjukkan mereka itu akan manusia atas agama yang didatangkan dengan dia oleh Rasulullah (Adapun ) orang yang perang sabil itu maka iaitu perang mereka itu dengan segala pedang mereka itu akan kafir kerana meninggikan agama Islam yang didatangkan dengan dia oleh Rasulullah (صلى الله عليه وسلم).”

Saudara/i yang memiliki kitab Jawi berkenaan, tolong betulkan matan Hadits sebagaimana di atas. Hadits riwayat Abu Nu’im, dan hadits dha’if menurut Al-‘Iraqi. Juga sila tandakan menurut apa yang saya selidiki dan tandakan di dalam kitab saudara/i jika mahu/perlu.

( Dan lagi ) sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) ( Hadits riwayat Ibnu Abdil Bar, dan dha’if menurut Al-Iraqi)::

(( اَلْعَالِمُ أَمِيْنُ اللهِ فِى اْلأَرْضِ ))

Ertinya::

“( Bermula ) orang yang ‘alim itu ( ialah orang yang ) dipercayai oleh (الله تعالى) di dalam bumi ( nota, ya’ni di atas muka bumi).”

( Dan lagi ) sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) ([ Hadits riwayat Ibnu Majah, dan dha’if menurut penilaian Al-Iraqi ])::

(( يَشْفَعُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اْلأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْعُلَمَاءُ ثُمَّ الشُّهَدَاءُ ))

Ertinya::

“( Bahawa ) Sanya lagi akan memberi syafaat pada hari Qiamat oleh Anbiya’ kemudian ‘ulama’ kemudian syuhada’.”

( Dan lagi ) sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) ([Hadits riwayat Abu Daud dan At-Tirmizi dan Ibnu Hibban (Al-Iraqi) ])::

(( وَ يَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِمِ مَافِى السَّمَوَاتِ وَمَا ِفى اْلأَرْضِ ))

Ertinya::

“Meminta’ ampun kepada (الله تعالى) bagi orang yang ‘alim oleh segala Malaikat yang dalam tujuh petala langit dan segala isi bumi.”

( Dan lagi ) sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) ([ Hadits riwayat Al-Khatib, dha’if menurut penilaian Al-Iraqi ])::

(( مَنْ تَفَقَّهُ فِىْ دِيْنِ اللهِ كَفَاهُ اللهُ تَعَالى مَاأَهَمَّهُ وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ ))

Ertinya::

“Barang siapa belajar ‘ilmu Fiqah ( – ilmu agama – ) padahal ia berkehendak mendirikan agama (الله تعالى) niscaya memadai ( – mencukupkan – ) oleh (الله) akan dia akan segala yang dicita-citanya dan memberi Ia rezki akan dia dengan sekira-kira tiada dikira-kiranya dan tiada diusahainya, (ya’ni memudahkan (الله تعالى) akan rezki dengan tiada diusahainya) dan tiada (di)bicarakannya.”

( Dan lagi ) sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) ([ Hadits riwayat At-Tirmizi, hasan shahih menurut penilaian Al-Iraqi ])::

(( فُضِّلَ الْعَالِمُ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِى عَلَى أَدْنى رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِىْ ))

Ertinya::

“( Bermula ) kelebihan orang yang ‘alim atas orang yang ‘abid itu seperti kelebihanku atas sekurang laki-laki daripada shahabatku.”

Ya’ni murad – (مراد) ( – maksud murad itu ialah yang dimaksudkan, atau yang dikehendaki -) dengan orang yang ‘alim itu, iaitu orang mengetahui ‘ilmu Thoriqat dan ‘ilmu Haqiqat. ( Dan ) murad ( – yang dimaksudkan atau dikehendaki -) dengan orang yang ‘abid itu, iaitu orang yang mengetahui ‘ilmu Syariat jua, ya’ni ‘ilmu Fiqah, kerana orang orang yang jahil akan ‘ilmu itu tiada dinamakan ‘abid kerana ‘ibadatnya itu tiada sah melainkan dengan ‘ilmu. ( Dan ) telah maklum bahawa sanya ‘ilmu Thoriqat dan Haqiqat itu terlebih darjatnya daripada ‘ilmu Fiqah dan ‘Ilmu Usuluddin seperti yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali di dalam kitabnya yang bernama Jawahirul Quran – (جواهر القرآن).

( Dan lagi ) sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) ([ Hadits riwayat Ibnu ‘Adi, dha’if menurut penilaian Al-Iraqi ])::

(( فُضِّلَ الْمُؤْمِنُ الْعَالِمُ عَلى الْمُؤْمِنِ الْعَابِدِ بِسَبْعِيْنَ دَرَجَةٌ ))

Ertinya::

“( Bermula ) kelebihan orang yang mukmin ( – dilebihkan orang yang mukmin -) yang ‘alim atas orang yang ‘abid itu tujuh puluh darjat.”

( Dan lagi ) sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) ([ Hadits riwayat Al-Isfahani, dha’if menurut penilaian Al-Iraqi ])::

(( بَيْنَ الْعَالِمِ وَالْعاَبِدِ مِائَةُ دَرَجَةٍ ، بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ حَضْرُ الْجَوَادِ الْمُضْمَرِ سَبْعِيْنَ سَنَةً ))

Ertinya::

“Antara orang yang ‘alim dan orang yang ‘abid itu seratus darjat. Antara tiap-tiap dua darjat itu perjalanan kuda yang sangat pantas sekira-kira tujuh puluh tahun.”

( Dan lagi ) sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) ([ Hadits riwayat At-Thabrani, dha’if menurut penilaian Al-Iraqi ])::

(( يُبْعَثُ الله ُالْعُبَّادَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، ثُمَّ يَبْعَثُ الْعُلَمَاءَ ، ثُمَّ يَقُوْلُ : يَا مَعْشَرَ الْعُلَمَاءِ ! إِ نِّىْ لَمْ أَضَعْ عِلْمِى فِيْكُمْ إِلاَّ لِعِلْمِىْ بِكُمْ ، وَلَمْ أَضَعْ عِلْمِىْ فِيْكُمْ ِلأُ عَذِّبَكُمْ ، اذْهَبُوْا فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ ))

Ertinya::

“Membangitkan (الله تعالى) akan segala orang yang ‘abid pada hari Qiamat kemudian maka membangkitkan Ia akan segala ‘ulama. Maka berfirman (الله تعالى) dengan katanya: Hai segala ‘ulama’! Bahawa sanya tiada Aku taruh ‘ilmu-Ku pada kamu melainkan kerana pengetahuan-Ku dengan kamu, dan tiada Aku taruh ‘ilmu kepada kamu kerana Aku meyiksa akan kamu. Maka lalulah ( – masuklah – ) ke dalam Syurga maka sungguhnya telah Aku ampun bagi kamu.”

Kepada saudara-saudara yang memiliki kitab Versi Jawi, tolong betulkan matan hadits sebagaimana di atas.

(( وَقِيْلَ يَارَسُوْلَ اللهِ : أَىُّ اْلأَعْمَالِ أَفْضَلُ ؟ فَقَالَ الْعِلْمُ بِاللهِ عَزَّوَجَلَّ. فَقِيْلَ: أَىُّ اْلأَعْمَالِ تَزِبْدُ ؟ فَقَالَ : الْعِلْمِ باِللهِ عَزَّ وَجَلَّ . فَقِيْلَ: نَسْأَلُ عَنِ الْعَمَلِ وَتُجِيْبُ عَنِ الْعِلْمِ. فَقَالَ إِنَّ قَلِيْلَ الْعَمَلِ يَنْفَعُ مَعَ اْلعِلْمِ بِاللهِ وَإِنَّ كَثِيْرَ الْعَمَلِ لاَيَنْفَعُ مَعَ الْجَهْلِ بِاللهِ ))

Ertinya::

“Sembah sahabat bagi Rasululllah dengan katanya: Ya Rasul Allah, apa segala ‘amal yang terlebih afdhal? Maka sabda Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) (iaitu): “Mengetahui (الله عزوجل)”. Maka sembahnya (iaitu tanya mereka, ya’ni para sahabat itu lagi): (Ya Rasulullah,) apa(kah) segala ‘amal yang terlebih pahalanya itu? Sabdanya: (iaitu) “Mengetahui (الله تعالى).” Maka sembahnya (iaitu kata mereka, ya’ni para sahabat itu lagi): “Hamba bertanya daripada ‘amal dan engkau jawab dengan ‘ilmu.” Maka sabda Rasulullah (صلى الله عليه وسلم): “Bahawa sedikit ‘amal serta mengenal (الله تعالى) ( itu ) iaitu yang terlebih manafaat, dan bahawa banyak ‘amal serta jahil kepada (الله تعالى) itu iaitu tiada memberi manafaat.” .”

Sekali lagi dan untuk bacaan selanjutnya nanti, kepada saudara-saudara yang memiliki kitab Versi Jawi, tolong teliti dan betulkan matan hadits di Kitab, sebagaimana di atas .

 ( Dan hasil ) daripada perkataan Imam Al-Ghazali (رحمه الله تعالى) di dalam kitabnya yang bernama Jawahirul Quran – (جواهر القرآن), bahawa sanya ‘ilmu Thoriqat dan Suluk itu dinamakan ‘ilmu Tashauf iaitu terlebih tinggi dan terlebih mulia daripada ‘ilmu Fiqah dan ‘ilmu Kalam (, iaitu ilmu Usuluddin ). ( Dan ) yang terlebih tinggi dan mulia daripada segala ‘ilmu itu ialah ‘ilmu Ma’rifat Billah – (معرفة بالله) dan dinamakan ‘ilmu Haqiqat.

( Adapun ) ‘ilmu Thoriqat dan Suluk itu iaitu “jalan kepada mengetahui ‘ilmu Haqiqat itu” iaitulah ( yang ) dinamakan ‘ilmu “An-Nafi’, ya’ni ilmu yang memberi manafaat di dalam Akhirat dan dinamakan pula akan dia ‘ilmu Tashauf dan ( juga dinamakan sebagai ‘ilmu ) Bathin seperti yang lagi akan disebutkan (tentang) ‘ilmu yang memberi manafaat itu (ان شاء الله تعالى) di dalam kitab ini.

 ( Dan kata ) Al-‘Arif Billah As-Sayid ‘Abdullah bin ‘Alwi Al-Haddad (رحمه الله تعالى) di dalam kitabnya yang bernama (اَلْفُصُوْلُ الْعِلْمِيَّة وَاْلأُصُوْلُ الْحُكْمِيَّة ) – “Al-Fushulul Al ‘Ilmiyah Wal Usulul Hukmiah” [ Nota, sila betulkan nama kitab tersebut pada kitab Jawi saudara. ] ::

(( ثُمَّ إِنَّكَ إِذَا نَظَرْتَ إِلَى مَاألَّفَهُ أَئِمَّةُ الدِّيْنِ مِنَ الْكُتُبِ النَّافِعَةِ لَمْ تَرَ شَيْئاً مِنْهَا أَجْمَعَ لِهَذِهِ الْعُلُوْمِ النَّافِعَةِ مِنْ كُتُبِ اْلإِمَامِ حُجَّةِ اْلإِسْلاَمِ الْغَزَالِىَّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى ، مِثْلُ اْلإِحْيَاءِ وَاْلأَرْبَعِيْنَ فِىْ أُصُوْلِ الدِّيْنِ وَمِنْهَاجِ اْلعَابِدِيْنَ وَبِدَايَةِ الْهِدَايَةِ ، وَهَذَا يَعْرِفُهُ مَنْ تَأَمَّلَهُ وَأَحْسَنَ النَّظَرَ مِنْ أَهْلِ الْحَقِّ وَاْلأِنْصَافِ وَأَرْبَابِ الْبَصَائِرِ فِى الدِّيْنِ ، وَمَا يُنْكِرُهُ إِلاَّغَِبٌّى جَاهِلٌ أَوْرَسْمِىٌّ مُتَاجَهِلٌ قَدْ غَشَّ نَفْسَهُ وَغَفَلَ عَنْ مَعَادِهِ فَإِنَّهُ تَعَالَى بِفَضْلِهِ يُلْهِمُنَا رُشْدَنَا وَيُعِيْذُنَا مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا وَلاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ ))

[ Nota:: Sila betulkan matan di dalam kitab saudara sebagaimana di atas ]

Ertinya::

“Kemudian daripada itu, bahawasanya apabila engkau tilik kepada barang yang dikarang oleh (أئمة الدين) – Aimmatuddin, ya’ni ‘ulama ahli As-Sufi, iaitu daripada segala kitab yang memberi manafaat pada agama di dalam Akhirat, nescaya tiada engkau lihat akan suatu daripadanya yang terlebih menghimpunkan bagi segala ‘ilmu yang memberi manafaat itu daripada segala kitab Imam Hujjatul Islam Al-Ghazali (رحمه الله تعالى), iaitu seperti kitab Ihya Ulumiddin, dan Arba’in Fil Usul, dan Minhajul ‘Abidin, dan Bidayatul Hidayah. ( Dan ) sekelian itu mengetahui akan dia oleh orang yang Ta’ammal (nota: memikirkan ) akan dia, dan baik-baik melihat di dalamnya itu, daripada “Ahli Al-Haq” dan “Ahli Al-Insaf”, ya’ni orang yang ‘adil, dan orang yang mempunyai mata hati dalam agama. Dan tiada meingkar akan yang demikian itu melainkan orang yang dungu lagi jahil, atau orang yang ‘ulama rasmi ( yang ) Mutajahil ( nota: pura-pura tidak tahu), iaitu ‘ulama dzahir sanya ( yang ) telah memperdaya akan dirinya, dan lalai ia daripada ( tempat ) kembalinya ( iaitu negeri akhirat ). Maka mudah-mudahan (الله تعالى) dengan anugerah-Nya memberi ilham akan dia dengan pertunjuk-Nya, dan memeliharakan akan kami daripada kejahatan diri kami, dan daripada kejahatan ‘amal kami. ( Dan ) tiada daya daripada menjauh maksiat dan tiada kuat pada berbuat taat melainkan dengan pertolongan (الله تعالى) ( jua ).”

( Dan kata ) Syeikh Ibnu ‘Abbad di dalam Syarah Hikam, ia naqal ( iaitu petik atau nukil ) daripada Ibnu ‘Athaillah::

(( اِعْلَمْ أَنَّ الْعِلْمَ حَيْثُمَا تَكَرَّرَ فِى الْكِتَابِ الْعَزِيْزِ وَالسُّنَّةِ ، إِنَّمَا الْمُرَادُ بِهِ الْعِلْمُ النَّافِعُ الَّذِىْ تُقَارِنُهُ الْخَشْيَةُ وَتَكْتَنِفُهُ الْمُخَافَةُ . قاَلَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّمَا يَخْشَ اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ، فَتَبَيَّنَ أَنَّ الْخَشْيَةَ تُلاَزِمُ الْعِلْمَ ، وَفُهِمَ مِنْ هَذَا أَنَّ الْعُلَمَاءَ إِنَّمَاهُمْ مِنْ أَهْلِ الْخَشْيَةِ . وَكَذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى: وَقاَلَ الَّذِيْنَ أُوْتُوْاالْعِلْمَ ، وَالرَّاسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ ، وَقُلْ رَبِّ زِدْنِىْ عِلْماً ، وَقَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : إِنَّ الْمَلاَ ئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ ، وَقَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ ، وَقَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : طَالِبُ الْعِلْمِ تَكَفَّلَ اللهُ تَعَالى بِرِزْقِهِ . إِنَّما الْمُرَ ادُ بِالْعِلْمِ فِى هَذِهِ الْمَوَاطِنِ الْعِلْمُ النَّافِعُ ))

[ Nota:: Sekali lagi, sila betulkan matan di dalam kitab saudara sebagaimana di atas ]

Ertinya::

“Ketahui olehmu bahawasanya kelebihan ‘ilmu yang berulang-ulang sebut di dalam (قرآن) yang ‘aziz ya’ni yang mulia dan di dalam Hadits Nabi (صلى الله عليه وسلم) hanya sungguhnya murad ( – yang dimaksudkan – ) dengan dia itu iaitu ‘ilmu yang memberi manafaat yang menyertai akan dia takut akan (الله تعالى) dan melengkapi akan dia itu haibah kepada (الله تعالى), seperti firman (الله تعالى) (Surah Fathir, ayat 28, yang ertinya): “Hanya sanya mereka yang takut akan (الله تعالى) itu iaitu daripada hamba-Nya yang ‘ulama.” Maka menyatakan Ia akan bahawasanya takut itu melazimkan akan ‘ilmu dan (di)faham daripada ini bahawa ‘ulama itu hanya sanya mereka itulah orang yang takut akan (الله تعالى). ( Dan ) demikian lagi firman (الله تعالى) ( Surah Al-Qashash, ayat 80):

        ﴿ وقال الذين أوتواالعلم

ya’ni (maksudnya) “ ( Dan ) berkata mereka yang mempunyai ‘ilmu.” ( Dan ) firman (الله تعالى) (Surah Ali Imran, ayat 7):

﴿ والراسخون فى العلم

ya’ni (maksudnya) “( Dan ) mereka yang mahir di dalam ‘ilmu.”

( Dan ) firman (الله) (Surah Thaha, ayat 14):

﴿ وقل رب زدنى علماً

ya’ni (maksudnya) “Kata olehmu ya Muhammad tambahi oleh-Mu ya Tuhan-ku akan ‘ilmuku.”

( Dan ) demikian lagi sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم): ((ان الملائكة لتضع أجنحتها لطالب العلم )) ya’ni (yang ertinya): “Bahawasanya segala Malaikat itu merendahkan akan sayapnya itu kerana membesarkan orang yang menuntut ‘ilmu.”,

( Dan ) sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم): ((العلماء ورثة الأنبياء )) ya’ni (yang ertinya): “(Bermula) ‘ulama itu mempusakai akan Anbiya’.”

( Dan ) sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم): ((طالب العلم تكفل الله تعالى برزقه )) ya’ni (yang ertinya): “( Bermula ) orang yang menuntut ‘ilmu itu telah mengakui ( – menjamin oleh – ) (الله تعالى) dengan rezkinya.”

( Hanya sesungguhnya ) murad ( – yang dimaksudkan – ) dengan ‘ilmu pada segala tempat ini, ya’ni pada segala ‘ilmu yang tersebut di dalam (قرآن) dan segala yang tersebut di dalam Hadits Nabi (صلى الله عليه وسلم) itu, iaitu semuanya dikehendaki dengan dia itu (adalah) ‘ilmu yang memberi manafaat pada agama ( dan ) di dalam Akhirat.”

Segala ‘ilmu yang memberi manafaat itu ( telah disebutkan ) di dalam kitab Imam Al-Ghazali (رحمه الله تعالى) seperti Ihya ‘Ulumiddin dan lain-lainnya yang tersebut dahulu itu. ( Dan ) demikian lagi segala fan ( – aneka, bagai – ) ‘ilmu Tashauf itu semuanya ‘ilmu yang memberi manafaat di dalam dunia dan Akhirat, kerana ‘ilmu Tashauf sekarang itu telah terhimpun di dalam(nya) ‘ilmu Ushuluddin, dan ‘ilmu Fiqah, dan ‘ilmu Thoriqat, seperti yang tersebut di dalam kitab ini (, seperti yang tersebut di dalam Muhtashar Ihya Ulumiddin yang iaitu asal kitab ini), ( dan ) seperti yang tersebut di dalam kitab Ihya Ulumiddin, dan lainnya daripada beberapa kitab ‘ilmu Tashauf, yang pada bicara ( – membicarakan – ) ‘ilmu Suluk ya’ni ‘ilmu Thariqat.

( Dan ) dari kerana inilah kata Sayyid As-Syaikh Abu Hasan Asy-Syazili (رضى الله عنه)::

(( مَنْ لَمْ يَتَغَلْغَلْ فِىْ هَذِهِ الْعُلُوْمِ يَعْنِىْ عُلُوْمَ الصُّوفِيَّةِ مَاتَ مُصِرًّا عَلى الْكَبَائِرِ وَهُوَ لاَ يَعْلَمُ ))

Ertinya::

“Barang siapa ( yang ) tiada masuk mengetahui di dalam ‘ilmu ini ya’ni ‘ilmu tashauf, nescaya mati ia pada hal ia mengekali atas beberapa dosa yang besar-besar, pada hal tiada ia mengetahui akan yang demikian itu.”

Sekali lagi, sila betulkan matan dan terjemahan di dalam kitab saudara sebagaimana di atas.

 ( Dan lagi ) kata Syaikh Ibnu ‘Abbad di dalam Syarah Hikam::

(( وَهَذِهِ الْعُلُوْمُ هِىَ الَّتِىْ يَنْبَغِىْ لِلإِ نْسَانِ أَنْ يَسْتَغْرِقَ فِيْهَا عُمْرَهُ الطَّوِيْلَ وَلاَ يَقْنَعُ مِنْهَا بِكَثِيْرٍ وَلاَ قَلِيْلٍ ، وَمَاسِوى هَذِهِ الْعُلُوْمِ قَدْ يَحْتَاجُ إِلَيْهَا وَرُبَّمَا أَضَرَّ بِصَاحِبِهِ مُدَا وَمَتُهُ عَلَيْهَا ، وَقَدِ اسْتَعَاذَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم فِى لْخَبَرِ الْمَشْهُوْرِ عَنْهُ مِنْ عِلْمِ لاَ يَنْفَعُ ) انتهى ))

Ertinya::

“( Dan ) segala ‘ilmu ini ya’ni ‘ilmu tashauf itu, iaitulah sayogia bagi (seseorang) manusia bahawa mengkaramkan (- maksudnya menghabiskan -) di dalam menuntut(nya, ya’ni ilmu tashauf itu) akan umurnya yang lanjut itu, dan jangan ia (merasakan sudah) memadai daripadanya dengan banyak dan jangan memadai ia dengan sedikit. ( Dan ) ‘ilmu yang lain daripada ‘ilmu tashauf ini terkadang (maksudnya, kadang-kadang) tiada (ia) berkehendak kepadanya dan terkadang (maksudnya, kadang-kadang) memberi mudharat ia akan orang yang mempunyai ‘ilmu itu pada mengekali ia atasnya, ( dan) (bahawa)sanya telah minta peliharakan Rasulullah (صلى الله عليه وسلم) dengan (الله تعالى) daripada ‘ilmu yang tiada memberi manafaat itu (seperti yang tersebut) di dalam Hadits yang masyhur daripadanya, iaitu sabda Nabi::

(( اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ ))

Ertinya::

            “Aku minta peliharakan dengan (الله تعالى) daripada ‘ilmu yang tiada memberi manafaat.”

Sekali lagi, sila betulkan matan dan terjemahan di dalam kitab saudara sebagaimana di atas. Juga matan doa yang diberikan di atas saya nyatakan sebagaimana di atas berbanding dengan apa yang diberikan di dalam kitab Jawi yang berkaitan.

( Dan lagi ) kata Syeikh Ibnu ‘Abbad::

(( وَاَعْلَمْ أَ نَّهُ قَدْ وَرَدَ فِى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِنْ فَضْلِ الْعِلْمِ وَالْعُلَمَاءِ مَالاَ يُحْصى كَثْرَهً ولاَ يُرْجى حُصُوْلُ ذَلِكَ إِلاَّ لِمَنْ صَحَّتْ مِنْهُ نِيَّتُهُ. وَصِحَّةُ نِيَّتِهِ فِىْ ذَلِكَ أَنْ يَكُوْنَ غَرَضُهُ فِيْهِ طَلَبَ مَرْضَاةِ اللهِ تَعَالى وَاسْتِعْمَالَهُ فِيْمَ يَنْفَعُ عِنْدَهُ وَ إِشَارَةَ الْخُرُوْجِ عَنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ إِلَى نُوْرِ الْعِلْمِ ، فَهَذِهِ النِّيَّةُ الصَّحِيْحَةُ هِىَ الَّتِىْ تُحْمَدُ عَلى عَاقِبَتَهَا آجِلاً وَتُجْتَنَى ثَمَرَ تُهَا فِىْ طَاعَةِ اللهِ عَاجِلاً ))

Ertinya::

“Dan ketahui olehmu bahawasanya telah datang di dalam (قرآن) dan Hadits Nabi (صلى الله عليه وسلم) beberapa banyak daripada kelebihan ‘ilmu dan ‘ulama yang tiada dapat dihinggakan akan banyaknya itu. ( Dan ) tiada diharap hasil yang demikian itu melainkan bagi orang yang shahih ( iaitu benar ) niatnya itu. ( Dan ) benar niatnya pada demikian itu bahawa adalah qasadnya (iaitu tujuannya) di dalam menuntut ‘ilmu itu, iaitu kerana menuntut keredhaan (الله تعالى) dan kerana mengamalkan akan dia pada barang yang memberi manafaat padanya di dalam Akhirat, dan kerana mengisyaratkan ya’ni mengkehendaki ia keluar daripada kelam jahil kepada nur ‘ilmu.

Maka inilah niat yang shahih yang dipuji atas kemudiannya (iaitu kesudahannya) itu di dalam Akhirat, dan mengambil faedahnya (iaitu faedah ilmu ) itu di dalam dunia pada (iaitu dengan) berbuat ‘ibadat. Ya’ni disegerakan akan faedah ‘ilmu itu di dalam dunia dengan berbuat ‘ibadat dan ditangguhkan ‘ilmu itu di dalam Akhirat dengan beberapa pahalanya.”

Sekali lagi, sila betulkan matan dan terjemahan di dalam kitab saudara sebagaimana di atas. Sekian.


(والله الموافق ) – Wallahul muwafiq ya’ni “dan (الله تعالى) lah yang memberikan taufiq”.

KELEBIHAN AL-QURAN

Al-Quran yang mulia adalah kitab yang menakjubkan dan penuh dengan mukjizat; menakjubkan dalam sifat-sifat dan karakteristiknya, kaya akan nilai-nilai dan petunjuknya, berlimpah akan isi dan hakekat-hakekatnya, berharga akan nash-nashnya dan taujihatnya, kuat dalam memaparkan tujuan dan misinya, aktual dalam menjalankan misi dan risalahnya, aplikatif dalam peranan dan pengaruhnya.

Mukjizat yang sarat dengan konsep dan petunjuknya, kontinyu dalam memberi nilai-nilai positif, memberi secara berkesinambungan dan sesuatu yang baru, yang dapat diterima oleh kaum muslimin disepanjang sejarah Islam hingga mereka mendapati didalamnya apa yang mereka inginkan untuk dijadikan bekal dalam mengarungi hidup di dunia dan menggapai keridloan Allah swt dengan membaca dan mentadabburinya serta berinteraksi dengannya dan menelaah nash-nashnya, mereka bahkan menafsirkan –dalam mengambil- ayat-ayatnya, menjelaskan syariat-syariat yang terkandung didalamnya, mengambil taujihat-taujihatnya, mengambil inti-inti dari dalamnya, dan memetik intisarinya.

Para ulama, para mufassirin dan para mutadabbirin –penelaah- mengambil ini semua isi Al-Quran di sepanjang zaman dan abad –tahun- dan mendokumentasikannya pada setiap masa, hingga Al-Quran tetap utuh memberikan sesuatu yang positif, nilai-nilainya sangat berharga yang tidak akan habis meskipun banyak orang telah mengambilnya, air yang segar mengalir deras dan tidak akan surut walau benyak yang meminumnya, naungannya yang begitu luas dan lapang yang tidak akan hilang walaupun orang berduyun-duyun menggunakannya. Cahayanya bersinar terang tidak akan padam, sedangkan risalah dan misi yang dibawanya selalu mengalami pembaharuan hingga datang abad ke 20 dan bahkan setelahnya hingga alam seluruhnya hancur !!!

Sungguh benar apa yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib dalam memberikan sifat Al-Quran : “Dia adalah kitabullah, didalamnya terdapat kabar –berita- orang-orang sebelum kalian, dan orang-orang setelah kalian, pemberi hukum diantara kalian, dia adalah pemisah yang tidak pernah main-main, barangsiapa yang meninggalkannya karena angkuh maka Allah akan membinasakannya, dan bagi siapa yang mencari hidayah selainya maka Allah akan menyesatkannya, Al-Quran adalah Tali Allah yang erat, Al-Quran adalah pemberi peringatan yang bijaksana, Al-Quran adalah jalan lurus, Al-Quran adalah kitab yang tidak akan melencengkan hawa nafsu, menyimpangkan lisan, dan memberikan kepuasan para ulama, tidak menciptakan keraguan dan tidak akan habis keajaiban-keajaiban yang terkandung didalamnya… Al-Quran adalah kitab yang tidak pernah bosan didengar oleh bangsa Jin sehingga mereka berkata : “Sungguh kami telah mendengar Al-Quran yang menakjubkan, memberi petunjuk ke jalan yang lurus maka kami beriman kepadanya”. (Surat Al- jin : 1-2). Barangsiapa yang berkata dengannya akan benar, yang mengamalkannya akan mendapat ganjaran, yang berhukum dengannya akan adil dan yang menyeru kepadanya akan dapat petunjuk kejalan yang lurus”.

Al-Quran tidak akan pernah memberikan kepuasan kepada para ulama, dan tidak akan habis keajaiban-keajaibannya, ibarat lautan yang dalam dan tidak diketahui batas kedalamannya, namun semakin diselami kedalaman lautan maka akan ditemukan banyak barang yang bernilai tinggi dan mahal harganya. Para ulama dengan keragaman ilmu dan pengetahuan serta kebudayaan mereka pasti akan menerima dan memetik nilai-nilai yang banyak darinya, bahkan mereka tidak akan pernah merasa puas dan selesai mencari ilmu yang terkandung didalamnya, semakin diselami Al-Qur’an maka akan semakin didapati banyak pelajaran, nilai-nilai, hikmah, arahan dan petunjuk-petunjuknya serta lain-lainnya. etapa banyak nilai-nilai yang telah mereka dokumentasikan, mengeluarkan kandungannya, namun Al-Quran tetap masih memberi dan memberi, bahkan terus menyeru kepada para pecinta yang lainnya untuk ikut mengambil seperti yang dilakukan oleh para pendahulunya, mencari nilai-nilai yang terkandung dan mendokumentasikannya.

Seorang Mu’min saat mentadabburkan dan berinteraksi dengan Al-Quran dengan baik dan benar, menelaah apa yang terkandung didalamnya akan nilai-nilai, petunjuk dan ajaran-ajarannya. Jika dibandingkan dengan para pendahulu mereka, maka akan dijumpai banyak inovasi dan inspirasi sehingga dapat memperbaiki persepesi yang salah terhadap orang-orang yang berkeinginan menutup pintu tadabbur terhadap Al-Quran dan berinteraksi dengannya.

Pintu interpretasi –menafsirkan- Al-Quran tidak akan pernah tertutup, luasnya lahan tafsir tidak akan pernah habis, bahkan umat manusia dipanjang zaman akan terus membutuhkan kepada penafsiran baru terhadap Al-Quran yang dapat memberikan solusi terhadap permasalahan yang dialami di zaman mereka, menyelesaikan problema yang dihadapi masyarakat, menjawab segala syubhat baru yang disebarkan oleh musuh-musuhnya, mempererat tali silaturrahim umat Islam dengan Al-Quran dan memperbaiki hubungan diantara mereka dan kehidupan mereka.

Kita dizaman modern saat ini lebih membutuhkan kepada Al-Quran, membaca dan mentadabburkannya, memahami dan menafsirkannya, hidup dan berinteraksi dengannya, mengeluarkan nilai-nilai yang berharga darinya, bergerak dengannya, berjihad melawan musuh dengannya, mengislah diri kita dan masyarakat melalui hidayahnya, menegakkan manhaj-manhaj hidup kita dengan panji-panji, system dan taujihat-taujihatnya. Karena saat ini merupakan zaman yang banyak kesesatannya seperti yang telah disebarkan tiga golongan sesat –yahudi, nasrani dan musyrik- terhadap umat manusia, dan melubangi garis pertahanan utama, menguasai tempat-tempat penting didalam akal, hati, masyarakat dan kehidupan umat manusia, sehingga jalan akhirnya adalah harus kembali kepada Al-Quran dan menerimanya untuk menghadapi musuh dan berjihad melawan mereka dengan petunjuknya.

Kita yang saat ini hidup dizaman yang penuh dengan kebobrokan dan penyakit, hampir terjerumus kelembah apinya, kita telah diuji oleh Allah untuk menghadapi musuh-musuhnya, diuji untuk tegak berdiri di medan pertempuran bersama mereka, menambal segala kebocoran yang terjadi ditengah mereka, memberikan kepada kita menjadi prajurit dan penerusnya, pengmban amanah dan pemerhati terhadap Al-Quran. Kita berharap Allah menolong kita dari ujian ini, memberikan kebehasilan dan taufik dimedan ini, teguh dan tegar menuju kemenangan disegala pertempuran, mengharap ganjaran dan pahala di dunia serta surga dihari kiamat.

Allah dengan karunia-Nya telah menganugrahkan kepada kita untuk menelaah Al-Quran dengan cara mentadabburkannya, memahaminya dan menafsirkannya, walaupun sebagai usaha yang masih terbatas, kurang dan sedikit, namun kita memohon kepada Allah yang Maha Esa untuk selalu hidup dibawah naungan Al-Quran, selalu bersamanya dalam mengarungi perjalanan yang indah dan menyenangkan, berusaha merengkuh darinya nilai-nilai yang berharga, meneguk telaga yang jernih, menggunakan kunci-kunci yang bermanfaat lagi baik, agar bisa berinteraksi dengan Al-Quran, mendapatkan sentuhan-sentuhannya dan hidup dibawah naungannya.

Rasulullah saw memberikan Al-Quran beberapa sifat dengan benar sebagaimana yang diisyaratkan dalam hadits-haditsnya yang menunjukkan sebagian karakteristik, keutamaan dan keistimewaan Al-Quran, menyebutkan beberapa pengaruh-pengaruhnya dan misinya dalam kehidupan, menjelaskan kedudukan para sahabat, pemerhati, perealisasi dan penyeru Al-Quran di dunia dan di akhirat.

Kalam Rasulullah saw tentang Al-Quran merupakan kalam yang baik, dicintai dan selalu mengandung ilmu, dikenal akan keistimewaannya, karakteristiknya, peranannya dan misinya, karena Al-Quran diturunkan kepadanya, sehingga beliaulah yang lebih faham diantara manusia akan kalamullah – Al-Quran-, lebih banyak pengalamannya, karena itu bertolak belakang dari sifat-sifat ini terhadap ucapan dan perkataannya, dan karena itu pula ucapannya tentang Al-Quran merupakan warna khusus, dalil yang istimewa dan wahyu tersendiri.

Kami hadirkan disini beberapa hadits shohih Rasulullah saw bagian pertama tentang bagaimana berinteraksi dengan Al-Qur’an bagian pertama, -mudah-mudahan akan dapat kita lanjutkan lagi bagian-bagian lainnya- tentang pandangan nabi saw. terhadap Al-Quran, sehingga -dengan pemaparan ini- niscaya semakin menambah pengenalan kita tentang karakteristik, sifat, keistimewaan, keutamaan, misi dan tujuan Al-Quran.

1. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Turmudzi dan Abu Daud dari Utsman bin Affan ra. bahwa Rasulullah saw bersabda : “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya”.

2. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Imam Muslim, Turmudzi, Nasa’I dan Abu Daud dari Abu Musa Al-Asy’ari ra. bahwa Rasulullah saw bersabda : “Perumpamaan orang mu’min yang membaca Al-Quran seperti buah utrujah : baunya wangi dan rasanya enak –manis-, dan perumpamaan orang beriman yang tidak membaca Al-Quran seperti buah Tamr –Korma- tidak memiliki bau namun rasanya manis, dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Quran seperti Raihanah –parfum- baunya wangi namun rasanya pahit, dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Quran seperti buah handzolah : tidak ada bau dan rasanya pahit…”

3. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ari ra. berkata: Rasulullah saw bersabda : “Berjanjilah untuk mengamalkan Al-Quran ini, demi jiwa Muhammad yang berada digenggamannya yang demikian lebih besar dosanya jika dilupakan dari seekor unta yang kehilangan akalnya”.

4. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Imam Muslim dan Nasa’i dari Abdullah bin Umar bin Al-Khattab ra. bahwa Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya perumpamaan penghapal Al-Quran seperti pemilik seekor unta yang ditambatkan, jika dia mengikatnya maka dia tidak akan lepas dan pergi, namun jika dia melepas ikatannya maka dia akan pergi…” dan ditambahkan oleh imam Muslim : “Dan jika penghapal Al-Quran membaca dan menikmati kandungannya, maka dia akan datang pada hari kiamat memberi syafaat kepadanya”.

5. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Aisyah ra. berkata : Rasulullah saw bersabda : “Bagi siapa yang membaca Al-Quran dengan mahir maka ganjarannya akan didudukkan bersama para malaikat yang mulia dan baik, dan bagi siapa yang membaca Al-Quran namun terbata-bata didalamnya dan terasa berat atasnya maka baginya dua ganjaran”.

6. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Umamah ra. berkata : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : “Bacalah kalian Al-Quran karena sesungguhnya ia akan datang datang pada hari kiamat memberi syafaat kepada yang membaca”.

7. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari An-Nawas bin Sam’an berkata : Saya mendengar ra. Rasulullah saw bersabda : “Akan didatangkan pada hari Kiamat dengan Al-Quran dan orang-oarng yang mengamalkannya di dunia terutama –yang mengamalkan- surat Al-Baqoroh dan Ali Imron yang akan memberi hujjah –pembelaan- bagi pembaca dan mengamalkannya”.

8. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Umar bin Al-Khattab ra. bahwa Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum melalui Kitab ini –Al-Quran- dan merendahkan yanglainnya..”.

9. Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Turmudzi dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash ra. dari Nabi saw bersabda : “Akan dikataktan kepada siapa yang membaca Al-Quran : Bacalah dan lemah lembutnya, bacalah dengan tartil sebagaimana kamu membacanya di dunia dengan tartil, karena sesungguhnya kedudukanmu dengan yang lainnya terdapat pada satu ayat yang kamu baca…”.

10. Diriwayatkan oleh At-Turmudzi dari Abdullah bin Mas’ud berkata ra. Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah -Al-Quran- maka baginya satu ganjaran, dan satu ganjaran akan dilipat gandakan sepuluh kali, Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf, namun Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf…”.

11. Diriwayatkan oleh At-Turmudzi dari Abdullah bin Abbas ra. berkata Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya orang yang dimulutnya tidak ada sedikitpun dari ayat-ayat Al-Quran seperti rumah yang kosong”.

12. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Abdullah bin Umar bin Al-Khattab ra. dari Nabi saw bersabda : “Tidak boleh ada Hasad –dengki- kecuali pada dua hal : kepada seseorang yang diberi oleh Allah Al-Quran lalu ia mengamalkannya sepanjang malam dan siang hari, dan kepada seseorang yang Allah anugrahkan kepanya harta dan ia menginfakkannya sepanjang malam dan siang hari…”.

13. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Daud dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw bersabda : “…Dan tidaklah berkumpul suatu kaum di dalah satu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca Kitabullah –Al-Quran-, dan saling mengajarkannya diantara mereka kecuali turun ditengah-tengah mereka ketentraman, dinaungi rahmat dan dikelillingi para malaikat serta Allah SWT menyebut-nyebut mereka kepada siapa yang berada disisinya”.

14. Diriwayatkan oleh At-Turmudzi dari Imron bin Hasin ra. bahwasannya saat dia melewati orang yang sedang membaca Al-Quran kemudian meminta ganjaran dari manusia, maka Imron menggelengkan kepala –atau dia berkata : Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rajiun –Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nyalah kita akan kembali, dan berkata lagi ; saya mendengar Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yang membaca Al-Quran maka hendaknya dia mengharap ganjaran dari Allah, maka sesungguhnya akan datang suatu kaum yang mereka membaca Al-Quran lalu meminta upah kepada manusia kecuali akan dihinakan”.

15. Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Jair bin Abdullah ra. berkata : ketika kami pergi bersama Rasulullah saw sambil membaca Al-Quran dan ditengah-tengah kami ada orang arab dan ‘ajam -non arab- maka Rasulullah saw bersabda : “Bacalah Al-Quran, karena semuanya banyak mengandung kebaikan. Dan akan datang suatu kaum mereka membacanya seperti Al-Qodh tergesa-gesa namun tidak berlambat-lambat –tartil-…”.

16. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Jundub bin Abdullah ra. berkata : Rasulullah saw bersabda : “Bacalah Al-Quran apa-apa yang dapat menyatukan hati kalian, namun jika kalian berselisih maka luruskanlah darinya”. Dan banyak lagi hadits-hadits nabi saw tentang pandangan nabi saw. terhadap Al-Quran.

Demikianlah pandangan Rasulullah saw tentang Al-Qur’an, mengandung banyak hikmah dan mauidzah untuk memotivasi kita berpegang teguh kepada Al-Quran, dengan membaca, mentadabburkan, menghafal dan mengamalkan Al-Quran. Karena Al-Quran merupakan sumber kekuatan dan izzah umat Islam yang tidak dapat ditandingi oleh kitab manapun. Bahkan orang kafir sendiri begitu faham akan sumber kekuatan dan izzah ini, sehingga secara gamblang Allah swt. mengungkapkan akan pengakuan mereka agar bisa mengalahkan umat Islam secara menyeluruh; Allah berfirman : “Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka”. (Fushilat : 26)

Ketika dakwah yang diemban oleh Rasulullah saw berhasil ditancapkan di semenanjung arab, terutama di dua kota al-haram (kota Mekkah dan Madinah) dalam kurun waktu yang singkat, dengan dinaungi Al-Quran, akhirnya mampu melahirkan satu generasi manusia, generasi –yang menurut bahasa Sayyid Qutb- yang unik; generasi sahabat Rasulullah SAW, Ridhwanullahi alaihim, yaitu suatu generasi yang paling istimewa di dalam sejarah Islam dan di dalam sejarah kemanusiaan seluruhnya.

Sebuah Generasi yang tidak akan pernah muncul kembali sesudahnya, sekalipun ada namun segolongan besar manusia, di satu waktu dan satu tempat yang tertentu seperti yang telah muncul di era awal dakwah.

Generasi yang lahir dengan fakta dan realita nyata bukan sekedar dongengan dan khayalan, mereka hidup dalam satu lingkungan dan komunitas yang benar-benar nyata bukan sekedar cerita dan bualan belaka. Kisah mereka sangatlah terang seterang sinar matahari di siang hari. Generasi yang kelak menjadi contoh dan tauladan sepanjang masa, sehingga dengan itu semua kita perlu memperhatikan dan merenungkannya dan menyelami rahasia dibalik keberhasilan mereka menjadi generasi yang unik.

Sebenarnya sumber pokok yang membuat generasi pertama menjadi generasi unik adalah Al-Quran, hanya Al-Quran yang menjadi sumber panduan, perjalanan hidup dan prilaku mereka. walaupun bukan berarti pada saat itu umat manusia di zaman itu tidak memiliki kebudayaan, tidak memiliki peradaban dan tidak punya buku karangan!

Karena kebudayaan Romawi sebagai Negara adi daya saat itu, buku-buku dan undang-undangnya dijadikan kiblat dan panduan hidup oleh orang-orang Eropa. Peradaban Yunani (Greek), falsafah dan kebudayaannya, yang juga masih menjadi sumber pemikiran Barat hingga sekarang, bahkan juga ada peradaban Persia yang kebudayaannya, keseniannya, sajaknya, syair dan dongengnya, serta kepercayaan dan sistem perundangannya menjadi acuan, serta peradaban dan kebudayaan lainnya, seperti India, China dan lain-lainnya.

Romawi dan Persia berada di sekeliling semenanjung Arab, baik di utara maupun di selatan, ditambah lagi oleh agama Yahudi dan Nasrani yang telah lama berada di tengah-tengah semenanjung arab.

Adanya Kitabullah (Al-Quran) merupakan “planning” yang telah ditentukan dan diprogram oleh Allah untuk mengubah peradaban yang telah gagal menuntun manusia pada hidayah Allah. Dan diutusnya Rasulullah saw sebagai nabi akhir zaman guna menjelaskan maksud diturunkannya Al-Quran kepada mereka; membentuk satu generasi yang bersih hatinya, bersih pemikirannya, bersih pandangan hidupnya, bersih perasaannya, dan mumi jalan hidupnya dari segala unsur yang yang bertolak belakang dengan Al-Quranul Karim.

Dan subhanallah dalam waktu 23 tahun generasi sahabat-sahabat berhasil mengubah cara pandang, gaya hidup dan prilaku ketingkat yang lebih tinggi dan mulia, mereka dengan senang hati menerima Al-Quran, menghafal dan mengamalkannya dalam segala gerak-gerik dan prilaku mereka sehari-hari, menjadi sumber yang tunggal dan panduan semata. Oleh kerana itulah generasi itu telah berhasil membentuk sejarah gemilang di zamannya.

Para sahabat Rasulullah di dalam generasi pertama itu tidak mendekatkan diri mereka dengan Al-Quran dengan tujuan mencari pelajaran dan bacaan belaka, bukan juga dengan tujuan mencari hiburan dan pelipur lara. Tiada seorang pun dari mereka yang belajar Al-Quran dengan tujuan menambah bekal dan bahan ilmu semata-mata untuk ilmu dan bukan juga dengan maksud menambah bahan ilmu dan akademi untuk mengisi dada mereka saja. Namun mereka mempelajari Al-Quran itu dengan maksud hendak belajar bagaimanakah arahan dan perintah Allah dalam urusan hidup peribadinya dan hidup bermasyarakat. Mereka belajar untuk dilaksanakan “sami’na wa ‘ata’na, seperti seorang perajurit yang siap menerima “ruh al-istijabah” dan membuka dada untuk selalu mengambil arahan yang turun.

Ruhul istijabah yang hanya mau menerima sepuluh ayat saja dan tidak mau menambahnya sehingga benar-benar dapat dihafal dan dilaksanakan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud r.a. Perasaan inilah perasaan belajar untuk melaksanakan, yang telah menambah luasnya lapangan hidup mereka, menambah luasnya ma’rifat dan pengalaman mereka dari ajaran Al-Quran.

Perasaan belajar untuk melaksanakan ini juga yang telah memudahkan mereka bekerja dan meringankan beban mereka yang berat, kerana Al-Quran telah menjadi hati, menjadi daging dan darah mereka. Perasaan yang telah tertanam dalam jiwa mereka hingga meresap menjadi panduan dalam gerak dan melahirkan pelajaran yang memotivasi aktivitas, pelajaran yang bukan sekedar teori yang hanya bersarang di dalam otak kepala manusia atau tertulis di halaman kertas namun menjadi kenyataan yang melahirkan kesan dan peristiwa yang mengubah garisan hidup.

KEBINASAAN ILMU; DAN MENYATAKAN ALAMAT (TANDA) ULAMA’ AKHIRAT, DAN ULAMA’ YANG JAHAT (IAITU ULAMA’ DUNIA)

( Kata ) Imam Al-Ghazaly (رحمه الله تعالى) [ Sila tandakan matan sebagaimana berikut ]::

(( قَدْ ذَكَرْنَا مَا وَرَدَ مِنْ فَضَائِلِ الْعِلْمِ وَالْعُلَمَاء ، وَقَدْ وَرَدَ فِى الْعُلَمَاءِ السُّوْءِ تَشْدِيْدَاتٌ عَظِيْمَةٌ دَلَّتْ عَلَى أَنَّهُمْ أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ . فَمِنْ الْمُهِمَّاتِ الْعَظِيْمَةِ مَعْرِفَةُ الْعَلاَمَةِ الْفَارِقَةِ بَيْنَ عُلَمَاءِ الدُّنْيَا وَعُلَمَاءِ اْلآخِرَةِ. وَنَعْنِى بِعُلَمَاءِ الدُّنْيَا عُلَمَاءَ السُّوْءِ الَّذِيْنَ قَصْدُهُمْ مِنَ الْعِلْمِ التَّنَعُّمُ بِالدُّنْيَا ، وَالتَّوَصُّلُ إِلى الْجَاهِ وَالْمَنْزِلَةِ عِنْدَ أَهْلِهَا. ))

Ertinya::

“Telah kami sebutkan akan beberapa dalil (قرآن) dan hadits Nabi (صلى الله عليه وسلم) yang datang akan beberapa daripada kelebihan ilmu dan ulama’, dan telah datang pula beberapa hadits pada mencelakan ulama’ yang sangat besar kesalahannya yang menunjukkan atas mereka itu yang terlebih sangat siksa pada hari Qiamat.

Maka setengah yang cita-cita yang amat besar itu iaitu mengetahui alamat yang membezakan antara ulama’ dunia dan ulama’ Akhirat. Dan kami kehendak dengan ulama’ dunia itu iaitu ulama’ yang jahat adalah alamatnya mereka itu iaitu

i)                    maksud mereka itu dengan belajar ilmu itu akan bersedap-sedap dengan kesukaan dunia,

ii)                   dan menyampaikan ia akan kemegahannya;

iii)                 dan meninggikan akan martabat pada orang yang ahli dunia.”

Maka adalah qasadnya yang demikian itu sejahat-jahat maksiat yang membawa kepada siksa pada hari Qiamat ( seperti ) sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) [ Hadits riwayat Ibnu Majah, Shahih menurut Imam Al-‘Iraqi ]::

(( لاَ تَتَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ وَلِتُمَارُوْا بِهِ السُّفَهَاءَ وَلِتُصْرِفُوْا بِهِ وُجُوْهَ النَّاسَ إِلَيْكُمْ ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَهُوَ فِى النَّارِ. ))

Ertinya::

“Jangan kamu belajar ilmu itu kerana bermegah-megah kamu dengan dia (ya’ni ilmu) akan ulama’ (nota, ya’ni bermegah-megah dengan ilmu tersebut hingga menjadi atau digelar ulama’); dan kerana berbantah-bantah kamu dengan dia (ya’ni menggunakan ilmu itu untuk berdebat atau berbantah-bantahan) akan orang yang kurang ‘aqal; dan kerana kamu memalingkan dengan dia (ya’ni dengan ilmu yang diperolehi) akan segala muka manusia kepada kamu, ya’ni supaya kasih manusia itu akan kamu. Maka barang siapa berbuat akan yang demikian itu maka iaitu disiksa di dalam api Neraka.”

( Dan lagi ) sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) [ Hadits riwayat Ath-Thabrany ]::

(( أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَالِمٌ لَمْ يَنْفَعْهُ اللهُ بِعِلْمِهِ ))

Ertinya::

“Bahawasanya yang sangat siksa pada hari Qiamat itu iaitu orang yang ‘alim yang tiada memberi manafaat akan dia oleh (الله تعالى) dengan ilmunya.”

( Dan lagi ) sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) [ Hadits riwayat Ad-Dailamy, dha’if menurut Imam Al-‘Iraqi ]::

(( مَنِ ازْدَادَ عِلْمًا وَلَمْ يَزْدَدْ هُدًى لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْدًا ))

Ertinya::

“Barang siapa bertambah ilmunya padahal tiada bertambah hidayatnya itu nescaya tiadalah bertambah ia daripada (الله) melainkan jauh daripada rahmat (الله تعالى).”

( Dan lagi ) sabda Nabi (صلى الله عليه وسلم) [ Hadits riwayat Al-Hakim, dha’if menurut Imam Al-‘Iraqi ]::

(( يَكُوْنُ فِى آخِرِ الزَّمَانِ عُبَّادٌ جُهَّالٌ وَعُلَمَاءٌ فُسَّاقٌ ))

Ertinya::

“Lagi akan datang pada akhir zaman itu kebanyakan orang yang berbuat ‘ibadat itu jahil, dan adalah kebanyakan ulama’ itu fasiq.”

( Dan ) kata Sayyidina Umar (رضى الله عنه) [ Sila semak dan tandakan matan sebagaimana berikut ]::

(( إِذَا رَأَيْتُمْ الْعَالِمَ مُحِبًّا لِلدُّنْيَا فَاتَّهِمُوْهُ عَلَى دِيْنِكُمْ ، فَإِنَّ كُلَّ مُحِبٍّ يَخُوْضُ فِيْمَا يُحِبٍّ ))

Ertinya::

“Apabila kamu lihat akan orang yang ‘alim padahal ia kasih akan dunia maka (nota: hendaklah) kamu tambahkan akan dia (iaitu orang ‘alim itu) atas agama kamu, ya’ni (maksudnya) jangan kamu percayai akan dia atas mengambil agama kamu kepadanya, kerana tiap-tiap orang yang kasih akan suatu maka masuk ia di dalam suatu yang dikasihinya itu.”

( Bermula ) segala alamat yang tersebut itu (ya’ni di atas) iaitulah alamat ulama’ yang jahat dan ulama’ dunia.

( Adapun ) alamat ulama’ Akhirat itu amat banyak. ( Setengah ) daripadanya itu iaitu yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazaly (رحمه الله تعالى) dengan katanya::

(( وَعُلَمَاءُ الآخِرَةِ هُمُ الَّذِيْنَ لاَ يَأْكُلُوْنَ بِالدِّيْنِ وَلاَيَبِيْعُوْنَ اْلآخِرَةَ بالدُّنْيَا ))

Ertinya::

“Bermula ulama’ Akhirat itu iaitu orang yang tiada makan dengan sebab agamanya, ya’ni jangan dijadikan agamanya itu bagi dapat makannya, dan pakainya itu (maksudnya, tiada menggunakan ilmu agamanya sebagai kaedah atau sumber untuk mencari pencarian kehidupan dunia); dan jangan menjual ia akan Akhiratnya itu dengan dunia, ya’ni diqasadkannya menuntut ilmu atau ber’ibadat itu kerana dapat dunia.”

( Dan ) setengah daripadanya itu iaitu yang disebutkan pula oleh Imam Al-Ghazaly (رحمه الله تعالى) di dalam Ihya Ulumiddin, dengan katanya::

(( وَمِنْهَا أَنْ تَكُوْنَ عِنَايَتُهُ بِتَحْصِيْلِ الْعِلْمِ النَّافِعِ فِى اْلآخِرَةِ ، وَالْمُرَغِّبِ فِى الطَّاعَةِ ، مُتَجَنِّبًا لِلْعُلُوْمِ الَّتِىْ يَقِلُّ نَفْعُهَا وَيَكْثُرُ فِيْهَا الْجِدَالُ وَالْقِيْلُ وَالْقَالُ ))

Ertinya::

“Setengah daripada ‘alamat ulama’ Akhirat itu bahawa adalah sungguh-sungguh kehendak dengan menuntut ilmu yang memberi manafaat di dalam Akhirat, dan menggemarkan ia di dalam berbuat ‘ibadat; padahal ia menjauh daripada

i)                    menuntut ilmu yang sedikit memberi manafaat di dalam Akhirat dan

ii)                   yang membanyakkan di dalamnya Jidal, ya’ni membanyakkan di dalam berbantah-bantahan, dan

iii)                 yang membanyakkan akan Qiil, ya’ni membanyakkan akan menghikayatkan perkataan orang dan

iv)                membanyakkan Qaal, ya’ni membanyakkan perkataan dirinya yang tiada memberi manafaat di dalam Akhirat.”

8 TUGAS SYAITAN

JANJI SYAITAN

IBLIS dan syaitan adalah musuh nyata manusia. Kedua-duanya termasuk kaum jin yang dijadikan daripada api sangat panas dan tergolong dalam spesies makhluk ghaib, iaitu tidak kelihatan dengan mata kasar manusia biasa, kecuali apabila ia menjelma dalam bentuk tertentu.

Syaitan dan iblis mempunyai empayar kerajaan yang besar, malah ada pihak mendakwa nisbah seorang manusia 99 jin, manakala satu jin 99 malaikat, menunjukkan banyaknya makhluk terbabit yang mempunyai tugas masing-masing.


Antara tugas syaitan ialah:

1. Menghasut manusia untuk melakukan kejahatan. Sebab itu Allah mengingati manusia supaya berwaspada dengan hasutan terbabit.

“Wahai sekalian manusia! Makanlah dari apa yang ada di bumi, yang halal lagi baik, dan janganlah kamu ikut jejak langkah syaitan; kerana sesungguhnya syaitan itu ialah musuh yang terang nyata bagi kamu. Ia hanya menyuruh kamu melakukan kejahatan dan perkara yang keji, dan menyuruh kamu berkata dusta terhadap Allah, apa yang kamu tidak ketahui.” (al-Baqarah:168-169)

2. Menakut-nakutkan manusia. Syaitan juga bekerja menakutkan dan membimbangkan manusia, terutama berdepan persoalan rezeki, dengan hidup miskin dan susah.

“Syaitan itu menjanjikan kamu dengan kemiskinan dan kepapaan, dan ia menyuruh kamu melakukan perbuatan yang keji; sedangkan Allah menjanjikan kamu keampunan daripada-Nya serta kelebihan kurniaNya. Dan (ingatlah), Allah Maha Luas limpah kurnia-Nya, lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah:268)

3. Menyesatkan manusia. “Tidakkah engkau melihat orang yang mendakwa bahawa mereka telah beriman kepada al-Quran yang telah diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan dahulu daripadamu? Mereka suka hendak berhakim kepada taghut, padahal mereka telah diperintahkan supaya ingkar kepada taghut itu. Dan syaitan hendak menyesatkan mereka dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya.” (an-Nisa’:60)

4. Menimbulkan permusuhan sesama manusia. Cara syaitan ialah menimbulkan syak wasangka, hasad dengki dan kebencian. “Sesungguhnya syaitan itu berkehendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu dengan arak dan judi…” (al-Maidah:91)

5. Melalaikan dan menghalang manusia daripada mengingati Allah. “…dan mahu memalingkan kamu daripada mengingati Allah dan daripada mengerjakan solat. Oleh itu, mahukah kamu berhenti?” (al-Maidah: 91)

6. Mencari calon penghuni neraka. “Sesungguhnya syaitan adalah musuh bagimu, maka jadikanlah dia musuh; sebenarnya dia hanya menyeru golongannya supaya menjadi penduduk Neraka.” (Fathir:6)

7. Berusaha merayu manusia supaya mencintai dan memujanya. “Bukankah Aku telah perintahkan kamu wahai anak-anak Adam, supaya kamu jangan menyembah Syaitan? Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagimu!” (Yasin: 60)

8. Disebabkan tidak senang dengan ketenangan manusia, syaitan mengada-adakan pelbagai onar, termasuk membisikkan sesuatu ke telinga dan hati manusia.

“Dari kejahatan pembisik, penghasut yang timbul tenggelam. Yang melemparkan bisikan dan hasutannya ke dalam hati manusia. Dari kalangan jin dan manusia.” (an-Nas: 4-6)

MEMAHAMI MAKSUD ISTIDRAJ

Istidraj

Saya telah merujuk Kamus Al-Muhit karangan Al-Fairuz Abadi tentang asal perkataan “istidraj”ini. Pengarang kamus ini berkata:
” Istadrajahu- membawa makna ia menipu dan ia merendah-rendahkannya”.

Jika dikata:” Istidrajullah al-abda”(Allah menIstidrajkan hambanya) membawa erti/makna setiap kali hambaNya (insan) membuat/ menambah/ membaharui kesalahan yang baru maka setiap kali itu juga Allah akan membuat/ menambah/ membaharui nikmatNya ke atas hambaNya itu dan setiap itu juga Allah membuatkan hambaNya itu lupa untuk memohon ampun atas dosa yang dilakukan terhadapnya dan setiap itu juga Allah akan mengambilnya sedikit demi sedikit(ansur-ansur) dan Allah tidak mengambilnya dengan cara yang mengejut!

Allah berfirman di dalam ayat 182 Surah Al-A’raf yang bermaksud(sila rujuk untuk kepastian) :”Orang2 yang mendustakan ayat-ayat Kami(Allah), nanti akan Kami { binasakan mereka itu dengan beransur-ansur } sedang mereka tidak tahu.

Cuba anda lihat maksud ayat Alquran yg berada di dalam isyarat { }. Itu adalah maksud “istidraj” yang sedang kita bincang sekarang. Iaitu ia membawa makna “Istidraj” suatu perkara yang di luar adat kebiasaan yang belaku terhadap seseorang insan bertujuan untuk membinasakan ‘insan’ tersebut dengan cara berangsur-ansur atau tidak disedari atau sedikit demi sedikit dan bukan mengejut. Jika kita beriman benar-benar pada Allah, Insya Allah takkan terjadi “istidraj” pada kita. Percayalah.. 🙂
 
 

Imam AlQurtubi telah berkata di dalam buku tafsinya yang bernama Tafsir Jamie’ Al-Ahkam. Antaranya:-

Seorang ulamak tafsir yang bernama ‘Add-Dhohhak’ telah mengulas mengenai ayat 182 Surah Al-a’raf ini. Katanya: “Allah berfirman :Setiap kali mereka menambah/membuat/membaharui maksiat yg baru maka setiap itu Aku(Allah) membaharui/menambah/membuat nikmat ke atas mereka”.

*** Dr.Abd.Qadir As-Sa’di(bekas pensyarah di Universiti Al al-Bayt, Jordan) telah berkata mengenai asal usul pemberian nama”Add-Dhohhak-ulamak tafsir” tadi : “diberi beliau nama tersebut kerana… beliau berada dalam kandungan ibunya selama 2 atau 4 tahun. Pabila dilahirkan beliau lahir dalam keadaan yang sudah pun bergigi(tumbuh gigi) dan pabila dilahirkan beliau terus ketawa”.  Subhanallah…  begitulah keajaiban penciptaan Allah.

Ketika mana Tentera Islam mendapat harta Kisra(Maharaja Parsi) maka Saidina Umar Al-Khattab telah berkata:  [“Wahai Tuhan! Aku ingin meminta perlindungan dari engkau dari menjadi orang yang mendapat “Istidraj” kerana aku mendengar Engkau berfirman(maksud ayat 182 Surah Al-A’raf) :Orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami(Allah), nanti akan Kami binasakan mereka itu dengan beransur-ansur sedang mereka tidak tahu” ]
Istidraj: “diberi kepada mereka nikmat dan dihilangkan kepada mereka erti kesyukuran”.
 
 

Professor Dr.Qahtan Ad-Duri(salah seorang pensyarah di Universiti Al al-Bayt, Jordan) telah berkata di dalam bukunya Usuluddin Al-Islami:

Al-Istidraj :-
Iaitu perkara luar biasa yang berlaku ke atas orang Fasik atau Kafir sebagai tipu daya buat mereka. Ia akan menambahkan lagi kejahilan dan kebodohan mereka sehinggalah balasan Allah s.w.t menimpa mereka di dalam keadaan mereka lupa.
Allah s.w.t telah berfirman di dalam ayat 44 – 45 surah Al-An’am yang bermaksud: (sila rujuk untuk kepastian)

Tatkala mereka lupa akan apa yg diperingatkan kepada mereka, Kami bukakan bagi mereka beberapa pintu tiap-tiap sesuatu (nikmat dan kesenangan), sehinggalah apabila mereka telah bersuka ria dengan (kesenangan)yang mereka perdapat itu, lalu dengan se-konyong-konyong Kami siksa mereka, sehingga mereka berputus asa.” -44- “Maka dihapuskanlah akhirnya kaum yang aniaya; dan pujian-pujian bagi Allah Tuhan Semesta Alam” -45-

Rasulallah s.a.w telah bersabda yang bermaksud:
“Apabila kamu melihat Allah memberikan kepada seorang hambaNya di dunia ini apa yang hamba itu suka atau berhajat, sedangkan hambaNya itu tetap dalam kemaksiatannya maka itulah ISTIDRAJ”. Selepas itu Rasulallah s.a.w pun membaca ayat tadi 44- 45 (surah Al-An’am) yang bermaksud… (sila rujuk makna ayat 44 dan 45 pada perenggan yg tersebut tadi).
 

Semoga anda faham dan berwaspada atau berhati-hati dalam setiap langkah anda !!!