Amalan Berguna Selepas Mati

Menurut Imam Ahmad bin Hambal, Ulama telah membuat kesimpulan bahawa apa pun jenis kebaikan yang diniatkan untuk dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal, pahalanya akan sampai kepada almarhum atau almarhumah.

1. Mendoakan dan memohonkan keampunan ::: Rasulullah s.a.w bersabda, “Jika kalian mensolatkan jenazah, berdoalah dengan ikhlas untuknya. “Ya Allah, berilah ampunan bagi orang yang masih hidup mahupun yang telah meninggal di antara kami.”

2. Bersedekah ::: Saad bin Ubadah bertanya kepada Rasulullah s.a.w., “Ya Rasulullah, ibuku telah meninggal. Dapatkah aku bersedekah atas namanya?” Beliau menjawab, “Ya, dapat.”

3. Berpuasa ::: Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan, Ibnu Abbas berkata,”Seorang lelaki menemui Nabi s.a.w. dan bertanya,Ya Rasulullah, ibuku telah meninggal dunia sedangkan ia mempunyai kewajiban berpuasa selama sebulan. Apakah aku dapat memenuhi kewajiban itu untuknya?, Rasulullah s.a.w menjawab, ‘Ya’.Rasulullah s.a.w bersabda,sesungguhn ya hutang kepada Allah lebih layak ditunaikan.

4. Haji ::: Al Bukhari meriwayatkan, Ibnu Abbas berkata, “seorang perempuan dari Juhainah menemui Nabi s.a.w dan bertanya, sesungguhnya ibuku telah bernazar untuk berhaji, tapi dia belum memenuhinya sampai dia meninggal. Apakah aku boleh berhaji untuknya? Rasulullah s.a.w menjawab, berhajilah untuknya. ….tunaikanlah (untuknya) kerana Allah lebih berhak menerima pembayaran.”

5. Solat ::: Ad Daruquthni meriwayatkan, “Seseorang lelaki bertanya, Ya Rasulullah s.a.w, sesungguhnya aku mempunyai ibu dan bapa. Aku berbakti kepada mereka selama mereka masih hidup. Bagaimana cara aku berbakti kepada mereka setelah mereka meninggal? Rasulullah s.a.w menjawab, sesungguhnya perbuatan baik setelah mereka meninggal, engkau solat untuk mereka dengan solatmu dan engkau berpuasa untuk mereka dengan puasamu.”

6. Membaca al Quran ::: Hadiah membaca al Quran akan sampai pahalanya apabila pembaca al Quran tidak menerima upah kerana Rasulullah s.a.w mengharamkanmencari nafkah dan kekayaan dengan membaca al Quran. Setelah pembacaan al Quran selesai, maka pembaca hendaklah mengucapkan ‘Ya Allah sampaikanlah pahala bacaanku ini kepada….(nama almarhum dan almarhumah)

https://jejakjejaka.wordpress.com/

Orang Yang Paling Bahagia, Yang Mampu Menerima Takdir dan Pemberian Tuhan

Quote memaknai hidup

Bagi penulis, kutipan dawuh guru, bapak KH. Jalal Suyuthi di atas adalah salah satu untaian pesan yang paripurna.

Hidup kita seakan-akan adalah cerminan dari sejauh mana kita bisa menerima takdir Tuhan, memaknai pemberian Tuhan.

Khoirihi wa syarrihi min Allah. Takdir baik dan takdir buruk, keduanya berasal dari Allah.

Saat berkecukupan, bersyukur dan menerima. Begitu pula saat sempit dan berduka, sepantasnya kita bisa bersabar dan menerima.

Sebab pada hakikatnya, kepada-Nya lah bergantungnya semua perkara.

Segala puji bagi-Nya ketika kita sedang bahagia, dan pribadi diri ini juga milik-Nya ketika kita sedang berduka.BACA JUGA

***
“Orang yang paling bahagia adalah orang yang mampu menerima takdir Tuhan dan bisa memaknai pemberian Tuhan. Apapun pemberian Tuhan pada saya itulah yang terbaik.”(Bapak KH. Jalal Suyuthi,Ponpes Wahid Hasyim Yogyakarta, 1 Mei 2020)

https://www.syarif.id/2020/05/orang-yang-paling-bahagia-yang-mampu.html

Umat Pilihan Nabi, Yang Tertawa Bahagia Lantaran Luasnya Rahmat Ilahi

tertawa karena rahmat Allah

“Hidup itu harus ceria”, begitulah kurang lebih kutipan dawuh KH. Baha’uddin Nursalim (Gus Baha’) dalam berbagai kesempatan.
Ceria atau bahagia, yang umumnya terekspresikan melalui canda dan tawa, adalah salah satu manhaj (jalan) hidup dalam rangka bersyukur atas segala anugerah pemberian Allah.
Bahagia, Ceria, Ada SanadnyaSeperti kutipan hadits Nabi saw dalam kitab Ihya’ Ulumiddin,

Bahwa ada kesempatan bagi kita semua, seperti yang tersebut dalam hadits, menjadi umat pilihan Nabi yang suka tertawa, ceria, suka guyon, lantaran betapa luasnya rahmat Allah swt.

Salah satu caranya, dalam menghadapi segala bentuk kejadian dalam hidup, selayaknya kita sikapi dengan penuh ridha, ceria, dan rela menerima.
Saat menemui kebaikan dan keberuntungan, sepantasnya kita berbahagia dengan bersyukur. Sebaliknya, ketika mendapati keburukan dan ketidaknyamanan, selayaknya kita tetap ceria (rela) dengan bersabar.
Meyakini bahwa rahmat Allah sangat luas, dan kehidupan dunia hanyalah sarana bekal untuk kehidupan akhirat. Maka bersikap rela dan ceria sepantasnya perlu dilatih dan dibiasakan.
Guyon-pun Ada SanadnyaBanyak para kiai, ulama, dan para cendekiawan Islam yang masyhur suka guyon, salah satunya adalah allahu yarham mbah Maemoen Zubaer.BACA JUGA

Para ulama’ seperti mbah Moen, menurut Gus Baha’, memilih guyon sebagai jalan supaya tetap berada di jalur taat, seraya terhindar dari bentuk maksiat.
Misalnya, ketika mendengar satu kabar keburukan seseorang, apabila kita tidak memiliki selera guyon, maka umumnya kita cenderung menyebut-nyebut (men-justis) orang tersebut dengan perilaku buruknya.
“Wah, jadi orang kok suka ngapusi, doyan korupsi,” misalnya, adalah ucapan yang bersifat menggunjing dan tidak dibenarkan dalam Islam.
Alangkah lebih baik jika memiliki selera (seni) guyon, kita dapat membelokkan pembicaraan dengan diksi yang lain,
“Wah ncen nek penggaweane ngadepi duit akeh, cobaane gedhe ya,” misalnya, tetap membalas obrolan tetapi tak sampai menyebut keburukan seseorang.

Dan ya, untuk ceria, bahagia, guyon, semuanya butuh seni, dilatih dan dibiasakan sejak dini.
Maka mari kita biasakan diri, suka ceria, bahagia, guyon bersama dengan kawan di sekitar kita, supaya dapat tergolong menjadi umat pilihan Nabi, yakni dengan menyadari bahwa semua ini adalah berkah rahmat Allah swt, yang luas dan tak tertandingi.
Wa Allah a’lam.

https://www.syarif.id/2020/01/umat-pilihan-nabi-yang-tertawa-bahagia.html

Siapa Mengenal Dirinya, Maka Sungguh Mengenal Tuhannya

siapa mengenal dirinya maka mengenal Tuhannya

Disarikan dari sebuah keterangan gus Baha’ tentang “ma’rifat billah”, penulis kemudian teringat akan satu maqalah yang masyhur terdengar.

Penulis memakai redaksi ‘maqalah’ karena sebagian besar ulama’ tidak menyebutnya hadits.

Bahwa salah satu cara mengenal Allah adalah dengan mengenal diri sendiri.

Mengenal ‘Nama’ Diri Sendiri

Mengenal diri sendiri bisa dengan cara ‘menyadari’ hakikat ‘nama’ yang kita miliki, yakni sebagai seorang hamba.

Ketika kita mampu menyadari ‘nama’ kita sebagai hamba, maka kita akan mengenal ‘status’ hamba, yaitu apa saja yang pantas dilakukannya adalah yang sesuai dengan perintah Tuhannya, bukan sesuai keinginan atau hawa nafsunya.

Karena ketika kita menyadari apa yang kita lakukan adalah atas dasar menuruti perintah-Nya (taqwa), maka kita dapat mengabaikan kecenderungan ‘godaan setan’ yang seringkali mengajak kita jatuh hati akan wujud dunia, sehingga Tuhan bukan lagi tujuan utama.

Padahal pada hakikatnya dunia hanya perantara, dan Tuhan-lah tujuan utamanya.

Misal hamba diperintahkan untuk mengajar ilmu, maka ketika sudah melaksanakannya (mengajarkan ilmu), ia hendaknya bersyukur, karena sudah tercatat oleh-Nya sebagai hamba yang menaati perintah-Nya.

Tak peduli berapa orang yang diajar, paham atau tidak, mengantuk atau terjaga. Sebab tujuan utama adalah menaati perintah-Nya, yakni mengajar.

Contoh lain seperti kita bekerja (karena diperintah mencari yang halal), begitu juga berumah tangga, berbuat baik pada orang tua, saudara, teman, tetangga, dan sebagainya, karena itu semua perintah Allah swt.BACA JUGA

Sehingga jadilah ia hamba yang bersyukur, hamba yang bahagia.

Berawal dari mengenal diri sebagai hamba, maka ia tau harus bahagia karena siapa, dari siapa, untuk siapa.

Bahagia karena mampu berbuat sesuai perintah Tuhannya.

***
ُمَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه

Artinya, “Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.”
***
Wa Allah a’lam.

Referensi Ngaji Gus Baha’ di Youtube Santrigayeng

https://www.youtube.com/embed/XmlTplH1Egg?feature=player_embedded
Baca juga Tinjauan Status Hadits Man ‘Arafa Nafsahu Faqad ‘Arafa Rabbahu di website NU Online

https://www.syarif.id/2020/01/siapa-mengenal-dirinya-maka-sungguh.html

Sesungguhnya Tugas Itu Mudah Untuk Dilaksanakan (Al-Baqarah: 286)

Beban Tugas Itu mudah

Mengutip Tafsir Al-Mishbah surah al-Baqarah ayat 286, bahwa …
Tugas Ada 3 Kemungkinan, Sesuai dengan Tempat & Waktu
Setiap tugas yang dibebankan kepada seseorang tidak keluar dari 3 kemungkinan.
Pertama, mampu dan mudah dilaksanakan. Kedua, sebaliknya, tidak mampu dia laksanakan. Dan kemungkinan ketiga, dia mampu melaksanakannya tapi dengan susah payah dan terasa sangat berat.
Di sisi lain, seseorang akan merasa mudah melaksanakan sesuatu jika tempat atau waktu pelaksanaannya lapang. Berbeda dengan tempat atau waktu yang sempit. Dari sini kata lapang dalam konteks tugas dipahami dalam arti mudah.
Pemaknaan ‘Lapang’ = ‘Mudah’
Tugas-tugas yang dibebankan Allah kepada manusia adalah tugas-tugas yang lapang, mudah untuk dilaksanakan.
Bahkan kesulitan pun dapat melahirkan kemudahan yang dibenarkan, walau sebelumnya tidak.
Misal pada dasarnya shalat diwajibkan dengan berdiri. Namun jika seseorang kesulitan berdiri, maka ia boleh duduk.
Seseorang yang sulit mendapat air untuk berwudlu, atau khawatir pada kesehatannya, maka dia boleh bertayammum. Dan masih setumpuk contoh yang lain.
Demikianlah, Allah tidak menghendaki sedikitpun kesulitan menimpa kita, utamanya dalam beribadah dan menebar kemanfaaatan.
Dan agar kita termotivasi dalam menjalani tugas (yang tingkat kemudahannya relatif), maka perlu dipahami …
Hakikat Makna ‘Laha’ dan ‘Alaiha
Kata laha pada ayat tersebut diterjemahkan dengan baginya, yakni pahala (menggambarkan sesuatu yang positif). Dan ‘alaiha dipahami dalam arti atasnya dosa (memberi gambaran hal yang negatif).

Pahala dan dosa atas usaha

Lebih lanjut lagi, penggunaan kata kasabat dan iktasabat meski keduanya berakar sama, tetapi kandungan maknanya berbeda.
Patron kata kasabat berarti melakukan sesuatu dengan mudah (tidak disertai dengan upaya sungguh-sungguh). Berbeda dengan iktasabat yang digunakan untuk menunjuk adanya kesungguhan serta usaha ekstra.BACA JUGA

Maka sebenarnya melaksanakan tugas (yang baiki) itu mudah, karena …
Dasarnya Manusia Itu Berbuat Baik; Berbuat Buruk Butuh Tenaga Ekstra
Perbedaan kedua makna di atas menunjukkan, bahwa kasabat (yang menggambarkan makna positif) memberi isyarat bahwa kebaikan, walaupun baru dalam bentuk niat dan belum terwujud perbuatan, sudah mendapatkan imbalan dari Allah.
Berbeda dengan keburukan. Ia baru dicatat sebagai dosa setelah diusahakan dengan kesungguhan dan lahir dalam perbuatan.
Di samping itu, penggunaan kata tersebut juga menunjukkan bahwa pada prinsipnya, jiwa manusia cenderung berbuat kebaikan.
Hal ini karena keburukan yang dilakukan manusia biasanya disertai kesungguhan dan dengan usaha ekstra, serta tidak sejalan dengan bawaan dasar manusia.
Untuk perbandingan, coba perhatikan keadaan kedua orang berikut;
Yang pertama berjalan dengan istrinya. Ia akan berjalan santai, tidak khawatir dilihat orang, bahkan masuk ke dalam rumah di malam hari, tidak akan menjadi persoalan baginya.
Berbeda dengan yang kedua, seorang pria yang berjalan dengan wanita tuna susila. Jalannya hati-hati, menoleh kanan kiri, khawatir ketahuan orang.
Demikianlah hingga kemudian apakah kebaikan (dan keburukan) itu menjadi sebuah kebiasaan.
***
Bagi penulis, setiap tugas yang Allah bebankan pada kita, manusia, pasti disesuaikan dengan kemampuan kita. Karena Allah Maha Bijaksana, dan Tahu kapasitas setiap hamba-Nya.
Maka tak perlu sebenarnya kita menyerah sebelum menjalankan tugas. Sekiranya menjalani dahulu, jika kurang mampu maka (bersabar dan) insyaallah akan ada jalan kemudahan, bahkan jika mampu, maka beban akan semakin ditingkatkan.
Meningkat, seiring dengan kekuatan dan kebermanfaatan.
﴿لَا یُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَیۡهَا مَا ٱكۡتَسَبَتۡۗ ﴾[البقرة ٢٨٦]
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kelapangan/kesanggupannya. Baginya (pahala, sesuai) apa yang ia usahakan, dan atasnya (siksa, sesuai) apa yang telah ia usahakan.
Wa Allah a’lam.

https://www.syarif.id/2019/07/sesungguhnya-tugas-itu-mudah-untuk.html

Menjadi Umat Yang Mengajak dan Yang Memerintah (Ali Imran: 104)

Amat ma'ruf nahi mungkar
Amat ma'ruf nahi mungkar

Kehidupan manusia semestinya tidak akan lepas dari kesalahan sedikitpun. Oleh karenanya, satu dengan yang lain perlu saling mengingatkan. Bahwa orang yang dikaruniai ilmu, selayaknya bisa mengajak kepada kebajikan. Dan yang dikaruniai kuasa, selayaknya bisa memerintah kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar.
Berikut kutipan Tafsir Al-Mishbah surah Ali Imran ayat 104.
***
Berawal dari kenyataan bahwa …
Tidak Semua Dapat Melaksanakan Fungsi ‘Mengajak’ (Dakwah) & ‘Memerintah’ (Amar)
Oleh Prof. Dr. M. Quraish Shihab, dijelaskan bahwa umat yang disinggung dalam ayat ini adalah orang-orang beriman yang perilakunya dapat dijadikan teladan serta nasihatnya bisa didengarkan.
Apalagi di zaman seperti ini, arus teknologi dan informasi berkembang sedemikian pesat, sehingga di setiap media, dituntut adanya kelompok (orang-orang) yang dapat diikuti dakwahnya oleh orang yang lain.
Perbedaan Kelompok ‘Yang Mengajak’ dan ‘Yang Memerintah’
Sayyid Quthub dalam tafsirnya mengemukakan bahwa, penggunaan dua kata yang berbeda (يدعون) dan (يأمرون) menunjukkan keharusan adanya dua kelompok dalam masyarakat Islam.
Kelompok pertama bertugas mengajak, dan kelompok kedua bertugas memerintah dan melarang.
Hal ini karena ajaran Ilahi di bumi ini bukan sekedar nasihat, petunjuk, dan penjelasan. Akan tetapi, juga berupa melaksanakan kekuasaan memerintah dan melarang, agar ma’ruf dapat terwujud, dan kemungkaran dapat sirna.
Lalu apa perbedaan tugas-tugas mereka?
Khair (Kebajikan), Ma’ruf (Yang Dinilai Baik), dan Mungkar (Yang Dinilai Buruk)
Telah diketahui bahwa al-Qur’an dan sunnah itu mengamanahkan nilai-nilai pada dakwahnya. Nilai-nilai tersebut ada yang bersifat mendasar, universal, dan abadi, dan ada juga yang bersifat praktis, lokal, dan temporal.
Hal ini menjadikan adanya suatu perbedaan antara satu tempat/waktu dengan tempat/waktu yang lain. Perbedaan, perkembangan, dan perubahan nilai itu dapat diterima oleh Islam selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai universal.
­Al-Khair menurut Rasul saw sebagaimana dalam Tafsir Ibnu Katsir adalah Mengikuti al-Qur’an dan Sunnahku (اتباع القرآن وسنتي).
Al-Ma’ruf adalah sesuatu yang baik menurut pandangan umum satu masyarakat selama sejalan dengan al-khair. Adapun
Al-Mungkar adalah sesuatu yang dinilai buruk oleh suatu masyarakat serta bertentangan dengan nilai-nilai Ilahi.BACA JUGA

Dari pemaknaan di atas, maka perlu …
Digarisbawahi Dua Hal
Pertama, nilai-nilai Ilahi (al-khair) tidak boleh dipaksakan, tetapi disampaikan secara persuasif dalam bentuk ajaran yang baik. Setelah mengajak, siapa yang beriman silakan beriman, dan siapa yang kufur silakan pula, maising-masing mempertanggungjawabkan pilihannya.
Kedua, bahwa kesepakatan umum masyarakat yang baik (al-ma’ruf) sewajarnya diperintahkan, demikian pula kesepakatan umum masyarakat yang buruk (al-mungkar) seharusnya dicegah. Baik dengan kekuasaan, dengan ucapan, sampai terendah yakni dalam hati/perasaan.
Dengan Kesimpulan
Bahwa dengan konsep al-ma’ruf, al-Qur’an membuka pintu yang cukup lebar untuk menampung perubahan nilai-nilai akibat perkembangan positif di masyarakat.
Karena jika disadari, ide/nilai yang dipaksakanatau tidak sejalandengan perkembangan budaya masyarakat, tidak akan bisa diterapkan.
Di samping itu, al-Qur’an juga melarang pemaksaan nilai-nilainya walau merupakan nilai yang amat mendasar, seperti keyakinan akan keesaan Allah swt.
Lebih lanjut, filter al-khair harus benar-benar difungsikan, yakni membuka perkembangan yang positif di masyarakat, bukan yang negatif.
***

(ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر وأولئك هم المفلحون)
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang mengajak kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Ali Imran: 104)

***
Wa Allah a’lam.

https://www.syarif.id/2019/12/ajakan-kepada-kebaikan-perintah-yang.html

DAKWAH DARI HATI…

gadis berniqab

“Sudah berapa lama tuan memeluk Islam?”tanya saya pendek

“Dua puluh tahun,”jawab lelaki berbangsa India itu juga dengan pendek.

“Semua keluarga turut masuk Islam?”

“Semua, tetapi tidaklah berturut-turut. Termasuk ibu-bapa saya,” jawabnya sambil tersenyum. Wajahnya nampak sangat tenang. Jadi senang hati melihatnya.

“Yang paling akhir?”

“Ibu dan bapa saya. Baru sebulan yang lalu.”

“Alhamdulillah…”

“Tetapi ibu saya baru sahaja meninggal dunia. Kira-kira dua minggu yang lalu.”

Saya terkejut. Maksudnya, baru sangat. Tentu dia masih dalam kesedihan.

“Masih sedih…” kata saya perlahan sambil mengusap bahunya. Separuh bertanya, separuh simpati.

“Sedih sedikit sahaja. Gembira lebih banyak.”

Wah, jawapan itu sangat aneh. Tentu ada cerita di sebaliknya.

“Mengapa tuan rasa gembira?”

“Panjang ceritanya…”

Saya memberi isyarat yang sangat berminat mendengar. Mungkin kerana itu dia pun mula bercerita. Lancar dan lurus tanpa tersekat-sekat. Seolah-olah episod demi episod sudah tersusun kemas dalam minda dan perasaannya. Menurutnya, dia memeluk Islam hasil dakwah seorang wanita. Dengan cinta? Tidak. Hanya dengan akhlak seorang wanita ‘berniqab’ yang bekerja sebagai akauntan di pejabatnya.

“Saya tertarik kepada akhlaknya. Begitu sopan, begitu empati dengan kawan sekerja dan cekap pula melaksanakan tugas. Tanpa melihat wajahnya pun, hati saya sudah terpikat. Sungguh. Saya jatuh cinta pada kecantikan budinya.”

“Bagaimana menyatakannya?”

“Cinta sentiasa ada cara untuk dinyatakan. Melalui seorang kawan rapat saya menyatakan hasrat.”

“Masa tu belum Islam?”

“Belum. Itulah cinta. Buta. Saya akui, cinta kepada wanita itu lebih dulu datang, sebelum cinta kepada Islam. Itulah saya.”

“Subhanallah menarik. Bagaimana reaksinya?”

“Dia menjawab… bakal suami saya hanyalah seorang Muslim.”

“Saya tahu, itu ialah syaratnya. Lantas, saya katakan kepadanya, masih melalui orang tengah,  beri saya masa secukupnya untuk memeluk Islam. Saya rasional, saya tidak akan ikut-ikutan. Saya perlu berfikir.”

“Dia beri cukup masa untuk berfikir?”

“Ya, bukan hanya untuk berfikir. Tetapi untuk belajar tentang Islam. Saya sememangnya sudah sekian lama menyimpan hasrat untuk memahami Islam. Bukan kerana hendak menganutnya, tetapi kerana minat saya yang mendalam pada ilmu. Bagi saya ilmu-ilmu dalam Islam sangat menarik untuk diterokai.”

“Jadi Islam hanya dipelajari untuk diketahui, bukan untuk diyakini?” tusuk saya.

“Mula-mula begitulah. Tetapi lama-kelamaan, ilmu-ilmu itu telah membentuk keyakinan saya. Mula-mula hanya kerana wanita, tetapi akhirnya jatuh cinta kepada Pencipta wanita.”

“Begitu mudah?”

“Tidak juga. Saya berfikir lama…. Hati saya selalu bertanya apa yang menyebabkan seorang wanita begitu ‘terbuka’ ketika wajahnya tertutup. Dia sangat terbuka dalam pemikiran, pergaulan dan pekerjaannya.  Mudah didekati tetapi sangat menjaga diri. Bagi saya tentu ada sesuatu dari dalam dirinya yang menjadikan dia begitu.”

“Berapa lama?”

“Hampir dua tahun.”

“Dia sabar menunggu?”

“Bukankah saya katakan, dia wanita yang sangat setia dan patuh pada janji?”

“Wah. Itu cinta pertama?”

“Pertama pada dia. Tetapi tidak pada saya. Saya pernah jatuh cinta kepada wanita lain sebelumnya.  Pada dia cinta pertama, pada saya cinta utama. Dalam banyak-banyak cinta, cinta itulah yang paling suci dan unik.”

“Perkahwinan meriah?”

“Meriah. Sangat meriah. Sederhana tetapi penuh makna. Ceria.”

Hampir saya terlupa pada cerita ibunya. Supaya tidak terlupa, saya terus bertanya, “itu cerita isteri, tadi kita bermula dengan cerita ibu.”

“Cerita ibu dan isteri saya sangat berkaitan.”

Saya minta dia bercerita terus. Saya mahu belajar daripadanya. Saya lihat di antara mereka yang mengikuti kursus kepimpinan Islam itu dialah yang paling bersungguh-sungguh dan fokus. Banyak pertanyaan yang diajukannya. Bagi saya dia seorang istimewa. Tentu sekali isteri atau ibu atau kedua-duanya sekali istimewa. Bukankah di sebalik seorang lelaki yang hebat, pasti ada seorang wanita yang hebat?

“Setelah bernikah, saya lebih mendalami agama. Saya dan isteri terus belajar dan belajar. Ada kalanya cuti tahunan kami dihabiskan untuk belajar ilmu agama. Kami kemudian mengerjakan umrah dan akhirnya dapat mengerjakan haji. Anak-anak kami dididik untuk mendalami agama sejak kecil. Alhamdulillah, dua daripada tiga orang anak kami hafaz Al Quran.”

“Bertuah. InsyaAllah, isteri tuan seorang isteri yang solehah. Boleh saya dan keluarga ziarah rumah tuan untuk bertemu dan berkongsi pengalaman dengannya?”

“Tidak boleh. Maaf, tidak boleh.”

Saya sangat terkejut. Ditolak mentah begitu sahaja? Lantas bertanya, “mengapa?”

“Kerana dia telah meninggal dunia dua tahun lalu. Sakit barah. Barah rahim. Sewaktu barah dikesan sudah tahap yang kritikal. Tidak dapat diubat lagi. Sebulan meninggal…”

Terkejut. Daripada rasa terkilan tadi, bertukar tiba-tiba kepada rasa sedih yang mendalam. Betul, jangan cepat buruk sangka, detik saya dalam hati. Sekarang saya seperti dapat merasakan sendiri rasa kehilangannya srikandi cintanya itu. Betapa hebatnya rasa kehilangan seorang isteri yang telah memberi cahaya mata dan cahaya hati.

Dia mengesat matanya yang mula berair. Sungguh, saya turut merasainya. Isteri ialah jantung hati kita. Dia pergi… separuh diri kita juga seolah-olah hilang. Cinta kepada isteri ialah cinta kerana Allah yang sangat besar impaknya dalam kehidupan. Hamka, seorang penulis yang tersohor pernah meluahkan isi hatinya ketika ditinggal mati oleh isterinya. Ketika ditanya oleh anaknya (irfan), beliau meluahkan :

“Kau tahu, Irfan. Ayah dan Ummi telah berpuluh-puluh tahun lamanya hidup bersama. Tidak mudah bagi Ayah melupakan kebaikan Ummi. Itulah sebabnya bila datang ingatan Ayah terhadap Ummi, Ayah mengenangnya dengan bersenandung. Namun, bila ingatan Ayah kepada Ummi itu muncul begitu kuat, Ayah lalu segera mengambil air wudhu’. Ayah solat Taubat dua rakaat. Kemudian Ayah mengaji. Ayah berupaya mengalihkannya dan memusatkan fikiran dan kecintaan Ayah semata-mata kepada Allah,” jawab Ayah

“Tetapi satu kematian yang indah…” tiba-tiba dia bersuara, memutuskan ingatan saya pada Allahyarham Pak Hamka.

“Kematian yang indah? Bagaimana dia meninggal dunia?”

“Saya masih ingat menjelang waktu Asar pada hari itu dia sangat tenat. Saya duduk menemani di sebelahnya. Dia merayu untuk solat berjemaah bersama. Selalunya saya solat berjemaah di masjid tetapi kali ini dia benar-benar tenat. Lalu saya baringkan dia di sebelah kiri di bahagian belakang saya. Dia begitu lemah. Matanya hampir terpejam. Habis solat sahaja, dia mengucap kalimah syahadah sebanyak tiga kali… lalu terus menghembus nafas yang terakhir.”

“Begitu mudah?”

“Begitulah tuan, macam sebuah drama. Sukar untuk mempercayainya jika sekadar mendengar cerita tetapi saya menyaksikannya. Itulah kematian yang indah.”

“Al Fatihah,” ujar saya. Kami sama-sama membaca surah al fatihah dan berdoa semoga rohnya diampuni dan dikasihani Allah. Seseorang akan mati mengikut cara hidupnya. Jika cara hidupnya baik, maka dia akan menemui kematian dengan sebaik-baiknya. Wanita itu telah mengislamkan suaminya, melahirkan anak-anak yang baik,  bisik hati saya.

“Ustaz, sebenarnya bukan saya sahaja yang tertarik kepada Islam atas sebab dia tetapi juga adik-beradik saya. Seorang demi seorang adik-beradik saya memeluk Islam apabila mula dan  lama bergaul dengannya.”

“Wah, mudahnya…”

“Tetapi ada  juga yang susah. Ibu dan ayah saya sangat susah untuk menerima Islam. Mereka sangat keras hati. Kata-kata lembut dan akhlak isteri saya pun tidak cukup kuat untuk mencairkan kekufurannya. Namun, ajaibnya… masih isteri saya juga menjadi sebab keislaman ibu-bapa saya.”

“Macam mana tu?” tanya saya tidak sabar. Inilah persoalan awal dalam perbualan kami tadi. Daripada soal ibu-bapanya teralih pula kepada soal isterinya. Benar katanya tadi, soal ibu dan isteri sangat rapat dan Saling berkait.

“Kami cuba pelbagai cara untuk mengislamkannya, tetapi tidak berjaya. Akhirnya, isteri saya menyarankan satu cara…”

Saya benar-benar ‘suspen’. Menanti dengan penuh minat.

“Sayangnya, isteri saya pergi dulu sebelum sempat melihat hasil dakwahnya kepada ibu saya,” katanya tanpa memberi jawapan yang saya tunggu.

“Maksud tuan, isteri tuan meninggal dunia dahulu kemudian baru ibu tuan memeluk Islam?”

“Ya,”jawabnya pendek.

“Apa kaedah yang disarankan oleh isteri tuan itu?” tanya saya, mengulang pertanyaan yang sangat saya dambakan jawapannya sejak tadi.

“Begini, arwah isteri saya menyatakan bahawa doa anak kepada ibu-bapanya sangat mustajab. Bukan sahaja setelah ibu-bapanya meninggal dunia, bahkan semasa ibu-bapanya itu masih hidup lagi.   Satu hari, dia sarankan saya berdoa setiap kali selepas solat dan setiap kali membaca Al Quran. Pohon kepada Allah agar diberi hidayah kepada ibu-bapa saya.”

Terpegun mendengar saranan itu, saya berfikir. Nasihat ini seperti serampang yang punya dua mata. Pertama, untuk yang berdoa agar sentiasa solat dan membaca Al Quran. Kedua, untuk yang didoakan agar mendapat hidayah Islam. Bijak sungguh arwah isteri beliau.

“Jadi tuan ikut saranan itu?”

“Ya. Saya ikut.”

“Berapa lama?”

“ Hampir 10 tahun. Selama itulah setiap kali selepas solat dan membaca Al Quran saya doakan ibu-bapa saya. Yakni, sejak hari Allahyarham isteri mencadangkannya pada saya… saya amalkan. Dia meninggal dua tahun yang lalu, ibu pula baru dua minggu yang lepas. Ertinya, dia sendiri tidak dapat melihat hasil kejayaan dakwahnya.”

“Dia akan melihatnya. Bahkan dia akan melihat lebih jelas daripada kita nanti. InsyaAllah. Mudah-mudahan dia dan ibu tuan ditempatkan di kalangan roh orang yang beriman. Sama-sama akan ke syurga nanti…”

Sungguh peristiwa itu sangat menyentuh jiwa. Dakwah yang berkesan itu dengan akhlak yang baik, kata-kata yang penuh hikmah dan doa yang istiqamah. Tanpa wajah dilihat, tetapi diri  sudah mampu memikat. Itulah mesej di sebalik ‘sayonara’ seorang isteri yang berniqab…

https://gentarasa.wordpress.com/2014/12/30/dakwah-dari-hati/

MENCARI KECANTIKAN ISTERI BUKAN ISTERI YANG MASIH CANTIK…

64557_427581307328153_1730802048_n

”Mengapa dia tidak faham rintihan hati aku?”  keluh seorang sahabat rapat kepada saya.

”Bukan aku tidak cinta, tetapi tolonglah berhias diri,” tambahnya lagi.

”Mengapa? Teruji sangatkah?”

”Apa tidaknya… di pejabat aku berdepan dengan berbagai-bagai wanita. Semuanya berhias dan berwangi-wangian.”

“Kau menjaga pandangan?”

“Bukan sahaja pandangan tetapi penciuman. Dunia akhir zaman, kau bukan tidak tahu.”

”Ya, iman kita sering teruji,” balas saya, seaakan-akan menumpang keluhannya.

”Yang aku hairan tu, isteri aku ni bukan tidak cantik… cantik. Tapi entahlah, sekarang ni semakin hilang moodnya untuk menjaga diri.”

”Kita akan dah semakin berusia. Apa lagi yang kita cari dalam hidup ini,” pujuk saya untuk meredakannya.

”Tetapi itu bukan alasan untuk dia tidak menjaga diri. Kita sebagai suami sering diuji, setidak-tidaknya berilah sedikit bantuan untuk kita hadapi ujian itu.”

Saya senyum. ’Bantuan’ yang dimaksudkannya membawa pelbagai tafsiran.

”Kau yang mesti mulakan dulu, insy-Allah isteri akan mengikut nanti,” cadang saya.

”Ya, aku dah mulakan. Mudah-mudahan dia dapat ’signal’ tu…”

”Amin.”

Saya termenung memikirkan ’masalah kecil’ yang kekadang boleh mencetuskan masalah besar itu. Sepanjang pergaulan saya telah ramai suami yang saya temui mengeluh tentang sikap isteri yang malas berhias. ”Apa guna, kita dah tua.” ”Alah, awak ni tumpu ibadat lah.” ”Dah tua buat cara tua.” Itulah antara alasan yang kerap kita dengar daripada para isteri.

Ramai suami yang baik, tidak memilih jalan singkat dan jahat untuk menyelesaikan masalah seperti menyimpan perempuan simpanan, pelacuran dan sebagainya. Ada juga yang ingin mencari jalan baik… (eh, seperti poligami) tetapi tidak berapa berani berdepan dengan isteri. Ada juga yang terus memendam rasa seperti sahabat rapat saya itu.

”Tak berani poligami?”

Dia menggeleng kepala.

”Tak ada calon ke?” saya mengusik lagi.

”Ramai…”

Memang saya lihat pada usia awal 40’an dia tambah segak dan bergaya.

“Habis kenapa?”

Dia diam. Saya renung wajah sahabat saya yang begitu akrab sejak dahulu. Dia memang lelaki baik, berakhlak dan begitu rapi menjaga ibadah-ibadah khusus dan sunat.

“Aku sayang isteri aku. Sangat sayang. Aku tidak mahu hatinya terguris atau tercalar. Aku kenal dia… Walaupun mungkin dia tidak memberontak, tetapi kalau aku berpoligami dia pasti terluka.”

” Kau sudah berterus terang dengannya?”

“Tentang apa tentang poligami?”

“Bukanlah. Tapi tentang sikapnya yang malas berhias dan bersolek tu?”

“Aku takut melukakannya.”

“Tak palah kalau begitu, biar kau terluka, jangan dia terluka,” saya berkata dengan nada sinis.

Dia faham maksud saya.

”Aku sedang mencari jalan berterus-terang,” dia mengaku juga akhirnya.

”Tak payah susah-susah. Katakan padanya dia cantik, tetapi kalau berhias lebih cantik…”

”Lagi?”

”Katakan kepadanya, berhias itu ibadah bagi seorang isteri. Jadi, bila kita yakin berhias itu ibadah, tak kiralah dia telah tua ke atau masih muda, cantik atau buruk… dia kena berhias. Dapat pahala, walaupun tak jadi cantik, atau tak jadi muda semua,” saya senyum. Kemudian ketawa. Pada masa yang sama saya teringat apa yang dipaparkan oleh media massa bagaimana ’ayam-ayam’ tua (pelacur-pelacur tua) yang terus cuba menghias diri untuk menarik pelanggan-pelanggan mereka. Mereka ini berhias untuk membuat dosa… Lalu apa salahnya isteri-isteri yang sudah berusia terus berhias bagi menarik hati suami mereka – berhias untuk mendapat pahala? Salahkah?.

”Kita para suamipun banyak juga salahnya,” kata saya.

”Kita tak berhias?”

”Itu satu daripadanya. Tapi ada yang lebih salah daripada itu,” tambah saya lagi.

”Salah bagaimana?”

”Salah kita kerana kita masih mencari isteri yang cantik bukan kecantikan isteri!”

”Dalam makna kata-kata kau tu…”

”Tak juga. Sepatutnya, pada usia-usia begini fokus kita lebih kepada kecantikan isteri… Di mana kecantikan sejati mereka selama ini.”

”Pada aku tak susah. Pada hati mereka. Pada jasa dan budi yang selama ini dicurahkan untuk kita demi membina sebuah keluarga.”

”Ya, jangan tengok pada kulit wajah yang luntur tetapi lihat pada jasa yang ditabur. Bukan pada matanya yang sudah kehilangan sinar, tetapi lihat pada kesetiaan yang tidak pernah pudar. Itulah kecantikan seorang isteri walaupun mungkin dia bukan isteri yang cantik.”

”Kau telah luahkan apa yang sebenarnya aku rasakan. Itulah yang aku maksudkan tadi… aku tak sanggup berpoligami kerana terlalu kasihkannya.”

”Kasih ke kasihan?” saya menguji.

”Kasihan tak bertahan lama. Tetapi aku bertahan bertahun-tahun. Aku kasih, bukan kasihan.”

”Relaks, aku bergurau. Tetapi ada benarnya kalau isteri katakan bahawa kita telah tua.”

”Maksud kau?”

”Bila kita sedar kita telah tua… kita akan lebih serius dan lajukan pecutan hati menuju Allah! Bukan masanya untuk berlalai-lalai lagi.”

” Ya, aku teringat kisah Imam Safie. Ketika usianya mencecah 40 tahun, dia terus memakai tongkat. Ketika muridnya bertanya kenapa? Kau tahu apa jawabnya?”

Saya diam.

”Beliau berkata, aku ingatkan diriku dengan tongkat ini bahawa usiaku sudah di penghujung, bukan masanya lagi untuk berlengah, tetapi untuk menambah pecutan dalam ibadah menuju Allah.”

Saya diam. Terus termenung. Imam Safie, tak silap saya wafat pada usia awal 50’an. Tepat sungguh firasatnya. Insya-Allah, jalannya menuju Allah sentiasa diredhai.

“Kalau kita seserius Imam Safie, insya-Allah, kita boleh hadapi masalah isteri tidak berhias ini. Kita akan cari kecantikannya yang abadi untuk sama-sama memecut jalan menuju Ilahi…” tegas sahabat saya itu.

”Kita tidak akan lagi diganggu-gugat oleh godaan kecantikan dari luar yang menguji iman. Kita juga tidak akan dikecewakan oleh pudarnya satu kecantikan dari dalam yang mengganggu kesetiaan.”

”Ya, kalau kita baik, isteripun akan baik. Bila hati baik, kita akan cantik selama-lamanya!”

Ironinya, ramai suami yang telah berusia masih belum sedar hakikat ini. Di tahap begini tidak salah mengharap isteri yang masih cantik, tetapi yang lebih utama carilah di mana kecantikan isteri kita, yang selama ini telah puluhan tahun hidup senang dan susah bersama kita. Perjalanan kita semakin dekat ke alam akhirat. Sepatutnya, kita semakin menjadi pencari kecantikan yang sejati.  Seperti imam Safie … pada usianya mencapai 40 tahun sudah memakai tongkat. Ketika ditanya mengapa? Dia menyatakan bahawa telah nekad untuk melajukan lagi langkahnyamenuju akhirat. Malangnya, pada usia-usia begini ramai suami yang mula juga mencari tongkat… sayangnya, bukan ’tongkat muhasabah diri’ tetapi tongkat Ali!

https://gentarasa.wordpress.com/2014/11/18/mencari-kecantikan-isteri-bukan-isteri-yang-masih-cantik/

INILAH PETA KEHIDUPAN

images

Hidup mesti dilihat mengikut ketetapan Penciptanya. Hanya dengan itu kejayaan dan kebahagiaan yang hakiki dan abadi dapat dimiliki. What you get is what you see – apa yang kita dapat, bergantung kepada apa yang dilihat. Dan tidak ada penglihatan yang paling tepat dan jelas melainkan dirujuk kepada pandangan Allah.

Mereka yang dapat mengikut ketetapan Allah itulah yang dikatakan celik mata hati – melihat hidup dengan penuh kesedaran. Untuk jadi sedar (celik mata hati) kita perlu memahami skrip kehidupan seperti yang telah ditentukan oleh Allah s.w.t. Kita tidak minta untuk dihidupkan tetapi hidup ini adalah kurniaan daripada Allah.

Untuk hidup selamat, tenang, dan bahagia, hiduplah mengikut “skrip” Pencipta. Jadilah hamba yang sebenar kerana itu menentukan bagaimana kita melihat hidup ini. Who you are determines how you see – siapa anda menentukan bagaimana anda melihat (memandang). Jadi, apabila kita merasakan diri kita hamba Allah, maka kita akan melihat hidup ini dari kaca mata Penciptanya (Allah)!

Skrip Kehidupan

Skrip kehidupan inilah jika dilalui dengan penuh iltizam dan istiqamah, akan menghasilkan kemenangan yang bersepadu antara diri dan masyarakat, material dan spiritual, dunia, dan akhirat. Kita akan mendapat apa yang sepatutnya dan sewajarnya yang kita dapat. Sebaliknya, jika apa yang kita lihat tersalah ataupun tersasar, maka apa yang kita dapat juga akan tersasar. Kita akan menyesal di dunia, lebih-lebih lagi di akhirat kerana kita dapat apa yang sepatutnya “tidak kita dapat”. Terasa benarlah hidup di dunia hanya sia-sia. 

Inilah yang digambarkan oleh firman Allah yang bermaksud: “Sesungguhnya (dengan keterangan yang tersebut), Kami memberi amaran kepada kamu mengenai azab yang dekat masa datangnya – iaitu hari seseorang melihat apa yang diusahakannya, dan (pada hari itu) orang yang kafir akan berkata: “Alangkah baiknya kalau aku menjadi tanah (supaya aku tidak dibangkitkan untuk dihitung amalku dan menerima balasan).” (Surah al-Naba’ 78: 40).

Apakah hanya apabila kita berada di dalam kubur, barulah kita akan tersentak (tersedar) dalam memahami apa sebenarnya hakikat hidup ini? Pada waktu itu baru kita faham dan akur tentang apa tujuan kita dihidupkan di dunia. Dan di situ jualah baru kita sedar apa yang paling bernilai dan apa yang tidak bernilai dalam hidup. Pendek kata sewaktu itulah pandangan kita tentang hidup (worldview) akan tepat dan jelas.

Namun sayang sekali, di sana segala-gala yang tepat dan jelas itu sudah tidak berguna lagi.

Kata hukama: “Beramallah ketika berada di tempat yang tidak ada ganjaran tetapi ada peluang beramal (dunia), sebelum kita berpindah ke tempat yang hanya ada ganjaran tetapi sudah tidak ada peluang beramal (akhirat).”

Oleh itu adalah lebih baik kita terlebih dahulu sedar ketika hidup di dunia (kerana kita masih ada peluang untuk memperbaiki diri dan membetulkan kesilapan), daripada kita tersedar ketika berada di alam kubur, yang pada ketika itu segala-galanya sudah tidak berguna lagi.

Umar Ibn Abd. Aziz pernah berkata, manusia diciptakan untuk selamanya. Mengapa Umar berkata begitu? Maksudnya, bermula manusia diciptakan buat kali pertama, diri manusia akan terus hidup dan mengembara dari satu alam ke satu alam. Kembara ini hanya akan berakhir sama ada di syurga atau di neraka. Di perhentian terakhir itulah manusia akan hidup berkekalan, sama ada dengan limpahan nikmat, atau mendapat azab buat selama-lamanya. Sebelum tiba di titik pengakhiran itu, manusia akan terus mengembara.

Ada kalanya bersama jasad, ada masanya hanya dengan roh sahaja. Setiap alam berbeza daripada alam sebelumnya. Kembara itu adalah satu perjalanan yang panjang. Penuh ujian dan cabaran. Dan perbezaan alam itu menuntut peranan dan respons yang berbeza pula. Apakah alam-alam itu?

Takah Hidup Insan

Kembara manusia bermula dari alam roh. Di sana manusia tidak mempunyai jasad. Tidak ada jantina, lelaki ataupun perempuan. Bagaimana keadaan kita pada waktu itu? Sangat sedikit yang kita ketahui tentang alam itu. Firman Allah: “Jika kamu bertanya tentang roh, katakan yang roh itu urusan Tuhanmu. Dan tidaklah kamu mengetahui daripada ilmu Allah melainkan sedikit sekali.” (Surah al-Israk 17: 85)

Alam Roh

Tetapi apa yang pasti di alam itu manusia sangat rapat dengan Tuhan. Sehingga pengakuan ini dicatat dalam al-Quran:

“Bukankah Aku ini Tuhanmu? Roh menjawab, ya kami menjadi saksi (kewujudan-Mu).” (Surah al-A’raf 7: 172)

Pada ketika itu, roh sangat kenal dan mengakui keesaan Allah sebagai Rabb (Penciptanya). Pada ketika itu juga roh berjanji untuk menjadi hamba Allah yang patuh. Perjanjian ini termeterai antara manusia dengan Allah sehingga dengan itu manusia sanggup memikul amanah sebagai khalifah di muka bumi. Walaupun semua makhluk lain menolak amanah ini, manusia sebaliknya, telah menyatakan kesanggupannya.

Dan kesediaan ini menyebabkan manusia menjadi pelakar sejarah dalam kehidupan di muka bumi dan memberi impak yang besar kesannya kepada kehidupannya sendiri. Firman Allah: “Sesungguhnya Kami telah kemukakan tanggungjawab amanah (Kami) kepada langit dan bumi serta gunung-ganang (untuk memikulnya), maka mereka enggan memikulnya kerana bimbang tidak dapat menyempurnakannya dan (pada ketika itu) manusia (dengan persediaan yang ada padanya) sanggup memikulnya. (Ingatlah) sesungguhnya tabiat kebanyakan manusia adalah suka melakukan kezaliman dan suka pula membuat perkara-perkara yang tidak patut dikerjakan.” (Surah al-Ahzab 33: 72).

Tidak diketahui berapa lama tempoh manusia berada di alam roh. Namun yang pastinya setiap manusia mengambil gilirannya untuk “diturunkan” ke alam dunia. Kita pun datang ke bumi generasi demi generasi. Sayangnya, pengakuan, perjanjian, kesanggupan dan segala yang berlaku di alam roh seolah-olah sudah dilupakan oleh manusia. Mengapa kita boleh lupa? Memang logik kita lupa kerana alam itu telah begitu lama kita tinggalkan. Sedangkan hal yang berlaku seminggu yang lalu pun kita boleh ‘terlupa’, inikan pula entah berapa ratus ribu tahun sudah kita membuat perjanjian itu?

Alam Rahim

Sebelum dilahirkan ke alam dunia, manusia terlebih dahulu “transit” di alam rahim. Alam rahim terletak di dalam perut ibu. Indah sekali namanya; Rahim (nama Allah Al-Rahim). Sekali gus melambangkan kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya, yang hakikatnya berasal daripada kasih sayang Allah. Di sini janin dilindungi untuk menjadi seorang bayi.

Bayi akan tinggal di alam yang kukuh dan penuh kasih sayang ini selama lebih kurang 9 bulan 10 hari (mengikut kebiasaannya). Dalam tempoh tersebut ada beberapa proses biologi dan rohani berlaku. Daripada sari pati tanah, menjadi nutfah, kemudian menjadi alaqah dan diikuti pembentukan mudghah. Kemudian menjadi tulang dan selepas itu mula diliputi dengan daging, dan dibungkus dengan kulit. Akhirnya terbentuklah bayi yang lengkap sifatnya.

Di alam rahim ada beberapa perkara telah ditentukan. Antaranya rezeki, tempoh kehidupan, celaka atau bahagianya.

Hadis daripada Abdullah bin Mas’ud r.a dia berkata, Rasulullah s.a.w. seorang yang benar serta dipercayai pernah bersabda: “Kejadian seseorang itu dikumpulkan di dalam perut ibunya selama empat puluh hari. Sebaik sahaja genap empat puluh hari kali kedua terbentuklah segumpal darah beku. Manakala genap empat puluh hari kali ketiga bertukar menjadi seketul daging. Kemudian Allah s.w.t. mengutus malaikat untuk meniupkan roh serta memerintah supaya menulis empat perkara iaitu ditentukan rezeki, tempoh kematian, amalan serta nasibnya sama ada mendapat kecelakaan atau kebahagiaan. Maha suci Allah s.w.t. di mana tiada tuhan selain-Nya, seandainya seseorang itu melakukan amalan sebagaimana yang dilakukan oleh penghuni syurga sehinggalah kehidupannya hanya tinggal sehasta dari tempoh kematiannya, tetapi disebabkan ketentuan takdir, nescaya dia akan bertukar dengan melakukan amalan sebagaimana yang dilakukan oleh penghuni neraka sehingga dia memasukinya. Begitu juga dengan mereka yang melakukan amalan ahli neraka, tetapi disebabkan oleh ketentuan takdir nescaya dia akan bertukar dengan melakukan amalan sebagaimana yang dilakukan oleh penghuni syurga sehinggalah dia memasukinya.”

Tegasnya, segala persediaan dan kelengkapan untuk menuju alam dunia telah dipersiapkan di sini. Jasadnya mula dilengkapi oleh komponen pancaindera (pendengaran, penglihatan, sentuhan, rasa dan lain-lain). Sepertimana penyelam yang perlu memakai pakaian khas untuk menyelam, lengkap dengan bekalan oksigennya, maka begitulah manusia yang berpindah ke alam dunia, pakaian khasnya ialah jasad dan kelengkapannya ialah pancaindera.

Alam Dunia

Tiba masanya, butang hidup pun di“on”kan. Manusia pun lahir ke alam dunia dengan diiringi tangisan. Tangisan ini ada maknanya yang tersendiri. Dalam kalangan ahli kerohanian ada yang mentafsirkan tangisan ini sebagai tanda protes bayi tersebut terhadap syaitan yang sejak lahir sahaja manusia ke dunia sudah diajak kepada kejahatan. Begitulah erti tangisan itu.

Manakala ahli perubatan pula menjelaskan bahawa tangisan itu diperlukan untuk si bayi mula mengepam oksigen ke paru-parunya yang baru berfungsi.

Apa pun makna dan tafsirannya, hidup memang dimulakan dengan tangisan, di celah-celah kehidupan ada tangisan dan diakhiri dengan tangisan. Tidak ada manusia yang lahir dengan ketawa!

Di alam dunia inilah bermulanya ujian kerana memang manusia hidup untuk diuji. Firman Allah yang bermaksud: “Dijadikan mati dan hidup bagi kamu untuk menguji siapakah antara kamu yang terbaik amalannya.” (Surah al-Mulk 67:2)

Lazimnya hidup manusia ini sekitar 60 hingga 70 tahun, namun perlu diingat, hidup di dunia inilah yang paling kritikal, kerana ia menentukan sama ada kita bahagia atau derita selama-lamanya. Dunia ini penuh dengan ujian. Dunia umpama “dewan peperiksaan”. Manusia mesti menjawab beberapa “soalan peperiksaan” yang sebenarnya telah pun “bocor”. Saya katakan demikian kerana soalan-soalan yang akan ditanyakan di alam kubur dan alam Mahsyar itu telah pun dimaklumkan kepada manusia di dunia lagi. Berikut adalah soalan-soalan itu:

Soalan Dalam kubur:

Siapa Tuhan kamu?

Siapa Imam kamu?

Siapa saudara kamu?

Apakah kiblat kamu?

Soalan di Alam Mahsyar:

Ke mana hartamu kamu belanjakan?

Ke mana ilmumu kamu gunakan?

Ke mana umurmu kamu sia-siakan?

Bagaimana umur muda kamu habiskan?

Namun, harus diingat soalan-soalan itu bukan dijawab secara lisan berdasarkan pemikiran. Tetapi perbuatan dan amalan kita di alam dunia itulah yang membantu memberi ‘jawapan’ kepada soalan-soalan itu. Jika kita melakukan sesuatu yang selaras dengan kehendak Allah, maka itu jawapan kepada soalan “Siapa Tuhan kamu?”. Jika kita benar-benar mengikut panduan sunnah Rasulullah, maka itulah jawapan kepada soalan “Siapa imam kamu?”

Alam Barzakh (Alam Kubur)

Hidup di dunia akan berakhir melalui proses kematian. Jika kelahiran adalah proses yang membawa kita pindah dari alam rahim ke alam dunia, maka mati pula adalah proses yang membawa kita pindah dari alam dunia ke alam barzakh. Hakikatnya, kelahiran dan kematian adalah sama – satu proses yang mesti dilalui sebelum berpindah ke alam selepas dari alam sebelumnya. Sayangnya, ramai manusia yang hanya membuat persediaan untuk menghadapi kelahiran berbanding kematian. Kain lampin lebih popular daripada kain kapan!

Alam barzakh (ertinya pemisah) ialah sempadan antara dunia dan akhirat. Di sana manusia ibarat dalam tahanan reman, sementara menunggu saat perbicaraan. Tetapi di alam barzakh ini sudah ada petunjuk-petunjuk awal sama ada kembara seterusnya akan berjalan dengan baik atau sebaliknya. Di sini sudah mula soal siasat terhadap segala perlakuan di dunia. Dua malaikat, Munkar dan Nakir, sudah menjalankan tugas awalnya. Mukadimah nikmat (bagi yang soleh) dan mukadimah azab (bagi yang toleh) sudah ketara dan dirasai. Di sini manusia akan menunggu saat perbicaraan sama ada dalam keadaan selesa atau seksa. Perbicaraan dan keputusan muktamadnya adalah di Padang Mahsyar.

Alam Mahsyar

Dua tiupan (bumi dilipatkan semula dengan sistem aturannya diterbalikkan. Dan berlakulah letupan kuat). Sangkakala dikumandangkan oleh Israfil – kali pertama untuk mematikan mereka yang masih hidup di saat itu dan kali kedua untuk menghidupkan semula semua yang sudah mati. Manusia pun dibangkitkan semula dari alam kubur menuju Mahsyar. Pelbagai rupa dan cara manusia ke sana ditentukan oleh amalan masing-masing. Visualnya, digambarkan dengan jelas dalam peristiwa Israk Mikraj.

Di sanalah keadilan yang mutlak dan muktamad ditegakkan. Jika di dunia yang benar tidak selalu dimenangkan, dan yang salah tidak selalu dikalahkan, tetapi di akhirat yang benar pasti menang, yang salah pasti kalah. Allah Maha Adil dalam menentukan sesuatu hukuman.

Walaupun Dia Hakim yang Maha Mengetahui, namun Dia masih mahu pengadilan itu dibuktikan oleh para saksi. Sedangkan apa perlunya saksi jika segala-galanya sudah diketahui? Ketika itu anggota badan kitalah yang menjadi saksi – segalanya dibenarkan bersuara malah mendakwa.

Alam Syurga atau Neraka

Setelah menerima catatan amal (lengkap dengan fakta dan data yang terperinci), yang bukan hanya mencatat setiap langkahan kaki tetapi juga lintasan hati, maka “keputusan” peperiksaan itu melayakkan manusia ke alam syurga jika berjaya dan ke alam neraka jika gagal. Di sanalah kembara yang panjang itu berakhir. Ada yang “happy ending”. Ada pula yang berakhir dengan sengsara. Sampai bila? Sampai bila-bila. Tidak ada kembara lagi selepas itu! Itulah hidup yang hakiki dan di sanalah perhentian yang abadi.

Sehingga di sini istirahatkan minda anda kerana lelah juga menyusuri perjalanan hidup kita. Itu baru menerusi perantaraan minda atau pemikiran. Perjalanan sebenarnya tentu menuntut kelelahan yang berganda. Kembara ini penuh liku, cabaran dan kesusahan. Jika kembara di satu alam (dunia) ini pun kita boleh tersesat dan melarat, apatah lagi kembara yang melalui di lima alam yang serba unik itu.

Dan yang paling penting ialah bagaimana hendak menjalani kehidupan yang sebaik-baiknya di alam dunia – alam yang sedang kita hidup sekarang. Masa lalu tidak dapat diputar kembali. Kita tidak boleh merayu untuk tidak dijadikan, menerima amanah dan dihantar ke dunia.

Manakala masa depan, tidak boleh dijangkau. Apa yang penting ialah kita boleh menentukan masa depan (di Alam Barzakh, Mahsyar, Syurga atau Neraka) dengan bekerja kuat pada hari ini (di dunia) dengan input dan peringatan yang kita dapat daripada masa lampau (di alam roh). Insya-Allah.

https://gentarasa.wordpress.com/2014/10/14/inilah-peta-kehidupan/

MISKIN DALAM KEKAYAAN

images

Dalam hidup, lihat dulu apa yang telah kita ada. Syukuri. InsyaAllah, apa yang ada itu akan ditambah oleh Allah. Atau, dengan syukur itu kita akan diberi hati yang tenang. Itulah kekayaan sejati. Mengapa melihat apa yang tiada… lalu hati jadi resah, gelisah dengan sayu. Orang lain kenapa mendapat lebih, sedangkan aku terus-terusan kekurangan? Begitu, gerutu jiwa. Jangan mengenangkan apa yang tidak ada menghilangkan rasa syukur dengan apa yang kita telah ada. Justeru, syukuri apa yang telah ada dan teruslah berusaha untuk memburu apa yang tidak ada. Namun, beringatlah, dalam pemburuan itu, jangan hilang sesuatu  yang lebih berharga. Sesuatu yang tidak ada galang gantinya. Ya, betapa ramai yang memburu kekayaan hilang ketenangan. Memburu kesenangan, hilang kesihatan. Mencari harta, membuang saudara.

Aku perlu mengingatkan diri ku sendiri dan diri orang lain juga. Kuantiti harta jangan cuba menggantikan kualiti jiwa. Kerana kualiti jiwa itu jauh lebih berharga. Nilai diri kita yang hakiki terletak pada sesuatu yang tidak akan dapat dibeli oleh wang dan harta. Itulah iman dan persaudaraan. Iman dan persaudaraan itu lazim berlaziman. Bila hilang salah satunya, maka hilang pula yang kedua. Lalu…apabila kesibukan mencari harta, semakin terasa kehilangan saudara, ketahuilah itulah detik yang sangat berbahaya.  Renggangnya persaudaraan petanda kurangnya iman.  Apa gunanya harta tanpa iman dan persaudaraan? Untuk apa harta itu? Bukankah ia hanya alat untuk memberi ketenangan? Memburu harta tidak salah, tetapi jangan dipinggirkan iman dan persaudaraan dalam pemburuan itu… Nanti, kita bukan lagi memburu harta tetapi kitalah yang diburunya. Waktu itu kitalah yang menjadi mangsa.

Untuk diriku dan dirimu, kutuliskan kesah ini sebagai peringatan: MISKIN DALAM KEKAYAAN   

Kita tidak akan mendapat dua perkara pada satu-satu masa. Apabila kita mendapat sesuatu, maka kita akan kehilangan sesuatu yang lain. Justeru pastikan apa yang kita dapat lebih berharga berbanding apa yang kita hilang. Itulah yang sering dipesankan oleh ahli hikmah. Pesanan tentang kehidupan. Itulah inti permasalahan yang saya bincangkan bersama seorang sahabat lama pada minggu lalu.

Sepi Dalam Kesibukan

Sungguh, dia kelihatan berbeza sekali hari itu. Sinar matanya yang dulu bercahaya kini redup. Pakaiannya walaupun daripada jenama yang mahal agak kusut. Rambut di bahagian hadapan kepalanya kian jarang. Hampir botak. Dia memang kelihatan lebih kaya, tetapi kehilangan gaya.

“Aku sibuk sungguh tiga empat tahun kebelakangan ini. Perniagaan menjadi-jadi.  Aku semakin diburu masa,” katanya terus terang.

“Sudah lama kita tidak bertemu,” tingkah saya perlahan.

“Bukan kau seorang sahaja, ramai rakan baik aku yang lain pun tidak dapat aku temui. Sibuk.”

“Kau okey?” tanya saya pendek.

Dia diam. Diam yang panjang.

“Tidak tahulah, okey ke tidak.”

Dengan jawapan itu saya tahu dia keliru. Mungkin terlalu keliru sekarang.

“Mesti okey. Rumah-rumah, kereta-kereta dan harta yang kau kumpul sekarang sudah cukup untuk diwariskan kepada anak-anak,” ujar saya.

“Ikut aku belum lagi. Aku mahu cucu-cucu aku juga menikmati harta peninggalanku. Aku mesti berniaga lebih gigih lagi.”

“Baguslah, kita bekerja atau berniaga seolah-olah akan hidup seribu tahun lagi,” dorong saya.

“Tetapi sejak akhir-akhir ini aku kesepian.”

“Kesepian dalam kesibukan? Mana mungkin.”

“Betul. Aku rasa semakin keseorangan.”

“Bukankah rakan-rakan perniagaan kau banyak? Urusan perniagaan kau pun sering membuka ruang untuk keluar negara. Keseorangan, apa maksudmu?”

“Aku tidak ada rakan-rakan seperti kau. Boleh berbual-bual tentang diri, anak-anak dan lain-lain perkara yang lebih intim sifatnya.”

Saya terus menjadi pendengar. Biar dia meluahkan. Sudah jarang sekali saya bertemu dengannya. Hampir setahun tidak bertemu walaupun jarak rumah kami tidaklah begitu jauh. Dia jarang di rumah. Sering ke luar negara dan berada di luar kawasan mengurus perniagaan.

Dulu Lain, Sekarang Lain

“Tidak mengapa, berbual-bual soal perniagaan pun banyak baiknya. Keuntungan bertambah,” gurau saya.

“Kau lihat aku bagaimana sekarang?” tanyanya tiba-tiba.

“Lihat yang bagaimana?” balas saya.

“Terus terang sahaja. Aku yang sekarang dan aku yang dulu. Ada perbezaannya?”

“Kau yang dulu bukan yang sekarang,” ujar saya masih bergurau.

Dia ketawa. Mungkin teringat lirik lagu nyanyian Tegar.

“Terus terang, bagaimana aku sekarang?”

“Kau lebih kaya. Lebih berjaya. Kau jauh meninggalkan aku daripada segi harta.”

“Bukan itu maksud aku, tetapi soal lain. Ketepikan soal rumah, tanah, kereta dan aset. Aku mahu kau nilai aku sebagai manusia, seorang sahabat, seorang yang seperti kau kenal dulu,” pintanya terus terang.

“Kau berubah.”

Akhirnya saya bersuara. Saya perlu jujur dalam bersahabat. Dia mendesak dan itulah sewajarnya saya luahkan. Sahabat bukan seorang yang hanya berkata yang manis-manis, tetapi sanggup berkata benar walaupun pahit.

“Kau berubah. Wajahmu tidak seceria dulu. Tutur katamu pun semakin kaku. Tidak selunak dulu; lembut, dekat dan mesra. Sekarang kata-katamu agak keras, pendek dan mengarah. Dulu kau banyak memujuk, sentimental dan meraikan. Kini kau semakin formal.”

Dia terkejut. Matanya merenung mata saya dengan tajam. Tersinggung? Biarlah, kata saya dalam hati. Saya tidak punya apa-apa kepentingan selain menjaga hak bersahabat. Dia berhak mendapat kebenaran. Mungkin itu yang semakin kurang didengarnya.

Ya, betapa ramai orang yang berjaya dan berada di atas rosak peribadinya dek kata-kata yang hanya memuji, memuja dan mengampu daripada bawahannya. Betapa ramai atasan keliru antara kesetiaan dengan sikap mengampu bawahannya.

“Salahkah aku menjadi kaya?” soalnya. Kali ini dia mula menyuarakan kekeliruannya.

Tetapi saya mula tersenyum. Selalunya kita diterjah oleh soalan “kalau aku kaya”, tetapi sekarang “salahkah aku jadi kaya?”

Pengorbanan Untuk Kaya

“Untuk jadi kaya kau tentu telah banyak berkorban,” kata saya tanpa menjawab soalannya.

“Ya, aku telah banyak berkorban masa, tenaga dan lain-lain,” akuinya.

“Itu biasa. Setiap yang diburu pasti ada harganya. Tetapi mungkin harga yang kau bayar terlalu mahal.”

“Maksud kau?”

“Kau kehilangan masa bersantai dengan kawan-kawan, melakukan aktiviti yang menyegarkan dan ceria seperti dulu.”

“Maksud kau lepak-lepak di masjid, berekreasi dengan kawan-kawan, menanam pokok-pokok bunga dan menjala ikan di sungai?”

Saya mengangguk kepala.

“Itu aku akui. Aku tidak ada masa lapang.”

“Mungkin kau perlu melapangkan masa,” tegur saya.

Dia diam. Merenung jauh. Jiwa sentimentalnya mula terserlah kembali. Itulah wajah sahabat yang sering mengalirkan air mata apabila kami berbual tentang cita-cita, harapan, kehidupan, kematian, solat, zikir dan hal isteri dan anak-anak.

“Untuk apa kau cari harta?” terjah saya.

“Untuk kesenangan.”

“Walaupun terpaksa mengorbankan sedikit ketenangan?”

“Pada aku kesenangan itulah memberi ketenangan.”

“Jadi mengapa kau menoleh ke belakang? Teruskanlah mara ke hadapan.”

“Sesekali aku dilanda jemu dan sedikit keliru.”

Saya senyum. Ingin saya katakan, jangan cuba-cuba membeli ketenangan dengan kesenangan. Kualiti jiwa tidak akan dapat diganti oleh kuantiti harta.

“Kejemuan, kesepian dan kekeliruan itu adalah satu isyarat.”

“Isyarat? Maksud kau?”

“Isyarat untuk kau berfikir dan bermuhasabah kembali.”

“Itulah sebabnya aku bertemu dengan kau sekarang. Kita sering bermuhasabah. Kau seorang yang berani bercakap benar sejak dulu. Aku menunggu saat ini sahabat,” katanya berterus terang. Dia semakin sentimental. Matanya berkaca.

“Setahun terlalu lama. Dekat tetapi jauh.” Kali ini saya pula terus-terang.

Memang saya juga terasa sedih melihat sahabat rapat yang sudah menjarak. Setahun terlalu lama, dan jarak rumah antara kami yang hanya puluhan kilometer itu tidak jauh sebenarnya. Mungkin semua itu kerana jaraknya hati. Namun alhamdulillah, kini jarak hati itu terasa ingin rapat kembali. Asas persahabatan yang terbina puluhan tahun sejak di universiti dulu masih kukuh. Pangkal persahabatan yang kukuh itu kini dirujuk kembali.

“Bantu aku bermuhasabah,” pintanya.

“Mencari kekayaan sesuatu yang tidak ada penghujungnya. Terutamanya apabila RM 1 juta sudah dimiliki. Peluang akan semakin terbuka, jalan semakin jelas. Dua, tiga juta yang kedua akan menjadi semakin mudah. Pada waktu itu kita seolah-olah kita sudah jadi ‘King Midas’. Apa yang disentuh semuanya menjadi emas,” jelas saya.

“Ya, ya. Benar. Mengapa kau begitu arif? Kau pernah berada di tahap itu?”

“Aku hanya belajar daripada orang yang arif,” pintas saya.

“Aku berada di tahap itu sekarang,” katanya terus terang.

Dilema Seorang Jutawan

“Pada ketika itulah kau berada di satu persimpangan, untuk menjadi lebih kaya dengan pecutan yang semakin laju tanpa menoleh ke belakang lagi. Atau memperlahankan sedikit pecutan untuk menilai kembali apa yang telah kau tertinggal.”

“Aku rasa ada yang aku tertinggal. Maksudnya, ada perkara yang telah aku korbankan.”

“Berbaloikah pengorbanan kau?”

“Maksud kau?”

“Apabila kita mendapat sesuatu, maka pada masa yang sama kita akan kehilangan sesuatu. Kita tidak akan dapat dua perkara pada satu masa yang sama.”

“Jadi?”

“Pastikan apa yang kau dapat lebih berharga berbanding apa yang kau hilang.”

“Apa yang aku hilang? Aku punya kawan-kawan baharu. Aku punya gaya hidup yang baharu. Rumah, kereta dan rutin hidup yang baharu.”

“Kau gembira? Kau puas dengan semua yang baharu itu?”

Dia tersentak. Matanya terjegil sedikit.

“Harta yang melimpah tetapi disertai kesibukan. Rumah yang besar tanpa kesantaian. Kawan baharu menghampir, kawan lama meminggir. Serius, fokus sepanjang waktu tanpa gurauan dan ketawa yang menghiburkan. Sahabatku, sangat sukar memburu kesenangan tanpa kehilangan ketenangan.”

“Jadi kau rasa aku berubah?”

“Ya, kau berubah.”

“Berubah ke arah yang lebih buruk atau baik?”

“Terpulang. Buruk atau baik terpulang pada tafsiran dan pilihan kau. Tetapi yang pasti kau tidak akan dapat semua.”

“Apakah nasihat kau?”

“Pecutlah terus ke hadapan. Tetapi sebelum itu lihat apa yang telah tertinggal. Kutip semula apa yang telah tercicir tetapi sangat berharga. Jadilah jutawan yang tidak kehilangan keceriaan, kesantaian, senyuman, ketawa dan masa lapang.

Carilah semula sahabat-sahabat lama. Ziarah yang sakit, penuhi undangan, hadir pada hari kematian untuk solat jenazah dan akhirnya ke pusara sebagai penghormatan terakhir. Jangan memburu duit sehingga tidak sempat menikmati duit. Jangan kau katakan kekayaan ini untuk ummah jika dalam pemburuannya kau alpa menunaikan hak kekeluargaan, persaudaraan dan persahabatan.”

“Wah, panjang nasihatmu.”

Saya memeluk dan merenung matanya. Mata kami sama-sama basah dan berkaca. Air mata mengalir tanpa sedar. Sama-sama kami jadi sentimental seperti masa lalu. Pada ketika itulah saya bisikan ke telinga, “…panjang, sebab aku menyimpannya sejak setahun yang lalu!”

https://gentarasa.wordpress.com/2014/10/03/miskin-dalam-kekayaan/

Create your website with WordPress.com
Get started